Ketika orang tbaik tidak baik-baik saja

The Gospel After Genesis – Week 3 “Ketika Orang Baik, Tidak Baik-Baik Saja”

Ps. Michael Chrisdion

 

BACAAN: Roma 2:1-6, 13-15, 21-24, 28-29 

2:1 Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. 

2:2 Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. 

2:3 Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah? 

2:4 Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? 

2:5 Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. 

2:6 Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, 

2:13 Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. 

2:14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. 

2:15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. 

2:21 Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri? 

2:22 Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? 

2:23 Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? 

2:24 Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain." 

2:28 Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. 

2:29 Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.

Hari ini manusia terbiasa memesan segala sesuatu sesuai selera. Makanan bisa dipilih tanpa bawang, tanpa sayur, atau dengan kadar gula tertentu. Playlist disesuaikan dengan suasana hati. Media sosial menampilkan algoritma sesuai minat. Dunia menawarkan banyak pilihan yang bisa disesuaikan dengan preferensi pribadi.

Tanpa disadari, pola ini juga diterapkan kepada Yesus. Ada keinginan menjadikan Yesus sebagai Juruselamat, tetapi tanpa mengganggu relasi yang tidak berkenan kepada Tuhan. Ada keinginan diberkati dalam karier dan bisnis, tetapi tanpa menyentuh ambisi pribadi. Ada kerinduan akan damai, tetapi tidak mau berhala hati disingkapkan. Ada kerinduan akan mahkota berupa kemenangan dan berkat, tetapi penolakan terhadap salib.

Konteks ini membawa kita kepada peristiwa Minggu Palma. Orang banyak menyambut Yesus sebagai raja, tetapi sebenarnya mereka menyambut versi raja yang mereka inginkan. Mereka membayangkan seorang raja yang akan menggulingkan kekuasaan Romawi dan membawa kemakmuran serta mukjizat. Inilah ironi Minggu Palma. Orang banyak yang berseru hosana kemudian, beberapa hari sesudahnya, berseru salibkan Dia.

Masalahnya bukan karena mereka menolak Yesus sepenuhnya. Mereka menginginkan Yesus, tetapi menurut versi mereka sendiri. Mereka menginginkan raja tanpa salib, pembebas tanpa pembebasan dari dosa, kemenangan tanpa pertobatan, kemuliaan tanpa penderitaan.

Di titik ini muncul pertanyaan yang penting. Berapa banyak orang Kristen masa kini melakukan hal yang sama. Yesus disambut selama Ia mendukung, menghibur, dan menguatkan agenda pribadi. Namun ketika Ia menyingkapkan berhala hati, menuntut pertobatan, dan memanggil untuk menyangkal diri, banyak yang mulai mundur.

Pola ini juga terlihat dalam kitab Roma. Pada Roma 1, Paulus berbicara tentang dunia pagan dengan penyembahan berhala, hawa nafsu, penyimpangan seksual, dan kebobrokan moral yang terlihat jelas. Jika surat ini dibacakan kepada jemaat di Roma, kemungkinan besar mereka yang merasa religius dan bermoral akan setuju dan mendukung dengan antusias. Mereka melihat bahwa orang-orang seperti itu memang perlu bertobat.

Namun ketika masuk ke Roma 2, arah pembicaraan berubah. Paulus mulai menyoroti orang-orang religius, orang yang merasa benar, yang beribadah, dan yang menganggap dirinya ada di pihak yang benar. Seakan-akan Paulus berkata bahwa mereka yang merasa lebih baik itu ternyata sama bobroknya dan sama berdosanya. Pernyataan ini sangat menusuk.

Ada tiga poin utama yang akan dibahas. Pertama, kegagalan agama untuk menyelamatkan orang yang merasa baik. Kedua, keindahan yang mengerikan dari hukum Allah. Ketiga, kebutuhan akan hati yang baru. Kiranya hati dipersiapkan untuk dibongkar dan dibentuk melalui firman ini.

