BERHALA APAPUN TIDAK MEMILIKI KUASA
1 SAMUEL 4–8

 

Selalu ingat bahwa Tuhan Yang Mahakuasa memerintah dalam kemuliaan, dan Ia tidak akan memberikan kemuliaan-Nya kepada yang lain.

 

Ada sesuatu yang unik dari humor—terutama dalam situasi yang canggung dan memalukan. Dalam momen seperti itu, kita melihat dengan jelas isi hati manusia: motivasi, niat, dan kelemahan yang biasanya tersembunyi menjadi terbuka. Kita mungkin tertawa sekaligus merasa tidak nyaman. Namun justru di situlah kita melihat kebenaran.

 

Humor sering kali menembus pertahanan hati kita, sehingga kita bisa melihat dan mengakui sesuatu yang mungkin tidak bisa kita terima jika hanya disampaikan lewat ceramah/teguran langsung. Allah sendiri memberi kita kemampuan untuk tertawa. Humor adalah salah satu karunia-Nya yang baik. Bahkan karunia ini pun seharusnya mengarahkan kita kepada keberadaan Allah dan kemuliaan-Nya.

 

Di dalam Alkitab juga ada “humor ilahi”. Jika kita tidak melihatnya, mungkin kita melewatkan kekuatan dari kisah yang Allah pelihara bagi kita. DaN 1 Samuel 5 memuat salah satu momen seperti itu—sebuah “humor yang kudus” sekaligus menggelitik.

 

Orang Filistin berhasil merebut tabut perjanjian Tuhan. Karena itu, mereka mengira bahwa allah mereka, Dagon, lebih kuat daripada TUHAN, Sang Pencipta dan Penguasa segala sesuatu. Coba bayangkan betapa konyolnya situasi ini. Bagaimana mungkin sebuah berhala batu—yang dibuat oleh tangan manusia—bisa dibandingkan dengan Tuhan segala tuhan, apalagi dianggap lebih besar dari-Nya?

 

Lalu lihat apa yang terjadi selanjutnya: “Ketika orang-orang Asdod bangun pagi-pagi pada keesokan harinya, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN; lalu mereka mengambil Dagon dan mengembalikannya ke tempatnya. Tetapi ketika keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal.” (1 Sam 5:3–4).

 

Betapa memalukannya! Dagon yang dianggap sebagai dewa besar kini tergeletak dengan muka sujud di depan tabut TUHAN, seolah-olah sedang menyembah dan menyerah. Inilah kebenaran yang kuat: tidak ada satu pun yang dapat berdiri sejajar dengan Tuhan. Semua yang kita anggap kuat di luar Dia pada akhirnya akan runtuh.

 

Adegan ini seharusnya membuat kita tersenyum sekaligus takjub melihat betapa tidak berdayanya berhala itu di hadapan kemuliaan Tuhan. Tetapi “humor ilahi” ini belum selesai. Orang Filistin, yang masih ingin mempertahankan ilusi tentang kuasa Dagon, menegakkan patung itu kembali. Namun keesokan harinya ia jatuh lagi—kali ini dengan kepala dan tangannya terputus—sebuah gambaran yang makin menegaskan ketidakberdayaannya. Allah sedang menunjukkan bahwa berhala apa pun—baik itu patung, kekuatan, keberhasilan, relasi, atau bahkan diri kita sendiri—tidak memiliki kuasa di hadapan-Nya.

 

Ketika membaca kisah ini, seolah-olah kita dapat membayangkan bala tentara surga tertawa—bukan dengan ejekan kosong, tetapi dengan sukacita yang memuliakan Allah. Sebab Allah tidak akan memberikan kemuliaan-Nya kepada yang lain.

 

Mazmur 2:4 berkata, “Dia yang bersemayam di sorga, tertawa.” Ada saat-saat ketika secara rohani justru baik bagi kita untuk tertawa, ketika kita menyadari betapa konyol dan tidak berdayanya segala sesuatu yang mencoba menentang kehendak dan kemuliaan Tuhan kita yang besar dan mulia.

 

Refleksi
Bacalah Yesaya 42:1-13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 4-8