Roma 8:28, 38-39
Kita berada di minggu terakhir tahun ini. Ini adalah momen ketika banyak dari kita merenungkan perjalanan hidup selama setahun terakhir. Ada banyak hal yang mungkin telah kita lalui: pencapaian, kegagalan, sukacita, kesedihan, keberhasilan, dan kerugian. Tahun ini mungkin terasa seperti perjalanan yang penuh liku-liku. Ada saat-saat di mana kita mungkin bertanya-tanya, di manakah Tuhan? Apakah Tuhan benar-benar peduli? Apakah benar Tuhan memegang kendali atas semua?
Sebagian dari kita mungkin merasa bersyukur karena melihat tangan Tuhan yang memimpin, Tetapi ada juga yang mungkin memasuki akhir tahun ini dengan hati yang berat, menghadapi ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di tahun yang baru. Pertanyaan-pertanyaan seperti: “Bagaimana saya bisa yakin bahwa Tuhan mengasihi saya?” “Bagaimana saya bisa tahu bahwa Dia bekerja untuk kebaikan saya di tengah semua pergumulan hidup ini?”
Khotbah ini mau mengajak kita untuk tidak berpusat pada diri sendiri dan melihat kepada pergumulanku, kesulitanku, dan masalahku. Namun hari ini kita perlu memandang kepada Tuhan karena pusat hidup kita bukan kita tapi pusat hidup kita adalah Tuhan.
Augustine dari The Hippo menemukan sebab hati kita selalu restless, tidak tenang, tidak yakin, dan penuh kebimbangan.
“Hati kami begitu gelisah sampai kami menemukan ketenangan di dalam-Mu, ya Tuhan.” – Our heart are restless untul they rest in You, o Lord.
Baca: Roma 8:28, 38-39
28. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
38. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,
39. atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Gelisah, kekhawatiran, dan ketakutan adalah realitas semua manusia. Tetapi Roma 8:28-39 memberikan jawaban yang kuat dan penuh pengharapan untuk semua pertanyaan hidup yang kita tadi sebutkan. Paulus memberikan suatu jaminan atau kepastian Injil yang tidak hanya memberikan penghiburan, tetapi juga keyakinan yang mendalam bahwa Tuhan tetap memegang kendali atas hidup kita. Ketika kita mengakhiri tahun ini dan menyongsong tahun baru, mari kita lihat bagaimana kasih dan kedaulatan Tuhan menjawab pergumulan dan ketakutan kita.
Ada 3 poin yang dirangkum dalam khotbah ini.
1.a. Kepastian kasih-Nya dalam hidup kita.
Roma 8:32-35a
32. Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
33. Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?
34. Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?
35. Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?
Apa yang Paulus katakan? Tidak ada satu pun yang bisa kita lakukan hari ini yang bisa membawa kita kembali ke dalam penghukuman. Semuanya telah ditutupi. Semuanya telah dibayar lunas. Tuhan mengasihi kita, tidak peduli seberapa buruk dosa di dalam hati kita, seberapa tidak layaknya kualifikasi di dalam dirimu kita.
“Tidak ada yang bisa kita tambahkan untuk membuat Tuhan lebih mengasihi kita. Kasih-Nya bagi kita sempurna dan utuh.”
John Calvin dalam karyanya berjudul Intitutes of the Christian Religion menuliskan:
“Dalam Kristus kita menemukan penebusan sempurna, yang mencakup semua dosa dan segala kelemahan kita, sehingga tidak ada lagi dakwaan/gugatan yang dapat menghukum kita.”
1b. Kepastian Kasih-Nya Atas Setiap Keadaan Kita
Kemudian berikutnya kepastian apa lagi? Kepastian kasih-Nya bukan hanya untuk hidup kita, di dalam hati saja, bukan juga hanya dengan dosa dan dengan kebobrokan kita. Kepastian kasih-Nya juga ada dalam seberapa buruknya situasi kita. Sehingga buruk dan gelapnya situasi yang kita alami bukan berarti kasih Tuhan dalam hidup kita berubah.