KEGAGALAN AGAMA MENYELAMATKAN ORANG BAIK

Ini merupakan salah satu bagian yang paling menusuk dalam seluruh kitab Roma. Seringkali ada anggapan bahwa orang yang beragama dan rajin beribadah pasti aman di hadapan Tuhan. Namun Paulus menegaskan bahwa tidak sesederhana itu. Agama memang dapat membentuk perilaku, bahasa, identitas, bahkan kedisiplinan, tetapi agama tidak otomatis mengubah hati.

Ayat pertama menunjukkan ketajaman itu. Dikatakan bahwa siapa pun yang menghakimi orang lain sebenarnya tidak bebas dari salah, karena dalam menghakimi orang lain, ia menghakimi dirinya sendiri. Ia melakukan hal-hal yang sama. Pernyataan ini ditujukan kepada orang-orang religius. Ketika merasa lebih baik dan menghakimi orang lain, sebenarnya mereka sedang menghakimi diri sendiri.

Mungkin muncul keberatan. Ada yang merasa tidak melakukan dosa seperti perzinahan, penyimpangan seksual, atau penyembahan berhala seperti yang dilakukan oleh orang-orang pagan. Namun penjelasannya terlihat dalam ayat 21 dan 22. Di sana ditanyakan bagaimana seseorang bisa mengajar orang lain tetapi tidak mengajar dirinya sendiri. Mengajarkan untuk tidak mencuri tetapi mencuri, melarang perzinahan tetapi melakukannya, jijik terhadap berhala tetapi merampok rumah berhala.

Di sinilah masalah utama manusia disingkapkan, yaitu kemunafikan. Ada jurang antara apa yang dikatakan dan apa yang dihidupi. Hal ini juga menjadi cermin bagi para pemimpin rohani. Apa yang diajarkan bisa berbeda dengan apa yang dijalani. Apa yang tampak secara rohani bisa berbeda dengan kondisi hati yang sebenarnya. Dalam setiap komunitas, selalu ada kemungkinan orang yang pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi hidupnya belum tentu benar. Ada yang terlihat bersih di depan umum, tetapi menyimpan kompromi di tempat yang tersembunyi.

Paulus sedang menunjukkan bahwa agama tidak mampu menyelesaikan masalah kemunafikan. Agama dapat memperhalus perilaku dan bahasa, tetapi tidak sanggup menciptakan hati yang sungguh mengasihi kekudusan. Pernyataan tentang merampok rumah berhala sebenarnya bersifat metaforis. Tidak ada bukti bahwa jemaat Roma secara literal melakukan hal itu. Yang dimaksud adalah akar masalah manusia yang lebih dalam. Mungkin tidak ada berhala di tangan, tetapi ada berhala di hati.

Berhala bukan hanya patung atau kuil. Berhala adalah sesuatu yang menjadi sumber utama makna hidup, identitas, rasa aman, dan nilai diri selain Tuhan. Itu bisa berupa bisnis, karier, kehormatan, penerimaan manusia, citra diri sebagai orang baik, bahkan kesalehan agama. Ketika hal-hal itu membuat seseorang merasa lebih baik dari orang lain, maka itu telah menjadi berhala.

Ketika kemunafikan dan berhala hati digabungkan, muncul kombinasi yang berbahaya. Berhala di hati membuat kemunafikan semakin halus dan sulit disadari. Seseorang bisa sangat menentang dosa yang terlihat dan merasa dirinya benar, tetapi tetap diperbudak oleh dosa yang tersembunyi. Bisa sangat menolak penyembahan berhala secara lahiriah, tetapi tunduk kepada pencapaian, pengakuan manusia, atau kesuksesan pribadi. Bisa mengkritik dunia yang materialistis, tetapi hidupnya sendiri digerakkan oleh opini orang lain.

Akhirnya, berhala di hati membuat kemunafikan semakin tidak terlihat. Seseorang dapat beribadah, menyembah, mengangkat tangan, tetapi tidak benar-benar mengasihi Tuhan. Hatinya tetap jauh.

Hal ini pernah dibahas oleh Yesus dalam Lukas 15 melalui perumpamaan anak yang hilang. Ada dua anak dalam cerita itu. Anak bungsu tersesat karena pemberontakan yang jelas. Ia meminta warisan, menghabiskannya dalam pesta pora, hidup dalam dosa, dan jauh secara moral. Gambaran ini selaras dengan Roma 1.

