ALLAH YANG BERFIRMAN
Kejadian 25-26
Melalui firman Tuhan, janji Allah menjadi suara yang menghibur dan kebenaran yang meneguhkan arah hidup kita.
Pada masa studi teologi di seminari, seorang pendeta bernama Paul David Tripp bercerita bahwa ia sering berlari menaiki tangga menuju apartemennya untuk menceritakan kepada istrinya tentang semua yang sedang ia pelajari. Hatinya dipenuhi sukacita oleh kemuliaan yang ia temukan di halaman-halaman Alkitab. Ia bersukacita oleh kekayaan firman Tuhan. Ia berkata kepada istrinya bahwa ia tidak sekadar belajar berpikir secara alkitabiah, tetapi sedang belajar berpikir itu sendiri, karena firman Tuhan membentuk cara pandangnya terhadap seluruh hidup.
Ketika ia menoleh ke belakang dan melihat perjalanan lebih dari lima puluh tahun pelayanan, ia menyadari satu hal: seluruh hidup, pelayanan, dan pengharapannya dibangun di atas firman Allah. Selama puluhan tahun, ia hidup, belajar, berkhotbah, dan mengajar dari gudang kekayaan rohani yang tidak pernah habis, yang terdapat dalam firman-Nya. Dalam kasih-Nya yang penuh anugerah, Allah telah berfirman kepadanya. Ia tidak dapat membayangkan hidupnya tanpa firman Tuhan.
Dia mengatakan bahwa setiap hikmat yang ia miliki berasal dari firman-Nya. Di dalam firman Tuhan itu, ia menemukan jati dirinya. Oleh firman itu, ia ditarik untuk mempercayai Kristus. Karena firman itu pula, ia menemukan makna dan tujuan hidup. Ia memiliki damai sejahtera di tengah masa-masa sulit dan pengharapan akan masa depan karena firman Tuhan. Hidupnya telah diselamatkan, dikuatkan, dan dibentuk oleh firman-Nya.
Tidaklah mengherankan jika Allah datang kepada Ishak dan menyampaikan janji-Nya melalui kata-kata yang dapat dipahami manusia. Berkat yang melampaui pemahaman manusia kini dinyatakan dengan bahasa yang dapat dimengerti. Allah yang transenden dan kekal merendahkan diri-Nya untuk berbicara kepada kita. Firman Tuhan adalah mukjizat anugerah ilahi—melalui firman itu, rencana, kasih, dan kehendak-Nya dinyatakan dengan jelas kepada setiap generasi.
Kepada Ishak, Tuhan berfirman: "Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Ku-ikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat" (Kej. 26:3-4).
Melalui firman-Nya, Allah menyatakan berkat yang tidak mungkin diperoleh oleh usaha manusia—berkat yang tidak dapat diperjuangkan, dibeli, atau pantas diterima. Dalam firman-Nya itu, Allah menjanjikan penyertaan-Nya. Dalam firman itu, Ia menjanjikan masa depan bagi Ishak dan keturunannya. Dan melalui Ishak, berkat Allah akan mengalir ke seluruh bumi. Allah berfirman, dan karena Ia berfirman, Ishak mengetahui siapa dirinya, apa arti hidupnya, dan apa yang Allah kehendaki untuk dikerjakan melalui dirinya.
Hari ini, Allah masih berbicara kepada kita melalui firman-Nya. Keselamatan, identitas baru di dalam Kristus, tujuan hidup, dan pengharapan adalah milik kita karena Allah telah terlebih dahulu berfirman kepada kita melalui Injil. Anugerah yang mengagumkan itu dinyatakan hanya dalam dua kata yang sederhana, namun penuh kuasa: Allah berfirman.
Refleksi
Bacalah 2 Timotius 3:16-17 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 25-26