KEHADIRAN TUHAN
Keluaran 33–35
Pengharapan dan rasa aman kita, baik untuk hari ini maupun masa depan hanya ditemukan dalam satu hal yaitu kehadiran Tuhan.
Musa memahami dengan sangat tepat bagaimana identitas dan keamanan hidupnya terbentuk. Memang, ada banyak hal yang Musa belum ketahui seperti yang sekarang kita pahami sebagai anak-anak Allah, karena kita telah memiliki seluruh Kitab Suci. Namun, lewat percakapannya dengan Tuhan, terlihat jelas bahwa Musa memiliki pemahaman yang dalam—pemahaman yang membentuk cara ia menjalani hidupnya: “Tetapi firman-Nya: ‘Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.’ Lalu berkatalah Musa kepada-Nya: ‘Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah orang dapat mengetahui bahwa aku dan umat-Mu mendapat kasih karunia di hadapan-Mu? Bukankah dari kenyataan, bahwa Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dan umat-Mu, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?’” (Kel. 33:14–16).
Sebelum kita menyelami lebih dalam pengakuan iman Musa, mari kita berhenti sejenak dan merenungkan beberapa pertanyaan ini:
Musa menyadari satu hal penting: tidak ada pengharapan bagi Israel, dan tidak ada alasan untuk melangkah maju, jika Tuhan tidak menyertai mereka. Ia juga memahami bahwa yang membedakan Israel dari bangsa-bangsa lain bukanlah identitas nasional atau etnis mereka, melainkan fakta bahwa Tuhan sendiri hadir di tengah-tengah mereka. Kehadiran Tuhanlah yang membuat Israel unik.
Tuhanlah yang memilih Israel dari antara banyak bangsa. Tuhan mengasihi mereka, mengikat perjanjian-Nya dengan mereka, melindungi mereka dari kebinasaan, membebaskan mereka dari perbudakan, mencukupi kebutuhan jasmani mereka, diam di tengah-tengah mereka melalui Kemah Suci, menuntun mereka menuju ke Tanah Perjanjian, dan dari merekalah kelak Mesias yang dinantikan akan datang. Semua ini bukan hasil kekuatan Israel sendiri, sebab semuanya adalah anugerah.
Hal yang sama juga berlaku bagi kita. Rasa aman kita tidak terletak pada besarnya rumah yang kita miliki, pengakuan orang lain, jabatan atau kekuasaan, jumlah uang, latar belakang keluarga, pemimpin manusia, banyaknya talenta, atau kekuatan, hikmat, dan kebenaran kita sendiri. Bahkan pengharapan masa depan kita tidak bergantung pada setinggi apa pendidikan kita atau seberapa bijak keputusan-keputusan yang telah kita ambil.
Ketika kita menyadari bahwa secerdas dan sesukses apa pun kita, pengharapan dan keamanan hidup kita bertumpu pada satu hal ini: Tuhan telah memilih untuk mengasihi kita. Dan karena Ia telah melakukan itu, Ia pasti menyertai kita dalam kemuliaan dan kasih karunia-Nya untuk selama-lamanya. Ia berjalan bersama kita ke mana pun kita pergi. Tuhan melakukan bagi kita apa yang tidak sanggup kita lakukan sendiri—bukan karena kita layak, tetapi karena Ia kaya dalam kasih dan belas kasihan.
Jika Tuhan menyertai kita, sesungguhnya kita memiliki segala yang kita butuhkan.
Refleksi
Bacalah 1 Petrus 1:13-21 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 33-35