BACAAN: Kisah Para Rasul 1:6-11
1:6 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?"
1:7 Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
1:9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
1:10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
1:11 dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

Biasanya ketika kita berbicara tentang kenaikan Yesus ke surga, kita memahaminya secara sederhana: Yesus naik ke surga, lalu Pentakosta terjadi dan Roh Kudus dicurahkan. Padahal, kenaikan Yesus adalah salah satu momen paling penting dalam seluruh sejarah penebusan.
Kenaikan bukan sekadar peristiwa Yesus pergi. Ada sesuatu yang sedang terjadi ketika Yesus naik ke surga. Jika kita tidak memahaminya, kita akan mudah dipenuhi keraguan dan kehilangan pengharapan. Namun jika kita memahaminya, kita akan mengerti mengapa kehidupan Kristen bersifat already but not yet—sudah, tetapi belum.
Ketegangan itu terletak pada bagian not yet. Di kayu salib Yesus berkata, “Tetelestai. It is finished.” Namun mengapa hidup kita masih terasa penuh hal yang belum selesai?
Realitasnya, masih ada air mata, anxiety, jatuh bangun dalam dosa, sakit penyakit, bahkan kematian. Kita percaya Tuhan setia, tetapi hidup tetap terasa berat. Kita melihat pertolongan Tuhan dan mengalami kasih-Nya, tetapi luka tetap ada. Mengapa kecemasan masih terus datang?
Mungkin memang seperti itulah kehidupan Kristen: already but not yet.
Melalui pembahasan Wahyu 21 oleh Pastor Erich beberapa hari lalu, kita belajar bahwa pengharapan Kristen bukanlah pelarian dari dunia ini. Kita justru hidup di dunia untuk berpartisipasi dalam pemulihan yang Tuhan kerjakan. Kekristenan bukan tentang escape from the world, melainkan heaven comes down—surga turun, bumi diperbarui, dan segala sesuatu dijadikan baru.
Namun di situlah kegelisahan muncul. Kalau Kristus sudah menang, mengapa dunia masih terasa rusak?
Kita masih melihat doa yang belum dijawab, penyakit, keluarga yang retak, dan ketidakadilan di mana-mana. Bahkan beberapa hari ini, saat mengikuti pengadilan yang sedang berlangsung, kita melihat begitu banyak injustice. Yang lebih membingungkan lagi, setelah bangkit Yesus justru naik ke surga dan seakan pergi menghilang. Mungkin di dalam hati kita pernah bertanya, “Tuhan, kalau Engkau benar-benar menang, mengapa hidupku masih seperti ini?”
Hari ini kita akan melihat bahwa kenaikan Yesus Kristus bukanlah akhir cerita, melainkan awal pemulihan dunia. Kisah Para Rasul 1 memberi jawaban yang sangat presisi atas pertanyaan itu. Di ayat 6, para murid menanyakan hal yang sama seperti yang sering kita tanyakan hari ini: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”
Perhatikan, peristiwa ini terjadi setelah kebangkitan, setelah Yesus mengalahkan maut. Namun pertanyaan murid-murid tetap tentang restoration atau pemulihan. Fokus mereka masih sama: kapan segala sesuatu dipulihkan?

HUMILITY LONGS FOR RESTORATION
(Semua Manusia Mendambakan Suatu Pemulihan)
Jika para murid yang menjadi saksi mata langsung dari mukjizat terbesar dalam sejarah tetap menanyakan hal tersebut, berarti ada sesuatu yang sangat mendalam di dalam hati manusia. Bayangkan, mereka telah melihat Yesus yang disalib bangkit pada hari ketiga. Mereka melihat-Nya menampakkan diri kepada lima ratus orang, makan bersama, bahkan menembus ruangan yang terkunci. Namun, setelah melihat semua mukjizat supranatural itu, mereka rupanya tetap memiliki kerinduan mendalam (longing) akan sebuah restorasi.
Di sinilah kita menyadari bahwa memang ada sesuatu yang salah dengan dunia ini. Di dalam hati kecil, kita semua tahu bahwa bumi ini seharusnya jauh lebih baik dan lebih indah daripada apa yang kita alami sekarang.
Ketika berhadapan dengan kejahatan dan kematian, hati kita selalu memberontak dan berbisik, “Ini tidak semestinya seperti ini.” Mengapa? Karena kita sadar ada sesuatu yang kurang dan rusak dari dunia ini.
Hari ini kita bisa memiliki hampir segalanya: uang, karier, hiburan tanpa batas, bahkan AI yang mampu menciptakan gambar instan. Kita tidak perlu benar-benar pergi ke Italia untuk terlihat sedang berjalan di Roma; cukup memakai AI lalu mengunggahnya ke media sosial. Namun di tengah semua kemudahan itu, angka anxiety, depresi, bunuh diri, dan kesepian justru terus meningkat. Mengapa manusia modern menjadi generasi yang begitu lelah?

Alkitab memberi jawaban yang jelas: masalah utama manusia bukan kekurangan teknologi, melainkan kehilangan Taman Eden atau lebih tepatnya, kehilangan gema Taman Eden. Jika kita kembali ke Kitab Kejadian pasal 3, saat manusia jatuh ke dalam dosa, seluruh relasi langsung menjadi rusak:
Ketika manusia kehilangan kemuliaan Allah, ada kekosongan besar yang hilang di dalam hati kita, dan sampai hari ini kita masih mengalami imbasnya. We miss Eden. Kita merindukan sebuah atmosfer yang sebenarnya belum pernah kita rasakan sendiri secara fisik, tetapi pernah dialami oleh Adam.
Menariknya, para filsuf non-Kristen pun menyadari adanya kekosongan ini. Orang-orang yang tidak mengenal Tuhan tetap merasakan bahwa ada sesuatu di dalam hati manusia yang tidak pernah benar-benar bisa dipuaskan oleh dunia. Ada semacam kerinduan yang terus muncul, tetapi sulit dijelaskan dan tidak pernah benar-benar menemukan jawabannya.
Penyair dan filsuf romantik asal Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, pernah menulis, “Only those who know longing know what I suffer.” Ia menggambarkan bahwa manusia memiliki sebuah penderitaan berupa kerinduan yang mendalam.
Goethe memakai satu kata dalam bahasa Jerman untuk menjelaskan hal itu: Sehnsucht. Kata ini sulit diterjemahkan secara utuh. Biasanya diterjemahkan sebagai blissful longing, yaitu kerinduan mendalam terhadap sesuatu yang terasa indah tetapi tidak bisa sepenuhnya dijelaskan. Seolah-olah kita sedang merindukan rumah yang belum pernah kita tinggali, atau merasakan bahwa dunia ini seharusnya lebih indah daripada yang sekarang kita alami.

Saya rasa kita semua pernah mengalami momen seperti itu. Ada saat-saat tertentu yang terasa hampir sempurna. Kadang ketika berjalan bersama keluarga, saya suka berjalan sedikit di belakang sambil memperhatikan mereka. Istri dan anak-anak berjalan di depan, suasananya indah, hati terasa penuh syukur, dan untuk sesaat semuanya terasa begitu baik. Namun biasanya tidak lama kemudian ada hal kecil yang langsung merusak momen itu. Anak-anak mulai ribut, ada yang jatuh, atau sesuatu terjadi dan suasana langsung berubah.
Atau mungkin kita pernah menikmati makanan yang sangat enak, lalu beberapa detik kemudian momen itu buyar karena hal kecil yang mengganggu. Pengalaman seperti ini sederhana, tetapi sangat manusiawi. Kita sering merasakan keindahan, tetapi keindahan itu tidak pernah terasa utuh atau bertahan lama.
Tentang hal ini, C. S. Lewis dalam The Weight of Glory menulis kalimat yang sangat indah. Ia berkata bahwa semua keindahan dunia ini hanyalah “aroma dari bunga yang belum pernah kita temukan” dan “gema lagu yang belum pernah kita dengar.” Itulah sebabnya musik, cinta, alam, seni, dan nostalgia selalu terasa menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Kita menikmati momen-momen indah itu, tetapi sekaligus takut kehilangannya. Karena di dalam hati manusia sebenarnya ada kerinduan akan sukacita yang sempurna, penuh, dan tidak pernah berakhir.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Alkitab menyatakan bahwa kerinduan tersebut bukanlah sebuah ilusi. Itu adalah gema dari Taman Eden yang telah hilang, sekaligus bayangan dari langit baru dan bumi baru yang akan kita alami di masa depan. Sejak peristiwa di Kejadian pasal 3, seluruh umat manusia hidup dalam kondisi spiritual homesickness—kerinduan rohani akan rumah asal.
Kita semua sedang mencari rumah yang belum pernah kita temukan. Kita semua mencari kedamaian sempurna yang belum pernah kita jumpai. Kita semua mencari cinta murni yang bahkan tidak akan pernah bisa dipenuhi sepenuhnya oleh pasangan hidup kita. Kita merindukan sebuah dunia tanpa rasa sakit, penyakit, dan kematian.
Sebab itulah, para murid mengajukan pertanyaan krusial itu kepada Yesus: “Kapan pemulihan itu datang?” Dan di luar dugaan, Yesus memberikan sebuah jawaban yang sangat mengejutkan.

THE KING ASCENDS TO BEGIN RESTORATION
(Sang Raja Naik Tahta untuk Memulai Pemulihan)
Dalam Kisah Para Rasul 1:7–8, Yesus menjawab pertanyaan para murid tentang pemulihan kerajaan: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksi-Ku... sampai ke ujung bumi.” Sesudah mengatakan itu, ayat 9 mencatat bahwa Yesus terangkat ke surga dan awan menutup-Nya dari pandangan para murid.
Jika dibaca sekilas, kenaikan Yesus mungkin terlihat seperti Yesus pergi lalu menghilang. Namun melalui lensa Alkitab dan sejarah penebusan, ini sebenarnya adalah sebuah coronation scene, sebuah momen penobatan. Yesus sedang bertahta sebagai Raja atas alam semesta.
Lukas, penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul, sangat sering menunjukkan bagaimana Perjanjian Lama digenapi di dalam Perjanjian Baru. Salah satu gambaran terpenting tentang kenaikan Yesus sudah dinubuatkan jauh sebelumnya dalam Daniel 7:13–14. Nabi Daniel melihat “seorang seperti Anak Manusia” datang dengan awan-awan menghadap Yang Lanjut Usianya, lalu kepada-Nya diberikan kuasa, kemuliaan, dan kerajaan yang kekal.
Perhatikan arah gerak penglihatan itu. Anak Manusia datang dengan awan menuju hadirat Allah untuk menerima kerajaan. Jadi kenaikan Yesus bukanlah evakuasi atau pelarian dari dunia, melainkan penobatan Sang Raja.
Rasul Paulus juga menegaskan hal yang sama dalam Efesus 1:20–21. Kristus dibangkitkan dan didudukkan di sebelah kanan Allah, posisi otoritas tertinggi, jauh di atas segala pemerintah, kuasa, dan kerajaan. Artinya, Yesus bukan baru akan memerintah nanti saat langit baru dan bumi baru datang. Bahkan sekarang pun, Kristus sudah memerintah. Kenaikan-Nya adalah deklarasi bahwa pemulihan dunia sudah dimulai.
Meski kita percaya bahwa Yesus adalah Raja yang berdaulat, sebuah pertanyaan wajar mungkin tetap muncul: jika Yesus sudah menjadi Raja, mengapa kita masih harus mengalami penderitaan? Mengapa kita masih melihat dunia yang belum beres?
Untuk menjelaskan ketegangan ini, kita bisa menggunakan ilustrasi dari sejarah Perang Dunia Kedua. Dalam perang tersebut, ada dua hari penting yang menjadi titik balik kekalahan Nazi Jerman, yaitu D-Day dan V-Day (Victory Day).
Ilustrasi ini paralel dengan Injil. Peristiwa salib dan kebangkitan Yesus Kristus adalah D-Day kita, di mana titik balik kemenangan mutlak atas maut sudah dimulai. Sementara itu, janji langit baru dan bumi baru dalam Wahyu 21 adalah V-Day kita. Saat ini, kita sedang hidup di masa transisi di antara D-Day dan V-Day. Itulah sebabnya hidup kita berada dalam realitas already but not yet—sudah menang, tetapi belum terealisasi sepenuhnya.

