Rencana Allah yang Melampau Skandal

Silsilah Anugerah dalam Kelahiran Kristus – ADVENT WEEK 3 "Rencana Allah yang Melampaui Skandal (Kisah Batsyeba)” 

Ps. Michael Chrisdion

 

Khotbah ini adalah minggu yang ketiga dari rangkaian Silsilah Anugerah dalam Kelahiran Kristus. Sebuah rangkaian pesan Advent yang mungkin terasa sedikit berbeda, namun justru di sanalah kita diajak melihat karya Allah dengan lebih jujur dan mendalam. Hari ini kita akan berbicara tentang rencana Allah yang melampaui skandal. 

Bacaan: Matius 1:1-6 , 12-17

1:1 Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. 

1:2 Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, 

1:3 Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, 

1:4 Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, 

1:5 Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, 

1:6 Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria, 

1:12 Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, 

1:13 Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor, 

1:14 Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, 

1:15 Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, 

1:16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. 

1:17 Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.

Setiap orang cenderung mengontrol cerita tentang dirinya. Dalam kisah keluarga, ada bagian yang dipilih untuk ditampilkan dan ada yang disembunyikan. Yang baik diangkat, yang memalukan sering dikaburkan. Itulah kecenderungan manusia.

Namun Tuhan melakukan hal yang berbeda. Ketika membuka Perjanjian Baru, Ia memulai kisah Natal dengan silsilah yang penuh skandal. Dalam dua minggu terakhir kita telah melihatnya, mulai dari inses, pelacuran, hingga perzinahan. Hari ini kita akan kembali melihat perzinahan, perselingkuhan, dan pengkhianatan. Semua itu sengaja ditempatkan di halaman pertama Injil.

Mengapa demikian? Sebelum kita melihat bayi Yesus di palungan, Tuhan ingin membuka mata kita terlebih dahulu. Ia menunjukkan bahwa rencana dan penebusan Allah jauh melampaui skandal manusia. Natal bukan sekadar kisah yang menghangatkan hati, melainkan kisah Allah yang bekerja melalui garis keturunan yang berantakan.

Karena itu, ketika pernikahan terasa hancur, keluarga kacau, dan hidup tidak beres, semua itu bukan akhir dari cerita. Justru di sanalah kasih karunia paling nyata. Natal membawa terang ke dalam dunia yang rusak, dan di sanalah anugerah Allah dinyatakan.

Hari ini kita akan melihat tiga hal. Firman Allah yang menjadi kenyataan sejarah, kasih karunia Allah yang melampaui skandal, dan damai sejati dari Allah yang membebaskan.

          1. KEBENARAN & JANJI FIRMAN MENJADI FAKTA SEJARAH

Kita kembali ke Matius 1:1, inilah silsilah Yesus Kristus. Kalimat pembuka ini penting. Matius tidak memulai dengan gaya dongeng yang samar waktu dan tempatnya, melainkan dengan formula khas catatan sejarah Yahudi. Artinya kisah Natal bukan cerita rohani atau inspiratif belaka, tetapi peristiwa nyata yang dapat dipertanggungjawabkan. Ada nama, garis keturunan, dan konteks sejarah.

Di zaman sekarang banyak orang berkata bahwa yang penting adalah pesan moralnya, bukan apakah peristiwanya benar. Namun Injil justru berkuasa karena apa yang diberitakannya sungguh terjadi. Pesan Injil kuat karena faktanya nyata. Ketika kebenaran itu historis, maka pesan moralnya tidak kosong.

Kita melihat dunia hiburan dipenuhi film yang laris dan menghangatkan hati. Beauty and the Beast, Lord of the Rings, Harry Potter, Marvel. Semua itu bukan dokumenter, tetapi orang rela membayar mahal untuk menontonnya. Sementara dokumenter sering kurang diminati, meski faktual. Mengapa? Karena kisah kisah itu menyentuh kerinduan terdalam manusia. Itu adalah kebenaran tanpa fakta sejarah.

