KASIH YANG SEJATI
Kemudian Samuel pergi ke Rama, tetapi Saul pergi ke rumahnya, di Gibea-Saul. Sampai hari matinya Samuel tidak melihat Saul lagi, tetapi Samuel berdukacita karena Saul. 1 Samuel 15:34-35
Saul memulai perjalanannya sebagai raja Israel dengan baik, tetapi tidak lama kemudian ia gagal. Bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia tidak taat kepada Tuhan. Samuel pun menegur Saul atas ketidaktaatannya dan menyampaikan bahwa Tuhan telah menolaknya sebagai raja (1 Samuel 15:23). Samuel tampaknya memiliki kasih dan kepedulian terhadap Saul, sehingga kegagalan Saul membuatnya sangat sedih dan berduka.
Sebagai nabi, Samuel memiliki tugas istimewa untuk menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel. Namun, ia tidak menjadi orang yang dingin atau berjarak terhadap mereka. Justru, karena ia mengasihi umat yang ia layani, ia berduka atas dosa dan penderitaan mereka. Kesedihannya ini juga membawanya kepada doa. Saat melihat umat Tuhan bertindak salah, ia berkata, "Jauh dari aku untuk berdosa terhadap Tuhan dengan berhenti mendoakan kamu" (1 Samuel 12:23). Samuel tidak hanya berduka, tetapi juga setia mendoakan mereka karena ia benar-benar peduli.
Memimpin orang lain memang membawa kehormatan, tetapi juga membawa beban. Seorang pemimpin yang baik tidak hanya bertanggung jawab dalam tugasnya, tetapi juga secara emosional terhubung dengan orang-orang yang dipimpinnya. Ketika mereka gagal atau menderita, seorang pemimpin akan ikut merasakan bebannya. Itulah yang terjadi pada Samuel. Ia tidak langsung menghakimi atau menghukum, tetapi hatinya penuh dengan belas kasih. Jika kita sungguh-sungguh peduli terhadap orang lain, kita juga akan merasakan kesedihan saat mereka jatuh dalam dosa atau mengalami penderitaan.
Namun, kesedihan itu seharusnya tidak membuat kita putus asa. Seperti Samuel, kita dipanggil untuk mendoakan mereka. Cobalah tanyakan pada diri sendiri: Apa yang membuat saya menangis? Apa yang membuat saya bersukacita? Dan bagaimana saya menanggapinya? Jawaban atas pertanyaan ini menunjukkan di mana kita berada dalam perjalanan rohani kita.
Mari kita belajar memiliki kasih yang sejati terhadap orang-orang di sekitar kita, terutama mereka yang Tuhan percayakan kepada kita. Kasih yang bukan hanya bersukacita ketika mereka berhasil, tetapi juga berduka ketika mereka jatuh, dan yang terpenting, membawa mereka dalam doa kepada Tuhan. Suatu hari nanti, ketika kita berdiri di hadapan-Nya, Dia akan menghapus setiap air mata dari mata kita (Wahyu 21:4).
Refleksi
Bacalah 1 Tesalonika 3:6-13 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut
Bacaan Alkitab Satu Tahun : Yesaya 45-46 : Markus 11: 20-33
Truth For Life – Alistair Beg