Justified Because He Lives

The Gospel After Genesis – Week 5 “Justified Because He Lives”

Ps. Michael Chrisdion

 

Mengapa hari ini kita merayakan Paskah? Jika Yesus hanya mati, kita bisa menyebut-Nya sebagai martir. Tetapi karena Dia bangkit, ada sesuatu yang telah diselesaikan. Karena Dia bangkit, sebagai orang percaya kita telah menerima sesuatu. Paskah memang tentang kebangkitan Yesus, tetapi hari ini yang dibahas adalah implikasi dari kebangkitan itu. Jika tidak memahami bahwa kebangkitan itu berarti sesuatu, maka tidak akan bisa menghidupi kuasa kebangkitan Kristus, sebab kebangkitan-Nya merupakan putusan hidup atas hidup kita. Apa yang Tuhan putuskan atas hidup kita, itu yang perlu dipahami.

BACAAN: ROMA 3:21-28

3:21 Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, 

3:22 yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. 

3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 

3:24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. 

3:25 Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. 

3:26 Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. 

3:27 Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! 

3:28 Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. 

3:29 Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!

MENGAPA KITA PERLU DIBENARKAN-PEMBENARAN (JUSTIFICATION) OLEH TUHAN?

Jika membaca Perjanjian Baru, terutama surat-surat rasuli, akan sering ditemukan istilah seperti dibenarkan, kebenaran Allah, pembenaran dalam Kristus oleh iman. Pertanyaannya, mengapa manusia perlu dibenarkan? Mengapa Alkitab penuh dengan konsep pembenaran? Apa hubungannya dengan pergumulan hidup sehari hari?

Ada yang pernah bertanya, mengapa khotbah tentang Injil selalu berbicara tentang pembenaran. Bukankah yang dibutuhkan itu bukan dibenarkan, melainkan keberhasilan, kesembuhan, kebahagiaan, bahkan uang? Khotbah Paskah ini menjawab pertanyaan itu. Tuhan tahu apa yang dibutuhkan manusia dan Dia memberikan yang paling tepat. Bahkan apa yang sering dianggap sebagai kebutuhan utama, ternyata bukan jawaban yang sesungguhnya.

Ada satu kebenaran yang sering dilupakan. Setiap hari manusia hidup di bawah tekanan. Ada suara dalam diri yang terus berbicara: apakah hidup ini berarti, apakah dikasihi, apakah cukup, apakah diterima. Sekalipun tidak ada orang yang secara langsung menghakimi, pikiran dan hati terus menghakimi diri sendiri. Suara itu mungkin tidak selalu muncul, tetapi tetap ada. Ditambah lagi dengan media sosial yang membuat seseorang semakin merasa terhakimi dan tidak cukup, karena yang terlihat selalu sisi terbaik orang lain. Perbandingan pun muncul. Timbul rasa iri, merasa kurang, merasa tidak sebanding.

Di dalam hati muncul pertanyaan, apakah aku cukup? Lalu setiap hari manusia berusaha menjawab pertanyaan itu dengan membuktikan keberhargaan diri. Ketika tersinggung, reaksi yang muncul sering kali berlebihan. Di jalan, orang bisa bertengkar hanya karena hal kecil. Ego terluka. Harga diri terasa diinjak, sehingga muncul dorongan untuk membuktikan bahwa diri ini berarti.

Di balik semua itu, ada satu pola yang sama. Manusia berusaha membenarkan diri. Pembenaran itu dibangun melalui karier, relasi, pencapaian, keluarga, bahkan citra diri. Ketika performa baik, muncul rasa berharga. Ketika gagal, muncul rasa hancur. Dalam relasi, ketika diterima, muncul rasa aman. Ketika ditolak, muncul rasa tidak berharga. Di media sosial, manusia menampilkan versi terbaik dirinya untuk menunjukkan bahwa hidupnya baik, berarti, dan bahagia. Namun di balik itu semua, ada pergumulan yang dalam.

Semua usaha itu sebenarnya adalah upaya membangun kebenaran sendiri. Manusia ingin membangun righteousness-nya sendiri. Namun masalahnya, itu tidak pernah cukup. Ada kisah tentang Rockefeller yang ditanya menjelang ajalnya, berapa banyak uang yang cukup baginya. Jawabannya sederhana, satu dolar lagi. Itu menunjukkan bahwa usaha membangun kebenaran diri tidak pernah mencapai titik puas.

