MEMULIAKAN DAN MENIKMATI ALLAH
YESAYA 59–62
Manusia diciptakan untuk mengasihi, menyembah, dan menikmati hidup bersama Allah. Namun dosa membuat kita terpisah dari Allah, padahal Dialah Pribadi yang menjadi tujuan hidup kita.
Sebagian besar dari kita tentu pernah merasakan sedihnya berpisah dengan orang yang kita kasihi. Semakin dalam kasih kita kepada seseorang, semakin berat rasanya ketika harus berjauhan. Tidak ada yang dapat menggantikan sukacita saat kembali berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai. Karena itu, perpisahan selalu meninggalkan kerinduan untuk bertemu kembali. Namun, sebesar apa pun kesedihan karena terpisah dari orang yang kita cintai, tidak ada perpisahan yang lebih menyedihkan daripada terpisah dari Allah. Dari semua tragedi yang dapat terjadi dalam hidup, inilah tragedi yang paling besar.
Kita sering memandang dosa hanya sebagai pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah. Padahal, dosa jauh lebih dalam daripada itu. Dosa merusak hubungan kita dengan Pencipta. Kita diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Identitas, tujuan hidup, sukacita, dan kepuasan sejati hanya dapat ditemukan di dalam persekutuan dengan-Nya. Karena itu, ketika manusia terpisah dari Allah, ia kehilangan tujuan hidup yang sesungguhnya.
Nabi Yesaya menyatakan kenyataan ini dengan sangat jelas: “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yes. 59:1–2).
Masalah terbesar manusia bukanlah penderitaan, kemiskinan, penyakit, atau kegagalan. Masalah terbesar kita adalah dosa yang memisahkan kita dari Allah. Bukan karena Allah tidak sanggup menyelamatkan atau tidak mau mendengar, melainkan karena dosa telah merusak hubungan yang seharusnya menjadi pusat kehidupan kita.
Inilah mengapa tidak ada keberhasilan, kekayaan, relasi, atau pencapaian yang mampu benar-benar memuaskan hati manusia. Kita mungkin berusaha mengisi kekosongan itu dengan berbagai hal, tetapi selama hubungan kita dengan Allah belum dipulihkan, hati kita akan tetap gelisah. Kita diciptakan untuk Allah, sehingga hanya Allah yang dapat memenuhi kerinduan terdalam jiwa kita.
Namun, di sinilah Injil bersinar dengan begitu indah. Allah tidak membiarkan kita tetap terpisah dari-Nya. Karena kasih-Nya yang besar, Ia mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk melakukan apa yang tidak mungkin kita lakukan sendiri. Di kayu salib, Yesus menanggung hukuman atas dosa kita. Ia mengalami keterpisahan yang seharusnya menjadi bagian kita, supaya kita dapat diperdamaikan dengan Allah. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, tembok pemisah antara Allah dan manusia dirobohkan. Di dalam Kristus, dosa diampuni, hubungan dipulihkan, dan kita kembali diterima sebagai anak-anak Allah.
Inilah inti dari keselamatan. Allah bukan sekadar menyelamatkan kita dari hukuman dosa, tetapi juga membawa kita kembali kepada diri-Nya. Keselamatan bukan hanya tentang masuk surga suatu hari nanti, melainkan tentang menikmati persekutuan dengan Allah mulai sekarang dan untuk selama-lamanya.
Karena itu, hidup orang percaya bukan lagi hidup yang jauh dari Allah. Kita telah dipersatukan dengan Kristus, sehingga tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Dia. Kini kita dapat datang kepada Bapa dengan penuh keberanian, menikmati kasih-Nya, mengenal hati-Nya melalui firman-Nya, dan hidup untuk kemuliaan-Nya.
Hari ini, bersyukurlah karena melalui Yesus Kristus, keterpisahan kita dengan Allah telah diakhiri. Mintalah pada Roh Kudus, agar kita dimampukan menemukan identitas, sukacita, atau tujuan hidup hanya di dalam Kristus. Datanglah setiap hari kepada Bapa, sebab di dalam Kristus kita telah diperdamaikan dengan-Nya. Di hadirat-Nya ada kepenuhan sukacita, dan hanya di dalam hubungan dengan-Nya kita menemukan kehidupan yang sejati, kehidupan yang untuknya kita diciptakan sejak semula.
Refleksi
Bacalah 2 Korintus 5:11–21 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 59-62