Saat ini kita telah memasuki minggu kelima dari rangkaian khotbah eksposisi kitab Habakuk yang mengusung tema Gospel Hope in a Restless World. Pesan kali ini mengangkat judul When Enough is Never Enough, sebuah refleksi mendalam tentang realitas bahwa memiliki lebih banyak ternyata tidak pernah membuat seseorang merasa cukup atau benar benar puas.
BACAAN: HABAKUK 2:5-20
2:5 Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya."
Penghukuman atas para penindas
2:6 Bukankah sekalian itu akan melontarkan peribahasa mengatai dia, dan nyanyian olok-olok serta sindiran ini: Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya--berapa lama lagi? --dan yang memuati dirinya dengan barang gadaian.
2:7 Bukankah akan bangkit dengan sekonyong-konyong mereka yang menggigit engkau, dan akan terjaga mereka yang mengejutkan engkau, sehingga engkau menjadi barang rampasan bagi mereka?
2:8 Karena engkau telah menjarah banyak suku bangsa, maka bangsa-bangsa yang tertinggal akan menjarah engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu.
2:9 Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya, untuk menempatkan sarangnya di tempat yang tinggi, dengan maksud melepaskan dirinya dari genggaman malapetaka!
2:10 Engkau telah merancangkan cela ke atas rumahmu, ketika engkau bermaksud untuk menghabisi banyak bangsa; dengan demikian engkau telah berdosa terhadap dirimu sendiri.
2:11 Sebab batu berseru-seru dari tembok, dan balok menjawabnya dari rangka rumah.
2:12 Celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan.
2:13 Sesungguhnya, bukankah dari TUHAN semesta alam asalnya, bahwa bangsa-bangsa bersusah-susah untuk api dan suku-suku bangsa berlelah untuk yang sia-sia?
2:14 Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut.
2:15 Celakalah orang yang memberi minum sesamanya manusia bercampur amarah, bahkan memabukkan dia untuk memandang auratnya.
2:16 Telah engkau kenyangkan dirimu dengan kehinaan ganti kehormatan. Minumlah juga engkau dan terhuyung-huyunglah. Kepadamu akan beralih piala dari tangan kanan TUHAN, dan cela besar akan meliputi kemuliaanmu.
2:17 Sebab kekerasan terhadap gunung Libanon akan menutupi engkau dan pemusnahan binatang-binatang akan mengejutkan engkau, karena darah manusia yang tertumpah itu dan karena kekerasan terhadap negeri, kota dan seluruh penduduknya itu.
2:18 Apakah gunanya patung pahatan, yang dipahat oleh pembuatnya? Apakah gunanya patung tuangan, pengajar dusta itu? Karena pembuatnya percaya akan buatannya, padahal berhala-berhala bisu belaka yang dibuatnya.
2:19 Celakalah orang yang berkata kepada sepotong kayu: "Terjagalah!" dan kepada sebuah batu bisu: "Bangunlah!" Masakan dia itu mengajar? Memang ia bersalutkan emas dan perak, tetapi roh tidak ada sama sekali di dalamnya.
2:20 Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!
Terkait dengan sifat manusia yang tidak pernah puas, ada sebuah penelitian menarik yang melibatkan kelompok orang kaya di Amerika. Ketika mereka ditanya, "Berapa banyak lagi yang Anda butuhkan supaya Anda merasa cukup?" jawaban yang muncul hampir selalu seragam: "A little bit more" (sedikit lagi). Mereka selalu merasa baru akan puas jika mendapatkan sedikit tambahan lagi.
Bukankah ini cerminan dari keinginan banyak manusia? Kita sering kali berpikir bahwa kita akan merasa cukup jika gaji naik sedikit lagi atau rumah menjadi sedikit lebih besar. Bagi yang aktif di media sosial, kepuasan seolah baru datang jika jumlah pengikut bertambah. Mereka yang bergumul dalam pernikahan mungkin berharap pasangannya menjadi sedikit lebih sempurna. Bahkan dalam ranah spiritual, para pelayan Tuhan kerap berpikir bahwa ketenangan baru akan hadir jika pelayanan mereka sedikit lebih berhasil.
