KEBAIKAN TUHAN YANG MENJADI HARAPAN
2 RAJA-RAJA 18–19

 

Tidak ada yang lebih pasti, lebih setia, dan lebih memberi pengharapan selain kebaikan Tuhan yang sempurna.

 

Ada sebuah kalimat singkat di batu nisan yang pernah ditulis, namun mungkin itu adalah ringkasan hidup yang paling indah: “Ia adalah seorang yang baik.” Lebih dari sekadar menjadi sukses, berkuasa, kaya, atau dikenal banyak orang, kita tentu rindu menjalani hidup yang baik. Menjadi baik berarti hidup dalam kemurnian, kesabaran, kesetiaan, kasih, dan kemurahan hati. Itu berarti hidup yang terarah kepada Allah. Namun, seindah apa pun kehidupan seseorang yang dapat disebut “baik”, tidak ada kebaikan yang dapat menyamai kebaikan Tuhan.

 

Firman Tuhan mencatat bagaimana Israel berulang kali tersesat dalam dosa, hidup dalam kekacauan penyembahan berhala, dan dipimpin oleh raja demi raja yang jahat. Tetapi di tengah semuanya itu, satu hal yang begitu jelas terlihat adalah kebaikan Tuhan yang luar biasa. Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, dan Ia tidak pernah mengingkari janji perjanjian-Nya.

 

Dari sejarah ini kita belajar bahwa pengharapan tidak pernah ditemukan dalam rencana manusia, pada hikmat manusia, kesalehan manusia, ataupun usaha manusia. Pengharapan juga tidak ditemukan dalam berbagai filsafat atau ajaran dunia. Pengharapan sejati hanya ada di satu tempat yaitu dalam kebaikan Tuhan.

 

Kebaikan itu tampak jelas dalam 2 Raja-raja 18:1–8: “Maka dalam tahun ketiga zaman Hosea bin Ela, raja Israel, Hizkia, anak Ahas raja Yehuda menjadi raja. Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Abi, anak Zakharia. Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya. Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan. Ia percaya kepada TUHAN, Allah Israel, dan di antara semua raja-raja Yehuda, baik yang sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang sama seperti dia. Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa. Maka TUHAN menyertai dia; ke manapun juga ia pergi berperang, ia beruntung. Ia memberontak kepada raja Asyur dan tidak lagi takluk kepadanya. Dialah yang mengalahkan orang Filistin sampai ke Gaza dan memusnahkan daerahnya, baik menara-menara penjagaan maupun kota-kota yang berkubu.”

 

Ketika keadaan tampak semakin gelap bagi umat Allah, Tuhan justru membangkitkan seorang raja yang benar, setia, dan takut akan Dia, bukan karena umat itu layak menerimanya, tetapi karena Tuhan itu baik. Melalui Hizkia, terjadi pembaruan moral dan rohani, serta kekuatan baru dalam menghadapi musuh. Saat umat-Nya tidak setia, Tuhan tetap setia. Itulah pengharapan umat Allah dahulu, dan itulah juga pengharapan kita hari ini.

 

Dan inilah Injil itu: kebaikan Tuhan mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus. Jika dahulu Tuhan memberi Hizkia untuk memulihkan bangsa-Nya, kini Tuhan memberi Kristus, Raja yang sempurna, untuk menyelamatkan umat-Nya. Yesus bukan hanya raja yang baik—Ia adalah kebaikan Allah dalam wujud nyata bagi orang berdosa.

 

Di kayu salib, kita melihat bahwa Tuhan tidak membalas dosa kita setimpal dengan kejahatan kita, tetapi menaruh hukuman itu atas Kristus. Dalam kebangkitan-Nya, kita melihat bahwa pengharapan kita hidup dan pasti. Jadi, ketika hidup terasa gelap, ingatlah: harapan Anda bukan pada manusia, tetapi pada Tuhan yang baik dan setia.

 

Refleksi
Bacalah Kolose 2:8–10 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 18-19