JANGAN SIBUK MELIHAT DOSA ORANG LAIN
MATIUS 8-10

 

Secara rohani, berbahaya jika kita lebih sibuk memikirkan dosa orang lain daripada menyadari dan memperhatikan dosa kita sendiri.

 

Hal ini bisa terjadi dalam hubungan suami dan istri. Bisa terjadi antara orang tua dan anak. Bisa terjadi dalam hubungan anak yang sudah dewasa dengan orang tuanya. Bisa terjadi di antara staf pelayanan, tetangga, sahabat, bahkan di tempat kerja. Singkatnya, hal ini bisa terjadi dalam setiap situasi ketika kita hidup dan bekerja bersama orang lain. Kita bisa menjadi lebih sibuk memperhatikan dosa orang lain daripada menyadari dosa kita sendiri. Kebiasaan yang sangat berbahaya secara rohani ini merupakan bentuk merasa diri lebih benar (self-righteousness). Sikap ini membuat kita bisa meyakinkan diri sendiri bahwa dosa kita sebenarnya tidak terlalu serius.

 

Menjelang akhir Khotbah di Bukit, Yesus membicarakan hal ini dengan sangat jelas: "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Mat. 7:1–5).

 

Perhatikan betapa jelasnya gambaran Yesus. Kita bisa begitu mudah melihat kesalahan kecil dalam hidup orang lain, sementara kita tidak menyadari dosa yang jauh lebih besar dalam hidup kita sendiri. Kita melihat “selumbar” di mata orang lain, tetapi tidak melihat “balok” yang ada di mata kita. Inilah masalah ketika kita terus-menerus memusatkan perhatian pada dosa orang lain. Kita mungkin berpikir, “Memang dia salah, tetapi aku tidak separah dia.”

 

Ketika kita mengecilkan dosa sendiri, kita sebenarnya sedang menyangkal kebutuhan kita akan kasih karunia Tuhan yang mengampuni, memulihkan, mengubahkan, dan memberi kita kekuatan. Berfokus pada dosa orang lain dapat membuat kita merasa lebih bermoral dan lebih benar, padahal pada saat yang sama kita sedang membiarkan dosa yang jelas dalam kehidupan kita sendiri.

 

Suami dapat melakukan hal ini ketika ia terus memperhatikan kesalahan-kesalahan kecil istrinya, tetapi tidak menyadari kemarahan besar yang telah ia pelihara selama bertahun-tahun. Teman dapat melakukan hal ini ketika ia berfokus pada kesalahan-kesalahan kecil temannya, tetapi tidak melihat kebiasaan bergosip yang terus ia lakukan dalam jangka panjang. Orang tua dapat melakukan hal ini ketika mereka terlalu sibuk memperhatikan kegagalan anak-anak mereka, tetapi tidak menyadari pola sikap mereka sendiri yang kasar dan tidak menunjukkan kasih dalam memperlakukan anak-anak.

 

Kita sangat mudah melihat dosa orang lain karena dosa orang lain selalu terlihat lebih jelas daripada dosa kita sendiri. Tetapi Yesus tidak sedang mengajarkan bahwa kita tidak boleh menegur atau menolong orang lain ketika mereka berdosa. Masalahnya adalah kita harus terlebih dahulu berhadapan dengan dosa kita sendiri. Sebelum kita menolong orang lain melihat dosanya, kita perlu datang kepada Tuhan dan membiarkan Dia terlebih dahulu menunjukkan dosa kita sendiri. Karena itu, ketika kita melihat dosa orang lain, jangan buru-buru merasa lebih baik. Kita membutuhkan Tuhan untuk membuka mata kita terhadap dosa kita sendiri. 

 

Renungkan kembali, kita tidak diselamatkan karena kita lebih baik daripada orang lain. Kita tidak diterima Tuhan karena dosa kita lebih sedikit dibandingkan dosa orang lain. Kita diterima Allah karena Kristus menggantikan kita. Yesus datang bukan untuk menyelamatkan kita dari orang-orang di sekitar kita, tetapi untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

 

Refleksi
Bacalah 2 Samuel 12:1-15 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Matius 8-10