ALLAH YANG SETIA MENGGENAPI JANJI-NYA
Kejadian 19-21
Bukan keadaan yang melahirkan ketakutan terdalam, melainkan hati yang tidak lagi bersandar pada kehendak dan kuasa Tuhan.
Ketenangan dan kesabaran hati tidak ditemukan dengan mencoba memahami semua yang sedang terjadi, atau dengan menebak-nebak bagaimana Tuhan akan menepati janji-Nya. Ketenangan dan kesabaran hati justru lahir ketika kita mempercayai Dia yang telah merancang segalanya dan yang tahu dengan tepat bagaimana menggenapi apa yang telah Dia janjikan.
Kita adalah manusia yang terbatas. Ke mana pun kita pergi, kita membawa keterbatasan rohani, mental, emosional, dan fisik. Kita terbatas dalam kebenaran, hikmat, dan kekuatan. Jika kita tidak hidup bersandar pada hadirat dan kuasa Tuhan, kita akan menilai keadaan hanya dari sudut pandang keterbatasan kita sendiri. Namun apa yang tampak mustahil bagi kita, sesungguhnya sangat mungkin bagi Tuhan. Kekuatan-Nya, pengertian-Nya, belas kasih-Nya, dan anugerah-Nya tidak terbatas.
Sering kali kita membuat janji dengan niat baik, tetapi akhirnya menyadari bahwa kita tidak sanggup menepatinya. Kita tahu bahwa segala sesuatu perlu diselesaikan, tetapi tidak memiliki kuasa atau hikmat untuk melakukannya. Berbeda dengan Tuhan. Tidak ada satu pun yang Dia janjikan yang tidak sanggup Dia lakukan. Tidak ada. Segala berkat yang kita miliki berasal dari Dia yang berkuasa untuk mengendalikan alam, sejarah, dan setiap peristiwa yang terjadi. Dia bukan hanya menciptakan segala sesuatu, tetapi segala ciptaan tunduk pada kehendak-Nya. Dia agung, Mahakuasa dalam kekuatan dan hikmat. Apa yang Ia janjikan, pasti Ia lakukan.
Jadi, Allah sama sekali tidak dibatasi oleh usia Abraham atau Sara, sebagaimana Dia juga tidak dibatasi oleh keterbatasan manusia mana pun dalam menggenapi apa yang telah Dia janjikan. Kejadian 21:1–7 mencatat kelahiran anak yang dijanjikan, Ishak, dan juga mencatat bahwa Abraham berusia seratus tahun. Ya, benar: Seratus tahun. Allah yang adalah Tuhan atas langit dan bumi juga adalah Tuhan atas rahim seorang perempuan, dan Dia sanggup melakukan apa yang telah Dia janjikan. Dia adalah Allah. Dia tidak dibatasi oleh kelemahan kita.
Ketika kita membaca kisah penantian panjang Abraham dan Sara akan anak yang dijanjikan, kisah itu mengarahkan kita pada janji yang jauh lebih besar. Ada Anak lain yang dijanjikan—harapan dunia diletakkan di atas pundak-Nya. Berabad-abad berlalu, seakan-akan janji itu tidak akan pernah digenapi. Namun pada suatu malam, di sebuah kandang sederhana di Betlehem, kepada seorang tukang kayu yang rendah hati dan istrinya, Mesias yang dijanjikan itu lahir.
Tidak ada satu pun peristiwa di sepanjang abad yang berlalu mampu menghentikan janji Allah. Yesus Kristus, Anak Manusia dan Anak Allah, Anak Domba Allah dan Juruselamat dunia, lahir tepat pada waktu yang telah ditetapkan Allah. Melalui Dia, Allah memberikan pembenaran, pendamaian, pengampunan, dan hidup yang baru bagi semua orang yang percaya. Janji-janji Allah tidak dibatasi oleh kelemahan manusia dan berlalunya waktu pun tidak akan dapat mengikis kesetiaan-Nya. Jangan menyerah kepada ketakutan—Allah pasti melakukan apa yang telah Ia janjikan.
Refleksi
Bacalah Yesaya 55:1-13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 19-21