The Necessity Of The Cross

The Gospel After Genesis – Week 4 “The Necessity of The Cross”

Ps. Michael Chrisdion

 

Hari ini kita merayakan Good Friday, Jumat Agung. Sebuah momen yang luar biasa, karena di dalam kekristenan inilah puncak di mana Allah sendiri menanggung seluruh dosa dan murka Allah atas dosa manusia. Orang berdosa digantikan oleh Allah semesta alam yang menciptakan kita, dan justru Ia rela berkorban bagi kita.

Di tengah perenungan firman Tuhan hari ini, judul khotbah yang diangkat adalah The Cross. Mengapa salib itu diperlukan, mengapa salib itu bukan sesuatu yang opsional, dan mengapa Tuhan harus mati di atas kayu salib.

BACAAN: Roma 3:9-20

3:9 Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, 

3:10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. 

3:11 Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. 

3:12 Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. 

3:13 Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. 

3:14 Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, 

3:15 kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. 

3:16 Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, 

3:17 dan jalan damai tidak mereka kenal; 

3:18 rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu." 

3:19 Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. 

3:20 Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Belakangan ini banyak orang diresahkan oleh isu kenaikan BBM. Memang pada tanggal 1 kemarin tidak jadi naik, tetapi tidak ada yang tahu apakah kondisi ini akan bertahan. Biaya hidup semakin tinggi dan sangat terasa. Ketidakpastian ekonomi menjadi nyata. Di sisi lain, perang dan konflik belum berhenti, membuat dunia semakin tidak stabil.

Jika mau jujur, banyak orang hidup tanpa rasa aman, dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran. Ada yang sedang menghadapi pergumulan pribadi, keuangan, kesehatan, atau berbagai tantangan hidup lainnya. Lalu muncul pertanyaan tentang masa depan: apakah hidup akan semakin sulit, kapan terobosan datang, dan apakah kita bisa bertahan.

Biasanya orang berpikir masalahnya ada di luar: sistem yang rusak, ekonomi yang tidak beres, dunia yang tidak adil, atau kesalahan orang lain. Kita cenderung menyalahkan situasi. Namun ada ajakan untuk melihat lebih dalam: bagaimana jika masalah terbesar bukan dari luar, tetapi dari dalam hati manusia sendiri.

Roma 3 menyatakan bahwa masalah dunia berawal dari hati manusia. Bukan hanya sistem atau pemerintahan yang rusak, tetapi manusia itu sendiri. Jika demikian, solusi yang dibutuhkan bukan sekadar perbaikan ekonomi. Bahkan jika semua masalah ekonomi selesai, persoalan lain tetap muncul, karena akar masalahnya adalah hati manusia yang rusak.

Demikian juga jika perang berhenti, masalah lain tetap akan ada. Alasannya sama, karena manusia itu sendiri yang rusak. Karena itu dibutuhkan sesuatu yang lebih dalam. Tuhan mengetahui solusi di atas segala solusi, dan Ia memberikan sesuatu yang mungkin terlihat bodoh bagi manusia, tetapi justru paling dibutuhkan: salib.

Ketika melihat salib, sering muncul rasa kasihan kepada Yesus, atau kesadaran akan kasih Tuhan. Itu benar, tetapi belum cukup. Dalam perenungan Jumat Agung ini, pertanyaan terpenting bukan hanya apa yang terjadi di salib, tetapi mengapa itu harus terjadi. Mengapa Anak Allah harus mati dengan cara seperti itu. Mengapa tidak ada cara lain, dan mengapa tidak cukup bagi Tuhan untuk sekadar berkata bahwa Ia mengampuni.

Jika pertanyaan ini tidak dapat dijawab, maka Injil belum benar-benar dipahami, sebab Injil tanpa salib bukanlah kabar baik yang sesungguhnya.

Karena itu, ada tiga poin dari teks hari ini. Pertama, semua orang berada di bawah kuasa dosa. Kedua, dosa bukan sekadar tindakan, tetapi arah hati, yang akan dilihat dari sudut berbeda. Ketiga, solusi yang menyembuhkan masalah dosa ini.