Kisah epik berbicara tentang kasih yang berkorban, harapan bagi hidup yang rusak, dan keyakinan bahwa kebaikan akhirnya menang. Ceritanya tidak nyata, tetapi hati manusia berkata bahwa dunia seharusnya memang seperti itu. Masalahnya, realitas hidup sering jauh dari gambaran itu. Ketidakadilan, korupsi, dan penyalahgunaan kuasa justru merajalela. Idealisme perlahan terkikis, berubah menjadi apatis dan sinis.

Sebagian kritikus menyebut kisah kisah epik sebagai pelarian dari realitas. Hidup dianggap abu abu, dan berharap kebaikan menang dinilai naif. Dan harus diakui, jika Natal tidak pernah terjadi, kritik itu benar. Jika Allah tidak masuk ke dalam sejarah, maka pesimisme adalah sikap yang paling masuk akal.

Namun Natal menghadirkan pola kisah epik yang sama, dengan satu perbedaan besar. Kisah ini nyata. Yesus hadir di dunia yang rusak. Hidup-Nya penuh kuasa dan mukjizat. Tetapi cerita itu juga mencakup pengkhianatan, penderitaan, salib, dan kematian. Sekilas kebaikan tampak kalah. Namun kebangkitan pada hari ketiga menyatakan kemenangan atas dosa dan maut. Semua ini bukan mitos, tetapi dapat diuji secara historis. Karena itu Matius memulai Injilnya dengan silsilah. Kebenaran masuk ke dalam sejarah. Kasih lahir di Betlehem dalam diri Yesus Kristus.

Setiap kisah kepahlawanan dan legenda tentang cinta yang mengalahkan maut hanyalah bayangan dari kisah Yesus. Superman tidak nyata. Tetapi Pribadi yang rela berkorban demi keselamatan manusia itu sungguh ada. Namanya Yesus Kristus. Itu bukan dongeng, melainkan sejarah.

Karena Natal adalah fakta sejarah, ada tiga kepastian. Masa depan aman di tangan Tuhan. Kebaikan pada akhirnya menang. Keadilan Allah pasti ditegakkan. Jika Natal hanya dongeng, hidup hanyalah soal bertahan tanpa jaminan. Tetapi jika Kristus sungguh bangkit, arah sejarah bukan kekacauan, melainkan pemulihan. Salib dan kebangkitan menjadi jaminan bahwa Allah akan menyelesaikan cerita ini dengan adil dan sempurna.

Yesus bukan hanya fakta sejarah, tetapi juga penggenapan janji firman. Matius menyebut Dia anak Daud dan anak Abraham. Abraham menerima janji bahwa melalui keturunannya semua bangsa diberkati. Daud menerima janji tentang kerajaan yang kekal. Namun saat Yesus lahir, Israel berada di bawah penjajahan, dan Allah terasa diam berabad abad. Tetapi Matius menegaskan bahwa janji yang tampak tertunda itu akhirnya digenapi.

Di sini kita belajar bahwa Allah selalu menepati janji, meski tidak sesuai kalender dan logika manusia. Waktu Tuhan melampaui pengertian kita. Seperti penonton yang keluar bioskop sebelum film selesai, kita sering menilai Allah terlalu cepat, padahal rencana-Nya jauh lebih besar dari sudut pandang kita.

Alkitab memberi banyak contoh. Abraham tidak sabar menantikan janji Allah dan mengambil Hagar. Akibatnya konflik dan luka antar generasi terjadi sampai hari ini. Yakub tidak sabar mempercayai janji Tuhan dan memilih jalan penipuan, yang berujung pada kerusakan relasi keluarga. Setiap kali manusia tidak percaya pada waktu dan cara Tuhan, manusia cenderung mengambil alih peran Tuhan, dan hasilnya adalah kekacauan.