Roma 8:35
35Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?
Bisa enggak kita mengalami penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, bahaya, dan pedang? Maksud Paulus adalah jaminan kepastian bukan hanya untuk dosa saja dalam hatimu dan kepastian keselamatan atas hidupmu. Namun juga atas setiap keadaan kita, bahkan saat kita tertindas, mengalami kesesakan, dianiaya, atau sedang kelaparan, kasih Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Kadang kita sering mengukur besarnya kasih Tuhan kepada kita dengan baik buruknya keadaan kita. Apa yang dikatakan Rasul Paulus?
“Jangan mengukur kasih Tuhan dalam kehidupan dengan baik/buruknya keadaan di dunia.”
Sering dalam hidup kita ketika hal-hal buruk terjadi, ketika segala sesuatu tampak salah, kita berpikir, “Tuhan tidak mengasihi aku, karena kalau Tuhan mengasihi, Dia tidak akan membiarkan semua ini terjadi.” Namun Paulus berkata, “Tidak peduli seberapa buruk keadaan kita, kekacauan dalam kehidupan, kita dapat tetap yakin bahwa Tuhan mengasihi.”
Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (And we know that all things work together for good to those who love God, to those who are the called according to His purpose).
Apa artinya itu? Diambil secara keseluruhan, dilihat dari jangka panjang, segala sesuatu yang terjadi Allah sedang mengerjakan sebuah rencana yang mungkin kita tidak pahami tapi itu untuk kemuliaan Tuhan dan sebenarnya itu untuk kebaikan kita. Itulah yang dikatakan. Ada contoh menarik yang Alkitab telah catat.
Di Dotan, Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara-saudara-Nya (Kej. 37-17), sedangkan Elisa dikepung oleh tentara raja Aram, Tuhan melindungi dengan kereta berapi dari sorga serta membutakan mata para tentara Aram (2Raj. 6:13-17). Nah dua-duanya berdoa. Yusuf minta tolong kepada tuhan untuk diselamatkan dan tidak dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya. Elisa berdoa kepada Tuhan untuk minta tolong dan membuka mata bujangnya. Tuhan memberikan respons yang berbeda.
Tuhan tidak menjawab doa Yusuf dalam keheningan. Yusuf tetap dijual sebagai budak. Di rumah Potifar dan di sana dia difitnah. Kita tahu dia juga berdoa untuk kebenaran dapat dinyatakan tapi dia tetap masuk ke penjara bertahun-tahun. Tapi Tuhan langsung menjawab doa Elisa, membuka mata bujangnya sehingga bujangnya melihat kereta berapi dari sorga melindungi mereka. Dan Tuhan membutakan mata para tentara Aram. Apa kesimpulannya?
Baik dalam keheningan maupun dalam keajaiban, Tuhan tetap bekerja untuk kebaikan umat-Nya. Kisah Yusuf di Perjanjian Lama. Ketika Yusuf dijual menjadi budak oleh saudara-saudaranya, hidupnya penuh penderitaan selama bertahun-tahun. Tetapi pada akhirnya, kita melihat bagaimana Allah menggunakan semua itu untuk menyelamatkan banyak orang dan keluarganya sendiri.
Di Dotan, Tuhan sama-sama aktif bekerja dalam hidup Yusuf (Tuhan tampak diam) maupun dalam hidup Elisa (Tuhan tampak melakukan mukjizat), dua-duanya adalah untuk menyelamatkan umat-Nya. Allah sama aktifnya bekerja dalam hidup Yusuf, meskipun tampaknya Allah diam, seperti dalam hidup Elisa ketika Allah secara langsung mengirim kereta berapi untuk menyelamatkan Israel.
