Adopted As A Child Of God

THE HOPE HAS COME Week 3 "Adopted As A Child Of God"

Rev. Michael Chrisdion, MBA

 

         Pembacaan : Galatia 4 : 4 - 5

Di masa Advent yaitu tradisi gereja yang diwariskan kepada gereja secara turun temurun adalah untuk mengingatkan kita  akan kedatangan Yesus. Advent minggu pertama berbicara tentang pengharapan. Minggu kedua berbicara tentang bagaimana Tuhan menebus kita supaya kita memiliki damai. Dan Advent minggu ketiga berbicara tentang sukacita dan bersyukur atas apa yang telah Dia lakukan serta berharap akan apa yang terjadi di masa datang yaitu kedatangan Yesus yang kedua kali. Lalu apa yang perlu kita syukuri? Salah satu yang perlu kita syukuri adalah karena kita diadopsi untuk menjadi anak-anak Allah.

Kita telah belajar tentang  penebusan yang berasal dari kata “ Exagorazo”  yang artinya “ membeli sesuatu untuk keluar dan untuk tujuan tertentu.” Dan kata “ Exagorazo “ biasanya dipakai dalam konteks “ market place/ pasar “ terutama untuk pembelian dan penjualan budak atau penebusan budak.  Pada jaman itu di pasar budak maka yang dipajang adalah budak-budak yang perawakannya besar-besar, yang sehat dan yang masih muda karena untuk dipekerjakan kembali dan harganya mahal. Tetapi “ Exagorazo “ yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus bukanlah tentang budak yang sehat tetapi tentang kita semua yang keadaanya adalah sakit, rusak, tidak berdaya, mati sehingga tidak layak untuk diperjualbelikan tetapi Tuhan tetap mencari kita dan membeli kita sekalipun kita dalam keadaan yang rusak. Dan biasanya kalau seseorang membeli budak yang sehat maka tujuannya adalah untuk dijual lagi dengan harga yang lebih mahal. Tetapi Yesus membeli kita yang rusak bukan untuk menjadi budakNya namun untuk supaya kita diangkat atau diadopsi menjadi anak. Itulah kebenaran Injil dan perenungan Advent. 

Berbicara tentang adopsi maka yang dimaksudkan “ Adopsi “ disini adalah proses di mana seseorang yg bukan bagian dari keluarga tertentu secara resmi dibawa ke dalamnya dan dijadikan anggota keluarga yang sah secara penuh, dengan hak dan tanggung jawab dari posisi tersebut. Ini adalah hal yang sangat penting untuk kita pahami karena kalau kita memiliki cara pandang yang salah terhadap Tuhan maka penyembahan kita, ibadah kita dan seluruh pandangan kita terhadap kehidupan akan memiliki fondasi yang salah.

- JI. Packer  dalam bukunya “Knowing God “ mengatakan “Jika Anda ingin menilai seberapa baik seseorang memahami Kekristenan, perhatikan apakah dia mengerti apa artinya menjadi anak Tuhan dan apa artinya memiliki Tuhan sebagai Bapanya. Jika ini bukan pemikiran yang mendorong dan mengontrol penyembahannya, ibadahnya dan doanya dan seluruh pandangannya tentang kehidupan, artinya orang itu tidak memahami esensi Kekristenan dengan baik.”

Sebagai contoh kalau kita melihat Santa Claus dimana kalau seorang anak itu berperilaku baik akan mendapatkan hadiah dan kalau buruk tidak mendapatkan hadiah tetapi diserahkan pada pit hitam. Dan kalau cara kita melihat Tuhan itu seperti kita melihat Santa Claus maka kita harus berperforma baik dahulu baru nanti Tuhan akan mengabulkan doa kita atau berkenan akan ibadah kita, diberkati dan diselamatkan. Sebab itu waktu murid-murid Yesus minta untuk mereka diajar cara berelasi dengan Tuhan melalui doa maka kata-kata pertama yang Yesus pakai bukan “pencipta kami, raja diatas segala raja atau hakim kami. Sekalipun Tuhan itu memang adalah pencipta, hakim dan raja namun Yesus mengajar kita untuk melihat Tuhan sebagai “ Bapa kami “ yang di sorga. Orang Yahudi melihat ini sebagai suatu skandal sebab selama ini mereka memandang Tuhan sebagai pribadi yang mengerikan dan yang tidak dapat di dekati dan hanya Musa yang mendapat kehormatan khusus bisa melihat  Tuhan sekalipun hanya punggungNya saja. 

