ALLAH MENYERTAI DAN MEMAMPUKAN YANG IA PANGGIL
1 SAMUEL 9–12
Allah menyertai orang yang Ia utus, dan orang yang Ia panggil akan Ia perlengkapi dengan setia.
Orang bodoh menyukai kemandirian. Ia seperti anak kecil yang ingin mengikat tali sepatunya sendiri tetapi tidak tahu caranya, lalu menepis tangan ibunya ketika ibunya mencoba menolongnya. Begitulah orang yang bodoh dan belum dewasa secara rohani. Sebaliknya, oleh anugerah Allah, semakin kita berjalan bersama Tuhan, semakin kita mengenal Dia dan juga semakin mengenal diri kita sendiri. Kita semakin menyadari panggilan-Nya yang mulia atas hidup kita, dan pada saat yang sama kita semakin sadar akan kelemahan serta ketidakmampuan kita.
Tanpa Allah, kita tidak mampu melakukan apa pun dengan kekuatan kita sendiri. Baik dalam hal karakter maupun ketaatan pada perintah-Nya, kita sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi standar Allah yang kudus dan penuh hikmat dengan kekuatan kita sendiri. Itulah sebabnya di sepanjang kisah Alkitab kita sering menemukan pernyataan ini: “Aku akan menyertai engkau.” Kita memandang kepada Allah bukan hanya untuk mencari arah, tetapi juga untuk menerima kuasa dan pertolongan-Nya.
Karena itu, ketika Saul diangkat dan diurapi menjadi raja atas Israel, Alkitab mencatat hal ini: “Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu, dan engkau akan bernubuat bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain. Apabila tanda-tanda ini terjadi kepadamu, lakukanlah apa saja yang didapat oleh tanganmu untuk dikerjakan, sebab Allah menyertai engkau.” (1Sam. 10:6–7).
Ungkapan bahwa “Roh TUHAN akan berkuasa atasmu” berarti Allah sendiri hadir dengan kuasa-Nya untuk menolong Saul menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Kuasa Allah begitu nyata sehingga Saul dikatakan akan “berubah menjadi manusia lain.” Ini bukan berarti penampilan atau kepribadiannya berubah secara lahiriah, tetapi Allah memperlengkapi dia secara penuh untuk panggilan tersebut. Namun kuasa ini bukan terutama untuk Saul, melainkan melalui Saul—demi kebaikan umat Allah dan demi kemuliaan Tuhan.
Ketika kita membaca berbagai bagian dari kisah besar Alkitab, kita harus ingat bahwa tokoh utama dari setiap pasal sebenarnya adalah Tuhan sendiri. Kisah Alkitab adalah kisah-Nya. Dialah yang berada di pusat panggung, dan sorotan selalu tertuju kepada-Nya. Alkitab adalah kisah tentang Allah siapa Dia, bagaimana Dia bekerja, dan apa rencana-Nya. Manusia hanyalah alat yang dipakai-Nya untuk menyatakan kehendak-Nya.
Dalam kisah pengurapan Saul, kita melihat kesungguhan hati Allah terhadap rencana-Nya bagi umat-Nya. Melalui Saul, Allah sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar—bukan hanya bagi Israel, tetapi bagi seluruh bangsa di bumi. Ketika Allah memanggil, Ia juga memampukan. Ia tahu kita lemah, tetapi justru melalui kelemahan itulah Ia bekerja. Kita adalah alat di tangan-Nya untuk menggenapi rencana-Nya yang telah ditetapkan sejak semula. Dialah yang mengangkat raja-raja dan yang menurunkan mereka.
Saul hanyalah bagian kecil dari rencana Allah yang jauh lebih besar—bahkan lebih besar dari Israel itu sendiri. Dari bangsa Israel akan datang seorang Raja yang lain, yaitu Raja Anak Domba—Yesus Kristus—yang akan mencurahkan darah-Nya untuk: mengampuni dosa manusia dan menggenapi janji Allah bahwa suatu hari nanti segala sesuatu yang telah dirusakkan oleh dosa akan dipulihkan kembali. Allah menyertai, memanggil, memampukan, dan pada akhirnya menyelamatkan melalui Yesus Kristus.
Refleksi
Bacalah Matius 28:18–20 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 9-12