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan sehari hari. Orang tua kadang berusaha menjadi Tuhan bagi anak-anaknya. Dengan niat baik, tetapi akhirnya mengontrol, memanipulasi, dan membebani dengan rasa bersalah. Dalam relasi dan pacaran pun demikian. Ketika tidak percaya bahwa Tuhan memegang kendali, manusia mencoba memaksakan kehendaknya sendiri dengan berbagai cara, bahkan dengan manipulasi emosional.

Natal berkata bahwa Allah bisa dipercaya. Janji-Nya pasti, meskipun tidak sesuai dengan waktu dan logika manusia. Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Mungkin hari ini kebaikan itu belum terlihat. Mungkin yang tampak adalah kegagalan, kehilangan, penderitaan, dan ketidaknyamanan. Namun jika semua itu diizinkan dalam kedaulatan Allah, maka Allah sedang bekerja untuk kebaikan yang lebih besar.

          2. KASIH KARUNIA YANG MELAMPAUI SKANDAL

Pada zaman itu, silsilah berfungsi seperti CV. Yang dicantumkan hanyalah nama nama yang membanggakan, sementara aib dan kegagalan disembunyikan. Semua dibungkus agar terlihat sebaik mungkin. Tidak ada orang yang sengaja menuliskan sisi gelap hidupnya.

Karena itu, silsilah Yesus sangat mengejutkan. Matius justru menyusunnya penuh skandal untuk menyampaikan satu pesan penting, bahwa kasih karunia Allah bekerja dengan cara yang berbeda. Ada tiga skandal besar di dalamnya.

Skandal pertama adalah kehadiran perempuan. Dalam budaya patriarki, perempuan tidak dicantumkan dalam silsilah resmi. Namun dalam silsilah Yesus ada lima perempuan, Tamar, Rahab, Rut, istri Uria yaitu Batsyeba, dan Maria. Ini menegaskan bahwa di dalam Kristus, laki laki dan perempuan sama sama berharga dan sama sama mendapat tempat terhormat dalam rencana Allah.

Skandal kedua adalah kehadiran bangsa asing. Silsilah Yahudi menjunjung kemurnian darah, tetapi perempuan perempuan ini adalah outsider. Tamar dan Rahab orang Kanaan, Rut orang Moab, dan Batsyeba terhubung dengan bangsa asing melalui Uria. Ini menunjukkan bahwa Allah menentang rasisme. Injil tidak mendukung segregasi ras, suku, atau kelas sosial. Semua diterima oleh kasih karunia.

Skandal ketiga adalah kejatuhan moral. Rahab adalah pelacur. Tamar terlibat inses. Salomo lahir dari perzinahan, pengkhianatan, dan pembunuhan. Yesus datang melalui garis keturunan yang penuh dosa dan kegagalan. Bahkan Daud, pahlawan besar Israel, diingatkan melalui sebutan istri Uria, bahwa ia menyalahgunakan kuasa dan menghancurkan hidup sahabatnya sendiri.

Matius dengan sengaja membuka luka ini. Pesannya jelas. Tidak ada satu pun yang bisa dibanggakan. Daud yang dipuja, Rahab yang dianggap hina, Tamar yang rusak, semuanya berada pada level yang sama. Semua membutuhkan kasih karunia. Tidak ada yang lebih layak dari yang lain.

Jika seluruh silsilah ini dibayangkan duduk bersama di satu meja, itu adalah meja kasih karunia. Pelacur, orang asing, raja yang jatuh dalam dosa, korban sistem yang rusak, semuanya duduk bersama. Tidak ada yang bisa berkata bahwa dirinya pantas berada di sana. Mereka ada di sana karena kasih karunia semata.