JI. Packer juga berkata “  cara kita melihat Tuhan dan berelasi dengan Tuhan serta pandangan kita akan kekristenan tergantung dari pemahaman kita akan doktrin Alkitab mengenai adopsi “ Jadi kalau kita tidak mengerti doktrin of adoption maka pemahaman kita akan kekristenan akan melenceng Dari sudut pandang Tuhan maka pilihannya untuk mengadopsi kita seorang yang berdosa tidak tergantung kepada anak yang akan diadopsi tetapi tergantung dari sang pengadopsi. Tergantung dari subjeknya dan bukan objeknya  dimana subjek adalah seseorang yang melakukan suatu aktivitas sementara  objek adalah suatu benda yang dilibatkan dalam suatu aktivitas dan  kata kerja yang dilakukan subjek terhadap objek disebut predikat. Jadi Tuhan tidak melihat kualifikasi kita namun ketika Dia mengadopsi karena itu adalah inisiatifnya yaitu mengadopsi kita sebagai anak sehingga sekarang kita disebut sebagai anak-anak Allah. 

Apakah Kita Menjalani  Kehidupan Kekeristenan Kita Didalam Pemahaman Bahwa Tuhan Adalah Bapa Kita?

Apakah anda depresi, stress? Apakah terikat pornografi? Apakah Anda dipenuhi dengan kepahitan, dendam dan kemarahan? Apakah Anda rendah diri atau minder? Apakah Anda terikat oleh mamon? Pikirkan bagaimana cara kita melihat kehidupan yaitu apakah kita melihat dari sudut pandang seorang budak atau seorang korban? Apakah kita melihat Tuhan seperti seorang pegawai atau seorang terdakwa? Atau Anda melihatnya dari sudut pandang sebagai seorang anak Tuhan?

Galatia 4:6
Dan karena kamu adalah anak, maka  Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ”ya Abba, ya Bapa!”

Allah tidak hanya memberikan janji tetapi ada jaminan dari adopsi dan seruan seorang “anak” .

           1. JAMINAN ADOPSI

Galatia 4:5
Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita,  yang berseru: ”ya Abba, ya Bapa!”

Dalam 2 Kor 5:17 dikatakan bahwa “  barang siapa yang ada di dalam Kristus maka dia adalah ciptaan yang baru “. Di luar Kristus maka kita semua mati rohani dan mengalami kerusakan total. Dosa dan kejahatan itu membelenggu kita sehingga ketika kita diberi kehendak bebas maka kehendak bebas akan selalu memilih kepada dosa. Tetapi karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Dia mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Pertanyaannya bagaimana kita bisa percaya kepada Tuhan yaitu waktu kita mendengar Injil dan Roh Kudus bekerja dalam kita  sehingga hati kita bisa  tergugah dan terdorong untuk bertobat. Jad kalau kita bisa bertobat maka itu bukan karena kita menyadari sendiri untuk bertobat dan membutuhkan Tuhan, tetapi Tuhanlah  yang mengubah hati kita yang dahulunya keras menjadi hati yang lembut. Itulah jaminan dari adopsi.

Dalam Yohanes 10:26-29 dikatakan bahwa “ domba-dombaKu mendengar suaraKu”.  Jadi kalau kita adalah bagian dari domba-domba Kristus dan waktu Tuhan berbicara sekalipun kita belum mengenal Dia tetapi hati kita tertarik dan semakin ingin tahu sehingga akhirnya hati kita terbuka dan bertobat.

2 Korintus 1:21-22
21Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, 22 memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Inilah yang disebut dengan regenerasi atau kelahiran baru dimana manusia yang dahulunya mati rohani karena dosa Adam namun sekarang ada Roh Kudus yang berhabitasi dalam hati kita. 

Roma 8:15-16
15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" 16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Perkataan “ menjadikan kamu anak Allah  (Adopsi)“berasal dari kata “ huiothesia “ yang artinya diangkat menjadi anak yang sah. Pada jaman dulu  maka adopsi anak itu bukan seperti sekarang yaitu kalau kita mengambil anak kecil untuk diadopsi tetapi yang diadopsi adalah orang dewasa. Karena dulu waktu jaman Romawi maka karena keadaan begitu buruk dan rusak karena sedang mengalami penurunan maka banyak keluarga yang berantakan. Orang-orang yang memiliki kedudukan, pengaruh dan kekayaan sudah tidak lagi percaya kepada keluarganya.  Jadi jika mereka memiliki pengaruh politik, jika mereka senator, mereka melihat anak-anak mereka sendiri dan berpikir bahwa mereka tidak bisa dipercaya maka mereka akan mengadopsi orang dewasa yang memiliki kualifikasi yang baik untuk mewarisi semua yang dimiliki untuk menjadi pengelolanya. Salah satunya adalah Julius Caesar. Ketika Julius Caesar-setelah ia dibunuh maka mereka menemukan dan membaca surat wasiatnya. Dan dalam wasiatnya Julius Caesar mengadopsi Oktavianus, pada dasarnya cucu keponakan, yang berusia sembilan belas tahun untuk mewarisi semua yang dimiliki oleh Julius Caesar. Itulah akhirnya Oktavianus menjadi kaisar Agustus di jaman kelahiran Yesus. Lalu apa artinya ini bagi kita? Kalau orang Romawi mengadopsi anak akan mencari orang yang berkualifikasi yang tinggi tetapi bagaimana mungkin kita orang yang berdosa yang dalam keadaan tidak layak dan rusak bahkan menjadi musuh Allah tetapi Tuhan dalam kerelaaan hati mau mengadopsi kita, bukan sebagai majikan dan pegawai tetapi sebagai Bapa dan anak. Ada sebuah covenant yang dibayar dengan sangat mahal dan bukan itu saja Dia juga memberikan jaminan dengan mengirim Roh KudusNya untuk tinggal dalam kita sehingga kita bisa merasa aman. 

