HANYA BISA DILAKUKAN OLEH ALLAH
Kejadian 16-18

 

Kita sering tergoda untuk mencoba, dengan kekuatan manusia, melakukan hal-hal yang sebenarnya hanya bisa dilakukan oleh Allah.

 

Saat Anda membentak anak-anak Anda, berpikir bahwa nada keras dan suara yang lebih tinggi akan mengubah hati mereka, saat itu Anda sedang berusaha melakukan dengan kekuatan sendiri apa yang hanya Allah sanggup lakukan.

 

Saat Anda disakiti oleh pasangan Anda lalu menghukumnya dengan sikap diam, Anda sedang mencoba melakukan dengan cara manusia apa yang hanya Allah sanggup lakukan.

 

Saat Anda menghadapi dosa Anda dengan performa pembenahan diri, alih-alih berseru meminta pertolongan dan kasih karunia yang memampukan, Anda sedang mencoba melakukan sendiri apa yang hanya Allah sanggup lakukan.

 

Saat Anda memaksa membuka pintu pelayanan tanpa menantikan pimpinan Tuhan, Anda sedang mencoba dengan kekuatan sendiri apa yang seharusnya Anda percayakan kepada-Nya.

 

Saat Anda dengan tidak sabar “memukul” orang dengan Injil, alih-alih membiarkan Roh Kudus bekerja di hati mereka, Anda sedang berusaha melakukan apa yang hanya Allah bisa lakukan.

 

Pergumulan inilah yang dialami Abraham. Allah telah berjanji bahwa Abraham dan Sara akan memiliki seorang anak—bukan sekadar anak, tetapi seorang anak yang melalui dia janji Allah kepada Abraham akan diteruskan ke generasi-generasi berikutnya. Tahun demi tahun mereka menunggu, tetapi anak itu belum juga datang. Sementara itu, Sara semakin tua dan tidak lagi mungkin mengandung (Kej. 16–18).

 

Saat kita hidup bergantung pada janji Allah, tetapi janji itu terasa belum digenapi, menunggu menjadi sangat sulit. Awalnya kita hanya merasa khawatir. Kekhawatiran itu berubah menjadi ketakutan, dan ketakutan berkembang menjadi kepanikan. Dalam kepanikan, kita mulai berpikir bagaimana kita bisa “menolong” Allah melakukan apa yang kita nantikan. Coba tanyakan pada diri sendiri: berapa banyak keputusan yang kita ambil lebih dibentuk oleh ketakutan akan “bagaimana jika” daripada oleh iman kepada Allah?

 

Maka Sara pun memberikan Hagar, hambanya, kepada Abraham—mengambil alih kendali untuk menggenapi janji Allah dengan caranya sendiri. Abraham seharusnya menolak, tetapi ia tidak melakukannya. Hagar mengandung, Sara menjadi cemburu, dan mulai memperlakukan Hagar dengan buruk. Hagar pun melarikan diri untuk menyelamatkan diri dari situasi yang menyakitkan. Rumah Abraham terpecah, karena mereka mencoba melakukan dengan kekuatan manusia apa yang hanya Allah bisa lakukan.

 

Namun Allah adalah Allah yang penuh kasih karunia. Ia tidak membatalkan perjanjian-Nya dengan Abraham. Ia tetap memberikan anak yang dijanjikan, dan Ia juga memberkati Hagar. Allah tidak menggantungkan janji-Nya pada kesempurnaan ketaatan manusia, tetapi pada kesetiaan-Nya sendiri. Sering kali Allah menepati janji-Nya bahkan ketika kita tidak sabar menunggu dan memilih mengandalkan hikmat serta kekuatan kita sendiri untuk melakukan apa yang hanya dapat dilakukan oleh Dia.

 

Hari ini, apakah Anda sedang tergoda untuk melakukan dengan usaha manusia apa yang hanya dapat dilakukan oleh Allah? Maukah Anda menunggu? Maukah Anda mempercayai kehadiran, kuasa, dan kesetiaan Tuhan? Maukah Anda menemukan damai dalam keyakinan bahwa waktu-Nya selalu tepat? Dan maukah Anda beristirahat dalam kepastian janji-janji Tuhan? Injil mengingatkan kita bahwa keselamatan, perubahan hati, dan penggenapan janji Allah tidak lahir dari usaha kita, melainkan dari kasih karunia-Nya yang setia di dalam Kristus.

 

Refleksi
Bacalah Markus 4:26-32 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini? 
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 16-18