Namun terjadi perubahan ketika ia kehilangan segalanya dan memutuskan pulang. Ia bahkan tidak berharap menjadi anak lagi, hanya ingin menjadi pekerja. Tetapi sang ayah menyambutnya, memeluknya, memulihkannya, dan mengembalikan statusnya sebagai anak.

Di sisi lain, ada anak sulung. Ketika pulang dan melihat pesta, ia marah. Ia tampak baik, taat, dan dekat secara moral. Namun di balik ketaatannya tersimpan motivasi yang salah. Ia taat tanpa kasih. Ia hidup dengan pola pikir transaksional. Ia merasa pantas mendapatkan penghargaan karena ketaatannya.

Ketika ayahnya keluar dan berbicara kepadanya, terlihat bahwa hatinya tidak benar-benar mengasihi ayahnya. Ia menuntut pengakuan atas ketaatannya. Ini menunjukkan bahwa ketaatannya memiliki motif. Ia tampak baik, tetapi hatinya tidak benar.

Kedua anak ini sama-sama jauh dari hati sang ayah. Yang satu memberontak secara terbuka, yang satu memberontak di dalam hati. Yang satu tersesat melalui dosa yang terlihat, yang satu tersesat melalui ketaatan tanpa kasih. Roma 1 berbicara tentang yang pertama, Roma 2 tentang yang kedua.

Hal ini menunjukkan bahwa semua manusia membutuhkan keselamatan. Baik yang tampak buruk maupun yang tampak baik-baik saja. Orang yang terlihat baik belum tentu benar-benar baik.

Dalam konteks budaya, ada dua pendekatan umum. Yang pertama adalah pandangan bahwa semua orang pada dasarnya baik. Ini melahirkan budaya yang menekankan bahwa setiap orang cukup menjadi dirinya sendiri. Namun pandangan ini naif, karena realitas dunia menunjukkan adanya kejahatan, ketidakadilan, kekerasan, dan berbagai bentuk dosa.

Kadang ada ungkapan bahwa seseorang sebenarnya baik, hanya ucapannya yang buruk atau tindakannya yang salah. Namun hal itu tidak tepat. Apa yang keluar dari seseorang berasal dari hatinya. Akar dari semua itu ada di dalam hati manusia.

Pendekatan kedua adalah kebalikan dari yang pertama. Seseorang merasa dirinya benar dan melihat orang lain sebagai masalah. Dari sini muncul budaya yang cepat menghakimi dan menjatuhkan. Ketika ada kesalahan, langsung disebarluaskan dan dihancurkan. Ini melahirkan kesombongan, rasa superioritas, diskriminasi, dan kebencian.

Dalam konteks gereja pun hal ini bisa terjadi. Ada kecenderungan merasa paling benar secara teologis atau rohani. Ketika ada kesalahan, langsung dihakimi. Ini menunjukkan bahwa kedua pendekatan tersebut sama-sama gagal.

Yang satu terlalu lunak terhadap dosa sehingga tidak realistis, yang lain terlalu keras sehingga melahirkan kesombongan. Injil hadir sebagai jalan yang berbeda. Injil tidak mengatakan bahwa semua orang baik, juga tidak mengatakan bahwa hanya sebagian yang baik. Injil menyatakan bahwa tidak ada yang benar. Semua adalah orang berdosa dan semua membutuhkan anugerah.

Karena itu yang perlu diubah bukan sekadar perilaku, tetapi hati. Yang dibutuhkan adalah kelahiran baru. Ada peringatan penting dalam konteks Minggu Palma. Pengalaman emosional dalam ibadah tidak boleh disamakan dengan pertobatan sejati. Seseorang bisa tersentuh oleh musik, menikmati suasana ibadah, memahami bahasa rohani, tetapi belum tentu mengalami kelahiran baru.

Sorak-sorai bisa sangat keras, tetapi hati belum tentu sungguh datang kepada Kristus.

 

KEINDAHAN YANG MENGERIKAN DARI HUKUM ALLAH

Di sini Paulus berbicara tentang hukum, tentang keindahan yang mengerikan dari hukum Allah. Dalam ayat 13 sampai 15, Paulus membawa pembahasan lebih dalam. Ia menunjukkan mengapa agama gagal, yaitu karena hukum Allah jauh lebih dalam daripada yang sering dipahami.

Paulus menjelaskan bahwa hukum Allah memiliki dua sifat. Yang pertama bersifat internal dan yang kedua bersifat intuitif. Manusia cenderung memahami hukum Allah secara dangkal, hanya di permukaan. Ketika membaca perintah seperti jangan membunuh, jangan mencuri, dan jangan berzina, seseorang bisa dengan cepat merasa dirinya baik karena tidak melakukan hal-hal tersebut. Lalu muncul kesimpulan bahwa dirinya cukup baik.

Namun Paulus menunjukkan bahwa hukum Allah tidak hanya menilai tindakan lahiriah, tetapi menyingkapkan apa yang ada di dalam hati. Hukum Allah melihat hati, bukan hanya perilaku.

Hal ini terlihat dalam Matius 5:21-22. Dalam pengajaran di bukit, Yesus berkata bahwa bukan hanya pembunuhan yang dihukum, tetapi juga kemarahan terhadap sesama. Bahkan penghinaan terhadap orang lain menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Kata penghinaan ditulis dalam bahasa aslinya raka yang menggambarkan sikap meremehkan, menganggap orang lain tidak berarti. Sikap seperti ini sering muncul dalam pikiran, ketika memandang orang lain dengan rendah.

Yesus menunjukkan bahwa hal seperti itu adalah benih dari dosa yang lebih besar. Dosa besar tidak muncul tiba-tiba, melainkan berawal dari benih kecil dalam hati. Pembunuhan adalah buahnya, tetapi akarnya adalah kesombongan, yaitu merasa lebih baik dari orang lain, meremehkan, dan tidak peduli.

Benih ini ada dalam setiap manusia. Perbedaannya hanya pada apakah benih itu sudah berkembang atau belum. Ada orang yang sampai pada tindakan ekstrim karena benih itu sudah bertumbuh. Namun bagi yang belum, benih itu tetap ada, hanya belum berkembang.

Kemudian muncul satu hal yang menarik. Dari kemunafikan yang ada, manusia sebenarnya tidak menyukai standar ini, tetapi pada saat yang sama menuntut orang lain untuk hidup sesuai dengan standar tersebut. Ada sebuah ilustrasi tentang seorang profesor yang meminta mahasiswanya membaca khotbah di bukit, lalu menuliskan esai dan mendiskusikannya. Setelah membaca, banyak mahasiswa merasa tidak menyukai ajaran tersebut karena dianggap terlalu tinggi, terlalu berat, dan tidak realistis.

Namun profesor itu mengajukan pertanyaan sederhana. Bukankah tipe orang yang digambarkan dalam khotbah itu justru adalah tipe orang yang diinginkan sebagai pasangan, sahabat, atau orang yang dapat dipercaya. Orang yang jujur, tidak menyimpan dendam, tetap mengasihi meskipun disakiti, tidak egois, dan sungguh peduli. Semua orang menginginkan orang lain seperti itu, tetapi ketika diri sendiri dituntut untuk hidup seperti itu, muncul penolakan. Di situlah terlihat kemunafikan.

Hal ini membawa kepada sifat kedua dari hukum Allah, yaitu intuitif. Dalam Roma 2:15 dikatakan bahwa isi hukum Taurat tertulis di dalam hati manusia dan suara hati turut bersaksi. Ini menjawab keberatan yang sering muncul tentang orang yang tidak mengenal firman atau tidak pernah mendengar tentang Kristus. Paulus menjelaskan bahwa hukum itu sudah tertulis dalam hati mereka.

Untuk menjelaskan hal ini, kita gunakan ilustrasi tentang sebuah alat perekam yang tidak terlihat. Setiap orang seolah memiliki alat perekam yang merekam setiap kali ia menilai, menghakimi, atau menetapkan standar bagi orang lain. Setiap kali seseorang berpikir bahwa orang lain seharusnya bersikap lebih rendah hati, lebih mengampuni, lebih setia, atau lebih peduli, semua itu seakan-akan direkam.

Pada akhirnya, ketika manusia berdiri di hadapan Allah, penghakiman tidak perlu menggunakan standar yang asing. Yang digunakan justru adalah standar yang selama ini dipakai sendiri. Pertanyaannya sederhana, apakah standar yang dituntut dari orang lain itu juga dijalankan dalam hidup pribadi.

Di titik itu menjadi jelas bahwa manusia tidak mampu memenuhi bahkan standarnya sendiri. Ini menunjukkan betapa dalamnya kemunafikan manusia. Masalah utama bukanlah kurangnya informasi, melainkan ketidakmampuan untuk hidup sesuai dengan apa yang sudah diketahui. Manusia tahu apa yang benar, terbukti dari kemampuannya menuntut orang lain, tetapi tidak melakukannya.

Di sinilah terlihat bahwa agama tidak mampu menyelamatkan. Hukum justru menyingkapkan keberdosaan manusia. Permasalahannya ada pada hati. Lalu muncul pertanyaan, apakah masih ada pengharapan. Paulus menunjukkan bahwa pengharapan itu ada, tetapi bukan melalui agama, melainkan melalui hati yang baru.

KEBUTUHAN AKAN HATI YANG BARU

Jika jujur, bagian ini tidak hanya berbicara tentang orang lain, tetapi juga tentang diri sendiri. Saat ini kita mungkin tidak hidup seperti gambaran dalam Roma 1, tidak melakukan penyimpangan yang disebutkan oleh Rasul Paulus, tidak hidup liar seperti anak bungsu. Dalam kondisi seperti itu, sangat mudah muncul perasaan bahwa diri ini lebih baik dari orang lain.

Roma 2 menghancurkan cara pandang itu. Mulai terlihat bahwa meskipun tidak melakukan dosa yang sama seperti mereka yang dianggap bobrok, hati tetap memiliki kerusakan yang sama. Ada keinginan untuk dihargai, menjadi pusat, merasa hebat, merasa menjadi seseorang. Karena itu hati perlu terus dikalibrasi dan diperbarui oleh Injil. Khotbah ini bukan hanya untuk didengar orang lain, tetapi juga untuk diri sendiri. Semua orang membutuhkan hati yang terus diperbarui.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana caranya. Di ayat 25 Paulus tiba-tiba berbicara tentang sunat. Sekilas tampak tidak berhubungan dengan pembahasan sebelumnya. Namun di ayat 29 dijelaskan bahwa sunat yang dimaksud bukanlah yang lahiriah, melainkan sunat di dalam hati secara rohani, bukan secara harfiah. Pujian bagi orang seperti itu datang bukan dari manusia, tetapi dari Allah.

Ini berarti Tuhan tidak mencari tanda lahiriah, melainkan hati yang disunat. Dalam Perjanjian Lama, sunat adalah tanda perjanjian, tanda kepemilikan Tuhan atas seseorang. Dalam Kejadian 17, Abraham disunat sebagai tanda bahwa ia milik Tuhan. Dalam konteks sekarang, baptisan menjadi tanda perjanjian itu.

Namun sunat juga memiliki makna lain, yaitu tanda kutuk perjanjian. Setiap perjanjian memiliki konsekuensi. Jika taat ada berkat, jika melanggar ada kutuk. Pada zaman itu, hal ini sering digambarkan secara fisik, misalnya dengan memotong binatang dan berjalan di antara potongan itu sebagai simbol bahwa jika perjanjian dilanggar, maka nasibnya akan seperti itu, terputus dari kehidupan.

Pertanyaannya, siapa yang mampu setia pada perjanjian Tuhan. Abraham sendiri tidak selalu setia. Israel juga tidak. Tidak ada yang benar-benar mampu. Seharusnya jika perjanjian dilanggar, maka manusia menerima kutuknya.

