BERHENTI SEJENAK DAN RENUNGKAN
AYUB 35–37
Salah satu hal yang paling menyegarkan jiwa kita adalah berhenti sejenak dari kesibukan hidup dan meluangkan waktu untuk merenungkan karya-karya Tuhan yang ajaib.
Kita hidup di dunia yang penuh distraksi. Hati dan pikiran kita terus dipenuhi berbagai informasi, hiburan, notifikasi, dan kesibukan tanpa henti. Bahkan beberapa menit dalam keheningan saja terkadang terasa tidak nyaman. Kita terbiasa selalu terhubung dengan layar dan media, tetapi tanpa sadar semua itu membuat hati kita sulit benar-benar tenang di hadapan Tuhan.
Sering kali kita bisa menghabiskan berjam-jam dengan gadget atau media sosial, tetapi hanya sedikit waktu untuk berdoa, membaca firman, atau merenungkan kebesaran Tuhan. Kita jarang berhenti untuk benar-benar memikirkan siapa Tuhan dan apa yang sedang Ia kerjakan dalam hidup kita.
Padahal hal terpenting dalam hidup kita adalah mengenal Tuhan, keberadaan-Nya, karakter-Nya, kehendak-Nya, dan kemuliaan-Nya. Tanpa Tuhan, kita tidak akan menemukan identitas, tujuan hidup, arah, ataupun damai sejati. Kebenaran tentang siapa Allah adalah lensa yang harus kita gunakan untuk memahami hidup dengan benar. Karena itu, kita perlu melatih hati untuk berhenti sejenak dan memandang kepada Tuhan. Kita perlu menyediakan waktu untuk mengingat kembali betapa besar, mulia, dan penuh kuasa-Nya Tuhan kita.
Keberadaan dan kemuliaan Allah memberi kita identitas, tujuan, batasan moral, dan pengharapan yang kekal. Kehendak-Nya seharusnya memimpin pikiran, keinginan, pilihan, perkataan, dan tindakan kita. Kemuliaan-Nya membebaskan kita dari hidup yang berpusat pada diri sendiri. Kekudusan-Nya menyingkapkan dosa kita sehingga kita semakin menghargai kasih karunia-Nya.
Inilah yang diingatkan dalam Ayub 37: “Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah. Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya? Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu, hai engkau, yang pakaiannya menjadi panas, jika bumi terdiam karena panasnya angin selatan? Dapatkah engkau seperti Dia menyusun awan menjadi cakrawala, keras seperti cermin tuangan? Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilan-Nya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya. Itulah sebabnya Ia ditakuti orang; setiap orang yang menganggap dirinya mempunyai hikmat, tidak dihiraukan-Nya." (Ayb. 37:14–18, 23–24).
Dalam bagian ini, Elihu mengajak Ayub untuk berhenti sejenak dan memandang kebesaran Allah yang dinyatakan melalui ciptaan-Nya. Alam semesta menjadi saksi bahwa Tuhan memegang kendali penuh atas segala sesuatu. Apa yang tidak mampu dipahami manusia sepenuhnya berada di bawah hikmat dan kuasa Allah yang sempurna.
Dari perspektif Injil, ajakan ini tidak hanya membawa kita untuk mengagumi karya penciptaan, tetapi juga karya penebusan. Kemuliaan Allah yang terlihat dalam alam mencapai puncaknya dalam pribadi Yesus Kristus. Di dalam Kristus kita melihat kuasa, hikmat, kasih, keadilan, dan anugerah Allah dinyatakan dengan sempurna. Ketika kita berhenti dari kebisingan dunia dan memandang Kristus, hati kita diingatkan bahwa hidup bukanlah tentang diri kita, melainkan tentang Dia. Kita menemukan pengharapan di tengah kesulitan, damai di tengah ketidakpastian, dan tujuan di tengah berbagai kesibukan. Sering kali masalah terbesar kita bukan karena Tuhan tidak hadir, tetapi karena perhatian kita terlalu dipenuhi oleh hal-hal lain sehingga kita kehilangan kekaguman kepada-Nya.
Kadang yang paling kita butuhkan bukan lebih banyak hiburan, jawaban, atau kesibukan, tetapi hati yang kembali diam di hadapan Tuhan. Karena itu, berhentilah sejenak dari hiruk-pikuk yang memenuhi pikiran dan perhatian Anda. Renungkanlah firman Tuhan. Pandang kemuliaan-Nya yang dinyatakan dalam Kristus. Semakin kita memandang kebesaran Tuhan, semakin kecil kuasa dunia untuk menguasai hati kita. Dan semakin kita mengagumi anugerah-Nya, semakin hidup kita dibentuk untuk memuliakan-Nya.
Refleksi
Bacalah Mazmur 63:1–8 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 35-37