“Tuhan tidak hanya berada dalam badai, namun Dia juga mengarahkan badai, untuk membawa suatu berkat yang tidak bisa kita lihat (pahami) sepenuhnya saat ini.”
Tanpa kemandulan Sara, Abraham tidak akan menjadi Bapa orang beriman. Tanpa dijual sebagai budak, difitnah istri Potifar, dipenjara bertahun-tahun, Yusuf tidak akan menjadi Perdana Menteri di Mesir. Tanpa perbudakan di Mesir bangsa Israel tidak akan membangun Tabernakel dan mengalami pimpinan Tuhan. Tanpa pengalaman padang gurun, Musa tidak akan menjadi pembebas bangsa Israel. Tanpa kejatuhan di dalam dosa tidak ada inkarnasi Kristus dan tidak ada karya penebusan melalui karya salib Kristus.
Roma 8:38
38. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Tidak peduli betapa buruknya setiap keadaan maupun situasi kita. Tidak peduli betapa bobroknya kita dalam hidup kita, kita dapat yakin Allah mengasihi kita. Ini adalah jaminan mutlak.
2. MENGAPA KITA DAPAT MEMILIKI KEPASTIAN ITU?
Budaya modern keberatan terhadap konsep: predestinasi pemilihan & panggilan Allah. Alkitab mengajarkan bahwa Allah sepenuhnya berdaulat, namun kehendak bebas manusia tetap bermakna.
Efesus 1:11b
11, kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.
Tidak peduli betapa buruknya setiap keadaan maupun situasi kita. Tidak peduli betapa bobroknya kita dalam hidup kita, kita dapat yakin Allah mengasihi kita. Ini adalah jaminan mutlak. Allah adalah Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu. Allah bukan hanya mengatur hasil akhir, tetapi Dia juga menggunakan tindakan manusia untuk mencapai tujuan-Nya.
R. C. Sproul mengatakan:
“Tidak ada satu pun debu kosmik yang berada di luar jangkauan providensia kedaulatan Tuhan.”
Allah mengendalikan hal-hal besar maupun kecil untuk membawa kehendak-Nya ke dalam realitas tanpa melanggar kebebasan manusia.
Amsal 16:1&9
1. Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN.
9. Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.
Rencana kita, pilihan kita, itu tidak dipaksa! Tidak ada yang memeras kita atau mengancam kita. Kita memilihnya dengan bebas dan kita harus bertanggung jawab atas semua konsekuensi dari semua keputusan yang kita pilih! Tetapi apa yang terjadi sebagai akibat dari rencana itu, apa yang terjadi dalam sejarah, menurut ayat 1 dan menurut ayat 9, itu sepenuhnya dikendalikan dan ditetapkan sepenuhnya oleh Tuhan. Tidak ada yang terjadi yang tidak sesuai dengan rencana-Nya.
“Sementara Allah berdaulat, Alkitab juga menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas pilihan mereka.”
Roma 14:12
12. “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.”Matius 12:36
36. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.”“Pilihan manusia yang buruk tidak pernah menggagalkan rencana Allah, namun justru digunakan Allah untuk menggenapi tujuan-Nya.”
Kejadian 50:20
20. Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.
J.I. Packer dalam bukunya Evangelism and the Sovereignty of God menyebut hubungan antara kedaulatan Allah dan kehendak manusia sebagai “antinomi,” yaitu dua kebenaran yang tampaknya bertentangan tetapi keduanya nyata. Kedaulatan Allah & tanggung jawab manusia adalah Antinomi di mana dua kebenaran yang tampaknya bertentangan satu sama lain jika dilihat dari sudut pandang manusia yang terbatas, namun keduanya adalah kebenaran yang nyata dan sepenuhnya harmonis dalam pikiran Allah.
“Allah sepenuhnya berdaulat, tetapi manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas tindakannya. Kita tidak dapat sepenuhnya memahami bagaimana keduanya bisa bersatu, tetapi Alkitab dengan jelas mengajarkan keduanya.”
