APA YANG TELAH DIPERBUAT ALLAH
Bilangan 23–25
Ikatlah masa lalu, masa kini, dan masa depanmu kepada Allah yang tidak dapat berdusta.
Bileam sering dianggap sebagai salah satu tokoh paling rumit dalam Perjanjian Lama. Tidak banyak hal baik yang dikatakan tentang dirinya di Alkitab. Ia kemungkinan lebih mirip seorang peramal atau perantara rohani daripada seorang nabi sejati Perjanjian Lama. Ia muncul dalam kitab Bilangan karena Balak, raja Moab, sangat ketakutan melihat bangsa Israel yang semakin mendekat. Maka ia memanggil Bileam dan menyewanya untuk mengutuk Israel.
Kitab Bilangan mencatat empat nubuat (ucapan kenabian) Bileam. Namun, yang keluar dari mulutnya bukanlah kutukan, melainkan berkat. Walaupun Bileam telah menerima uang dari raja untuk mengutuk Israel, yang keluar dari mulutnya justru berkat. Ini adalah kisah yang aneh tetapi menghiburkan, tentang bagaimana Allah berdaulat penuh memakai siapa pun yang Ia kehendaki untuk melakukan apapun yang Ia rencanakan. Bileam bukan orang benar, tetapi ia menjadi alat kebaikan di tangan Allah yang berdaulat.
Di tengah nubuatnya yang kedua, Bileam mengucapkan kata-kata yang menjadi dasar pengharapan dan penghiburan: “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? Ketahuilah, aku mendapat perintah untuk memberkati, dan apabila Dia memberkati, maka aku tidak dapat membalikkannya. Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel. TUHAN, Allah mereka, menyertai mereka, dan sorak-sorak karena Raja ada di antara mereka. Allah, yang membawa mereka keluar dari Mesir, adalah bagi mereka seperti tanduk kekuatan lembu hutan, sebab tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel. Pada waktunya akan dikatakan kepada Yakub, begitu juga kepada Israel, keajaiban yang diperbuat Allah” (Bil. 23:19–23).
Apa yang diharapkan Raja Balak menjadi kutuk, justru berubah menjadi pernyataan kebenaran yang berkuasa. Bileam pada dasarnya berkata, “Balak, tidakkah engkau mengerti? Tidak ada yang dapat menghentikan bangsa ini, karena Allah telah berjanji untuk memberkati mereka, Ia telah berjanji untuk menyertai mereka, dan Ia tidak akan membiarkan apa pun melawan mereka. Ia adalah Allah yang tidak dapat berdusta. Apa yang telah Ia janjikan dan nyatakan pasti akan digenapi.”
Di dalam perkataan ini, Israel menemukan sumber pengharapan dan kekuatan mereka. Allah yang mengikat perjanjian dengan umat-Nya adalah Allah yang setia. Ia tidak pernah berdusta. Bangsa-bangsa di sekeliling Israel pun menyaksikan bagaimana Allah menggenapi janji-Nya, sampai mereka berkata dengan kagum, “Apa yang telah diperbuat Allah!”
Bagi kita yang telah dipilih oleh Allah dan menaruh iman kepada Yesus Kristus, kita adalah ahli waris dari janji-janji perjanjian itu. Pengharapan dan keamanan kita bukan terletak pada keadaan, bukan pula pada kekuatan kita, melainkan pada karakter Allah yang tidak dapat berdusta. Segala janji Allah digenapi di dalam Yesus Kristus—melalui hidup-Nya yang sempurna, kematian-Nya di kayu salib, dan kebangkitan-Nya yang mulia. Di dalam Kristus, Allah membuktikan bahwa kasih karunia-Nya tidak pernah gagal. Suatu hari, setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku, dengan takzim dan pujian, “Apa yang telah diperbuat Allah!”
Inilah Injil: Allah yang setia menepati janji-Nya, menyelamatkan kita melalui Yesus, dan memegang masa lalu, masa kini, dan masa depan kita di dalam tangan-Nya yang penuh kasih. Karena itu, marilah kita hidup dengan iman, bersandar penuh pada Allah yang tidak pernah berdusta.
Refleksi
Bacalah Titus 1:1–3 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 23-25