SEMUA ORANG DI BAWAH KUASA DOSA

Roma 3 memberikan sebuah diagnosis yang tidak nyaman. Paulus berkata di ayat 10, tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Kalimat ini sering terasa berlebihan. Banyak orang merasa sulit menerimanya. Di sekitar kita terlihat banyak orang baik, banyak orang tulus. Bahkan sering muncul anggapan bahwa orang yang tidak beragama bisa terlihat lebih tulus dibandingkan yang beragama. Ada begitu banyak orang yang berusaha hidup benar. Karena itu, ketika Paulus mengatakan bahwa tidak ada yang benar, muncul pertanyaan dalam hati, benarkah demikian.

Pengalaman pergumulan dengan teks ini juga nyata. Ketika pertama kali memahami bagian ini, terasa sangat ekstrem dan sulit diterima. Namun, jika mau jujur dan melihat lebih dalam, mungkin Paulus tidak sedang melebih-lebihkan. Ia sedang menyingkapkan sesuatu yang selama ini enggan dilihat.

Paulus memulai perikop ini dengan kalimat yang mengejutkan. Dalam Roma 3:9, setelah membahas perbedaan antara mereka yang tampak baik dan yang tidak, ia bertanya, apakah kita mempunyai kelebihan daripada orang lain. Jawabannya tegas, sama sekali tidak. Dalam bahasa Inggris, what then, are we better than any of them, not at all. Baik orang yang tidak mengenal Tuhan maupun yang beragama, keduanya tidak lebih baik satu sama lain.

Penting untuk memahami siapa yang mengatakan hal ini. Rasul Paulus bukan orang biasa. Ia seorang Farisi, seseorang yang sangat disiplin secara religius. Ia hafal Taurat, menjalankan ratusan hukum, berpuasa, dan hidup dengan standar moral yang tinggi. Hidupnya jauh lebih baik dibandingkan kebanyakan orang. Namun justru ia berkata bahwa dirinya tidak lebih baik dari mereka yang hidupnya rusak.

Bayangkan seorang yang sangat bermoral berdiri di hadapan seorang kriminal, lalu berkata bahwa di hadapan Tuhan mereka sama. Pernyataan seperti ini menghancurkan cara pandang umum tentang dunia. Selama ini dunia terbiasa melihat dalam dua kategori, orang baik dan orang jahat. Sejak kecil, pola pikir itu sudah tertanam. Ada yang benar dan ada yang salah, ada yang baik dan ada yang buruk.

Namun Alkitab menyatakan sesuatu yang berbeda. Di hadapan Tuhan, semua manusia berada dalam kondisi yang sama. Pernyataan ini terasa mengerikan karena menyingkapkan realitas yang tidak ingin diakui.

Paulus melanjutkan dalam ayat 9b bahwa baik orang Yahudi maupun orang Yunani semuanya ada di bawah kuasa dosa. Frasa di bawah kuasa dosa menjadi sangat penting. Ini bukan sekadar berarti manusia melakukan dosa, tetapi manusia berada di bawah kendali dosa. Dosa bukan hanya tindakan, tetapi sebuah kuasa yang menguasai.

Manusia tidak netral dan tidak benar benar bebas. Keadaan ini menjelaskan mengapa dunia seperti sekarang. Perang, kekerasan, pelecehan, konflik, keserakahan, ketidakadilan, semua itu terus muncul dari generasi ke generasi. Akar masalahnya bukan sekadar sistem atau situasi, tetapi manusia yang berada di bawah kuasa dosa.

Secara lahiriah mungkin tidak semua terlihat rusak. Namun di dalam, manusia tidak netral. Ini sering menimbulkan keberatan. Banyak orang merasa dirinya bukan orang jahat. Ada yang hidup rapi, bekerja dengan baik, tidak terlibat dalam hal hal yang buruk, dan tidak menyakiti orang lain. Lalu muncul pergumulan ketika mendengar bahwa semua manusia berdosa.

Namun Roma 3 tidak sedang bertanya apakah seseorang jahat atau tidak. Pertanyaannya berbeda, apakah seseorang benar di hadapan Tuhan. Seseorang bisa saja tidak melakukan kejahatan yang terlihat, tetapi tetap tidak benar di hadapan Tuhan. Hati bisa saja tidak berkenan di hadapan-Nya.

