ANUGERAH YANG MENGALAHKAN KEPAHITAN
2 SAMUEL 1–3
Karena kita telah menerima begitu besar kasih karunia dari Allah, kita pun dipanggil untuk merespons orang lain dengan kasih karunia, bahkan kepada mereka yang pernah menyakiti kita.
Bayangkan jika kita berada di posisi Yesus, mengalami ketidakadilan, penolakan, bahkan penderitaan yang begitu berat dan memiliki kuasa untuk membalas. Apa yang akan kita lakukan? Namun di atas salib, Tuhan Yesus justru mengampuni mereka yang menyiksa-Nya. Itulah jalan salib: jalan kasih karunia.
Karena itu, kita tidak boleh mengambil pembalasan ke dalam tangan kita, baik lewat pikiran, perkataan, maupun tindakan. Kita juga tidak boleh diam-diam berharap orang yang menyakiti kita mengalami kejatuhan, apalagi merasa senang saat itu terjadi. Adalah keliru jika kita merayakan kasih karunia, tetapi di saat yang sama menginginkan penghukuman atas orang lain.
Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk mengasihi orang yang baik kepada kita, tetapi juga mengasihi musuh kita, mendoakan mereka yang menyakiti kita, dan mencari cara untuk berbuat baik kepada mereka. Ini bukan hal yang mudah. Kita semua harus melawan keinginan untuk menyimpan kesalahan orang lain, membiarkan kepahitan tinggal dalam hati, atau membayangkan penderitaan mereka. Sikap seperti itu tidak sejalan dengan kasih karunia Tuhan. Dendam bukanlah bagian dari bahasa kasih karunia Tuhan.
Untuk bisa hidup seperti ini, kita sendiri harus terus diingatkan dan dipenuhi oleh kasih karunia yang sama yang kita terima dari Tuhan. Dalam 2 Samuel 1:17–27, kita melihat contoh yang indah dari Daud. Setelah kematian Saul dan Yonatan, Daud tidak merayakan kejatuhan Saul, meskipun Saul pernah sangat menyakitinya. Sebaliknya, Daud memilih meratapi dan mengingat hal-hal yang baik. Ia mengenang keberanian Saul, kemenangan-kemenangannya, dan bagaimana bangsa Israel diberkati melalui kepemimpinannya.
Padahal, Saul telah membuat hidup Daud sangat sulit. Kecemburuan Saul bahkan membuatnya berusaha membunuh Daud. Namun Daud tidak menggunakan momen kematian Saul untuk membuka semua kesalahan dan pemberontakannya. Ini bukan ratapan dari hati yang pahit, tetapi dari hati yang dipenuhi kasih karunia.
Beginilah ratapan dari Daud berbunyi: “Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa. Hai anak-anak perempuan Israel, menangislah karena Saul, yang mendandani kamu dengan pakaian mewah dari kain kirmizi, yang menyematkan perhiasan emas pada pakaianmu. Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran! Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu. Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan. Betapa gugur para pahlawan dan musnah senjata-senjata perang!” (2Sam. 1:23–27).
Akhirnya, biarlah kita yang telah menerima kasih karunia yang begitu besar, memiliki hati yang penuh syukur dan beristirahat di dalam Tuhan. Kiranya kita lebih rindu memberikan kasih karunia kepada orang lain daripada memikirkan, mengharapkan atau bahkan menikmati kejatuhan mereka yang pernah menyakiti kita. Inilah Injil: kita yang seharusnya dihukum, justru menerima kasih karunia di dalam Kristus. Maka sekarang, kita dipanggil untuk hidup dalam kasih karunia itu—dan memberikannya kepada orang lain.
Refleksi
Bacalah Matius 18:21–35 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 1-3