ALLAH MENDENGAR KITA
YESAYA 36-39
Allah menjawab doa kita bukan karena kita layak, tetapi karena Dia adalah Allah yang penuh anugerah dan yang setia menyatakan kemuliaan-Nya.
Dalam kehidupan ini, tidak mudah untuk bertemu dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin sulit pula kita memperoleh kesempatan untuk datang dan berbicara dengannya. Kalaupun berhasil bertemu, belum tentu ia mengenal kita, memahami dan mendengar pergumulan kita, atau bersedia menolong kita.
Namun, berbeda dengan semua itu, kita memiliki hak istimewa yang luar biasa. Tanpa harus pergi ke tempat tertentu, tanpa membuat janji, bahkan tanpa harus membuktikan kelayakan diri, kita dapat datang kepada Raja di atas segala raja. Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi. Dia mengenal kita, memahami pergumulan kita, memperhatikan setiap air mata kita, dan selalu siap mendengarkan doa umat-Nya. Allah tidak pernah terlalu sibuk, tidak pernah terganggu, dan tidak pernah bosan mendengar seruan anak-anak-Nya.
Kebenaran ini terlihat dengan jelas dalam kehidupan Raja Hizkia. Ketika menerima surat ancaman dari Sanherib yang menghina Allah dan mengancam Yehuda, Hizkia tidak membalas dengan kekuatannya sendiri. Ia membawa surat itu ke hadapan Tuhan dan berdoa: "Ya TUHAN semesta alam, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, dan dengarlah; bukalah mata-Mu, ya TUHAN, dan lihatlah; dengarlah segala perkataan Sanherib yang telah dikirimnya untuk mencela Allah yang hidup. Ya TUHAN, memang raja-raja Asyur telah memusnahkan semua bangsa dan negeri-negeri mereka dan menaruh para allah mereka ke dalam api, sebab mereka bukanlah Allah, hanya buatan tangan manusia, kayu dan batu; sebab itu dapat dibinasakan orang. Maka sekarang, ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah TUHAN." (Yes. 37:16-20).
Perhatikan dasar doa Hizkia. Ia tidak berkata, "Tuhan, tolonglah aku karena aku adalah raja yang baik," atau "karena aku telah hidup benar." Ia sama sekali tidak mendasarkan permohonannya pada dirinya sendiri. Hizkia datang kepada Allah karena ia percaya kepada siapa Allah itu dan kepada janji-janji perjanjian-Nya. Ia memohon agar Allah bertindak demi kemuliaan nama-Nya, supaya semua bangsa mengetahui bahwa hanya TUHANlah Allah yang sejati.
Inilah dasar keberanian orang percaya dalam berdoa. Kita tidak datang kepada Allah karena jasa atau kesalehan kita, tetapi karena anugerah-Nya. Injil menyatakan bahwa melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, jalan menuju hadirat Allah telah dibukakan bagi kita. Kristus telah menanggung hukuman dosa kita dan menjadi Pengantara yang sempurna. Karena itu, kita dapat datang kepada Bapa dengan penuh keyakinan, bukan karena kita pantas diterima, tetapi karena Kristus telah membuat kita diterima di hadapan Allah.
Doa orang percaya tidak berdiri di atas kelayakan diri, tetapi di atas karya Kristus yang sempurna. Itulah sebabnya kita tidak perlu takut datang kepada Allah, bahkan ketika kita merasa lemah, gagal, atau tidak layak. Bapa menerima kita karena kita datang di dalam Kristus, Anak-Nya yang terkasih.
Karena Kristus adalah Imam Besar kita yang sempurna, kita tidak perlu datang kepada Allah dengan rasa takut bahwa Dia akan menolak kita. Kita diterima bukan karena kebenaran kita, tetapi karena kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepada kita. Oleh sebab itu, kita dapat menghampiri takhta kasih karunia dengan penuh keberanian, percaya bahwa Allah mendengar doa-doa kita dan akan menjawabnya menurut hikmat, kasih, dan rencana-Nya yang sempurna.
Hari ini, datanglah kepada Allah dengan keberanian yang lahir dari Injil. Jangan mengandalkan kebaikan atau pencapaian diri Anda, tetapi percayalah kepada anugerah Kristus. Bawalah setiap pergumulan Anda kepada Bapa, sebab Dia selalu mendengar doa anak-anak-Nya. Dan berdoalah dengan kerinduan yang sama seperti Hizkia: supaya melalui setiap jawaban doa, nama Tuhan semakin dimuliakan dan semakin banyak orang mengenal bahwa hanya Dialah Allah yang hidup.
Refleksi
Bacalah Lukas 11:1–13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 36-39