Kisah Para Rasul 29 mencatat Paulus berada di kapal bersama para pelaut dan tentara di tengah badai besar. Dalam badai itu, semua orang ketakutan, para pelaut dan tentara benar-benar takut mereka akan mati. Lalu Allah mengirim seorang malaikat kepada Paulus dan berkata, “Kapal ini akan hancur, tetapi tidak satu pun nyawa akan hilang.” Maka Paulus keluar ke dek dan berkata, “Allah telah berbicara kepada saya, dan Dia berkata bahwa meskipun kapal ini akan hancur, tidak satu pun nyawa akan hilang.”
Paulus percaya pada hal itu. Tahukah Anda kenapa? Dalam Perjanjian Lama, jika seorang nabi menyampaikan nubuat dan nubuat itu tidak menjadi kenyataan, nabi itu akan dihukum mati. Tahukah Anda kenapa? Karena Firman Allah selalu pasti, dan jika Dia benar-benar memberikan Firman-Nya kepada Anda, maka itu pasti akan terjadi. Jadi Paulus benar-benar yakin itu adalah rencana Allah, dan dia sepenuhnya yakin tidak ada nyawa yang akan hilang.
Kalau nubuatannya benar-benar maka seharusnya tidak ada nyawa yang akan hilang, jika memang begitu, jika itu adalah rencana Allah, lalu apa pentingnya apakah mereka meninggalkan kapal atau tidak? Apa pentingnya apakah mereka naik ke sekoci atau tidak? Biarkan saja mereka. Tidak apa-apa.” Kita cenderung berpikir bahwa jika segala sesuatu sudah ditentukan, maka pilihan kita jadi tidak penting.
Dua pandangan ekstrem dunia yaitu pertama, Fatalisme: semua sudah ditentukan, untuk apa susah-susah? Akhirnya mereka menjadi pasif dan pesimis, sehingga akibatnya jadi depresi & hidup di dalam keputusasaan. Kedua, Libertarianist: masa depan kita mutlak ada di tangan kita! Ciptakan masa depan! Akhirnya mereka menjadi agresif & over optimis tetapi akibatnya tidak pernah tenang dan selalu khawatir akan masa depan.
Pemahaman Alkitab berbeda yaitu kompatibilist: Tuhan menghubungkan pilihan kita sampai batas tertentu dengan masa depan kita, tetapi pada akhirnya Tuhan yang menentukan segalanya. Kita memang bebas berkehendak & harus bertanggung jawab atas semua konsekuensi perbuatan kita namun kita juga bisa tetap tenang, karena tuhan tetap memegang kendali. Justru karena Dia berdaulat dan memegang kendali, itu menenangkan kita sehingga kita bisa beriman dan berdoa kepada-Nya dan melakukan yang benar dan bekerja keras sesuai dengan firman-Nya! Karena kita tahu Dia memegang kendali.
3. BAGAIMANA KEPASTIAN INI DAPAT MENJADI NYATA DALAM HIDUP KITA?
Yohanes 6:44
44 Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.Yohanes 15:16a
16. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.
“Tuhan yang besar, dahsyat & mulia (transenden) adalah Tuhan yang sangat ‘personal’, penuh kasih & peduli (imanen) pada umat-Nya.”
Dan apa yang menjadi kualifikasi kepedulian-Nya? Apa yang menjadi kriteria kepedulian-Nya kepada umat-Nya?
Ulangan 7:6-8
6. Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.
7. Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa mana pun juga, maka hati Tuhan terpikat olehmu dan memilih kamu – bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? – 8 tetapi karena Tuhan mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka Tuhan telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir.
