DOSA ITU MENIPU DAN MEMATIKAN
1 SAMUEL 28–31

 

Dosa adalah pendusta. Ia menjanjikan kehidupan, tetapi pada akhirnya justru membawa kepada kehancuran dan kematian.

 

Selama kita masih hidup di dunia ini, sebelum kehidupan kekal dinyatakan sepenuhnya, kita akan terus dihadapkan pada berbagai kebohongan setiap hari. Sejak awal, ketika Iblis muncul di taman Eden, ia sudah menunjukkan bahwa ia adalah pendusta. Hakikat dosa adalah menipu. Janji-janji yang diberikannya tidak bisa dipercaya.

 

“Kehidupan yang baik” yang ditawarkan dosa sebenarnya adalah tipuan yang mematikan. Dosa sering terlihat menarik, seolah-olah menawarkan kehidupan yang lebih baik. Tapi itu hanyalah tipuan. Seperti seseorang yang tertipu oleh janji keuntungan cepat, demikian juga kita sering tertarik oleh ilusi bahwa berkat, kebahagiaan, dan kehidupan sejati bisa ditemukan di luar kehendak Tuhan. Adam dan Hawa jatuh ke dalam tipu daya itu, dan sejak saat itu manusia terus “membeli” kebohongan yang sama. Dosa selalu menggoda, tetapi tidak pernah benar-benar memberi kehidupan.

 

Dalam 1 Samuel 31, kita melihat akhir hidup Saul yang sangat menyedihkan. Kisah ini seharusnya membuat hati kita tergerak: Sementara itu orang Filistin berperang melawan orang Israel. Orang-orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin dan banyak yang mati terbunuh di pegunungan Gilboa. Orang Filistin terus mengejar Saul dan anak-anaknya dan menewaskan Yonatan, Abinadab dan Malkisua, anak-anak Saul. Kemudian makin beratlah pertempuran itu bagi Saul; para pemanah menjumpainya, dan melukainya dengan parah. Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya: 'Hunuslah pedangmu dan tikamlah aku, supaya jangan datang orang-orang yang tidak bersunat ini menikam aku dan memperlakukan aku sebagai permainan.' Tetapi pembawa senjatanya tidak mau, karena ia sangat segan. Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya. Ketika pembawa senjatanya melihat, bahwa Saul telah mati, iapun menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya, lalu mati bersama-sama dengan Saul. (1Sam. 31:1–5).

 

Betapa tragis akhir hidup seorang raja yang pernah diurapi Tuhan. Pasukannya kalah total, anak-anaknya mati dalam peperangan, dan Saul sendiri mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sulit rasanya mengingat bahwa Saul pernah memulai dengan begitu baik. Namun ia memilih mengikuti kebohongan dosa. Ia melangkah keluar dari batas yang Tuhan tetapkan, dan terus membenarkan tindakannya sendiri. Dosa membuatnya percaya bahwa ia bisa hidup tanpa benar-benar tunduk kepada Tuhan. Ia hidup seakan-akan Tuhan bisa diabaikan, seolah-olah pemberontakannya tidak akan membawa konsekuensi.

 

Apa yang sebenarnya Saul pikirkan? Apakah ia mengira bisa melawan Tuhan dan tetap baik-baik saja? Apakah ia merasa Tuhan tidak akan memperhitungkan pemberontakannya? Inilah tipu daya dosa yaitu membuat kita merasa aman dalam ketidaktaatan.

 

Kisah ini ada dalam Alkitab bukan tanpa alasan. Ini adalah peringatan bagi kita, karena Tuhan mengasihi kita. Upah dosa memang adalah maut (Rm. 6:23). Dan tanpa kita sadari, kita semua mudah tertipu oleh dosa. Itulah sebabnya kita membutuhkan pertolongan dari luar diri kita. Kita membutuhkan Juruselamat.

 

Dalam kasih karunia-Nya, Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus untuk menyelamatkan kita. Di dalam Dia, kita bukan hanya menerima hidup yang sejati dengan pengharapan yang indah, tetapi juga kekuatan untuk melawan tipu daya dosa, di sini dan sekarang. Datanglah kepada-Nya dan berlarilah kepada-Nya sebab Ia tidak akan menolakmu.

 

Refleksi
Bacalah Yohanes 8:39–47 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 28-31