KESELAMATAN, BUKAN KENYAMANAN
AYUB 32–34

 

Kita perlu mengingat bahwa perhatian utama Tuhan bukanlah kenyamanan hidup kita di dunia ini, melainkan keselamatan kekal kita.

 

Sering kali kita bergumul dengan Tuhan bukan karena Tuhan tidak baik atau tidak setia, sebab Tuhan selalu baik dan setia, tetapi karena apa yang kita anggap penting berbeda dengan apa yang Tuhan anggap penting. Ketika kita membaca Alkitab, kita melihat bahwa tujuan utama Tuhan bukanlah supaya kita menjalani hidup yang selalu nyaman dan menyenangkan di antara masa "sudah" dan "belum" (already but not yet) dari penggenapan Kerajaan-Nya. 

 

Kalau kita memperhatikan hidup kita, banyak hal kecil saja bisa dengan mudah merusak hati dan suasana kita. Kekecewaan, rencana yang gagal, masalah kecil, atau keadaan yang tidak sesuai harapan sering membuat kita sedih, marah, atau kecewa. Namun pernahkah kita bertanya: seberapa sering sukacita dan kesedihan kita berkaitan dengan kehendak Tuhan dan Kerajaan-Nya? Apakah kita sedih karena hati kita masih mudah menjauh dari Tuhan? Apakah kita bersyukur atas anugerah Tuhan yang setiap hari menopang hidup kita? Apakah kita bersukacita karena Tuhan terus menyelamatkan dan membentuk kita?

 

Sering kali fokus kita hanya tertuju pada kenyamanan hidup saat ini, sementara Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar dan kekal. Sukacita yang sejati dan kokoh tidak bergantung pada keadaan hidup. Sukacita itu lahir ketika hati kita mulai menginginkan apa yang Tuhan inginkan bagi kita. Tetapi jika kita terus mengejar hal yang berbeda dari kehendak Tuhan, kita akan mudah kecewa kepada-Nya dan mulai meragukan kebaikan-Nya.

 

Dalam Ayub 33, Elihu mulai berbicara. Walaupun tidak semua perkataannya benar, ada bagian yang menunjukkan hikmat: “Karena Allah berfirman dengan satu dua cara, tetapi orang tidak memperhatikannya. Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur, maka Ia membuka telinga manusia dan mengejutkan mereka dengan teguran-teguran untuk menghalangi manusia dari pada perbuatannya, dan melenyapkan kesombongan orang, untuk menahan nyawanya dari pada liang kubur, dan hidupnya dari pada maut oleh lembing.” (Ayb. 33:14–18).

 

Elihu menunjukkan sesuatu yang penting. Mengapa kita sering gagal melihat pekerjaan Tuhan? Mengapa kita sulit mendengar suara-Nya? Bukan karena Tuhan telah meninggalkan kita. Bukan karena Dia diam. Sering kali karena kita terlalu sibuk memikirkan mengapa hidup terasa berat, sementara Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kenyamanan sesaat kita.

 

Di dalam Injil, kita melihat tujuan terbesar Tuhan dengan jelas. Kristus tidak datang terutama untuk membuat hidup kita nyaman, tetapi untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Melalui salib dan kebangkitan-Nya, Yesus mengerjakan keselamatan kekal yang tidak dapat diberikan oleh kenyamanan dunia. Karena itu, ketika Tuhan mengizinkan kesulitan hadir dalam hidup kita, kita tidak perlu segera menyimpulkan bahwa Dia tidak peduli. Bisa jadi justru di tengah kesulitan itu Tuhan sedang membentuk hati kita, menyingkapkan kesombongan kita, menarik kita semakin dekat kepada Kristus, dan mempersiapkan kita bagi kemuliaan yang kekal.

 

Kabar baiknya adalah Tuhan tidak pernah berhenti bekerja demi kebaikan terbesar umat-Nya. Dengan hikmat-Nya, kesetiaan-Nya, dan kasih karunia-Nya yang menyelamatkan, Dia sedang menuntun kita kepada tujuan akhir yang mulia, hidup bersama-Nya untuk selama-lamanya. Dan itulah alasan yang cukup untuk tetap percaya, tetap bersyukur, dan tetap bersukacita kepada-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Matius 18:7–9 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 32-34