KEHIDUPAN DALAM IMAN
MAZMUR 106–107

 

Kehidupan iman dapat diringkas dalam tiga kata: pengakuan, mengingat, dan memuliakan Tuhan.

 

Iman adalah salah satu kata yang paling sering digunakan dalam kehidupan Kristen. Namun sering kali kita menganggap iman hanya sebagai percaya bahwa Tuhan ada atau setuju dengan ajaran-ajaran Alkitab. Namun Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa iman jauh lebih dari sekadar menyetujui suatu ajaran atau doktrin. Iman bukan hanya aktivitas pikiran, melainkan penyerahan hati yang mengubah cara seseorang menjalani hidupnya.

 

Mazmur 106 memberikan gambaran yang sederhana namun sangat penting tentang seperti apa kehidupan iman itu: "Kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa, kami telah bersalah, telah berbuat fasik. Nenek moyang kami di Mesir tidak mengerti perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib, tidak ingat besarnya kasih setia-Mu, tetapi mereka memberontak terhadap Yang Mahatinggi di tepi Laut Teberau." (Mzm. 106:6–7).

 

Dari bagian ini kita dapat melihat tiga ciri penting kehidupan iman. Pertama, pengakuan. Orang yang hidup dalam iman tidak berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja. Ia sadar bahwa dirinya masih bergumul dengan dosa dan masih membutuhkan anugerah Tuhan setiap hari. Dosa kita memang telah diampuni di dalam Kristus, tetapi keberadaan dosa belum sepenuhnya disingkirkan dari hidup kita. Karena itu, kehidupan Kristen adalah kehidupan yang terus ditandai oleh kerendahan hati dan pertobatan yang tulus. 

 

Semakin dekat kita kepada Tuhan, semakin kita menyadari kelemahan dan dosa yang masih ada dalam hati kita. Karena itu kehidupan iman adalah kehidupan yang terus datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, mengakui dosa, dan memohon pengampunan-Nya.

 

Kedua, mengingat. Masalah besar umat Tuhan sepanjang sejarah bukan hanya memberontak kepada Tuhan, tetapi juga melupakan Tuhan. Mereka lupa akan kasih setia-Nya. Mereka lupa bagaimana Tuhan telah menolong, memimpin, dan memelihara mereka. Ketika lupa, mereka mulai mengeluh, meragukan Tuhan, dan mencari sandaran yang lain.

 

Kita pun sering mengalami hal yang sama. Kita mudah melupakan Tuhan ketika keadaan berjalan baik maupun ketika menghadapi kesulitan. Karena itu kehidupan iman adalah kehidupan yang terus mengingat. Mengingat siapa Tuhan. Mengingat karya-Nya. Mengingat kasih setia-Nya yang tidak pernah berubah. Mengingat Injil yang telah menyelamatkan kita. Semakin kita mengingat anugerah Tuhan, semakin hati kita dipenuhi rasa syukur dan penyembahan.

 

Ketiga, memuliakan Tuhan. Pada akhirnya hidup ini bukan tentang kemuliaan kita, melainkan tentang kemuliaan Tuhan. Iman yang sejati menyadarkan kita bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan. Karena itu kita tidak hidup untuk meninggikan diri sendiri, mencari pujian manusia, atau menjadikan diri kita pusat dari segala sesuatu. Sebaliknya, kita ingin hidup sedemikian rupa sehingga orang lain dapat melihat kebesaran dan kebaikan Tuhan melalui hidup kita. Iman menemukan sukacitanya ketika memuji nama Tuhan dan memberitakan kuasa-Nya kepada orang lain. Dengan rendah hati kita mengakui bahwa Allah berkarya demi kemuliaan nama-Nya sendiri.

 

Ketika ketiga hal ini hadir yakni pengakuan, mengingat, dan memuliakan Tuhan sehingga iman tidak lagi menjadi sekadar konsep di dalam pikiran. Iman menjadi cara hidup. Injil memperlihatkan dengan jelas bahwa ketiga unsur ini berpuncak di dalam Yesus Kristus. Di hadapan salib, kita belajar mengakui dosa, karena tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Kristus mati menggantikan orang berdosa agar kita menerima pengampunan yang tidak pernah dapat kita usahakan sendiri.

 

Melalui kebangkitan-Nya, kita terus mengingat kasih setia Allah yang tidak pernah gagal. Ketika hati kita mudah lupa, Roh Kudus mengingatkan kembali bahwa keselamatan kita berdiri di atas karya Kristus yang sudah selesai, bukan pada keberhasilan atau kegagalan kita.

 

Dan karena Injil, hidup kita kini memiliki tujuan yang baru, yaitu memuliakan Allah. Kita tidak lagi hidup untuk membangun nama sendiri, melainkan untuk memberitakan kebesaran Dia yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

 

Hari ini, tanyakan kepada diri Anda: Apakah saya memiliki hati yang mau mengakui dosa? Apakah saya meluangkan waktu untuk mengingat kasih setia Tuhan? Apakah saya hidup untuk kemuliaan Tuhan atau untuk kemuliaan diri sendiri?

 

Kabar baiknya adalah Tuhan tidak menunggu sampai iman kita sempurna. Dia menemui kita di tengah kelemahan, kegagalan, dan pergumulan kita. Dengan anugerah-Nya, Dia mengampuni, menguatkan, dan menolong kita untuk terus berjalan bersama-Nya. Karena itu, datanglah kepada-Nya sekali lagi hari ini. Mintalah agar Dia menumbuhkan iman yang sejati di dalam hati Anda.

 

Refleksi
Bacalah Ibrani 11:1–6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 106-107