LAGU YANG MEMBENTUK HATI KITA
1 SAMUEL 1–3
Anugerah Allah seharusnya membuat kita bernyanyi. Lagu apa yang lebih layak kita nyanyikan selain lagu tentang kuasa-Nya, belas kasihan-Nya, pengampunan-Nya, dan kasih-Nya?
Banyak dari kita mungkin dibesarkan dalam lingkungan yang dekat dengan nyanyian—baik di rumah maupun di gereja. Ada yang terbiasa mendengar lagu pujian himne, ada yang belajar memainkannya, dan ada juga yang menghafalnya tanpa sadar. Himne-himne iman menjadi bagian dari perjalanan hidup, bahkan tetap melekat di ingatan tanpa harus melihat liriknya. Kita patut bersyukur atas anugerah musik. Lagu seakan memberi “sayap” bagi emosi hati kita. Melalui lagu, kita bisa merayakan sukacita, dan melalui lagu juga kita mengekspresikan dukacita.
Namun, hal yang paling indah dari lagu adalah kemampuannya melukiskan kebenaran Firman Tuhan di dalam pikiran kita—dengan cara yang indah dan mudah diingat. Lagu menolong kita mengingat kembali siapa kita dan siapa Allah itu. Beberapa teologi yang paling dalam dan menyentuh justru ditemukan dalam himne-himne gereja. Kita perlu bersyukur karena gereja tidak pernah berhenti menulis dan menyanyikan lagu-lagu baru tentang kemuliaan Allah dan kasih karunia penebusan-Nya.
Dalam 1 Samuel 2, dicatat nyanyian syukur dan pujian dari Hana. Ia menyanyikan lagu ini setelah Allah mendengar seruannya sebagai seorang perempuan yang mandul dan memberinya seorang anak laki-laki, yaitu Samuel. Nyanyian Hana penuh dengan sukacita, tetapi juga kaya akan kebenaran teologis yang dalam. Nyanyian ini mirip seperti Mazmur. Karena itu, seperti membaca Mazmur, kita perlu memperlambat langkah kita, merenungkannya dengan tenang, dan membiarkan isi nyanyian itu memenuhi pikiran serta menggenggam hati kita.
Melalui nyanyiannya, Hana mengingatkan kita tentang siapa Allah dan di mana pengharapan serta sukacita yang sejati dapat ditemukan. Berikut sebagian dari nyanyiannya: “TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga. Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. Sebab TUHAN mempunyai alas bumi; dan di atasnya Ia menaruh daratan. Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, sebab bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa. Orang yang berbantah dengan TUHAN akan dihancurkan; atas mereka Ia mengguntur di langit. TUHAN mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya; Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya." (1 Sam. 2:6–10).
Nyanyian Hana mengingatkan kita bahwa hidup dan mati berada di dalam tangan Tuhan. Namun di tengah kuasa-Nya yang besar itu, Ia juga menyatakan belas kasihan dan kelembutan kepada orang miskin dan yang membutuhkan.
Bagian terakhir dari nyanyian Hana sangat menarik: “Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya.” Tanpa sepenuhnya menyadarinya, kata-kata Hana menunjuk kepada Raja yang akan datang—Raja yang menang untuk selama-lamanya, yaitu Yesus.
Di sinilah Injil menjadi jelas: Allah yang berdaulat itu datang sebagai Raja yang rendah hati. Ia mengangkat yang hina, menyelamatkan yang berdosa, dan memberikan hidup kepada yang mati melalui Kristus. Setiap lagu tentang kedaulatan dan kasih karunia Allah pada akhirnya mengarah kepada Dia. Yesus adalah penggenapan dari nyanyian Hana—Raja yang menang, yang memberi kekuatan kepada umat-Nya, dan yang meninggikan kita oleh kasih karunia-Nya.
Karena itu, mari kita bernyanyi—bukan hanya dengan bibir, tetapi dengan hidup kita. Sebab kita telah mengalami kasih karunia yang lebih besar dari sekadar cerita—kita telah ditebus oleh Sang Raja sendiri. Setiap nyanyian tentang kedaulatan dan anugerah Allah pada akhirnya mengarahkan kita kepada Dia.
Refleksi
Bacalah Lukas 1:46–55 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 1-3