Ada dua tipe manusia yang terlihat berbeda tetapi memiliki akar yang sama. Ada yang hidup liar, tenggelam dalam berbagai dosa, dan dengan jelas berkata bahwa ia tidak membutuhkan Tuhan. Namun ada juga yang hidup baik, bermoral, rajin beribadah, tetapi di dalam hati berpikir bahwa karena kebaikannya Tuhan harus memberkatinya. Ketika doa tidak dijawab, muncul kemarahan. Tanpa disadari, Tuhan sedang dicoba untuk dikendalikan.

Kedua tipe ini sama sama tidak benar benar mencari Tuhan. Yang satu hidup untuk diri sendiri, yang lain mencoba mengontrol Tuhan. Keduanya berpusat pada diri sendiri. Selama pusatnya tetap diri sendiri, kehidupan tidak sedang mendekat kepada Tuhan, tetapi justru menjauh.

Karena itu Paulus berkata dalam ayat 11 bahwa tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Pernyataan ini juga sering menimbulkan keberatan. Banyak orang terlihat mencari Tuhan, datang ke tempat ibadah, berdoa, mengejar spiritualitas.

Namun jika diperhatikan dengan teliti, Alkitab tidak mengatakan bahwa tidak ada yang mencari pertolongan Tuhan. Yang dikatakan adalah tidak ada yang mencari Tuhan itu sendiri. Dalam kenyataannya, ketika krisis datang, saat keuangan sulit, tubuh sakit, atau masa depan terasa tidak pasti, orang menjadi lebih rajin berdoa. Hal ini terlihat seperti iman, tetapi seringkali yang dicari adalah berkat, jawaban doa, keamanan, kesembuhan, atau masa depan yang stabil.

Tuhan menjadi sarana untuk mendapatkan sesuatu. Ketika masalah selesai, sering kali hubungan dengan Tuhan kembali seperti semula. Itu bukan mencari Tuhan, melainkan menggunakan Tuhan. Relasi berubah menjadi transaksi.

Bahkan iman bisa berpusat pada diri sendiri. Ketika seseorang merasa tidak dihargai dalam pelayanan atau doanya tidak dijawab, ia bisa kecewa dan menjauh. Kekecewaan itu menunjukkan bahwa pusatnya tetap diri sendiri. Tuhan diharapkan memenuhi keinginan pribadi.

Di titik inilah kita masuk ke poin berikutnya. Dosa ternyata bukan hanya soal perbuatan, tetapi tentang arah hati.

DOSA ITU ARAH HATI

Paulus tidak hanya berkata bahwa manusia berada di bawah kuasa dosa, tetapi ternyata ada arah di dalamnya. Dalam ayat 12a dikatakan bahwa semua orang telah menyeleweng, all have turned away. Ini bukan sekadar berbicara tentang perilaku, tetapi tentang arah. Ada sebuah direction. Dosa bukan hanya tentang apa yang dilakukan, tetapi tentang kemana hati mengarah.

Roma 3 menunjukkan kecenderungan alami manusia. Secara alami manusia tidak mendekat kepada Tuhan, tetapi justru menjauh dari Tuhan. Mungkin muncul keberatan, karena merasa sedang berada di tempat ibadah dan mencari Tuhan. Namun masalah arah bisa diuji dengan satu pertanyaan sederhana, untuk siapa hidup ini dijalani.

Dosa adalah ketika hidup dijalani untuk diri sendiri. Dosa adalah melayani untuk diri sendiri. Bahkan ibadah pun bisa dilakukan untuk diri sendiri. Seseorang bisa bekerja keras, berkorban, mengasihi keluarga, melayani Tuhan, bahkan aktif beribadah, tetapi jika pusatnya tetap diri sendiri, maka arah hatinya salah. Artinya, bahkan kebaikan bisa menjauhkan seseorang dari Tuhan.

Hal ini menjelaskan mengapa orang yang religius pun bisa jauh dari Tuhan. Bahkan seseorang yang melayani di gereja, menjadi pemimpin kelompok kecil, atau seorang hamba Tuhan, tetap bisa memiliki hati yang menjauh dari Tuhan.

Ada sebuah ilustrasi tentang pernikahan. Seorang suami hidup dalam kebiasaan buruk, berjudi, berselingkuh, dan merusak keluarganya. Sang istri tetap setia, menjaga anak anak, menutup aib suami, dan terus mempertahankan keluarga. Dari luar terlihat sebagai sosok yang penuh kasih dan pengorbanan.

Ketika mereka datang untuk konseling, sang istri berkata bahwa ia telah melakukan begitu banyak bagi keluarganya. Suami merasa terenyuh, tetapi tetap terikat dengan kebiasaan lamanya. Namun setelah waktu yang panjang, suami mulai berubah. Ia berhenti dari kebiasaan buruknya, menjadi lebih baik, dan akhirnya bertobat.

Anehnya, ketika suami mulai pulih, hubungan mereka justru semakin bermasalah. Setelah ditelusuri, ternyata masalahnya ada pada sang istri. Jika benar ia mengasihi suaminya, seharusnya ia bersukacita melihat perubahan itu. Namun yang terjadi justru dinamika yang tidak sehat.

Ternyata selama ini ia tidak benar benar mengasihi suaminya. Ia membutuhkan suaminya tetap rusak supaya ia bisa merasa dibutuhkan, merasa berarti, merasa menjadi penyelamat, dan merasa memiliki kontrol. Apa yang terlihat sebagai kasih ternyata berpusat pada diri sendiri.

Hal ini terjadi di banyak tempat. Perbuatan baik sering dilakukan bukan karena ingin berkorban, tetapi karena ingin merasa berarti. Ingin merasa dibutuhkan, ingin merasa penting. Semua pengorbanan itu bisa terlihat seperti kasih, tetapi sebenarnya berpusat pada diri sendiri. Sebuah selflessness yang palsu.

Bahkan pelayanan, tenaga, dan kebaikan bisa dilakukan bukan untuk Tuhan atau orang lain, tetapi untuk diri sendiri. Itu berarti hati sedang menjauh dari Tuhan. Hati tidak murni. Karena itu Paulus berkata bahwa tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Bukan berarti tidak ada perbuatan baik, tetapi hati di baliknya tidak murni. Kebaikan dilakukan bukan demi kebaikan itu sendiri, tetapi demi kepentingan diri sendiri.

Dosa adalah soal arah hati. Arah hati bisa terlihat dari respon terhadap hidup. Dari ketersinggungan, luka, dan kekecewaan. Di sanalah arah hati terlihat. Jika ada kebanggaan atas kebaikan diri, firman Tuhan mengatakan bahwa bahkan kesalehan manusia seperti kain kotor di hadapan Tuhan. Tidak ada yang bisa dibanggakan.

Pengalaman pribadi juga menunjukkan hal ini. Sebelum memahami Injil, kehidupan sudah terlihat aktif dalam pelayanan. Melayani, berdoa, membaca Alkitab, bahkan terlibat dalam perintisan gereja. Semua dilakukan dengan pengorbanan waktu, tenaga, dan uang.

Namun ketika krisis datang, muncul suara dalam hati yang mempertanyakan semua itu. Apa gunanya mengikuti Tuhan jika hidup tetap sulit. Pertanyaan ini muncul berulang kali, bahkan ketika tetap melayani.

Setelah bertahun tahun, ketika mulai memahami Injil, pergumulan itu muncul kembali saat menghadapi krisis berikutnya. Saat doa tidak dijawab dan keadaan justru memburuk, muncul lagi pertanyaan yang sama. Namun kali ini ada kesadaran baru.

Muncul sebuah teguran dalam hati, apakah selama ini mengikuti Tuhan untuk melayani-Nya atau justru menjadikan Tuhan sebagai sarana untuk melayani diri sendiri. Di situlah terlihat bahwa selama ini yang terjadi adalah menggunakan Tuhan, bukan mengasihi Tuhan.

Kesadaran itu menunjukkan bahwa arah hati perlu terus dikalibrasi. Inilah realita manusia. Jika melihat ayat 13 sampai 17, digambarkan seperti puisi tentang kondisi manusia. Lidah yang beracun, hati yang penuh sumpah serapah, kehidupan yang penuh kehancuran.

Manusia tidak mencari Tuhan. Manusia hidup untuk diri sendiri. Bahkan kebaikan tidak murni. Arah hati cenderung mengarah ke dalam. Ada kecenderungan narsis dan manipulatif. Inilah kondisi manusia. Bahkan secara rohani manusia digambarkan mati, seperti zombie, hidup tetapi tidak benar benar hidup.

Namun di tengah kondisi itu, ada kabar baik. Ada solusi yang menyembuhkan dosa.

SOLUSI YANG MENYEMBUHKAN DOSA

Jika kembali ke poin sebelumnya, Paulus berkata dalam ayat 11 bahwa tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Pernyataan ini mengganggu. Jika tidak ada satu pun manusia yang mencari Tuhan, lalu siapa yang bisa diselamatkan. Siapa yang bisa menemukan Tuhan. Semua akan binasa, karena hati manusia telah menyeleweng. Arah hati tidak bisa kembali dengan usaha sendiri. Bahkan perbuatan baik pun ternyata bersifat transaksional. Hati berpusat pada diri sendiri, penuh dengan kecenderungan manipulatif. Keadaan ini membawa manusia pada kebinasaan.

Di titik inilah terlihat bahwa Tuhan mengetahui solusi di atas segala solusi. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal. Inilah Injil. Yesus sendiri berkata dalam Lukas 19 bahwa Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Artinya bukan manusia yang mencari Tuhan, tetapi Tuhan yang datang mencari manusia.

Yohanes 1 menyatakan bahwa pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, lalu Firman itu menjadi manusia. Filipi 2 menjelaskan bahwa Ia tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah, tetapi mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Tuhan tidak menunggu manusia berubah atau datang kepada-Nya. Ia yang datang lebih dahulu.

Roma 5:8 menyatakan bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya ketika Kristus mati bagi manusia saat manusia masih berdosa. Puncak dari tujuan Allah dinyatakan pada Jumat Agung. Tuhan tidak menunggu manusia memikirkan Dia, tetapi Dia yang terlebih dahulu memikirkan manusia. Jumat Agung menjadi tanda bahwa Tuhan mencari manusia melalui jalan salib.

Yesus Kristus hidup tanpa dosa dan seharusnya menerima kemuliaan. Ia tidak seharusnya mati. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia dipukul, dihina, diludahi, dan disiksa oleh tentara Romawi. Ia dicambuk dengan cambuk yang memiliki ujung tajam, yang setiap ayunannya merobek tubuh-Nya. Tubuh-Nya hancur, darah mengalir, dan penderitaan yang dialami begitu dalam hingga daging-Nya terkoyak.

Ia dipaku di kayu salib, tangan dan kaki-Nya tertancap. Setiap kali bernafas, Ia harus mengangkat tubuh-Nya yang terluka. Setiap gerakan menimbulkan rasa sakit dan perdarahan. Tubuh-Nya yang hancur bergesekan dengan kayu yang kasar. Mahkota duri menancap di kepala-Nya, darah mengalir menutupi wajah-Nya. Ia yang tidak mengenal dosa dibuat menjadi dosa.

Yesaya 53 menyatakan bahwa Ia tertikam oleh karena pemberontakan manusia, diremukkan oleh karena kejahatan manusia. Ganjaran yang mendatangkan keselamatan ditimpakan kepada-Nya. Ia menanggung penderitaan dan kesengsaraan manusia. Semua itu terjadi karena manusia.

Di salib, Yesus menjadi pengganti. Ia yang menerima hukuman yang seharusnya ditanggung manusia. Ia menanggung murka Allah. Betapa besar kasih Allah terhadap manusia yang memberontak, bahkan terhadap manusia yang membungkus pemberontakannya dengan kebaikan. Hati manusia begitu licik, tetapi Tuhan tetap menunjukkan belas kasihan dan kasih karunia.

Melihat hal ini seharusnya membuat hati luluh dan dikalibrasi. Semua penderitaan itu Ia tanggung karena manusia. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana hal ini menyembuhkan masalah dosa.

Roma 3:19-20 menjelaskan bahwa setiap orang tidak memiliki alasan untuk membenarkan diri di hadapan Allah. Seluruh dunia berada di bawah hukuman Allah. Setiap mulut tersumbat. Artinya manusia tidak lagi memiliki pembelaan.

Kesembuhan dari dosa terjadi ketika pembelaan diri berhenti. Tidak lagi berkata bahwa diri ini lebih baik dari orang lain, tidak lagi merasa tidak seburuk orang lain, tidak lagi mengandalkan usaha untuk berubah. Semua alasan harus berhenti.

Selama manusia masih membela diri, salib tidak akan memiliki kuasa untuk menyembuhkan. Selama masih merasa lebih baik, kasih karunia tidak dapat bekerja. Yang Tuhan cari bukan kekuatan manusia, tetapi kesadaran akan kebutuhan. Yang harus dibawa adalah pengakuan bahwa tidak ada apa apa yang bisa dibanggakan.

Masalah manusia adalah merasa masih memiliki sesuatu, entah itu kebaikan, moralitas, atau usaha. Selama masih merasa memiliki sesuatu, kasih karunia tidak bisa diterima. Pesan Jumat Agung adalah berhenti berusaha menyelamatkan diri sendiri. Kasih karunia hanya dapat diterima oleh mereka yang sadar bahwa mereka tidak memiliki apa apa.

Selama masih berpikir mampu memperbaiki diri atau merasa lebih baik dari orang lain, Injil belum benar benar diterima. Setiap usaha yang dianggap sebagai cara menyenangkan Tuhan sering kali hanyalah usaha untuk menyelamatkan diri sendiri, dan itu tidak akan pernah cukup.

Ketika manusia berhenti dan datang kepada Tuhan apa adanya, sesuatu terjadi. Dalam ayat 18 dikatakan bahwa tidak ada rasa takut akan Allah. Namun ketika kasih karunia diterima, yang muncul adalah rasa takut akan Allah.

Rasa takut ini bukan ketakutan akan hukuman, tetapi rasa kagum, hormat, dan kasih. Seperti melihat lautan yang luas dan indah. Pemandangannya memukau, tetapi sekaligus menimbulkan rasa gentar karena kekuatannya. Ada keindahan sekaligus penghormatan yang dalam.

Demikian juga dengan Tuhan. Ia adalah Allah yang berhak menghukum, tetapi justru memilih untuk mati bagi manusia. Ketika melihat salib, terlihat betapa gelap dan seriusnya dosa manusia, tetapi pada saat yang sama terlihat betapa besar kasih Tuhan. Dari situ muncul rasa kagum, hormat, dan kasih yang mendalam.

Orang yang memiliki rasa takut akan Allah tidak akan hidup sembarangan. Ia akan berbuat baik dan melayani Tuhan, bukan untuk mendapatkan sesuatu, tetapi karena sudah menerima yang terbesar.

Jumat Agung disebut agung bukan karena apa yang terlihat, karena yang terlihat adalah penderitaan dan kematian. Namun justru di situlah keagungannya. Jika manusia bisa mencari Tuhan atau menyelamatkan diri sendiri, salib tidak diperlukan. Namun karena tidak ada yang benar dan tidak ada yang mencari Tuhan, Tuhan sendiri yang datang mencari manusia melalui salib.

Hari ini menjadi agung karena salib adalah satu satunya jalan keselamatan, dan implikasinya begitu mulia. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, salib menjadi kepastian. Penebusan telah selesai dan hidup manusia berada dalam tangan Tuhan.

Tidak ada yang dapat melepaskan manusia dari tangan-Nya. Ketika melihat salib, hidup tidak lagi ditentukan oleh keadaan, ekonomi, atau ketidakpastian dunia. Hidup ditentukan oleh Tuhan yang telah berkorban.

Karena itu datanglah tanpa pembelaan. Datanglah dengan kerinduan. Dalam Jumat Agung ini, lihatlah salib dan terimalah Dia.

REFLEKTIF

  • Kalau Tuhan tidak memberi yang saya inginkan, apakah saya tetap menginginkan Dia?
  • Apa yang membuat saya merasa “lebih baik” … sehingga saya tidak merasa butuh salib?
  • Jika Yesus sudah menggantikan saya kenapa saya masih hidup seolah semua tergantung pada saya untuk terus menyelamatkan diri sendiri?