Roma 3:23 menunjukkan akar masalahnya. Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang dulu dimiliki tetapi sekarang tidak ada lagi. Kekosongan itu membuat manusia terus mencari dan mencoba mengisinya dengan berbagai hal.

Ketika seseorang berkata bahwa yang dibutuhkan adalah uang, kebahagiaan, atau keberhasilan, sebenarnya ada motivasi yang lebih dalam, yaitu untuk membenarkan diri. Masalah terbesar bukan hanya pergumulan hidup, tetapi status manusia di hadapan Allah. Status itu kosong. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, kehilangan gambar Allah, kehilangan keberhargaan, kebenaran, dan shalom.

Shalom bukan sekadar damai, tetapi keutuhan. Dosa membuat manusia kehilangan keutuhan itu. Kehilangan penerimaan Allah, kehilangan kekayaan rohani, kehilangan perkenanan-Nya. Di dalam hati ada kesadaran bahwa ada yang tidak beres, sehingga manusia berusaha menutupinya dengan berbagai cara. Manusia berusaha layak di hadapan sesama karena tidak layak di hadapan Allah.

Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka bersembunyi. Ada rasa malu. Roma 3:10 menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang benar. Tidak ada yang cukup benar di hadapan Tuhan. Bahkan jika manusia diukur dengan standarnya sendiri, tetap tidak akan lulus.

Dari sini mulai terlihat bahwa kebutuhan manusia bukan sekadar hal-hal lahiriah. Apa yang dicari selama ini ternyata jauh lebih dalam dari yang disadari. Tuhan mengetahui hal itu, dan karena itu Dia memberikan jawaban yang tepat.

Sebelum masuk lebih jauh, ada satu kebenaran lagi yang perlu dipahami.

APA MAKSUD DIBENARKAN-PEMBENARAN (JUSTIFICATION)?

Di awal pembacaan tadi, pada ayat 21, ada penekanan pada frasa “tetapi sekarang.” Seolah-olah Rasul Paulus membuka sebuah bab baru. Setelah tiga pasal ia menggambarkan betapa destruktifnya dosa, betapa mengerikannya akibat dosa, ia menunjukkan bahwa orang baik, orang religius, yang beragama, maupun yang hidup dalam dosa yang jelas, semuanya sama saja. Lalu di akhir pasal tiga ia berkata, “Tetapi sekarang.” Ada sebuah jalan baru, sebuah perubahan besar dalam sejarah manusia. Sekarang manusia tidak perlu hidup seperti itu lagi.

Ia melanjutkan bahwa tanpa hukum Taurat, tanpa harus memenuhi syarat untuk diperkenankan Allah, tanpa harus berusaha mendapatkan berkat atau kebenaran itu, justru kebenaran Allah telah dinyatakan. Kebenaran yang selama ini dicari ternyata dimanifestasikan, diekspresikan. Kebenaran Allah bukan berasal dari manusia, bukan hasil usaha, tetapi diberikan oleh Tuhan sendiri. Bukan sesuatu yang bisa dibeli atau diusahakan, bukan berdasarkan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan, melainkan berasal dari Allah.

Ayat 24 menyatakan bahwa oleh kasih karunia manusia dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Ini adalah sebuah pemberian. Kebenaran itu bukan hasil usaha manusia, tetapi sesuatu yang diterima dari Tuhan. Namun muncul pertanyaan besar. Bagaimana Allah tetap adil, tetap benar dalam keadilan-Nya, tetapi sekaligus bisa memberikan kebenaran itu dan mengampuni dosa manusia?

Bayangkan seorang hakim yang menghadapi terdakwa yang jelas bersalah dengan bukti lengkap. Jika hakim itu berkata, “Sudahlah, saya ampuni saja,” apakah ia hakim yang baik? Tentu tidak. Ia tidak adil, bahkan bisa dianggap korup. Prinsip keadilan menuntut adanya hukuman. Demikian juga manusia sering berpikir bisa “menyuap” Tuhan dengan perbuatan baik, aktivitas rohani, atau penyembahan. Padahal itu bukan cara kerja Allah. Semua itu seharusnya respons, bukan usaha untuk mendapatkan pembenaran.

Lalu bagaimana Allah tetap adil sekaligus mengampuni? Di sinilah pentingnya Jumat Agung. Ayat 25 menjelaskan bahwa Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darah-Nya. Semua ini dilakukan untuk menunjukkan keadilan-Nya.

Sederhananya, seperti seseorang yang memiliki hutang besar. Hanya ada dua kemungkinan. Entah ia sendiri yang membayar, atau orang lain yang membayarnya. Tidak ada pilihan ketiga. Demikian juga dengan dosa. Entah manusia yang menanggungnya, atau ada yang menggantikan. Di salib, Yesus mengambil tempat manusia. Ia menerima hukuman, menanggung konsekuensi dosa. Bukan karena manusia layak, tetapi karena kasih-Nya. Dia yang paling berharga rela membayar harga bagi yang tidak berharga, supaya yang tidak berharga menjadi berharga.

Di salib terjadi pertukaran besar. Yesus diperlakukan seperti manusia berdosa, supaya manusia diperlakukan seperti Dia. Ia dihukum seolah-olah Ia adalah manusia berdosa, sehingga manusia dibenarkan seolah-olah benar. Jika ada yang tampak tidak adil, justru ketidakadilan itu dialami oleh Yesus. Ia melakukannya karena kasih karunia.

Namun muncul pertanyaan berikutnya. Bagaimana bisa dipastikan bahwa kematian Yesus itu cukup? Bagaimana tahu bahwa hutang dosa benar-benar sudah lunas? Bagaimana tahu bahwa pengorbanan itu diterima oleh Bapa?

Jawabannya ada di Roma 4:25. Yesus diserahkan karena pelanggaran manusia dan dibangkitkan untuk pembenaran. Kebangkitan menjadi bukti bahwa karya salib itu cukup. Pada Jumat Agung, Yesus mati dan tampaknya segala sesuatu berakhir. Murid-murid takut, harapan seolah runtuh. Tetapi itu belum selesai. Ada hari Minggu. Yesus bangkit.

Kebangkitan adalah bukti, deklarasi bahwa hutang telah lunas, kasus telah selesai, manusia telah dibenarkan. Seperti bukti pembayaran dalam sebuah transaksi, kebangkitan adalah tanda bahwa pembayaran telah diterima. Bahasa yang digunakan Paulus di Roma 3 adalah bahasa pengadilan.

Bayangkan seseorang berdiri di pengadilan dengan semua kesalahan terbuka. Hakim menyatakan ia bersalah. Lalu hakim turun dari kursinya, mengambil posisi terdakwa, dan menjalani hukuman itu sendiri. Ia mati menanggung hukuman tersebut. Namun kemudian ia bangkit, kembali ke kursi hakim, dan menyatakan terdakwa itu tidak bersalah. Bukan karena terdakwa tidak bersalah, tetapi karena hukumannya sudah dijalani oleh orang lain.

Itulah yang terjadi. Vonis berubah dari bersalah menjadi tidak bersalah karena hukuman telah ditanggung oleh Yesus. Upah dosa adalah maut, dan Dia yang menjalani maut itu. Kebangkitan menjadi pengumuman bahwa keputusan itu sah dan final, tidak bisa diganggu gugat.

Inilah Injil. Injil adalah kabar baik, bukan nasihat baik. Bukan sesuatu yang harus dilakukan untuk mendapatkan sesuatu, tetapi sesuatu yang telah dilakukan bagi manusia. Hukum Taurat menunjukkan bahwa manusia tidak mampu, sehingga yang dibutuhkan adalah kabar baik, bukan sekadar nasihat.

Jika pembenaran itu benar, maka pertanyaannya adalah apa implikasinya. Apa yang berubah dalam hidup?

Pertama, manusia tidak perlu lagi membuktikan diri. Sebelum memahami Injil, hidup dipenuhi usaha untuk membuktikan nilai diri, takut gagal, dan mencari validasi. Namun jika putusan sudah keluar, tidak perlu lagi mencari pembenaran. Banyak orang tetap hidup seolah-olah harus membenarkan diri, padahal putusan itu sudah final.

Kedua, tidak perlu lagi gelisah soal identitas. Dunia mendefinisikan identitas berdasarkan pencapaian, harta, atau penerimaan orang lain. Tetapi Injil menyatakan bahwa identitas ditentukan oleh apa yang Kristus telah selesaikan. Jika identitas diletakkan pada karier, akan selalu takut gagal. Jika pada uang, akan takut kehilangan. Jika pada penerimaan manusia, akan takut ditolak. Kristus menjadi miskin supaya manusia diperkaya. Ia seolah gagal di salib supaya manusia menerima kemenangan. Ia ditolak supaya manusia diterima. Maka identitas bukan sesuatu yang dicapai, tetapi diterima.

Ketiga, ada keamanan yang tidak terguncang. Di tengah dunia yang tidak stabil, Injil memberikan kepastian. Keamanan itu bukan pada kondisi dunia, tetapi pada status di dalam Kristus. Jika Yesus benar-benar mati dan bangkit, maka status di hadapan Allah tidak bisa digoncangkan oleh apa pun. Dunia bisa tidak aman, tetapi orang percaya tetap aman karena berada di dalam Kristus.

Inilah kabar yang luar biasa. Namun pertanyaan berikutnya perlu dijawab dengan tepat, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

BAGAIMANA KITA MENERIMA PEMBENARAN (JUSTIFICATION) INI?

Roma 3:22 menyatakan bahwa pembenaran oleh Allah terjadi melalui iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Artinya, manusia dibenarkan secara cuma-cuma melalui iman, percaya kepada karya Kristus melalui darah-Nya.

Ini sangat penting untuk benar-benar dipahami sampai bisa dinikmati. Bukan sekadar dimengerti secara konsep, tetapi sungguh dialami. Banyak orang memiliki sesuatu yang indah, tetapi tidak tahu bagaimana menikmatinya. Seperti berada di pesta dengan makanan melimpah, tetapi tidak tahu bagaimana menikmatinya dengan tenang. Demikian juga dengan Injil. Kebenaran yang begitu indah sudah ada, tetapi seringkali tidak dinikmati karena tidak tahu bagaimana beriman dengan benar.

Selama bertahun-tahun terlihat banyak orang datang dan pergi dari gereja, masuk dan keluar, karena gagal memahami arti dibenarkan oleh iman. Banyak yang hanya mengerti bahwa dosa diampuni, lalu setelah itu berusaha menjadi orang Kristen yang baik. Pola ini sering terjadi. Saat mengalami momen rohani, hati tersentuh, menangis, merasa Tuhan begitu baik. Namun setelah itu, kembali berusaha hidup benar dengan kekuatan sendiri. Ketika gagal, muncul rasa bersalah, lalu menjauh. Saat hidup berantakan, kembali lagi kepada Tuhan, minta ampun, mencoba lagi, lalu jatuh lagi. Siklus ini berulang terus.

Masalahnya bukan pada kurangnya usaha, tetapi pada kesalahpahaman terhadap Injil. Banyak yang belum pernah benar-benar menikmati keindahan Injil. Maka perlu melihat sesuatu yang lebih dalam. Ketika datang kepada Tuhan, bukan hanya melihat dosa, tetapi juga melihat apa yang dibanggakan dalam hidup. Apa yang membuat merasa berharga, apa yang menjadi dasar identitas, itulah sebenarnya tempat iman bersandar.

Apa yang dibanggakan menunjukkan di mana pembenaran diri dibangun. Di situlah iman ditempatkan. Keunikan Injil bukan hanya soal bertobat dari dosa, karena orang Farisi juga melakukan itu. Mereka mengaku dosa, menyesal, berusaha lebih baik, tetapi tetap hidup dalam kebenaran diri sendiri. Bahkan bisa terjadi seseorang rajin mengaku dosa, rajin beribadah, tetapi tetap tidak menikmati Injil.

Keunikan Injil adalah memindahkan kepercayaan. Berhenti bersandar pada kebenaran palsu, bertobat dari itu, lalu memindahkan pijakan iman kepada karya Kristus. Itulah arti iman. Bukan sekadar percaya secara intelektual, tetapi memindahkan dasar hidup dari diri sendiri kepada Kristus. Berhenti bermegah atas apa yang dilakukan, dan mulai bermegah atas apa yang Kristus lakukan.

Ada kisah tentang seorang petani di Connecticut pada abad ke-18, Nathan Cole, yang bertobat setelah mendengar khotbah Injil. Ketika ia mendengar tentang pembenaran dan karya Kristus di salib, hatinya terenyuh. Ia menyadari bahwa selama ini ia berdiri di atas kebenarannya sendiri, yang tidak mampu menyelamatkan. Pada saat itu, fondasi lamanya runtuh. Ia tidak sekadar mencoba menjadi lebih baik, tetapi memindahkan seluruh pijakan hidupnya kepada karya Kristus.

Hal yang sama terlihat dalam kesaksian seseorang yang mengalami perubahan hidup. Ia menyadari bahwa selama ini identitasnya bertumpu pada performa dan pencapaiannya. Namun setelah memahami Injil, ia memindahkan kepercayaannya kepada Kristus. Dalam suatu waktu, ia mengalami kerugian finansial yang besar, hampir kehilangan segalanya. Namun yang mengejutkan, ia justru merasakan sukacita dan keutuhan yang belum pernah dialami sebelumnya. Dulu uang adalah pembenaran dirinya. Sekarang uang hanyalah uang. Ia tetap memiliki shalom, keutuhan, karena fondasinya sudah berubah.

Yang berubah bukan situasinya, tetapi pijakan hidupnya. Dulu berdiri di atas hal yang rapuh, sekarang berdiri di atas karya Kristus. Dari situlah muncul keberanian untuk berkata bahwa dirinya utuh.

Pertanyaannya sekarang, di mana pijakan hidup ini? Kepada siapa hati bersandar? Apa yang menjadi dasar rasa berharga? Di situlah iman berada. Seseorang bisa terlihat aktif secara rohani, tetapi jika tidak pernah memindahkan kepercayaannya dari hal-hal fana kepada Kristus, maka tetap akan goyah.

Mengapa hati sering tidak tenang, penuh kekhawatiran, ketakutan, kemarahan, dan rasa tidak aman? Karena ada sesuatu selain Kristus yang masih dijadikan dasar pembenaran. Injil mungkin sudah dipahami di kepala, tetapi hati masih bersandar pada hal lain.

Karena itu, ini menjadi perenungan. Kebenaran sempurna telah dinyatakan, bukan dari performa manusia, bukan dari usaha menaati hukum, tetapi datang dari Kristus sendiri. Dia datang, berkorban, dan memberikan kebenaran-Nya kepada manusia. Karena itu, tidak perlu lagi membuktikan diri. Fondasi sudah ada di dalam Kristus. Penerimaan sudah diberikan, pembenaran sudah dinyatakan, bukan karena manusia baik, tetapi karena Dia hidup.

Itulah pesan Paskah. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Tuhan setia dan dapat dipercaya. Paskah mengubah segalanya. Status berubah, identitas berubah, masa depan berubah.

Pertanyaannya menjadi sangat pribadi. Apa yang selama ini dipakai untuk membenarkan diri? Apakah itu membawa damai atau justru kecemasan? Hal-hal yang tampaknya memberi rasa aman sering kali justru menjadi sesuatu yang perlahan menghancurkan.

Jika Yesus benar-benar telah menanggung hukuman dan membenarkan manusia, mengapa masih hidup seolah-olah harus terus membuktikan diri? Jawabannya terletak pada di mana iman berpijak. Apakah sungguh-sungguh bersandar pada Kristus, atau masih diam-diam bersandar pada sesuatu yang rapuh.

Hari ini adalah undangan untuk melihat kembali kepada kebangkitan Kristus sebagai bukti bahwa karya-Nya dapat dipercaya. Tidak lagi menaruh pijakan pada hal-hal yang fana, tetapi memindahkan seluruh kepercayaan kepada Kristus. Di situlah iman yang sejati, dan di situlah Injil benar-benar dinikmati.

REFLEKTIF

  • Apa yang saya pakai untuk membenarkan diri? Apakah itu membuat hati semakin damai... atau justru semakin cemas?
  • Jika Yesus benar-benar sudah menanggung hukuman dan membenarkan saya, mengapa saya masih hidup seolah-olah saya yang harus membuktikan diri?
  • Apakah iman saya sungguh berpijak pada Kristus... atau masih diam-diam bersandar pada sesuatu yang rapuh dan fana?

ORANG BERINJIL

Semakin sadar dirinya tidak layak, namun semakin yakin bahwa dia sudah dikasihi dan diterima seutuhnya di dalam Kristus.

Tidak lagi mencari pembenaran dengan membuktikan diri, karena sudah dibenarkan di dalam Kristus.

Hatinya bersandar kepada Kristus, sehingga tetap aman dalam menghadapi dunia yang tidak selalu aman.