 

         2. SERUAN SEORANG ANAK

Galatia 4:5
Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita,  yang berseru: ”ya Abba, ya Bapa!”

Jadi setelah Roh AnakNya masuk maka baru kita bisa berseru “ ya Abba ya Bapa “. Dan berbicara tentang Abba maka itu adalah panggilan kasih sayang yang lembut yang digunakan oleh seorang anak dalam hubungan yang penuh kasih sayang dan ketergantungan kepada ayah mereka (Seperti panggilan “Daddy”). Panggilan ini adalah menunjukkan ada suatu kedekatan atau hubungan yang intim. Selain kedekatan maka juga menunjukkan adanya ketergantungan. Hal ini juga ditunjukkan melalui kehidupan Yesus yang begitu tergantung dengan Bapa di sorga  yaitu ketika Dia merasa takut dan gentar karena harus menghadapi cawan murka Allah maka Dia berseru “ Ya Abba Ya Bapa “. (baca Markus 14:32 – 36).  Bagaimana dengan kita yaitu ketika kita berhadapan dengan pencobaan, kesulitan dan penderitaan maka seruan apa yang keluar dari mulut kita? Kalau kita memiliki hubungan seperti anak dan bapa maka kita tidak akan segan untuk bersandar dan datang kepada Bapa. Namun realitanya ketika berhadapan dengan penderitaan maka seruan kita adalah kita sering bersungut-sungut, menyalahkan Tuhan, protes, complain, membandingkan bahkan marah. Namun kalau kita sadar maka kita bisa datang kepada Tuhan dan berkata “ Ya Abba Ya Bapa.” Selain kedekatan dan ketergantungan maka juga ada keyakinan bahwa Tuhan bersama dengan kita. 

Mungkin diantara kita pernah mengalami pengalaman yang buruk dengan bapa kita yang ada di dunia ini yang menyakiti kita atau meninggalkan kita sehingga kita tidak bisa mengerti artinya Bapa di sorga. 

Mzm 68:6-7 (5-6 ESV)
(68-6) Allah adalah Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; (68-7) Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia.

Jadi kalau kita merasa sendirian, tidak ada yang mengerti bahkan mungkin orangtua kita membuang kita maka Tuhan tidak pernah membuang kita. Dia sudah rela membayar harganya dengan menunjukkan bahwa Dia mengasihi kita bahkan waktu kita masih berdosa. Kalau kita tidak memiliki bapa yang sempurnadi dunia maka kita memiliki Bapa yang sempurna di sorga yang mengasihi kita dan memberikan Roh AnakNya dalam hidup kita sehingga kita bisa berkata Bapaku di sorga.

Galatia 4:5
Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita,  yang berseru: ”ya Abba, ya Bapa!”

Kata “ berseru “ dalam ayat ini berasal dari kata “ Krazo “ yang artinya berseru atau berteriak dengan suatu tujuan khusus untuk memanggil dengan suatu keyakinan bahwa yang dipanggil pasti mendengar dan meresponi. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang tidak mendengar doa kita atau mengabaikan kita tetapi Dia selalu mendengar doa kita. Dalam Injil Matius diceritakan ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru  (Krazo) dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." Maka Yesus mendengarkan dan menyembuhkan mereka. Krazo juga berarti kita memiliki keyakinan bahwa kita memiliki full acces kepada Tuhan. Itu bukan berarti bahwa semua doa kita akan dikabulkan tetapi apapun keputusanNya maka bukan kehendak kita yang terjadi tetapi kehendakNya sebab kita tahu bahwa Dia adalah Bapa kita yang baik. 

Roma 8:15
15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"

Sebagai bapa yang tidak sempurna maka ketika kita begitu direpotkan dengan keberadaan anak-anak kita namun kita selalu berusaha memberikan yang baik kepada mereka sebab mereka adalah anak-anak kita, maka terlebih Bapa kita yang di sorga maka Dia akan memberikan yang terbaik kepada kita yang adalah anak-anakNya.

Efesus1:4-5
Sebab di dalam Dia (Yesus Kristus) Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,