“Apakah kita melihat logikanya?” Tuhan berkata, “Aku mengasihi kamu bukan karena kamu lebih hebat; bahkan sebenarnya kamu paling kecil. Aku mengasihi kamu bukan karena nilai manusia. Aku membawa kamu keluar dari Mesir karena Aku memutuskan untuk mengasihi kamu tanpa melihat kriteria dan kualifikasi” Ini adalah argumen melingkar. “Aku mengasihi kamu hanya karena Aku MEMUTUSKAN UNTUK mengasihi kamu.” Artinya Tuhan mengasihi kita bukan karena kita lebih rohani, bukan karena kita lebih bermoral, bukan karena kita lebih paham doktrin yang benar. Tuhan mengasihi kita hanya karena Dia mengasihi kita, dan kita mengasihi Tuhan hanya karena Dia terus mengejar kita dan mengejar kita sampai akhirnya Dia membuat hati kita terbuka.” Kebenaran inilah yang mengubah identitas kita.
“Alasan Tuhan memilih untuk menyelamatkan & menebus bukan karena kualifikasi & performa kita namun hanya karena keputusan kedaulatan kasih karunia-Nya saja.”
Dan ini mengubah identitas kita. Mengapa mengubah identitas? Karena akhirnya kita tidak harus menjadi beriman dulu, kita tidak harus taat dulu, kita tidak harus berani dulu. Kita tidak harus menghasilkan banyak uang. Kita tidak harus hebat dan kaya dan pintar untuk memikat Tuhan, untuk menarik perkenanan-Nya. Kita tidak harus menjadi tampan atau cantik. Semua faktor itu tidak lagi penting. Tuhan mengasihi kita karena Dia memutuskan dalam kedaulatan-Nya untuk mengasihi kita apa adanya!
Tapi bagaimana kebenaran ini, kepastian ini dapat menjadi “real” dalam hidup kita?
Roma 8:38-39
38. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,
39. atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Yang tidak bisa memisahkan kita itu bukan kasih yang abstrak. Kita nggak akan bisa kuat. Kalau cuma sekadar ngomong, “Oh tidak ada yang bisa memisahkan aku dari kasih Tuhan” itu masih abstrak, itu belum benar-benar nyata.
“Personalisasikan kasih Tuhan itu di dalam Pribadi Yesus Kristus.”
Bagaimana caranya? Pandang pada karya salib-Nya karena di salib semua kekuatan terbesar di alam semesta diarahkan kepada Yesus. Di salib, Yesus sebenarnya bisa menghentikan penyiksaan, penderitaan, penolakan, kematian, tapi Yesus memilih untuk menjalaninya dengan tabah dan tekun.
Timothy Keller mengatakan:
“Yesus Kristus tergantung di kayu salib, dipaku, berdarah, sekarat, melihat ke bawah kepada orang-orang yang mengkhianati-Nya, meninggalkan-Nya, dan menyangkal-Nya, dan dalam tindakan cinta terbesar dalam sejarah alam semesta, Dia tetap bertahan.”
Ketika hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita dan berhenti berkata, “Aku pasti ditinggalkan…” Jika Dia tidak meninggalkan kita saat itu, Dia tidak akan meninggalkan kita sekarang. Dia tidak menyayangkan diri-Nya sendiri. Sang Bapa tidak menyayangkan anak-Nya sendiri. Jika Dia tidak menyayangkan itu untuk kita, jika Dia memberikan hadiah yang paling besar, apakah kita pikir Dia akan membiarkan hidup kita hancur sekarang? Pandang kepada salib. Di situ neraka ditimpakan kepada Yesus dan itu tidak memisahkan kasih-Nya kepada kita. Dia pasti tidak akan melepaskan kita dari genggaman tangan-Nya.
“Kasih Tuhan bagi kita tak bersyarat, karena melalui salib, Yesus telah menanggung semua syarat yang menggugat, hingga tuntas.”
“Hiduplah berdasarkan kasih dan kepastian itu! Tuhan yang memegang kendali (berdaulat) mengasihi kita.”
Orang Berinjil: