The Implications of The Gospel

THE BOOK OF GALATIANS Week 9 “The Implication of The Gospel – Implikasi dari Injil” 

Ps. Natanael Thamrin

 

Pembacaan    : Galatia 2: 17 - 21

Harus kita akui bahwa kita yang sudah ada didalam konteks Gospel Centered Church bahkan yang sudah tergabung dalam komunitas Injil (care group) masih terus bergumul di dalam menyelaraskan pemahaman akan injil dengan perilaku kehidupan sehari-hari.

Mungkin ada diantara kita bertanya: bagaimana mengetahui kebenaran bahwa kita sudah dibenarkan (justified) dapat teraplikasi dalam kehidupan relasi orangtua anak, ketika menghadapi konflik, dalam relasi berpacaran, menghadapi penderitaan, dan seterusnya. 

Mungkin ada yang masih mengalami pergumulan dengan masalah penerimaan yaitu sekalipun mengetahui bahwa kita sudah diterima dengan sempurna oleh Kristus tetapi seringkali masih mencari penerimaan dari pasangan atau pun dari orang lain. Atau sudah mengerti bahwa Allah berdaulat atas segala keadaan hidup namun masih marah ataupun kecewa ketika keadaan tidak berjalan sesuai dengan kehendak diri. Atau ketika kita bersaat teduh dan menaati perintah Tuhan kita merasa lebih dikasihi Allah. dan ketika kita tidak bersaat teduh dan gagal menaati ada perasaan bahwa kita kurang dikasihi Allah.  Sebagian mungkin berkata: bukankah ini sah-sah saja karena kita masih manusia. 

Ini bukan berarti bahwa kita harus hidup sempurna setelah terima Yesus. namun kita perlu mengetahui juga bahwa secara posisi dihadapan Allah kita sudah diterima sempurna melalui karya Yesus, tetapi secara progresif kita sekarang ini terus menerus menjalani hidup pengudusan di dalam tuntunan Roh Kudus. Dan dari pergumulan inilah kita perlu memahami 3 hal penting dalam memahami implikasi dari Injil yang sudah kita dengar dan terima selama ini. 

           1. APA YANG MENJADI HALANGAN TERBESAR DALAM MENGHIDUPI KEBENARAN INJIL? 

Galatia 2: 16

Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorang pun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat.

Dalam ayat ini maka ada dua kali pengulangan kalimat ”tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan Hukum Taurat’ yang memberi indikasi yang jelas bahwa kecenderungan manusia termasuk kita yang sudah di dalam Kristus masih mencari yang lain selain keutamaan salib atau menambahkan sesuatu dari karya salib. 

Dalam tema Only One Gospel, kita sudah diingatkan bahwa kesesatan bukan mengurangi sesuatu dari Injil tetapi menambahkan sesuatu kepada Injil. dan inilah yang terjadi di dalam kehidupan keseharian kita yaitu kita ingin menambahkan sesuatu pada kebenaran Injil. 

Ada dua hal yang menjadi penghalang terbesar dalam menghidupi kebenaran Injil yaitu pertama …

      1a. Menggantikan Keutamaan Salib Dengan Sesuatu Yang Dianggap Lebih Menarik Atau Lebih Penting 

Sebagai contoh: 

  • Golongan Moralis menjadikan prilaku moral sebagai yang terutama. Lakukan ini lakukan itu. 
  • Golongan Liberalis menjadikan keadilan sosial sebagai yang terutama. Seruan kesetaraan sosial dsb. 
  • Golongan Calvinis menjadikan pengajaran Tulip sebagai yang terutama dibandingkan yang lain dan terkadang bisa merendahkan yang lain. 
  • Golongan Kharismatik menjadikan hari Pentakosta sebagai yang terutama bagi iman Kristen atau karunia-karunia Roh sebagai yang terutama sehingga itu sangat ditekankan dan diajarkan berulang-ulang. 

Semua ini baik, dan kita tidak mengatakan bahwa ini sesuatu yang tidak perlu. misalnya melakukan perbuatan baik, memperjuangkan persoalan sosial, belajar prinsip keselamatan lewat akronim tulip, mempraktikkan karunia rohani. itu semua baik. Tetapi membuat hal-hal tersebut menjadi yang terutama dari iman Kristen dan mengabaikan berita salib ini akan menjadi sia-sia. Karena sesungguhnya konteks dari berita Injil bukanlah tentang keuntungan kita melainkan keutamaan Kristus. 

Lalu yang kedua yang menjadi halangan terbesar bagi kita untuk menghidupi kebenaran Injil ialah ..

      1b. Menganggap Bahwa Karya Kristus Hanya Menyelamatkan Kita Dari Dosa Masa Lalu, Tetapi Setelah Kita Diselamatkan Maka Diri Kitalah Yang Memegang Kendali Penuh Atas Hidup Yang Kita Jalani.

Kita berpikir bahwa setelah kita diselamatkan, kita sudah cukup baik untuk dapat hidup sendiri dan sudah mampu melakukan perbuatan baik. karya Tuhan sudah cukup dikayu salib saja. sehingga tidak jarang dari kita yang berpikir bahwa Allah memang menyelamatkan tetapi kita yang meneruskannya. 

Atau kita mungkin berpikir bahwa kita adalah orang berdosa dan orang yang sudah dibenarkan. tetapi seringkali pikiran ini tertuang dalam hitung-hitungan matematika dimana kita berpikir bahwa kita ini 30 persen orang berdosa dan 70 persen orang benar. atau 50 persen pendosa dan 50 persen orang benar sehingga pikiran kita masih dalam gambaran yaitu bahwa Kristus menyelamatkan kita atas kematian dosa dan kita meneruskan dan berusaha hidup benar di masa sekarang sehingga penerimaan sempurna dimasa yang akan datang dalam kekekalan.

Kita meyakini bahwa keselamatan atau penerimaan diri kita itu adalah anugerah ditambah perbuatan baik kita. Ini jelas bukan Injil. Ini adalah Injil yang diasumsikan menurut diri sendiri. Disini kita perlu ingat bahwa kita tidak sedang menentang aspek perbuatan baik itu sendiri. tetapi jika perbuatan baik itu menjadi motivasi kita mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari Allah maka kita sedang menambahkan sesuatu pada Injil dan ini bukan Injil. 

Padahal yang seharusnya ialah Kristus menyelamatkan kita atas kematian dosa ditambah penerimaan sempurna dimasa yang akan datang dalam kekekalan menjadikan kita dimampukan oleh Kristus hidup benar dimasa sekarang.

Yang menjadi aspek pembeda dari kedua bagian ini ialah motivasi yang menggerakkan. Perbuatan baik kita bukan karena kita ingin menerima sesuatu melainkan karena kita sudah terlebih dahulu menerima yang sempurna dari Kristus. Ini juga yang melatarbelakangi kita di dalam hidup benar. Motivasi hati kita untuk hidup benar ialah karena kita sudah menerima kebenaran Allah yang sempurna sehingga kita tidak perlu mencari pada sesama manusia atau ciptaan yang lain. 

Tim keller pernah mengatakan: “ Jika saya taat, Tuhan akan mengasihi dan menerima saya. tetapi Injil adalah kebalikan dari hal ini: jika saya tahu dalam hati saya bahwa Allah telah menerima saya dan mengasihi saya dengan sempurna oleh kasih karunia-Nya, maka saya dapat hidup dalam ketaatan, dengan sukacita dan ucapan syukur. agama berusaha mengubah apa yang diluar ke dalam tetapi Injil mengubah apa yang dari dalam ke luar.”

Kita perlu memahami bahwa kita tidak perlu menambahkan sesuatu pada karya salib karena ketika Kristus di atas kayu salib dia berkata: sudah selesai maka itu berarti sudah sempurna. tidak ada yang perlu kita tambahkan. Kalau kita sudah paham bahwa kita sudah diterima dengan sempurna oleh Allah melalui iman di dalam Kristus maka sekarang bagaimana kita menyelaraskan pemahaman ini dengan keseharian kita? 

              2. BAGAIMANA PEMAHAMAN AKAN KEBENARAN INJIL DAPAT SELARAS DENGAN KESEHARIAN HIDUP KITA? 

Galatia  2:19-20A

Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.

Ada kesejajaran dalam 2 bagian ini. 

  • Aku telah mati oleh Hukum Taurat supaya aku hidup untuk Allah. 
  • Aku telah disalibkan dengan Kristus (bersama Kristus) dan Kristus hidup di dalam aku (hidup bagi Kristus) 

Kesejajaran ini menunjukkan keterkaitan bahwa hidup untuk Allah tidak boleh dipisahkan dalam kebersamaan kita dengan kematian Kristus.  Sebagian orang memahami hal ini sebagai hal yang abstrak. Sebagian juga memahami ini dengan melakukan perbuatan tertentu sebagai bukti mereka disalibkan bersama dengan Kristus misalnya: menderita bagi Dia. 

Pandangan ini pernah diajarkan oleh Paulo Giustiniani seorang Teolog Katolik yang hidup se-era dengan Martin Luther bahwa keselamatan sangatlah bergantung pada tekad manusia untuk menyingkirkan dosa dan cara yang tepat untuk melakukan hal tersebut adalah dengan menjalani kehidupan yang asketis. Asketis adalah cara hidup yang pantang akan kenikmatan dunia dengan tujuan untuk mencapai hal-hal yang bersifat rohani. Seperti: pergi menyendiri dalam gua untuk waktu yang lama sampai tidur diatas ranjang paku, dan lain sebagainya. Ini semua dianggap sebagai sebuah upaya untuk disalibkan bersama Kristus. Ini juga keliru. Yang dimaksud Paulus disini ialah sekalipun yang disalibkan di Golgota adalah Kristus tetapi Allah memperhitungkan kebenaran Kristus pada kita. 

Kristus menjalani kehidupan yang benar secara sempurna sehingga kegagalan kita dalam menaati seluruh hukum Allah telah ditanggungkan kepada Kristus dan kita tidak perlu lagi dihukum karena kegagalan itu. Jadi disini …

          2A. Kita perlu memahami bahwa Kristus bukan saja menghidupkan kita tetapi juga hidup terus menerus di dalam kita.

Kita perlu sadar bahwa Kristus bukan hanya telah menghidupkan kita tetapi juga terus menerus hidup di dalam kita. Kristus hidup didalam kita artinya Dia aktif dan mengarahkan hidup kita. Jadi kalau kita bisa menghidupi kebenaran Injil itu karena pemampuan yang diberikan oleh Kristus melalui Roh Kudus di dalam kita. 

Kita perlu berhati-hati dalam hal ini karena jika kita tidak melihat ini sebagai kebenaran yang utuh maka kita bisa jatuh dalam dua kecenderungan dan mulai berpikir bahwa Yesus telah melakukan ini untuk saya, jadi apa yang dapat saya lakukan untuk Dia sekarang? Mentalitas balas budi karena budaya sungkan ini perlu kita tolak dalam kaitannya dengan keselamatan. Atau kita bisa juga jatuh dalam kehidupan yang pasif atau kurang ajar dengan hidup sesuka hati. Ini ketegangan yang selalu terjadi dalam Injil. 

Maka dari itu, sesungguhnya kita perlu mengingatkan diri terus menerus bahwa kehidupan kekristenan bukan tentang hidup untuk Kristus, melainkan mempercayai Kristus hidup bagi kita, melalui kita dan di dalam kita

Kristus tidak pernah berhenti bekerja di dalam hidup kita. Dan kita tidak perlu membayar Dia kembali atas apa yang Dia telah lakukan. Justru sampai saat ini Dia yang masih dan akan selamanya menanggung kehidupan kita. Namun ini tidak berarti bahwa kehidupan kita didalam Kristus meniadakan kebebasan kita.  Perhatikan kembali ayat 19-20a ….

Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku

Frasa ‘aku hidup’ disini menandakan bahwa kita tidak pasif. Kita bukan robot atau patung. Keselamatan didalam Kristus bukan jenis perbudakan yang baru. Kita tidak dibebaskan dari perbudakan dosa untuk masuk ke dalam jenis perbudakan yang baru. Justru di dalam Kristus kita menikmati kebebasan yang penuh. Yohanes 8:36 mengatakan dengan jelas: ‘jadi apabila anak itu telah memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.’ 

Hal ini juga sejalan dengan Galatia 5:1 yang menegaskan bahwa Kristus telah memerdekakan kita. Jangan lagi mau diperhamba oleh dosa. Untuk menikmati kebebasan yang penuh ini maka kita perlu memahami bahwa ini bukanlah kebebasan untuk berbuat dosa sesuka hati melainkan kebebasan yang hidup di dalam iman. 

Galatia 2:20b memberi kita penjelasan akan hal ini … “ Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Kalimat hidup oleh iman dalam Anak Allah bisa diterjemahkan hidup dalam iman melalui Anak Allah.  Kalimat ‘hidup dalam iman’ inilah yang menjadi kuncinya untuk melihat kehidupan kita yang telah dimerdekakan dari perbudakan dosa. Sekali lagi dalam iman bukan pada pencapaian kita, kekayaan kita, prestasi kita, kesalehan kita, perbuatan baik kita. Perbuatan baik kita ataupun kesalehan kita sesungguhnya hanyalah ekpresi dari iman di dalam Kristus. 

Dari sini kita mendapatkan point selanjutnya yaitu ..

          2B. Kita perlu memahami bahwa poros seluruh seluruh aktivitas kehidupan kita tidak terletak pada kasih kita kepada Kristus melainkan karena kasih Kristus kepada kita.

Kesenangan Allah di dalam diri kita tidak didasarkan pada kualitas diri kita melainkan pada kinerja atau apa yang Kristus telah lakukan bagi kita. Sehingga disini kita diingatkan bahwa ..

  • Jika kita bisa mengasihi bukan karena kita mampu mengasihi melainkan karena kasih Kristus yang telah mengalir dalam hidup kita. 
  • Jika kita bisa mengampuni bukan karena kita layak mengampuni tetapi karena kita yang berdosa ini telah diampuni terlebih dahulu sehingga kita dimampukan untuk mengampuni. 
  • Jika kita bisa memberi bukan karena kita mampu memberi tetapi karena kristus terlebih dahulu memberi dirinya sebagai persembahan yang sempurna dan yang berkenan pada Bapa sehingga kita mampu memberi. 
  • Jika kita bisa menaati Allah bukan lagi untuk mendapatkan sesuatu melainkan kita menaati Allah hanya semata-mata untuk menyenangkan dia.

Jadi disini, kasih Kristus yang diberikan kepada kita seharusnya menjadi motif yang baru dan yang lebih kuat untuk hidup dalam ketaatan pada Allah. Bagaimana kita menerapkan semuanya ini dalam hidup keseharian kita? Mari kita lihat poin 3… 

          3. IMPLIKASI PEMAHAMAN INJIL DALAM KESEHARIAN HIDUP ORANG PERCAYA   

Galatia 2:17 BIMK

Kami berusaha berbaik kembali dengan Allah melalui hidup bersatu dengan Kristus. Tetapi kalau sesudah melakukan yang demikian, ternyata kami masih “orang-orang berdosa” juga seperti orang-orang bukan Yahudi, apakah ini berarti bahwa Kristuslah yang menyebabkan kami berdosa? Tentu saja tidak! 

Kita adalah orang yang telah dibenarkan dalam Kristus, namun tetap masih bisa hidup dalam dosa. Meski demikian, kita tidak membenarkan kejatuhan dalam dosa sebagai alasan untuk terus hidup dalam dosa, karena kebenaran Kristus memampukan kita untuk terus hidup dalam kebenaran-Nya. Contoh praktis dalam kehidupan sehari-hari

  • Self image (Citra Diri) :  Waktu sukses menjadi terlalu percaya diri tetapi sombong waktu gagal bisa merendah tetapi  minder. Injil : Waktu berhasil tetap rendah hati, waktu gagal tidak menjadi rendah diri.
  • Pain (Penderitaan) : Sudah berusaha hidup baik namun ketika diperhadapkan dengan penderitaan maka cenderung menyalahkan orang lain, marah kepada Tuhan atau merasa ada yang salah (berdosa) sehingga merasa sangat berdosa. Injil : Ketika mengalami penderitaan tidak menjadi depresi atau marah kepada Tuhan karena tahu bahwa orang berdosa seharusnya pantas mendapatkan kehidupan yang mengerikan tetapi pada saat yang sama tahu bahwa sudah ditebus oleh Kristus dari kengerian neraka sehingga dapat menjalani masa derita dengan keyakinan bahwa di dalam itu ada kebaikan yang disediakan Tuhan dan menyatakan persatuan kita dengan penderitaan Kristus. 
  • Conflict (Perselisihan) : Ketika seseorang berasumsi ‘negatif’ kepada kita maka seketika juga kita berkonfrontasi dengan dia sampai mempermalukan dia atau kita cenderung untuk menarik diri dan menyimpan dendam. Injil : Kita dapat memaafkan karena kita menyadari bahwa kita juga orang berdosa (bisa melakukan hal yang serupa) tetapi pada saat yang sama kita dapat dengan percaya diri untuk menghadapi konflik tersebut tanpa kemarahan karena kita menyadari bahwa penerimaan diri kita ada di dalam kasih Kristus yang sempurna.
  • Love (Cinta ) : dengan egois memanfaatkan seseorang demi kepentingan diri sendiri atau membiarkan diri dimanfaatkan oleh orang lain untuk cari penerimaan orang lain. Injil : Dapat tetap mencintai dengan kesungguhan hati tanpa mencari penerimaan diri pada orang lain. tetapi pada saat yang sama ketika kita menegur orang yang kita cintai kita juga tidak takut ditolak.

Apa (siapa) yang memampukan kita untuk menghidupi kebenaran Injil? 

GOSPEL CONNECTION 

Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus. (Galatia 2:21)

Kasih karunia adalah pengubah hati, karena dari hati muncul segala macam perilaku. Injil bukan nasihat praktis. Injil juga bukan tentang aturan hidup. Injil adalah kekuatan Allah yang mengubahkan hati kita terlebih dahulu sehingga dari hati yang sudah diubahkan itu keluar pikiran, perkataan, perbuatan yang menunjukan keindahan Kristus. Hal ini nampak jelas dalam kehidupan Rasul Paulus sendiri sebagaimana yang dituliskan pada awal surat ini…

1Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, 2dan dari semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-jemaat di Galatia: 3kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, 4yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. 5Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin. (Galatia 1: 1 – 5 )

Kehidupan Rasul Paulus memperlihatkan kehidupan yang diubahkan dari dalam hati keluar. Dan yang melakukan itu semua karena Yesus Kristus yang telah menyerahkan dirinya karena dosa-dosa kita. Dia bukan hanya membayar lunas hutang dosa kita tetapi Dia menyerahkan dirinya sebagai ganti dosa-dosa kita. Ini adalah substitusi dimana Yesus tidak hanya menerima hukuman dosa, tetapi Yesus menjadi dosa dan kita menjadi benar. Sesungguhnya Injil bukan sekadar Allah mengampuni dosa kita melainkan Allah menjadi dosa sehingga kita menerima kebenaran Allah.  Inilah kebenarannya. 

  • Kristus Sang Pemilik Kehidupan harus mengalami kematian diatas salib agar kita yang seharusnya mati karena dosa dapat menerima hidup yang kekal. 
  • Kristus Sang Kebenaran yang tidak mengenal dosa menjadi dosa supaya kita yang seringkali merasa diri benar dapat menerima kebenaran sejati Allah. 
  • Kristus Sang Hakim yang adil harus mengalami ketidakadilan bahkan divonis bersalah agar kita yang bersalah dan harusnya dihukum dapat hidup dalam kebebasan bagi kemuliaan Allah.
  • Kristus Sang Pemberi Kasih Karunia rela menerima penolakan terbesar supaya kita yang seharusnya tertolak mendapatkan penerimaan dan pendampingan kekal Allah. 

Supaya kita yang bersalah (guilt) dapat menerima kasih karunia (grace) serta dimampukan untuk bersyukur (gratitude),

Ucapan syukur akan mengalir karena kesadaran bahwa kita ini yang bersalah, yang seharusnya dihukum tetapi justru menerima kasih karunia. Sehingga kehidupan orang yang sudah mendengar dan mengalami Injil di dalam dirinya akan mengalir kehidupan yang penuh dengan ucapan syukur sekalipun kehidupan tidak selalu mudah dan tidak selalu berjalan dengan kehendak diri. Sehingga, kehidupan orang yang sudah mendengar dan mengalami Injil di dalam dirinya mengalir penerimaan yang sempurna sekalipun mengalami penolakan atau keterpurukan. Sehingga, kehidupan orang yang sudah mendengar dan mengalami Injil di dalam dirinya limpah ucapan syukur sekalipun menjalani penderitaan yang berat. 

Jadi, pertanyaan reflektif yang perlu kita renungkan adalah … 

Pikirkan respon rutin anda jika anda merasa diri gagal atau berhasil menaati Allah disebuah area kehidupan. Apakah respon tersebut digerakkan oleh Injil atau tidak?

IMPLIKASI INJIL. Karena Injil             

  • Kita tahu bahwa kita tetap dikasihi dengan sempurna sekalipun kita masih bergumul dalam keinginan daging.
  • Kita dimampukan untuk bertobat setiap kali gagal dalam mengasihi allah dan sesama.
  • Kita tidak menjadi sombong atas suatu keberhasilan yang dicapai. 
  • Kita disadarkan untuk mengucap syukur senantiasa sekalipun kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan.