SEMPURNA DAN KUDUS
2 SAMUEL 4–7

 

Meremehkan, mengabaikan, atau meragukan kekudusan Tuhan yang sempurna tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang baik dalam hidup kita.

 

Kekudusan Allah begitu sempurna, sampai kita sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Tidak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar murni setiap waktu dan dalam segala hal. Dalam bahasa Ibrani, kata kudus berarti terpisah, dipisahkan dari segala sesuatu yang lain atau “berbeda dari yang lain”. Dalam kekudusan-Nya yang sempurna, Allah adalah “yang sepenuhnya berbeda.” Tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada yang seperti Dia.

 

Allah sepenuhnya berbeda dari kita. Tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada, yang seperti Dia. Kekudusan bukan hanya salah satu sifat-Nya, kekudusan adalah siapa Dia. Ia kudus dalam kasih, dalam hikmat, dalam kuasa, dalam kesetiaan, dalam murka, dalam kasih karunia, dalam kesabaran, dan dalam keadilan serta belas kasihan-Nya. Dalam segala hal dan setiap waktu, Allah tetap sempurna dan kudus. Dan di sinilah kita berbeda dari-Nya.

 

Mengapa ini penting? Karena saat kita benar-benar melihat betapa kudus-Nya Tuhan, kita akan menyadari bahwa dosa itu serius. Dalam terang kekudusan-Nya, kita belajar menghargai firman-Nya, dan semakin bersyukur atas kasih karunia-Nya. Sering kali, kita meremehkan dosa karena kita lupa bahwa Tuhan itu kudus. Dalam kasih-Nya, Tuhan mengizinkan kita melihat kisah-kisah yang tidak nyaman, yang mengingatkan bahwa kekudusan-Nya tidak bisa ditawar.

 

Sebagai manusia berdosa, kita kadang merasa Tuhan terlalu keras. Kita bahkan bisa berpikir seolah-olah Ia bereaksi berlebihan. Padahal, kalau boleh jujur, sering kali kita ingin Tuhan sedikit lebih seperti kita, lebih longgar atau mungkin lebih fleksibel. Justru karena Tuhan berbeda dari kita, kita diingatkan bahwa kita membutuhkan anugerah-Nya.

 

Salah satu kisah itu ada di 2 Samuel 6. Tabut perjanjian, tempat kehadiran Tuhan, dipindahkan dengan cara yang tidak sesuai dengan perintah-Nya. Seharusnya tabut itu diangkut oleh para imam dengan kayu pengusung, tetapi malah dibawa dengan kereta (ay. 1-11). Ketika kereta itu hampir terguling, Uza yang berjalan di sampingnya spontan mengulurkan tangan untuk menahan tabut itu. Namun saat ia menyentuhnya, ia langsung mati.

 

Kisah ini mungkin terasa keras, tetapi menunjukkan bahwa Tuhan serius dengan kekudusan-Nya. Ia tidak menurunkan standar-Nya. Dan di sinilah kita melihat betapa pentingnya salib. Tuhan tidak bisa mengabaikan dosa, dosa harus dihukum. Namun, daripada membuat kita meragukan kebaikan Allah, kematian Uza seharusnya membawa kita kepada satu kesadaran Injil: di dalam kasih-Nya, Allah menyediakan jalan. Melalui Yesus, hukuman itu ditanggung, supaya kita yang berdosa ini tetap bisa datang dan berdiri di hadapan Tuhan yang kudus.

 

Karena itu, kisah ini seharusnya tidak membuat kita meragukan kebaikan Tuhan, tetapi justru membuat kita semakin bersyukur atas kasih karunia-Nya. Betapa besar anugerah di dalam Yesus Kristus, yang memungkinkan orang berdosa berdiri di hadapan Allah yang sempurna kudus.

 

Refleksi
Bacalah Yeremia 7:1-15 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 4-7