JANGAN PILIH KASIH

Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. – Yakobus 2:1

 

Iman yang hidup bukan hanya iman yang mau mendengar, tetapi juga iman yang bertindak. Iman yang sejati selalu nyata melalui perbuatan. Dengan kata lain, iman sejati dikenali bukan hanya dari apa yang dilakukannya, tetapi juga dari apa yang kita hindari—misalnya, seperti yang ditegaskan Yakobus, dengan tidak bersikap pilih kasih.

 

Sikap pilih kasih—dosa memperlakukan orang secara berbeda berdasarkan penampilan luar, status, atau seberapa “bergunanya” mereka—merupakan dosa yang nyata pada zaman Yakobus, dan dosa itu masih sama nyatanya hingga hari ini. Yakobus tidak sedang mengecam setiap pengakuan atas perbedaan, apalagi perlakuan istimewa yang diberikan karena alasan yang sah. Seorang anak muda yang rela berdiri dan memberikan kursinya di bus kepada seorang perempuan lanjut usia jelas tidak sedang melanggar ajaran Yakobus. Yang ingin Yakobus tegaskan dengan sangat jelas adalah ini: ciri-ciri lahiriah—terutama yang berkaitan dengan kekayaan—tidak pernah menjadi alasan seseorang layak menerima penghormatan.

 

Inilah maksud dari ilustrasi Yakobus dalam Yakobus 2: jika dua orang datang ke pertemuan ibadah—yang satu berpakaian indah dan yang lain berpakaian lusuh—lalu orang kaya diberi tempat terhormat sementara orang miskin disisihkan, maka kita telah bersalah karena dosa pilih kasih. Tindakan seperti itu berarti kita membuat pembedaan yang jahat dalam hati dan menempatkan diri sebagai hakim dengan pertimbangan yang keliru (bdk. Yak. 2:4). Allah tidak menghakimi manusia berdasarkan ukuran-ukuran seperti itu, dan umat-Nya pun tidak dipanggil untuk melakukannya.

 

Dalam hidup dan pelayanan-Nya, Yesus memperlihatkan seperti apa ketidakberpihakan yang sejati itu. Dia bersedia mengizinkan seorang wanita yang memiliki reputasi tidak baik untuk menangis di hadapan-Nya, membasuh kaki-Nya dengan air mata (Luk. 7:36–50). Pada saat yang sama, Ia juga dengan sukarela memanggil seorang kaya yang sedang berada di atas pohon untuk turun dan menyambut-Nya di rumahnya (Luk. 19:1–10). Mengapa? Karena Yesus tahu bahwa kekayaan besar dan kehormatan duniawi tidak pernah membuat seseorang lebih berharga di mata Allah.

 

Lebih dari itu, Injil memberitakan kebenaran yang jauh lebih dalam: Yesus, Tuhan yang mulia, rela merendahkan diri-Nya. Ia turun dari surga, meninggalkan kemuliaan-Nya, dan mengambil rupa seorang hamba. Ia rela menukar kehormatan dengan kehinaan, supaya Ia dapat mendekat kepada orang berdosa dan menyelamatkan mereka—baik yang kaya maupun yang miskin.

 

Ketika kita sungguh memahami keajaiban Injil ini, hati kita mulai diubahkan. Kita belajar melihat manusia bukan dari ukuran luar yang dangkal, tetapi dari kasih karunia Allah yang sama-sama kita butuhkan. Tidak ada tempat bagi sikap pilih kasih di tengah umat Allah. Allah menerima kita bukan karena kita lebih baik, lebih rohani, atau lebih layak dari orang lain, melainkan karena kasih-Nya yang besar dan anugerah-Nya yang tidak memandang muka.

 

Karena itu, marilah kita jujur mengoreksi hati kita. Dan marilah kita memohon kepada Tuhan agar Ia memberi kita anugerah untuk melihat sesama sebagaimana Ia melihat kita—serta untuk memperlakukan orang lain dengan belas kasihan dan kasih karunia yang sama yang telah lebih dahulu Ia limpahkan kepada kita melalui Kristus.

 

Refleksi
Bacalah Lukas 7:36-50 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

 

1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 5-8; Lukas 23:1-25