TUHAN KITA TIDAK PERNAH BERUBAH
MALEAKHI 1-4

 

Di tengah dunia yang terus berubah, kebenaran bahwa Tuhan tidak pernah berubah menjadi batu karang pengharapan bagi anak-anak-Nya.

 

Kita hidup di dunia yang terus berubah. Hampir tidak ada yang benar-benar tetap. Anak-anak bertumbuh dan berubah. Kesehatan kita bisa berubah. Pekerjaan bisa berubah. Pernikahan dan hubungan bisa berubah. Budaya di sekitar kita juga terus berubah. Bahkan cara hidup kita hari ini sangat berbeda dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu. Dunia di sekitar kita tidak pernah benar-benar berhenti berubah.

 

Budaya di sekitar kita pun tidak pernah berhenti berubah. Budaya tahun 1970-an sangat berbeda dengan budaya yang ada sekarang. Karena itu, kita tidak mungkin mencari dasar keamanan dan pengharapan yang tidak berubah dari segala sesuatu yang ada di dunia ini, karena semuanya berubah, termasuk diri kita sendiri.

 

Kita semua sebenarnya merindukan sebuah batu karang tempat kita berdiri, entah kita menyadarinya atau tidak. Kita merindukan sesuatu yang dapat menjadi dasar yang kokoh untuk membangun kehidupan kita. Kita mencari sesuatu yang stabil, yang dapat menjadi dasar bagi identitas, makna hidup, ketenangan hati, dan tujuan hidup kita. Jika Anda sedang mencari batu karang pengharapan yang kekal dan tidak berubah, hanya ada satu tempat untuk melihat yaitu ke atas, kepada Allah.

 

Dalam bagian terakhir Perjanjian Lama, yaitu Maleakhi, Allah memanggil umat-Nya untuk bertobat. Pertobatan adalah perubahan hati yang menghasilkan perubahan arah hidup. Dalam panggilan untuk bertobat ini, Allah mengatakan sesuatu yang penting tentang diri-Nya yang tidak berubah: “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap. Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?’" (Mal. 3:6–7).

 

Kata-kata dalam bagian ini sangat spesifik dan penting untuk kita pahami. Pertama, Allah mengingatkan umat-Nya yang telah menyimpang bahwa satu-satunya alasan mereka belum dibinasakan oleh murka-Nya terhadap dosa mereka adalah karena Dia tidak berubah. Allah tetap sama dalam kekudusan, kesetiaan, dan kasih perjanjian-Nya. Karena Dia tidak berubah, janji-janji-Nya dapat dipercaya.

 

Namun kemudian Allah berkata, “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu.” Sekilas, perkataan ini seolah-olah bertentangan dengan kenyataan bahwa Allah tidak berubah. Kalau Tuhan tidak berubah, mengapa Tuhan berkata bahwa umat-Nya harus kembali kepada-Nya dan Dia akan kembali kepada mereka? Bukankah kata “kembali” menunjukkan adanya perubahan? Jawabannya adalah: yang berubah bukan karakter Tuhan, melainkan hubungan umat-Nya dengan Tuhan. 

 

Tuhan tetap sama dalam karakter-Nya. Dia tetap kudus, setia, penuh kasih, dan benar. Tetapi ketika umat-Nya bertobat dan kembali kepada-Nya, cara Tuhan menyatakan kasih karunia-Nya kepada mereka juga berubah dari disiplin menuju pemulihan. Kita menemukan ketenangan yang kekal karena Allah tidak pernah berubah, dan kita mendapatkan penghiburan yang terus-menerus karena Dia merespons ketika anak-anak-Nya datang kepada-Nya, ketika kita berdoa memohon pertolongan, mengakui dosa, dan berkomitmen untuk berubah.

 

Kita mungkin berubah. Perasaan kita berubah. Keadaan kita berubah. Kekuatan kita berubah. Bahkan kesetiaan kita kepada Tuhan kadang naik dan turun. Tetapi Tuhan tidak berubah. Ketika kita jatuh, Dia tetap setia. Ketika kita gagal, Dia tetap menjadi Tuhan yang sama. Ketika kita bertobat, Tuhan dalam belas kasihan-Nya tidak lagi mendatangkan disiplin yang sedang mengancam kita, tetapi menyambut kita dengan anugerah pengampunan.

 

Karena itu, kita tidak perlu mencari tempat perlindungan di dunia yang selalu berubah. Dunia boleh berubah. Keadaan boleh berubah. Kita pun akan berubah. Tetapi Tuhan tetap sama. Dan justru karena Dia tidak berubah, kita memiliki batu karang yang teguh untuk beristirahat hari ini dan pengharapan untuk masa depan. Tuhan yang kita percaya hari ini adalah Tuhan yang sama yang akan memegang kita sampai selama-lamanya.

 

Refleksi
Bacalah 2 Korintus 7:10-12 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Maleakhi 1-4