Di sinilah letak esensi dari peristiwa Kenaikan: peristiwa ini menunjukkan bahwa di masa transisi ini, Sang Raja sudah bertakhta, berdaulat, dan memegang kendali penuh atas seluruh alam semesta.
Sering kali kita cemas karena tidak bisa melihat takhta Tuhan secara langsung. Keadaan ini seperti saat kita berada di pesawat yang mengalami turbulensi hebat. Penumpang di kabin bisa panik dan ketakutan, tetapi mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi di kokpit. Bisa saja sang pilot tetap tenang karena pesawat masih sepenuhnya terkendali. Kita panik karena tidak melihat apa yang pilot lihat. Namun ketidaktahuan penumpang tidak pernah mengubah fakta bahwa pilot tetap memegang kendali.
Begitu juga dalam hidup. Saat badai datang, kita sering merasa Tuhan seakan jauh atau diam. Namun peristiwa kenaikan Yesus mengingatkan bahwa Kristus tetap bertahta dan memegang kendali penuh atas segala sesuatu.
Karena itu, doktrin kedaulatan Allah bukan sekadar teori teologi yang dingin. Kebenaran ini menjadi sumber pengharapan bagi orang yang lelah, kecewa, sakit, dan berduka. Di dalam Kristus, tidak ada penderitaan yang sia-sia. Tuhan memakai pergumulan untuk menyatakan kesetiaan-Nya dan membentuk kita semakin serupa dengan Kristus.
Saya pribadi belajar hal ini beberapa tahun lalu ketika bisnis kami tiba-tiba kehilangan hampir 30 persen omzet. Keuangan yang biasanya menopang pelayanan menjadi goyah, dan kami tidak bisa melakukan apa-apa selain bersandar kepada Tuhan. Namun justru melalui masa sulit itu saya belajar bahwa pemeliharaan Tuhan tidak bergantung pada kekuatan saya, melainkan pada tangan-Nya yang menopang hidup kami. Jadi jika hari ini Anda sedang bergumul, percayalah: Tuhan tetap memegang kendali dan Dia tidak meninggalkan kita.
Namun, jika Sang Raja memang sudah naik takhta dan memegang kendali, sebuah pertanyaan besar berikutnya mulai muncul: mengapa pemulihan dunia ini terasa begitu lama? Mengapa Tuhan tidak langsung menyelesaikan semuanya sekarang juga? Mengapa kita masih harus melewati masa penantian ini?

THE CHURCH LIVES BETWEEN ASCENSION & RESTORATION
(Gereja Berdiri di Antara Kenaikan & Pemulihan)
Mungkin kita bertanya, mengapa Tuhan tidak langsung menyelesaikan semuanya? Mengapa masih ada penantian yang bahkan sudah berlangsung hampir dua ribu tahun? Jawabannya ada dalam Kisah Para Rasul 1:8: “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Melalui perkataan itu, Yesus mengajak para murid menjadi rekan sekerja-Nya. Dari Yerusalem, Injil terus bergerak melintasi zaman dan bangsa sampai akhirnya tiba di Indonesia, bahkan sampai kepada kita hari ini.
Artinya, orang-orang sebelum kita pun pernah bergumul dan bertanya apakah Tuhan sungguh berdaulat di tengah tantangan dan penderitaan. Namun mereka tetap pergi memberitakan Injil karena percaya pada penyertaan Tuhan. Sebagian bahkan setia sampai mati sebagai martir, dan pengorbanan mereka menjadi gema dari pengorbanan Kristus sendiri.
Sesudah kenaikan Yesus, Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta dan gereja mulai diutus. Sejak saat itu, Kerajaan Allah terus bergerak dan berekspansi. Karena itu, gereja bukan waiting room pasif untuk menunggu akhir zaman atau rapture. Gereja adalah icipan dari kerajaan yang akan datang. Kita dipanggil menjadi saksi Kristus melalui keluarga, pekerjaan, studi, dan kehidupan sehari-hari.
Gereja juga bukan sekadar gedung, sebab kitalah gereja Allah. Kita hidup di antara kemenangan Kristus yang sudah dimulai dan pemulihan sempurna yang belum selesai. Hari ini, tugas kita adalah menjadi duta kerajaan Allah dan saksi-saksi Kristus di dunia.
Ketika kita memilih mengampuni orang yang bersalah kepada kita, padahal kita mampu membalas, kita sedang menunjukkan Injil karena kita sendiri telah lebih dahulu diampuni. Kita sedang memberi preview dari dunia baru yang penuh pengampunan.
Ketika kita membawa damai di tengah kekacauan, melayani orang yang tidak layak dilayani, dan peduli kepada orang miskin seperti Yesus mempedulikan mereka, kita sedang menunjukkan nilai Kerajaan Allah. Yesus berkata bahwa saat kita memberi makan kepada yang lapar dan memberi pakaian kepada yang telanjang, kita melakukannya untuk Dia. Melalui hidup kita, Kerajaan Allah sedang berekspansi.
Kerajaan itu seperti aroma masakan dari dapur. Makanannya mungkin belum terlihat di meja, tetapi aromanya sudah memenuhi rumah dan memberi tanda bahwa hidangan sedang disiapkan. Begitu juga dengan Kerajaan Allah. Memang belum datang sepenuhnya, tetapi aromanya seharusnya sudah tercium melalui hidup gereja dan umat Tuhan. Ketika orang melihat kesetiaan, integritas, dan pengampunan dalam hidup kita lalu bertanya, “Bagaimana dia bisa hidup seperti itu?” di situlah kita sedang memancarkan aroma kerajaan surga.

Karena itulah, seluruh elemen kehidupan dan pelayanan gereja menjadi sangat penting:
Gereja bukanlah tempat bagi orang-orang yang sudah sempurna. Gereja adalah tanda kecil dari dunia yang sedang dipulihkan dan disempurnakan oleh Tuhan. Setiap tindakan kasih, pengampunan, keadilan, dan kesetiaan di dalam Kristus adalah icipan kecil dari dunia yang akan datang.
Jika Anda bertanya bagaimana kita bisa yakin bahwa pemulihan itu pasti datang, pandanglah kepada Sang Raja yang rela menderita bagi dunia yang dipimpin-Nya. Realitas ini membuktikan bahwa Tuhan kita tidak dingin, tidak jauh, dan sangat memedulikan kita. Dunia ini tidak ditinggalkan, dan penderitaan Anda tidak pernah sia-sia.
Salib membuktikan kasih-Nya, dan Kenaikan-Nya membuktikan kuasa-Nya. Kenaikan Yesus ke surga adalah sebuah deklarasi surgawi bahwa karya salib-nya telah berhasil. Dosa, kematian, dan kegelapan tidak keluar sebagai pemenang karena Sang Raja kini telah bertakhta.
Jika hari ini hidup terasa berat, mata dipenuhi air mata, dan hati dipenuhi banyak pertanyaan, ingatlah bahwa kita memang masih hidup dalam masa already but not yet. Namun, jangan pernah lupa bahwa Raja kita sudah naik takhta. Karena Raja kita hidup, maka penderitaan Anda bukanlah akhir dari segalanya. Sejarah sedang bergerak pasti menuju pemulihan total. Suatu hari nanti, akan tiba saatnya di mana tidak ada lagi air mata, sakit penyakit, maupun kematian, dan hadirat Allah akan dirasakan secara penuh.

REFLECTION
• Di area mana kamu sedang sulit untuk percaya bahwa Tuhan berdaulat dan masih memegang kendali?
• Apa yang kamu harapkan bisa memulihkan hidupmu selain Kristus? (Karir, uang, kesuksesan, pengakuan, relasi, control?)
• Jika Raja yang naik takhta itu rela disalibkan bagimu... mengapa kamu sering tidak sungguh sungguh mempercayakan hidupmu kepada-Nya?
ORANG BERINJIL
Bisa berduka tanpa hilang pengharapan karena tahu, pemulihan sudah dimulai meski belum sempurna.
Tidak melarikan diri dari dunia, karena sadar bahwa hidupnya dipanggil untuk membawa aroma Kerajaan Allah.
Tetap percaya dalam penderitaan karena memandang Yesus Sang Raja yang tersalib itu sekarang berdaulat dan bertakhta di Sorga.