Anugerah Bagi yang Terasing

Silsilah Anugerah dalam Kelahiran Kristus – ADVENT WEEK 2 "Anugerah Bagi yang Terasing (Kisah Rut)” 

Ps. Michael Chrisdion

 

Dalam khotbah berseri Advent ini kita memasuki minggu kedua dari tema Silsilah Anugerah dalam kelahiran Kristus. Minggu lalu pembahasan berfokus pada Tamar. Sekarang kita mempelajari tentang Ruth dengan judul Anugerah bagi yang terasing. Teks utama akan diambil dari Rut pasal 1. Di bagian itu terlihat percakapan antara Naomi dengan kedua menantunya, Orpa dan Rut. Kita akan mendengar kalimat yang sangat dikenal, yaitu Bangsamu akan menjadi bangsaku, Allahmu akan menjadi Allahku. Setelah itu pembacaan akan melompat ke Rut pasal 4, saat Ruth bertemu dengan Boas. Boas akhirnya menikahi Ruth dan dari pernikahan itu lahirlah seorang anak bernama Obed yang menjadi kakek dari Raja Daud. Karena Obed memperanakkan Isai dan Isai adalah ayah dari Raja Daud.

Bacaan: Rut 1:8-17 ; 4:13-17

1:8 berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; 

1:9 kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras 

1:10 dan berkata kepadanya: "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu." 

1:11 Tetapi Naomi berkata: "Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti? 

1:12 Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki, 

1:13 masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?" 

1:14 Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya. 

1:15 Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu." 

1:16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; 

1:17 di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"

4:13 Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki. 

4:14 Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: "Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel. 

4:15 Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki." 

4:16 Dan Naomi mengambil anak itu serta meletakkannya pada pangkuannya dan dialah yang mengasuhnya. 

4:17 Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: "Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki"; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud.

Kadang seseorang merasa hidupnya terlalu kacau atau identitasnya terlalu rusak sehingga tidak layak masuk dalam rencana Tuhan. Seperti outsider yang hadir di gereja tetapi tidak merasa menjadi bagian di dalamnya. Perasaan itu bukan hal asing, bahkan Alkitab mencatatnya sebagai bagian dari cerita besar penebusan.

Di Matius pasal pertama terlihat bahwa Allah justru menulis sejarah keselamatan melalui orang-orang yang dianggap tidak layak. Matius, yang menulis untuk orang Yahudi, menegaskan bahwa Yesus adalah keturunan Daud melalui sebuah daftar silsilah. Pada masa itu silsilah berfungsi seperti CV yang menunjukkan asal usul dan martabat seseorang. Yang mengejutkan adalah munculnya nama perempuan dalam daftar tersebut, sesuatu yang tidak lazim pada masyarakat patriarki. Tuhan membiarkan nama Tamar, Ruth, Batsyeba, dan Maria muncul di sana.

Kehadiran Rut menjadi sorotan karena ia bukan siapa-siapa di mata dunia. Ia seorang janda, asing dari Moab, miskin dan terlupakan. Namun Tuhan menempatkannya dengan penuh kebanggaan dalam garis keturunan Kristus. Kisah Rut bukan sekadar cerita romansa, tetapi deklarasi bahwa kerajaan Allah berdiri melalui mereka yang sering dianggap tidak dihitung, tersisih dan tidak berharga. Tuhan menempatkan mereka tepat di pusat rencana penebusan.

          1. KUASA DARI PERSAHABATAN YANG MENGUBAH

Naomi adalah potret hidup yang runtuh seluruhnya. Ia meninggalkan Israel bersama suami dan dua putranya karena kelaparan, lalu menetap di Moab. Di sana kedua putranya menikahi perempuan Moab, yakni Orpa dan Rut. Namun gelombang tragedi datang berturut-turut. Suami Naomi meninggal, disusul kedua putranya juga meninggal. Dalam konteks zaman itu, seorang janda berada pada situasi rentan. Dan keadaan Naomi jauh lebih buruk. Ia sudah tua sehingga hampir tidak mungkin dinikahi kembali, ia tidak dapat memiliki keturunan lagi, ia tidak memiliki anak laki-laki dewasa untuk menopang hidupnya, dan tanah warisan keluarga tidak lagi menjadi miliknya karena pernah ditinggalkan ketika hijrah ke Moab. Dengan kata lain, seluruh hidup Naomi telah hilang.

Mudah untuk berkata, “Kasihan ya zaman dulu perempuan tanpa suami atau anak tidak dianggap bernilai.” Namun sesungguhnya masyarakat modern tidak jauh berbeda. Hari ini banyak orang merasa bukan siapa-siapa hanya karena penampilan, berat badan, status, gawai, kekayaan, jabatan, atau jumlah pengikut di media sosial. Setiap budaya punya cara sendiri untuk menyatakan, “Kalau kamu tidak punya ini, maka kamu tidak bernilai.” Bagi Naomi, budaya berkata, “Tanpa suami dan tanpa anak laki-laki, engkau tidak berharga.” Di masa kini, budaya berkata, “Tanpa kecantikan, kesuksesan, atau prestasi, engkau bukan siapa-siapa.” Karena itu kisah ini justru sangat dekat dengan kehidupan kita.

Naomi akhirnya kembali ke Israel dengan identitas yang menyakitkan. Ia seorang janda, miskin, sendirian, dan merasa hancur. Tragedi bukan hanya mengambil sesuatu dari hidupnya, tetapi juga membentuk siapa dirinya. Banyak orang mengalami hal yang sama. Ada yang kehilangan pasangan, sahabat, keluarga, pekerjaan, arah hidup, atau merasa dikhianati orang terdekat. Peristiwa-peristiwa itu dapat mengikis kegembiraan, menggerus ketegaran, membuat seseorang berubah dari ceria menjadi murung, dari kuat menjadi mudah putus asa. Itulah yang terjadi pada Naomi. Bahkan ia meminta orang berhenti memanggilnya Naomi yang berarti “manis”, dan menyebutnya Mara, yaitu “pahit”. Ia menafsir seluruh hidupnya melalui lensa kepedihan. Ia yakin Tuhan melawan dirinya.

Yang menyedihkan, di tengah pahitnya hidup, Naomi tidak sadar bahwa Tuhan sesungguhnya sudah menempatkan seseorang untuk mendampingi dan menopangnya: Rut.

Ketika Naomi meminta Orpa dan Rut kembali kepada keluarga mereka, alasannya bukan karena merasa terganggu oleh keberadaan mereka. Naomi mengasihi mereka. Rut dan Orpa masih muda, masih memiliki keluarga, dan masih mungkin menikah kembali. Seandainya mereka ikut Naomi ke Israel, mereka bukan hanya akan menjadi janda miskin, tetapi juga orang asing yang berisiko mengalami pelecehan, kekerasan, dan diskriminasi. Karena itu Naomi menyuruh mereka kembali demi masa depan mereka. Namun di tengah konteks yang tampaknya memaksa Rut untuk kembali ke Moab, Rut justru menanggapi dengan pernyataan kesetiaan yang sungguh menggetarkan. Ia rela mengikatkan diri pada Naomi, bahkan jika itu berarti memilih hidup yang lebih sulit.

Rut menemani Naomi kembali ke Betlehem dan menjadi penopang keluarga. Ia bekerja memungut sisa gandum di ladang, sebuah sistem jaminan sosial dalam hukum Taurat untuk anak yatim, janda, dan orang miskin. Kisah itu mencatat: “Kebetulan ia berada di ladang milik Boas.” Terulang berkali-kali kata “kebetulan”, namun jelas bahwa itu bukan sekadar peristiwa acak. Tuhan memimpin langkah-langkah mereka melalui perkara yang tampaknya biasa.

Boas mendengar kisah Rut dan tergerak. Ia memastikan pekerjanya melindungi Rut. Ia bahkan memerintahkan mereka meninggalkan sedikit lebih banyak gandum agar Rut dapat membawa pulang hasil yang cukup untuk Naomi. Saat Naomi mendengar nama Boas, ia terkejut karena Boas adalah kerabat keluarga. Di sinilah konsep penebus kerabat (go’el) muncul. Dalam masyarakat Israel, go’el adalah anggota keluarga yang menanggung harga untuk menebus tanah milik keluarga yang hilang, memulihkan garis keturunan, dan menikahi janda untuk mengangkat kembali nama keluarga yang terhilang. Tujuan hukumnya bukan romansa, tetapi pemulihan.

Naomi kemudian mengarahkan Rut untuk berkomunikasi dengan Boas. Rut melakukan langkah yang berani: ia memohon, “Bentangkan sayapmu atas hambamu, sebab engkau adalah penebus kerabat.” Ia tidak meminta kebaikan dari jauh, tetapi meminta Boas masuk ke dalam penderitaan mereka, menanggung harga, dan menebus mereka. Di luar dugaan, Boas tidak menolak, bahkan memuji karakter Rut. Ia melihat keunggulan hati Rut yang setia kepada Naomi dan tidak mengejar keuntungan diri sendiri. Boas akhirnya menebus tanah Naomi, menikahi Rut, dan memulihkan keluarga itu.

Pada akhirnya Naomi dipulihkan, Rut diterima masuk ke dalam keluarga Israel, dan Boas mengikatkan diri untuk menanggung mereka. Dari pernikahan itu lahirlah Obed, ayah Isai, dan Isai adalah ayah Daud. Dari garis keturunan itulah lahir Yesus Kristus. Di balik dua perempuan yang terluka di Betlehem, Allah sedang menulis cerita penebusan dunia. Di balik kepahitan Naomi, Tuhan sedang mempersiapkan kisah Natal.

Sebelum masuk ke poin aplikasi utama, ada satu pelajaran pertama yang menonjol: ada kuasa luar biasa dalam persahabatan yang mengubah hidup. Relasi Naomi dan Rut mungkin tidak tampak seperti persahabatan klasik, tetapi keduanya saling menopang dan saling menyelamatkan. Pertobatan Rut tidak terjadi karena Naomi memaksa atau menginjili dengan agresif. Rut memilih percaya kepada Allah karena ia lebih dulu mengalami kasih yang tulus dari Naomi. Naomi menunjukkan kasih sebelum mendorong seseorang untuk percaya, dan justru kasih itulah yang membuka hati Rut

          2. TUHAN BEKERJA DI BALIK HAL YANG BIASA

Bila memperhatikan kitab Rut dan membandingkannya dengan kitab Keluaran, perbedaannya sangat mencolok. Dalam Keluaran ada sepuluh tulah, air berubah menjadi darah, laut terbelah, belalang dan katak memenuhi negeri, anak sulung mati, serta manna turun dari langit. Semuanya terasa spektakuler. Begitu juga dalam kitab Daniel, ada malaikat, ada peperangan rohani melawan kuasa kegelapan, ada nubuatan, dan Tuhan berbicara secara langsung.

Namun saat membaca kitab Rut tidak ada mukjizat, tidak ada penglihatan, dan tidak ada suara Tuhan yang terdengar secara langsung. Yang terlihat adalah Allah bekerja diam diam di balik layar. Itulah pesan kitab Rut. Allah sangat aktif dalam kehidupan yang tampaknya biasa saja. Banyak orang mendambakan hal yang luar biasa. Ketika ditanya kabar, kita sering merasa perlu menjawab luar biasa, seakan kehidupan selalu harus terdengar megah. Ada kecenderungan untuk mendambakan pengalaman yang dramatis, menunggu sesuatu yang besar, sesuatu yang membuat hidup terlihat hebat.

Namun kitab Rut menunjukkan bahwa Allah bekerja justru melalui hal yang terlihat biasa. Dalam kisahnya terdapat begitu banyak momen yang tampak sebagai kebetulan kecil. Rut kebetulan masuk ke ladang milik Boas. Ternyata Boas kebetulan adalah kerabat Naomi. Dan Boas kebetulan adalah pria yang murah hati dan takut akan Tuhan. Semua potongan kebetulan itu jika dilihat dari akhir cerita menjadi satu benang merah yang jelas. Tuhan yang berdaulat sedang bekerja melalui peristiwa yang tampaknya sederhana dan umum.

Ada orang yang merasa hidupnya biasa dan tidak ada terobosan. Seakan tidak ada apa pun yang terjadi. Tetapi Tuhan tidak berhenti bekerja hanya karena kita tidak melihat sesuatu yang besar. Tuhan sudah mengirimkan Rut untuk mendampingi Naomi, tetapi Naomi tidak menyadarinya. Luka dan kepahitan sering membuat seseorang tidak mampu melihat anugerah yang sudah ada di sekelilingnya. Rut bukan hanya menemani Naomi, tetapi menjadi bagian dari cerita pemulihannya. Melalui Rut, muncullah pertemuan dengan Boas. Dari pernikahan itu lahirlah Obed, lalu Isai, kemudian Daud.

Naomi pernah berkata bahwa dirinya pahit dan kosong. Banyak orang menafsir hidup melalui lensa luka, rasa sakit hati, dan kekecewaan. Lensa itu membuat seseorang buta terhadap karya Tuhan. Ada saat Tuhan sudah menjawab doa, tetapi kita tidak menyadarinya karena fokus kita hanyalah masalah. Tidak jarang seseorang berkata, “Tuhan tidak peduli padaku.” Padahal sebenarnya ia sedang memaksakan agendanya sendiri dan ingin Tuhan memenuhi keinginannya. Ketika Tuhan tidak memberikan apa yang diminta, muncul prasangka bahwa Ia tidak sayang. Baru setelah bertahun tahun kemudian seseorang bisa melihat bahwa jika permintaan itu dikabulkan, mungkin justru akan menghancurkan hidupnya.

Masalahnya, kita sering mengukur kehadiran Tuhan berdasarkan kesesuaian antara rencana Tuhan dan rencana pribadi. Padahal yang benar bukan meminta agar Tuhan masuk ke dalam agenda kita, tetapi memohon agar kita diikutsertakan dalam agenda besar Tuhan. Doa yang tepat selalu berbunyi, “Biarlah kehendakMu yang jadi.” Bukan sebaliknya.

Dari pemahaman ini kitab Rut mengajar kita untuk berkata, “Walaupun aku tidak mengerti, walaupun rasanya pahit, walaupun aku marah, aku percaya Engkau tetap bekerja demi kebaikanMu. Jika Engkau mengizinkan sesuatu terjadi, itu sedang Engkau pakai untuk kemuliaanMu.” Pemahaman seperti ini membuat seseorang dapat berdoa dengan hati lebih tenang.

Ketika seseorang sedang kacau seperti Naomi, tidak dapat melihat dengan jelas karena marah dan terluka, ia membutuhkan orang seperti Rut. Naomi memiliki teologi yang baik, ia tahu Tuhan berdaulat, ia tahu segala sesuatu terjadi dalam kendali Allah. Tetapi pengetahuan itu tidak otomatis membuatnya penuh pengharapan. Ia tetap tenggelam dalam kepahitan. Inilah jarak terbesar di bumi, bukan jarak dari bumi ke bulan, tetapi jarak dari kepala ke hati. Seseorang bisa tahu bahwa Tuhan berdaulat, tetapi apakah hatinya sadar dan mengalami kebenaran itu?

Rut menolong Naomi melewati momen sulit itu. Dalam masa tertentu kita membutuhkan sosok seperti Rut. Di waktu lain kita dapat menjadi Rut bagi seseorang yang sedang seperti Naomi. Ada pula saat kita menjadi Naomi dan membutuhkan orang lain untuk menopang. Karena itulah komunitas Injil sangat penting. Kekristenan tidak mungkin dijalani sendirian. Kita membutuhkan orang yang mendoakan, menopang, dan ada bersama.

Ada sebuah kutipan dari William Cowper, penulis lagu God Moves in a Mysterious Way. Dalam liriknya tertulis, “Jangan menilai Tuhan dengan perasaan, tetapi percayalah pada kasih karuniaNya. Di balik awan gelap yang menakutkan, tersembunyi wajah Tuhan yang tersenyum.” Cowper menulis lagu ini ketika sedang berada dalam depresi berat. Ia menulis untuk berkhotbah kepada dirinya sendiri.

Bila belum melihat terang, percayalah Tuhan tetap bekerja. Naomi belum melihat Boas, tetapi Tuhan sudah melihat penebusan. Naomi belum melihat garis keturunan Mesias dari Rut, tetapi Tuhan sudah menyediakan semuanya. Apa yang Tuhan lakukan dalam kisah mereka juga berlaku dalam hidup kita. Bila hidup terlihat biasa saja, bisa jadi Tuhan sedang menulis sesuatu yang luar biasa.

Maka jangan pernah menilai hidup hanya dari apa yang terlihat hari ini. Jangan hanya melihat masalah dan rutinitas yang terasa sederhana. Percayalah Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.

          3. ANUGERAH MENGHANCURKAN KEANGKUHAN

Ketika membaca kisah Rut secara cepat, orang bisa keliru memahami seakan ceritanya hanya tentang perempuan baik yang mendapat laki laki baik, lalu mereka memiliki anak dan hidup bahagia selamanya. Tampak sederhana, seolah semuanya beres. Padahal tidak demikian. Kitab Rut justru mengguncang nilai nilai tradisi dunia yang dipercayai banyak orang.

Jika memperhatikan kisah Rut, ada tiga struktur sosial besar yang diruntuhkan. Pertama, keyakinan bahwa keturunan murni adalah segalanya. Bangsawan harus menikah dengan bangsawan, orang dari suku tertentu harus menikah dengan orang dari suku yang sama. Konsep kemurnian garis keturunan dianggap sebagai ukuran superioritas. Kedua, isu ras. Moab adalah bangsa yang berbeda dengan Israel. Pada zaman itu pernikahan beda ras adalah sesuatu yang tabu. Namun Tuhan justru seperti sedang menunjukkan sesuatu: orang Moab dinikahkan dengan Boas, orang Israel, dan dari garis keturunan itu lahirlah Mesias. Garis keturunan yang tidak murni menurut pandangan manusia justru dipakai Allah untuk karya terbesar dalam sejarah.

Selain itu ada isu kelas sosial. Pada zaman itu bangsawan tidak mungkin menikah dengan rakyat biasa. Orang kaya tidak mungkin menikah dengan orang miskin, apalagi menikah dengan perempuan janda, karena dianggap rendah. Lalu struktur sosial berikutnya adalah gender. Anak laki laki selalu dianggap lebih penting. Namun dalam kisah ini terjadi sesuatu yang luar biasa. Ceritanya berpusat pada dua perempuan. Yang satu seorang janda tua, yang lain seorang janda asing yang tidak dipandang.

Kisah Rut mengikuti pola konsisten dalam Alkitab yang memutarbalikkan standar dunia. Tuhan sering memilih bekerja melalui anak kedua, bukan anak sulung. Tuhan sering memilih bekerja melalui perempuan yang tertolak, perempuan yang dianggap tidak menarik di masa itu. Perempuan yang dianggap berpengaruh di zaman kuno adalah perempuan yang cantik, menikah dengan raja atau kaisar. Namun perempuan seperti Lea, yang tidak diinginkan, yang memiliki kekurangan fisik, justru melahirkan Yehuda yang menjadi nenek moyang Yesus. Tuhan sering memilih bekerja melalui orang miskin. Yesus bukan berasal dari kaisar. Ia bukan keturunan raja dunia. Ia datang dari keluarga tukang kayu. Ia tidak lahir di Yerusalem atau Roma, tetapi di Betlehem. Tuhan sering memakai orang lemah, bukan orang kuat. Seakan Tuhan ingin berkata, dunia punya kriterianya sendiri tentang siapa yang hebat, keren, penting, layak mendapat sorotan. Namun Aku punya kriteriaku sendiri, di mana justru orang orang yang tersisihkan yang mendapatkan sorotan.

Inilah sebabnya anugerah menghancurkan rasa lebih. Lebih suci, lebih tampan, lebih kaya, lebih hebat, lebih bertalenta, lebih diurapi, apa pun itu. Ketika seseorang sungguh memahami Injil, ia sadar bahwa seluruh hidupnya adalah semata mata hasil kasih karunia. Bukan karena ia lebih hebat, lebih pintar, atau berasal dari ras atau kelas sosial tertentu. Tidak ada apa pun yang dapat dibanggakan. Kita hanyalah orang berdosa yang diampuni. Tidak ada kebanggaan yang seharusnya tersisa selain kebanggaan akan karya Kristus saja.

Kita ini seperti pengemis. Hanya karena seorang pengemis menerima roti hidup lebih dulu, ia tidak dapat berkata pada pengemis lain bahwa dirinya lebih hebat. Semua sama sama pengemis. Jika telah menerima roti hidup, tugasnya adalah menolong pengemis yang lain menemukan roti yang sama. Pemahaman ini menghancurkan rasisme. Menghancurkan diskriminasi. Menghancurkan rasa benar sendiri. Menghancurkan rasa superioritas yang membuat seseorang merasa lebih baik daripada orang lain. Artinya siapa pun kamu, ras apa pun asalmu, kelas sosial apa pun latar belakangmu, kita semua berada di tempat ini semata mata karena anugerah.

Dari sinilah kita melihat kesimpulannya. Rut adalah orang asing yang dipandang rendah, perempuan tanpa kuasa, perempuan yang terasingkan, namun justru dipakai Allah menjadi saluran berkat bagi dunia, bahkan menjadi bagian dari garis kelahiran Mesias. Jika direnungkan, kisah Rut adalah bayangan dari sesuatu yang jauh lebih besar. Rut meninggalkan keluarganya dan tanah airnya. Rut masuk ke negeri di mana ia dianggap sebagai orang asing yang dipandang rendah. Rut mendampingi Naomi yang sedang pahit. Rut menjadi hamba yang menderita. Semua ciri itu adalah gambaran samar dari apa yang Yesus lakukan bagi kita.

Jika Rut meninggalkan keluarganya dan negerinya lalu hidup sebagai orang asing yang ditolak, maka Yesus Kristus adalah penggenapannya yang sempurna. Ia meninggalkan surga, meninggalkan rumah Bapa, turun menjadi manusia, menjadi orang asing di dunia yang Ia ciptakan sendiri, ditolak oleh mereka yang ingin Ia selamatkan. Ia tidak hanya berisiko dilecehkan atau dibunuh, tetapi dengan pasti akan mengalami kematian di kayu salib pada usia 33 tahun. Itulah sebabnya di Taman Getsemani Ia mengalami kesedihan yang amat dalam karena sebentar lagi Ia akan dilecehkan, ditolak, mengalami penderitaan yang begitu menyakitkan, ditinggalkan oleh Bapa, mengalami keterasingan kosmis ketika murka Allah atas dosa manusia ditimpakan kepadaNya. Ganjaran yang mendatangkan keselamatan dijatuhkan kepada Yesus. Itulah yang Ia lakukan bagi kita.

Yesus mengalami keterasingan. Ia lahir di kandang dan mati di salib. Ia berkorban. Ia bukan hanya membeli tanah seperti Boas. Ia membeli hidup kita dengan darahNya. Bila Rut berkata, aku mengambil kemiskinan Naomi supaya Naomi mendapatkan kehidupan, Yesus berkata, Aku mengambil kemiskinan rohanimu agar kamu menerima kekayaan surgawiKu. Bila hidup Rut berubah karena disentuh kasih dan pengorbanan Naomi, hidup kita berubah karena disentuh kasih dan pengorbanan Kristus. Jika Naomi yang tidak sempurna saja bisa menyentuh Rut melalui kasihnya, betapa jauh lebih besar kasih Allah bagi kita.

Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata, Aku berdoa supaya kamu memahami betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalam kasih Kristus bagi kita semua. Bila seseorang sungguh sadar akan kasih Kristus, hidupnya tidak akan sama lagi. Ia akan sadar bahwa keberadaannya hari ini adalah semata mata karena kasih karunia. Pergumulan yang dialami tidak sebanding dengan kasih yang menyertai. Air mata yang dijalani tidak sebanding dengan kasih yang memeluk. Bila ini dilihat dengan mata iman, bukan hanya sebagai teori di kepala, hidup seseorang akan berubah. Ia akan menjadi berani. Ia akan rela berkorban. Ia akan mengasihi. Ia tidak akan menjadi superior. Ia akan rendah hati.

Pesan Advent ini menyatakan bahwa Tuhan bukan hanya menebus masa lalu, tetapi menopang hidup pada hari ini dan terus menulis masa depan. Boas menebus tanah Naomi. Yesus menebus hidup kita. Boas mengangkat orang asing seperti Rut menjadi keluarga. Yesus mengangkat pendosa seperti kita menjadi anggota keluarga Allah. Tidak ada cerita hidup yang terlalu pahit untuk ditebus Tuhan. Tidak ada masa lalu yang terlalu gelap yang tidak dapat diubah Tuhan. Tidak ada identitas yang terlalu hancur yang tidak dapat dipulihkan Tuhan. Jika Rut dimasukkan dalam silsilah Yesus, maka kita dengan segala luka, kegagalan, dan kekacauan diri diundang masuk dalam cerita besar Tuhan. Dan ketika seseorang merasa sendirian, itu hanya perasaan. Ia tidak pernah benar benar sendirian. Karena Yesus mendampingi kita semua.

REFLEKTIF

  1. Siapa “Naomi” yang Tuhan taruh di sekitarmu? Siapa “Rut” yang Tuhan sudah taruh di hidupmu? namun selama ini tidak aku sadari?
     
  2. Nilai-nilai apa (superioritas, self righteousness, kesombongan, tradisi, diskriminasi) yang sering menghalangimu mengasihi orang lain dan perlu diruntuhkan oleh Injil?
     
  3. Bagian mana dari hidupmu yang selama ini membuatmu merasa seperti orang asing (outsider) rasa tidak cukup baik, tidak cukup rohani, atau tidak pantas, dan bagaimana Injil menegur sekaligus mengobati cara pandang itu?

ORANG BERINJIL

Tidak menunggu dikasihi untuk mengasihi, karena tahu dirinya sudah dikasihi bahkan saat tidak layak menerima kasih.

Tidak cari sensasi mukjizat, karena sadar bahwa di balik hal-hal yang tampak biasa, Tuhan bekerja dengan luar biasa.

Tidak tinggi hati dan tidak minder, karena identitasnya tidak ditentukan prestasi, namun oleh Anugerah.