Keanehan dari siklus ini adalah, ketika kita mendapatkan "sedikit lagi" yang didambakan itu, rasa cukup tidak pernah benar benar datang. Targetnya selalu bergeser dan garis akhirnya terus bergerak maju.
Banyak orang yang memimpikan karier sukses pada akhirnya berhasil meraihnya, tetapi damai sejahtera tetap tidak hadir. Ada yang mendambakan pasangan hidup, tetapi setelah menikah, rasa aman itu tetap kosong. Seseorang bekerja keras untuk mengganti rumah sederhananya menjadi rumah mewah idaman, namun kecemasannya tidak kunjung pergi. Begitu pula dengan mereka yang akhirnya meraih jutaan pengikut di media sosial, identitas mereka tetap rapuh. Bahkan para pelayan Tuhan yang melihat pelayanannya bertumbuh pesat pun tetap memiliki hati yang gelisah.
David Foster Wallace, seorang novelis dan filsuf budaya, pernah menyampaikan sebuah pemikiran mendalam yang juga dikutip oleh Tim Keller dalam buku Counterfeit Gods. Ia menyatakan, "Semua orang menyembah sesuatu. Satu satunya pilihan yang kita miliki adalah apa yang hendak kita sembah."
Ia memberikan peringatan yang sangat relevan: "Jika kamu menyembah uang dan hal hal yang fana, kamu tidak akan pernah merasa cukup." Inilah akar masalah umat manusia. Kita terus mencari sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh Tuhan, tetapi kita mencarinya di tempat tempat yang salah.
Kebenaran inilah yang sedang Tuhan bongkar di hadapan Habakuk melalui gambaran bangsa Babel. Pada masa itu, Babel adalah negara adidaya dunia yang paling maju. Mereka memiliki ekonomi terkuat, militer yang paling ditakuti, dan merupakan kerajaan yang paling dikagumi. Jika media sosial sudah ada pada zaman itu, semua orang pasti ingin hidup seperti Babel.
Namun, Tuhan melihat apa yang luput dari pandangan dunia. Di balik seluruh kemegahan Babel, terdapat jiwa yang sedang kelaparan. Meskipun mereka adalah kekuatan terbesar yang dikagumi oleh semua orang, ada kekosongan mendalam yang membuat Babel terus mengejar lebih banyak kekuasaan dan tidak pernah merasa puas.
MENGAPA ENOUGH TIDAK PERNAH TERASA CUKUP?
Membaca ayat kelima dari sudut pandang Terjemahan Bahasa Indonesia Masa Kini memberikan perspektif yang sangat menarik. Dinyatakan dengan jelas bahwa kekayaan itu selalu menipu orang. Sering kali kita berpikir bahwa orang kaya atau sebuah pencapaian yang besar selalu luar biasa dan patut dikagumi. Namun, firman Tuhan mengingatkan bahwa kekayaan bisa mengelabui. Sesuatu yang terlihat besar dan mengagumkan di mata manusia belum tentu benar benar berharga di hadapan Tuhan.
Peringatan ini juga berlaku saat kita melihat sebuah gereja yang berkembang pesat atau pelayanan yang makin meluas. Kita harus berhati hati agar tidak sekadar menilai dari ukuran dan pencapaian luar, lalu membiarkan hati kita secara perlahan dikuasai oleh hal hal tersebut.
Ayat tersebut berlanjut dengan sebuah teguran keras bahwa orang yang serakah itu angkuh dan gelisah. Sifatnya disamakan dengan maut yang tidak pernah puas, terus mencaplok bangsa demi bangsa. Tuhan secara spesifik menggambarkan Babel seperti dunia orang mati atau kuburan.
