TAK ADA YANG SEBANDING DENGAN KEBESARAN TUHAN
MAZMUR 103–105
Tidak ada kebesaran apa pun di alam semesta yang dapat dibandingkan dengan kebesaran Tuhan.
Kita sering menggunakan kata hebat, luar biasa, atau besar untuk banyak hal. Kita berkata sebuah pertandingan bola yang hebat, makanan yang enak, pemandangan yang sangat indah, atau seseorang yang sangat luar biasa. Akibatnya, kata itu kehilangan bobotnya.
Namun ketika Mazmur 104 berbicara tentang kebesaran Tuhan, ada satu hal yang seringkali kita lupa. Pemazmur mengajak kita memandang Tuhan dalam kemuliaan-Nya: "Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak, 104:2 yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda" (Mzm. 104:1–2). Mazmur ini menggambarkan Tuhan sebagai Pencipta dan Penguasa atas seluruh alam semesta. Langit, bumi, laut, gunung, angin, awan, dan segala sesuatu yang ada berada di bawah kuasa-Nya. Dia menetapkan batas bagi lautan. Dia menopang bumi. Dia memerintah atas seluruh ciptaan. Tidak ada satu pun yang berada di luar kendali-Nya.
Jika ada Pribadi yang layak membuat kita tersungkur dalam kekaguman, penyembahan, dan hormat yang kudus, Dialah Allah. Tidak ada yang menyamai kemuliaan-Nya. Tidak ada yang dapat menandingi hikmat-Nya. Tidak ada yang dapat melawan kuasa-Nya. Tidak seorang pun dapat menggagalkan kehendak-Nya. Seluruh ciptaan tunduk kepada perintah-Nya.
Ketika kita merenungkan kebesaran Tuhan seperti ini, kita menyadari betapa kecilnya segala sesuatu yang sering memenuhi pikiran kita. Masalah yang terasa begitu besar, ketakutan yang begitu menguasai hati, atau pencapaian yang begitu kita banggakan, semuanya terlihat berbeda ketika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan. Tidak ada yang dapat menandingi hikmat-Nya. Tidak ada yang dapat menyaingi kuasa-Nya. Tidak ada yang dapat menggagalkan rencana-Nya. Tidak ada yang dapat mengambil tempat-Nya sebagai Raja atas segala sesuatu.
Karena Allah begitu mulia, maka respons yang seharusnya muncul dari setiap orang percaya adalah seperti yang dinyatakan pemazmur: "Aku hendak menyanyi bagi TUHAN selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada." (Mzm. 104:33).
Ketika hati kita sungguh-sungguh menangkap kebesaran Tuhan, hidup kita mulai berubah. Kita tidak lagi terlalu terpesona oleh diri sendiri. Kita tidak lagi menjadikan kenyamanan, kesuksesan, atau pengakuan orang lain sebagai pusat hidup kita. Sebaliknya, hati kita mulai dipenuhi oleh kekaguman kepada Tuhan. Kita ingin memuji-Nya. Kita ingin memikirkan Dia lebih sering. Kita ingin hidup dengan cara yang menyenangkan hati-Nya. Dan kita mulai membenci dosa karena dosa merusak hubungan kita dengan Dia yang begitu mulia dan baik. Inilah salah satu tanda bahwa hati kita sedang dibentuk oleh kebesaran Tuhan. Bukan hanya ketika kita berbicara tentang Tuhan, tetapi ketika kekaguman kepada-Nya mulai memengaruhi apa yang kita pikirkan, cintai, kejar, dan lakukan setiap hari.
Kabar baiknya, Tuhan tidak membiarkan kita berusaha melakukannya dengan kekuatan sendiri. Melalui anugerah penebusan-Nya, Dia membuka mata hati kita untuk melihat kemuliaan-Nya dan memberi kita kemampuan untuk hidup bagi-Nya.
Hari ini, luangkan waktu untuk memandang kebesaran Tuhan. Semakin Anda memahami kemuliaan Allah di dalam Injil, semakin hati Anda terdorong untuk hidup bagi kemuliaan-Nya, bukan bagi diri sendiri. Biarkan hati Anda kembali dipenuhi kekaguman kepada-Nya. Sebab semakin kita melihat kemuliaan-Nya, semakin segala sesuatu yang lain menemukan tempatnya yang benar.
Refleksi
Bacalah Yudas 1:24–25 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 103-105