Inilah gambaran gereja yang sejati. Baik kaya maupun miskin, berpendidikan tinggi atau sederhana, dengan masa lalu yang tampak bersih atau sangat hancur, semua berdiri di tanah yang sama, di bawah kaki salib Kristus. Tidak ada ruang untuk kesombongan. Tidak ada alasan untuk merasa lebih rendah. Komunitas ini tidak disatukan oleh prestasi, melainkan oleh kasih karunia.

Di sinilah perbedaan antara agama dan Injil menjadi jelas. Sistem agama berkata bahwa manusia harus membawa rekam jejak terbaiknya kepada Tuhan supaya diterima. Performa didahulukan baru penerimaan menyusul. Injil berkata sebaliknya. Kristus memberikan rekam jejak-Nya yang sempurna. Manusia diterima terlebih dahulu, baru hidupnya diubahkan.

Yesus menjalani hidup yang seharusnya dijalani manusia dan mati dalam kematian yang seharusnya ditanggung manusia. Di kayu salib terjadi pertukaran. Dosa diberikan kepada-Nya, dan kebenaran-Nya diberikan kepada manusia. Seolah olah Kristus berkata, serahkan CV yang memalukan itu kepada-Ku, Aku menanggung semuanya, dan Aku memberikan kepadamu rekam jejak-Ku yang sempurna.

Ibrani 2:11 mengatakan bahwa Yesus membersihkan manusia dari dosa dosa mereka, dan Dia yang membersihkan serta mereka yang dibersihkan memiliki satu Bapa. Itulah sebabnya Yesus tidak malu mengakui mereka sebagai saudara saudara-Nya. Ia tidak malu karena harga sudah dibayar lunas.

Silsilah Yesus meruntuhkan dua ekstrem. Kesombongan rohani runtuh karena tidak ada seorang pun yang bisa berkata bahwa dirinya lebih layak. Keputusasaan juga runtuh karena tidak ada seorang pun yang terlalu kotor atau terlalu gagal untuk dipulihkan. Injil menghancurkan keduanya sekaligus.

Dunia menilai berdasarkan latar belakang, koneksi, status, dan kontribusi. Bahkan di gereja pun godaan itu bisa muncul. Tetapi Injil berkata bahwa tidak peduli siapa seseorang, satu satunya alasan ia bisa berdiri di hadapan Allah adalah kasih karunia. Itulah Injil. Dan hari ini, kiranya setiap hati kembali diingatkan bahwa semua ini hanya karena kasih karunia.

          3. DAMAI SEJATI YANG MEMBEBASKAN

Jika diperhatikan Matius 1:17, ada satu hal yang sangat menarik. Di sana disebutkan tiga kali empat belas keturunan. Empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud. Empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel. Dan empat belas keturunan dari pembuangan Babel sampai Kristus. Pertanyaannya, mengapa Matius begitu teliti menghitung empat belas ini. Mengapa hal ini penting.

Sebelum masuk ke penjelasannya, perlu disampaikan satu hal terlebih dahulu. Penjelasan ini bukan cocokologi dan juga bukan numerologi. Cara pembacaan ini dapat dibuktikan dalam tradisi penulisan Yahudi dan telah dibahas oleh para pakar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sekarang mari sedikit berhitung. Empat belas adalah dua kali tujuh. Itu berarti ada dua tujuh di dalamnya. Jika ada tiga kelompok empat belas, maka ada berapa kali tujuh. Jawabannya enam. Di sinilah letak maknanya.

Bagi orang Yahudi, angka tujuh adalah pola umum cara Allah bekerja di dalam sejarah. Tujuh melambangkan kesempurnaan, kelengkapan, penyelesaian, dan istirahat. Hari ketujuh adalah hari Sabat. Pada saat penciptaan, Allah berhenti dan beristirahat pada hari ketujuh. Dalam tradisi Israel, tanah diolah selama enam tahun dan pada tahun ketujuh tanah harus diistirahatkan. Bahkan tujuh kali tujuh tahun, yaitu empat puluh sembilan tahun, diikuti oleh satu tahun berikutnya yang disebut tahun Yobel. Tahun pemulihan total.