Karakteristik utama dari kuburan adalah tidak pernah menolak orang mati dan tidak pernah berkata cukup. Setiap hari selalu ada yang datang, dan kuburan akan terus menerima. Begitulah gambaran orang yang serakah. Hatinya selalu gelisah, merasa kurang, dan menuntut untuk terus ditambah. Di balik semua kemegahan dan status super power yang dimiliki Babel, tersimpan sebuah kegelisahan dan kebutuhan jiwa yang jauh lebih dalam.
Sebagai ilustrasi nyata, puluhan tahun lalu majalah Vanity Fair mewawancarai Madonna, salah satu ikon terbesar di dunia hiburan. Dengan puluhan juta album terjual dan popularitas global, ia adalah simbol keberhasilan dunia. Dunia sering menjanjikan bahwa keberhasilan akan membawa kebahagiaan. Namun, jawaban Madonna sungguh mengejutkan.
Ia mengaku bahwa setiap kali mencapai sesuatu, ia merasa menjadi seseorang hanya untuk sementara waktu. Begitu semua selesai, ia harus mengulanginya lagi dari awal. Masalahnya bukan pada kurangnya ketenaran, melainkan karena ketenaran tidak mampu memberikan identitas dan rasa berharga yang ia harapkan. Saat lampu konser padam dan semua orang pulang, sebuah pertanyaan menakutkan selalu menghantuinya: Apakah aku cukup?
Kenyataannya, kita pun sering kali mengalami hal serupa meskipun panggung kita berbeda. Panggung kita mungkin berupa kantor, bisnis, atau keluarga. Ketika apresiasi dan pengakuan dari orang orang sekitar berhenti, kita mulai mempertanyakan nilai serta identitas diri kita. Ernest Becker dalam bukunya The Denial of Death menjelaskan bahwa manusia sulit menerima kenyataan bahwa dirinya kecil dan terbatas. Oleh sebab itu, kita terus mencari sesuatu yang membuat diri kita merasa berarti melalui konsumsi dan pencapaian yang tiada henti, namun perasaan kurang itu selalu tetap ada.
Mengapa selalu ada yang terasa kurang? Alkitab memberikan jawabannya dalam Roma 3 ayat 23, yang menyatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Rasul Paulus menegaskan bahwa yang hilang dari manusia bukanlah kekayaan atau surga, melainkan kemuliaan Sang Pencipta. Lebih lanjut dalam Roma 1 ayat 21, dijelaskan bahwa manusia menukar kemuliaan Allah yang sejati dengan gambaran fana dan kebohongan yang ditawarkan oleh dunia.
Ilustrasi lain datang dari Chris Evert, salah satu petenis wanita terbaik dan legenda sepanjang sejarah dengan 18 gelar Grand Slam. Ketika ditanya bagaimana rasanya setiap kali menang, ia menjawab bahwa kemenangan membuatnya merasa cantik. Sekilas tidak ada kaitan antara piala dengan kecantikan. Namun, yang sebenarnya ia cari bukanlah kemenangan itu sendiri, melainkan penerimaan, rasa cukup, dan identitas. Tenis hanyalah kendaraan semata untuk mendapatkan itu semua.
Hal yang sama berlaku bagi hidup kita. Sebenarnya kita tidak sedang lapar akan harta yang lebih banyak, melainkan lapar akan kemuliaan Allah yang telah hilang. Seseorang mungkin mengejar omzet, status, atau bahkan pelayanan semata mata demi merasa berharga, berkuasa, dan dibutuhkan. Padahal, makna dan keberhargaan sejati hanya dapat ditemukan di dalam kemuliaan Tuhan.
Berhala utama manusia bukanlah pada uang atau piala, melainkan pada kebiasaan mencari kemuliaan di tempat yang salah. Semua pencarian umat manusia pada dasarnya adalah usaha untuk mendapatkan kembali kemuliaan yang dahulu hilang di Taman Eden. Jangan terlalu cepat merasa aman karena hidup kita terlihat lebih sopan atau lebih rohani dari orang lain, sebab kita bisa saja terjebak dalam siklus yang sama.
