KETIKA HIDUP TIDAK MASUK AKAL, ALLAH TETAP SETIA
Kejadian 22-24

 

Ketika hidup terasa tidak masuk akal, kita tidak kehilangan harapan atau pertolongan, karena kita adalah anak-anak Allah.

 

Seseorang sedang menghadapi operasi keenam dalam dua tahun. Baginya, itu adalah momen yang terasa sama sekali tidak masuk akal. Hidup seakan kehilangan maknanya. Operasi ini akan jauh lebih berat dan lebih menyakitkan daripada yang sebelumnya, dan membutuhkan waktu pemulihan yang jauh lebih lama. Jika seseorang harus menjalani operasi setiap empat bulan, tubuhnya tidak pernah benar-benar punya waktu untuk pulih sebelum operasi berikutnya datang. Tubuhnya lemah dan terkuras dan hampir tidak punya energi untuk menjalani hari. 

 

Padahal, pada saat itu ia sedang berada dalam masa pelayanan yang paling indah. Ia memiliki pengaruh Injil yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan. Ia membayangkan dirinya pergi ke banyak tempat dan menjangkau banyak orang yang membutuhkan penjelasan serta penerapan Injil. Namun kenyataannya, ia sama sekali tidak memiliki kekuatan. Rasanya tidak masuk akal bahwa justru ketika pengaruh pelayanannya mencapai puncak, secara fisik ia tidak mampu melakukan apa yang telah ia pahami sebagai panggilan dan karunia dari Allah. Di manakah Allah? Apa yang sedang Ia kerjakan? Mengapa Ia mengizinkan semua ini terjadi?

 

Demikianlah juga kehidupan Abraham. Anak yang lahir melalui mukjizat—Ishak—telah dilahirkan. Allah telah setia pada janji-Nya. Namun kemudian, dalam sebuah peristiwa yang mengejutkan, Allah meminta Abraham untuk mengorbankan anak yang dijanjikan itu (Kej. 22). Ini terasa seperti tindakan yang paling kejam: membangkitkan harapan, lalu menghancurkannya dalam sekejap. Hidup benar-benar tampak tidak masuk akal.

 

Ketika kisah ini diceritakan kembali, kitab Ibrani menjelaskan bahwa Allah sedang menguji Abraham (Ibr. 11:17–19). Ini bukan ujian lulus atau gagal. Ini lebih seperti proses untuk memurnikan—seperti logam dipanaskan pada suhu tinggi agar menjadi lebih kuat. Ketika Allah meminta Abraham mempersembahkan Ishak, Allah tidak sedang mengambil sesuatu darinya, melainkan sedang memberi sesuatu yang jauh lebih indah baginya. Allah sedang membangun iman Abraham dengan meneguhkan ketaatannya dan memberinya kesempatan untuk mengalami kesetiaan Allah secara nyata pada saat yang paling genting.

 

Dari sudut pandang Tuhan yang mengikat dan menepati perjanjian dengan Abraham, momen yang tampak tidak masuk akal ini justru merupakan bagian yang sangat masuk akal dari rencana-Nya—bukan hanya bagi Abraham, tetapi juga bagi semua orang yang akan diberkati melalui hidupnya. Dan penting untuk dicatat: dalam momen yang sulit ini, Abraham tidak pernah tanpa harapan atau pertolongan. Karena ia adalah anak perjanjian.

 

Sebagai anak perjanjian, Abraham memiliki harta rohani yang besar dan mengubah hidup. Apa yang ia miliki? Ia memiliki perintah Allah yang jelas, janji Allah yang pasti, kehadiran Allah yang menyertai, dan ia menjadi sasaran dari kuasa Allah yang tak terbatas. Abraham tidak sendirian—itulah sebabnya ia tidak kehilangan harapan maupun pertolongan.

 

Kisah hampir dikorbankannya Ishak menunjuk kepada pengorbanan Anak Perjanjian yang sejati, yaitu Yesus Kristus. Anak ini sungguh-sungguh mati supaya kita menerima berkat, pengharapan, dan pertolongan di saat-saat paling gelap dalam hidup kita. Hadirat Allah, kuasa-Nya, perintah-Nya, dan janji-janji-Nya selalu menyediakan pertolongan dan pengharapan yang kita perlukan—bahkan ketika hidup terasa tidak masuk akal.

 

Refleksi
Bacalah Lukas 4:1-13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 22-24