Jika diperhatikan kembali silsilah ini, ada enam kelompok tujuh. Sejarah Israel sebelum Yesus berjalan dalam enam babak. Dari Abraham sampai Daud satu kelompok. Dari Daud sampai pembuangan ke Babel kelompok kedua. Dari pembuangan ke Babel sampai Betlehem kelompok ketiga. Jika dihitung, ada satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Lalu di mana kelompok ketujuh itu. Jawabannya adalah pada kelahiran Yesus.

Saat menyadari hal ini, terasa jelas bahwa Yesus membuka bab ketujuh. Yesus adalah Sabat sejati. Yesus adalah perhentian sejati. Yesus membuka era Yobel pembebasan yang sejati. Seorang pakar Perjanjian Baru, Michael Wilkins, menuliskan bahwa angka empat belas yang merupakan dua kali tujuh akan dipahami oleh pembaca Yahudi sebagai simbol kesempurnaan. Dengan pola tiga kali empat belas, Matius menunjukkan bahwa Yesus datang pada momen penentu kelompok ketujuh dalam sejarah penebusan Allah. Artinya kelahiran Yesus atau Natal membuka bab ketujuh. Yesus menjadi puncak dan penggenapan dari seluruh pola itu.

Apa maknanya. Apa yang ingin disampaikan oleh Matius. N T Wright menjelaskan bahwa Yesus mewujudkan era tahun Yobel di dalam diri-Nya sendiri. Tahun Yobel tidak perlu lagi ditunggu pada waktu tertentu. Yesus sendiri adalah Yobel itu. Ia datang memberitakan pembebasan. Di dalam Yesus ada pembebasan sempurna, pengampunan sempurna, dan pemulihan ciptaan Allah yang sempurna. Jika Yobel adalah gambaran istirahat dan pembaruan total yang Allah bawakan, maka Yesus adalah Yobel sejati yang dinantikan. Ia datang untuk memberi istirahat, ketenangan, dan shalom yang sejati.

Yesus bukan sekadar bagian dari siklus sejarah. Ia adalah penggenapan dari seluruh siklus itu. Ia datang bukan hanya untuk memberi istirahat sementara, tetapi untuk memberi istirahat yang sejati. Di tengah kekacauan, hati tetap bisa damai. Di tengah badai, hidup tetap utuh. Di tengah kegelapan, pemulihan tetap nyata. Itulah sebabnya Lukas 4 ayat 18 sampai 19 menyebut tahun rahmat Tuhan dengan bahasa Yobel. Ibrani 4 menyatakan bahwa Yesus adalah Sabat yang sejati.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana hubungan Injil dengan semua ini. Bagaimana Yesus Kristus memberikan istirahat dan shalom kepada kehidupan yang penuh skandal. Bagaimana mungkin orang orang yang penuh skandal justru dimasukkan ke dalam silsilah keluarga Allah. Bagaimana mungkin Tamar, Rahab, Rut, dan Batsyeba yang menurut Taurat tidak layak masuk hadirat Tuhan justru ada di dalam silsilah Mesias. Dan bagaimana mungkin manusia yang hidupnya penuh dengan skandal, entah skandal yang terlihat atau skandal di dalam hati seperti dendam, kepahitan, rasa minder, dan kesombongan, bisa berkenan di hadapan Allah.

Jawabannya bukan karena Allah menurunkan standar-Nya. Inilah Injil. Allah memindahkan beban dosa dan skandal itu kepada Yesus Kristus, Anak-Nya sendiri. Yesus menjadi yang terkutuk. Ia bukan hanya lahir melalui silsilah yang penuh skandal, tetapi Ia juga mati diperlakukan seperti orang yang penuh skandal. Di kayu salib, Ia digantung, ditelanjangi, dipermalukan di luar kota, dibuang, dilecehkan, disiksa, dan disingkirkan. Semua itu Ia tanggung. Ia diludahi, dipukul, dicambuk, dan disalibkan.