Sebagai refleksi, mari kita menelaah hati kita hari ini. Tanyakan pada diri sendiri, apa yang selama ini kita jadikan syarat untuk berkata bahwa diri kita berarti, berharga, dan merasa cukup? Di mana pun jawaban itu berada, di situlah kemungkinan besar berhala kita sedang bersembunyi.
MENGAPA PENCARIAN ITU SELALU MENCELAKAKAN?
Mengapa firman Tuhan menggunakan kata mencelakakan? Terdapat pengulangan lima kata celakalah yang dalam bahasa Ibrani disebut hoi atau terkutuklah. Ini bukan sekadar ungkapan kemarahan Tuhan, melainkan sebuah kata ratapan. Babel mengira mereka sedang membangun masa depan, padahal sebenarnya mereka sedang menggali kubur sendiri.
Alkitab selalu menunjukkan bahwa dosa tidak hanya sekadar salah, tetapi juga bodoh dan memperbudak. Seseorang yang berpikir bahwa dosa itu nikmat sebenarnya sedang tertipu. Dosa menjanjikan kebebasan, tetapi pada akhirnya justru akan menghancurkan dan memperbudak orang yang memeliharanya.
Melalui lima kata celakalah ini, Tuhan menelanjangi lima berhala utama di dalam hati manusia.
Pada ayat 6, firman Tuhan mengecam mereka yang menggaruk apa yang bukan miliknya. Poin ini berbicara tentang keserakahan dan eksploitasi. Menariknya, masalah utama Babel bukanlah uang, melainkan pencarian identitas. Babel mengeksploitasi bangsa lain karena mereka percaya bahwa dengan memiliki lebih banyak, mereka menjadi seseorang yang hebat dan berkuasa.
Menjadi kaya tidaklah salah. Tokoh tokoh Alkitab seperti Abraham, Ayub, Lidia, hingga Yusuf dari Arimatea adalah orang kaya. Pertanyaannya adalah, apa yang kekayaan itu katakan tentang dirimu? Jika harga diri dan identitasmu ikut runtuh saat hartamu berkurang, itu berarti kekayaan telah berubah menjadi berhala yang kamu sembah.
Ayat 9 mengecam orang yang mengambil laba tidak halal untuk membangun sarangnya di tempat tinggi demi melepaskan diri dari malapetaka. Pola ini menyoroti pencarian keamanan. Banyak orang berpikir bahwa jika tabungan, rumah, atau investasinya sudah mencapai angka tertentu, mereka akan merasa tenang.
Kenyataannya, tidak ada jumlah yang dapat membuat hati manusia berdosa benar benar merasa aman. Angka target akan selalu berubah karena masalah sesungguhnya ada pada hati yang tidak pernah merasa cukup. Seorang miliarder dengan bisnis triliunan bahkan pernah bersaksi bahwa deretan mobil mewahnya tidak membuatnya merasa menjadi pria sejati, melainkan hanya menjadikannya seorang manusia dengan banyak mainan.
Pada ayat 12, Tuhan mengecam orang yang mendirikan kota di atas pertumpahan darah dan ketidakadilan agar nama mereka masyhur. Berhalanya di sini adalah kemuliaan diri. Manusia memiliki kecenderungan ingin namanya dikenang atau diabadikan di sebuah gedung karena ada ketakutan akan kematian dan ketidakberartian.
Nama besar dan warisan dapat dengan mudah berubah menjadi berhala. Bahkan, sebuah pelayanan kerohanian pun bisa berubah menjadi menara Babel jika tujuannya bukan untuk mengenalkan Kristus, melainkan demi ketenaran pribadi sang pelayan. Michael Phelps, peraih 28 medali Olimpiade, pernah mengalami depresi berat karena seluruh hidupnya dibangun di atas nama besar. Ketika pencapaiannya usai, ia kehilangan jati dirinya karena medali telah menjadi juru selamat palsu bagi hidupnya.