Namun di Kolose 2 disebutkan bahwa ada sunat yang bukan dilakukan oleh manusia. Jika bukan manusia yang menerimanya, maka siapa. Di sinilah Injil masuk. Ada seseorang yang disunat menggantikan manusia. Dalam Yesaya 53 dikatakan bahwa Ia terputus dari negeri orang-orang hidup dan menanggung tulah karena pemberontakan umat.

Yang dimaksud adalah Yesus. Di atas salib, Ia terputus, ditinggalkan, dan terpisah dari Bapa. Ketika Ia berseru bahwa Allah meninggalkan-Nya, di situlah Ia menanggung kutuk perjanjian. Seharusnya manusia yang terputus, manusia yang ditinggalkan, manusia yang menerima hukuman. Namun Yesus mengambil semuanya itu.

Ia menjalani kehidupan yang manusia gagal jalani, tetapi menerima kematian yang seharusnya manusia alami. Dosa manusia dipindahkan kepada-Nya, kutuk ditimpakan kepada-Nya, dan ketika seseorang percaya, kebenaran-Nya diberikan kepada orang tersebut. Status-Nya menjadi milik orang percaya.

Inilah Injil yang memperbarui hati. Ketika hal ini direnungkan, muncul kesadaran bahwa tidak ada alasan untuk menyombongkan diri. Tidak ada perbedaan mendasar antara diri sendiri dengan orang berdosa lain yang sering dihakimi. Semua adalah penerima kasih karunia.

Hukum Allah bukan hanya menuntut, tetapi menunjuk kepada Yesus. Semua tuntutan hukum tentang kasih yang sempurna, hati yang murni, dan hidup tanpa ego tidak terpenuhi oleh manusia, tetapi digenapi oleh Yesus. Hukum menjadi cermin yang menunjukkan dosa, sekaligus jendela yang mengarahkan kepada Kristus.

Karena itu tidak ada tempat untuk merasa lebih baik dari orang lain atau menyangkal kemunafikan. Jalan keluarnya adalah hati yang diperbarui melalui Kristus dan salib-Nya. Peristiwa Minggu Palma menunjukkan hati manusia yang menyambut Yesus, tetapi bukan Yesus yang sebenarnya. Ketika Yesus tidak sesuai dengan harapan mereka, sorak-sorai berubah menjadi penolakan.

Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan sekarang. Ada keinginan mengikuti Yesus selama Ia memenuhi keinginan dan tidak mengganggu agenda pribadi. Namun Yesus datang untuk menyingkapkan berhala hati dan memanggil kepada pertobatan.

Injil mengubah cara pandang terhadap diri sendiri. Injil tidak mengatakan bahwa manusia baik-baik saja, juga tidak mengatakan bahwa seseorang lebih baik dari orang lain. Injil menyatakan bahwa manusia berdosa, bahkan lebih berdosa dari yang disadari, tetapi di dalam Kristus manusia dikasihi lebih dari yang dapat dibayangkan.

Karena itu tidak perlu membuktikan diri atau merasa lebih baik. Identitas berpusat pada satu pribadi, yaitu Kristus yang dihakimi menggantikan manusia.

Pertanyaan Reflektif

  1. Apakah saya sedang hidup dengan identitas “orang baik” sehingga tidak merasa perlu bertobat dan jatuh dalam kemunafikan?
  2. Apakah saya lebih cepat menghakimi dosa orang lain… daripada jujur melihat berhala di hati saya sendiri?
  3. Apakah saya benar-benar menyerahkan hidup kepada Yesus… atau hanya mengikuti Yesus selama Dia sesuai dengan keinginan saya? 

Orang Berinjil

  • Melihat dosanya lebih serius dari apapun, namun tidak melihat dirinya lebih baik dari siapapun.
  • Tahu hatinya penuh berhala, namun hatinya senantiasa dikalibrasi serta diperbaharui oleh keindahan Injil dan Anugerah Kristus.
  • Tidak berusaha kudus untuk diterima, namun hidup kudus karena sudah diterima dan berdiri atas kekudusan Kristus.