Semua itu Ia jalani bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk manusia yang penuh dengan rasa malu atas masa lalu. Untuk hidup yang hancur, identitas yang rusak, dan hati yang penuh kebobrokan. Supaya orang orang seperti itu diterima dan dipulihkan di dalam keluarga Allah. Itulah keindahan Injil. Injil tidak berkata, bersihkan hidupmu dulu baru datang kepada Tuhan. Injil berkata, Yesus mengambil kotoran hidup itu, menanggung kehancuran itu, supaya manusia bisa datang kepada Bapa. Yesus menjadi Sabat. Yesus menjadi pembebas. Yesus menjadi perhentian sejati.

Karena itu, siapa pun yang berada di tempat itu hari ini dipanggil untuk datang kepada-Nya. Ia ingin memberi istirahat. Ia ingin memberi Sabat sejati. Implikasinya sangat nyata. Natal memberi dimensi istirahat dari pembuktian diri. Tidak perlu lagi membuktikan bahwa diri layak dikasihi. Kasih itu sudah diberikan bahkan sebelum seseorang layak menerimanya. Identitas tidak lagi dibangun dari prestasi, tetapi dari Pribadi yang telah lebih dulu mengasihi, yaitu Yesus.

Dimensi istirahat yang kedua adalah berhenti menjadi tuhan atas hidup sendiri. Tidak perlu mengontrol segalanya. Ada kelegaan ketika bisa berkata, Engkau adalah Allah dan aku bukan. Beban itu terangkat. Tidak harus memikul semua kendali, tidak harus terus menerus dicekam kecemasan soal hidup dan masa depan. Ada undangan untuk hidup oleh iman, belajar percaya hari demi hari, belajar taat tanpa manipulasi. Damai Natal datang ketika seseorang berani setia pada bagian yang dipercayakan Tuhan dan melepaskan bagian yang hanya Tuhan sanggup pegang.

Dimensi istirahat yang terakhir adalah istirahat dari keletihan menghadapi dunia yang rusak. Kesedihan atas keadaan bangsa, penderitaan orang orang terdekat, kehilangan, dan kematian sering kali melelahkan jiwa. Namun jika Natal adalah fakta sejarah dan Yesus sungguh bangkit, maka kematian bukanlah akhir. Jika Natal adalah fakta sejarah, maka keadilan pada akhirnya akan ditegakkan. Ketidakadilan yang terlihat hari ini tidak akan berlangsung selamanya. Allah adil dan Ia tidak pernah tidur. Pemulihan akan datang. Apa yang rusak akan dipulihkan. Apa yang menyakitkan akan disembuhkan. Suatu hari, pemuliaan itu dijamin.

Karena itu pesan Advent minggu ini sederhana namun dalam. Jangan hanya kagum pada kisah Yesus, tetapi percayalah kepada-Nya dan bersandarlah sepenuhnya kepada-Nya. 

Reflektif

  1. Di area mana aku masih hidup seolah olah aku harus membuktikan diri kepada Tuhan dan orang lain
     
  2. Di situasi apa aku sedang mencoba menjadi “tuhan kecil” yang mengontrol semuanya
     
  3. Bagian mana dari dunia yang rusak ini membuat aku paling lelah dan bagaimana fakta dan realitas Natal menolong aku melihatnya dengan cara baru
     

KARENA INJIL

Kita tidak takut menghadapi luka dan skandal kehidupan, karena rencana dan janji Tuhan tidak pernah gagal

Kita tidak perlu menjadi “tuhan” untuk mengontrol segala sesuatu, karena Natal membuktikan bahwa Tuhan yang memegang kendali seluruh sejarah

Kita bisa rest dengan damai, karena Tuhan sudah memberikan Yesus Kristus, Sabat dan Yobel kita yang sejati