Ayat 15 berbicara tentang orang yang dengan sengaja memberi minum sesamanya demi membuatnya mabuk dan mempermalukannya. Inti dari perikop ini adalah menjadikan orang lain sebagai objek semata untuk memuaskan diri sendiri. Berhalanya adalah kepuasan diri melalui manipulasi dan eksploitasi sesama.
Ini sangat bertentangan dengan prinsip Injil. Injil mengajarkan kita untuk bertanya tentang bagaimana kita bisa mengasihi dan melayani orang lain. Sebaliknya, penyembahan berhala menuntut sesama untuk memuaskan kepentingan diri sendiri. Ketika kepuasan diri menjadi tujuan hidup, tanpa sadar kita akan menganggap orang lain, bahkan di dalam komunitas rohani, hanya sebagai alat untuk mencari validasi.
Ayat 18 menyoroti kebodohan manusia yang menyembah patung buatan sendiri. Inti dari berhala ini adalah hasrat akan otonomi dan kendali. Manusia membuat patung karena patung bisa dikendalikan, tidak pernah menegur, dan selalu setuju dengan keinginan pembuatnya.
Di zaman sekarang, kita mungkin tidak membuat patung dari kayu atau emas. Namun, kita sering kali menciptakan Tuhan versi kita sendiri. Kita menginginkan Tuhan yang tidak mengganggu gaya hidup kita, tidak menghakimi, dan selalu memberkati setiap keputusan kita. Akibatnya, banyak orang hanya mencari kenyamanan di gereja tetapi langsung menolak firman Tuhan yang menuntut pertobatan sejati.
Kelima celaka ini sebenarnya hanyalah gejala. Penyakit utamanya cuma satu: hati manusia yang sedang mencoba mendapatkan kemuliaan tanpa Tuhan.
Selama kita menyembah berhala berhala ini, suara di dalam diri kita akan selalu berbisik bahwa kita belum cukup aman, belum cukup kaya, atau belum cukup terkenal. Itulah suara Babel. Selama kita mendengarkan suara tersebut, kita akan selalu merasa lapar.
Kita tidak menyadari bahwa yang sebenarnya sangat kita laparkan bukanlah pencapaian duniawi, melainkan kemuliaan sejati. Pertanyaan terbesarnya kini bukanlah apakah kita akan mencari kemuliaan, melainkan di manakah pada akhirnya manusia bisa menemukan kemuliaan yang selama ini dicari carinya?
DIMANA KEMULIAAN YANG BENAR DITEMUKAN?
Di tengah tengah teguran keras dan lima ancaman celaka bagi Babel, firman Tuhan tiba tiba menyisipkan sebuah kalimat yang sangat indah pada ayat 14. Ayat ini berbunyi, "Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan Tuhan seperti air yang menutupi dasar laut."
Kehadiran ayat ini mungkin terasa janggal karena diletakkan di antara pembahasan tentang kekerasan, manipulasi, dan penyembahan berhala. Namun, ayat ini sebenarnya adalah jantung dari perikop tersebut. Tuhan sedang membongkar sebuah realitas bahwa selama ini manusia selalu berusaha memenuhi bumi dengan kemuliaan mereka sendiri. Kita sering berpikir bahwa yang kita kejar di dunia ini adalah keberhasilan. Padahal, yang sebenarnya sedang kita cari adalah kemuliaan, dan lebih dalam lagi, kita sedang mencari Pribadi yang menjadi sumber kemuliaan itu.
Dalam novel The World, The Flesh and Father Smith, Bruce Marshall menuliskan sebuah kebenaran yang menohok: Setiap orang yang mengetuk pintu rumah bordil sebenarnya tidak sedang mencari seorang pelacur, melainkan sedang mencari Tuhan. Jiwa manusia selalu merindukan Sang Pencipta, namun sayangnya kita sering mencari di tempat yang keliru. Orang yang mencari uang sebenarnya mencari keamanan. Orang yang mencari seksualitas sebenarnya mencari keintiman. Orang yang mengejar kuasa sebenarnya mencari rasa berharga, dan yang mengejar popularitas sedang mencari penerimaan.
Pada akhirnya, tidak ada satupun dari hal hal fana itu yang mampu memberikan apa yang dicari manusia. Di balik semua pencarian tersebut, terdapat satu kerinduan sejati: kerinduan untuk pulang kepada Allah.
Pasal ini ditutup dengan sangat indah pada ayat 20 yang menegaskan, "Tetapi Tuhan ada di dalam baitNya yang kudus." Tuhan tidak sekadar menutup pasal ini dengan janji penghukuman bagi Babel karena menghukum Babel bukanlah tujuan akhirNya. Tujuan akhirnya adalah menunjukkan bahwa Tuhan masih bertahta, Allah belum meninggalkan dunia, dan sejarah tidak diserahkan kepada Babel. Habakuk mungkin tidak mendapatkan semua jawaban atas pertanyaannya, tetapi ia diberikan kepastian akan kehadiran pribadi Allah itu sendiri, dan hal itu sudah cukup untuk menenangkan hatinya.
Ini membawa kita pada sebuah pertanyaan reflektif: Apakah Tuhan cukup bagi kita?
Bayangkan dua pilihan ini. Pilihan pertama: semua doa dikabulkan, bisnis sukses, keluarga sehat, pelayanan berkembang, dan tidak ada penderitaan, tetapi Kristus tidak ada dalam hidupmu. Pilihan kedua: tidak semua doa dijawab, banyak hal tidak berubah sesuai keinginan, tetapi Kristus nyata ada di dalam hidupmu.
Sering kali, hati kita lebih mendambakan pilihan kombinasi. Kita menginginkan Tuhan sekaligus semua kenyamanan duniawi. Ini menyingkapkan sebuah masalah besar bahwa sering kali kita menjadikan Tuhan sekadar alat untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Padahal, Tuhan bukanlah sarana. Tuhan adalah sumber kehidupan itu sendiri.
Lalu, bagaimana manusia berdosa yang telah kehilangan kemuliaan Allah dapat merasa cukup? Di sinilah kita melihat keindahan Injil yang merupakan pembalikan total dari sistem dunia. Peristiwa ini disebut sebagai The Great Reversal.
Seluruh sejarah Babel adalah kisah manusia yang sombong dan ingin naik menjadi seperti Tuhan. Sebaliknya, seluruh narasi Alkitab adalah kisah Allah yang rela turun menjadi manusia, melalui Yesus Kristus, untuk mencari dan menyelamatkan orang berdosa.
Kontras antara Kristus dan Babel sangatlah nyata:
Filipi 2 mencatat bahwa Kristus mengosongkan diriNya dan taat sampai mati di kayu salib. Ia melakukan semua itu agar kita yang telah kehilangan kemuliaan Allah akibat dosa dapat kembali menerima kemuliaan itu sebagai anugerah.
Melalui pengorbanan di kayu salib, Kristus telah mengembalikan kita kepada kemuliaan Allah yang dahulu hilang di Taman Eden. Dalam doaNya di Yohanes 17 ayat 22, Yesus berkata, "Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepadaKu."
Ini adalah kabar baik yang membebaskan! Kita tidak perlu lagi mati matian mengejar uang untuk merasa berharga, mengejar nama besar untuk merasa berarti, atau mengejar pencapaian agar diterima. Di dalam Kristus, identitas kita tidak lagi dibangun berdasarkan apa yang kita capai, melainkan berdasarkan apa yang telah Kristus selesaikan bagi kita. Identitas kita bertumpu pada performa Kristus, bukan performa kita.
Sebagai orang yang percaya kepada Injil, ada tiga implikasi besar dalam hidup kita:
PERTANYAAN REFLEKTIF
• Apa yang selama ini membuatmu berkata, “Kalau aku memiliki ini... akhirnya aku akan merasa cukup?”
• Kamu paling takut kehilangan apa? Dan tanpa itu kamu merasa hidupmu tidak lagi berarti?
• Kalau hari ini Kristus berkata, “Aku memberikan diri-Ku kepadamu,” apakah Kristus cukup bagimu?