Di awal tahun yang baru, kita sering merasa seperti menekan tombol reset. Awal tahun identik dengan target dan resolusi baru, tetapi juga membawa kecemasan dan kegelisahan. Tekanan baru mulai muncul, dan bagi banyak orang, tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, melainkan ujian identitas.
Berbagai pertanyaan pun muncul di hati. Apakah bisnis akan lebih cuan. Apakah sebagai profesional kita akan lebih berhasil. Apakah nilai diri kita masih berarti. Pertanyaan-pertanyaan ini sering dinilai dengan satu kacamata utama, yaitu pekerjaan. Kita menganggap diri bernilai jika pekerjaan berhasil, sukses, dan berprestasi. Di sanalah kita mencari harga diri.

Tanpa disadari, kita tidak lagi bekerja untuk hidup, tetapi hidup untuk bekerja. Pekerjaan menjadi sarana membangun makna hidup, mencari pengakuan, dan mengejar kesuksesan. Perlahan, pekerjaan berubah menjadi altar penyembahan. Produktivitas dan karier menjadi ukuran harga diri. Itulah sebabnya kegagalan terasa bukan hanya menyakitkan, tetapi juga memalukan, seolah harga diri ikut runtuh.
Burn out pun akhirnya bukan sekadar masalah fisik, melainkan tanda adanya kekeliruan di dalam hati. Hari Senin terasa berat bukan hanya karena tuntutan kerja, tetapi karena pekerjaan memikul beban yang tidak seharusnya, yaitu membuktikan harga diri. Masalahnya bukan karena kita kurang bekerja keras, melainkan karena kita gagal memahami pekerjaan dengan benar.
Karena itu, penting untuk meluruskan cara pandang terhadap pekerjaan. Pandangan yang keliru akan melahirkan stres dan menghilangkan makna hidup. Kita perlu melihat pekerjaan dengan lensa Injil, supaya kita bukan hanya lebih sibuk, tetapi sungguh lebih hidup, bukan hanya lebih sukses, tetapi semakin serupa dengan Kristus.
Melalui Kejadian 2, kita diajak kembali melihat asal makna kerja menurut firman Tuhan. Inilah fondasi teologi kerja. Dari teks ini kita melihat tiga hal. Pertama, martabat dan makna pekerjaan dalam penciptaan. Kedua, kerapuhan dan beban pekerjaan dalam kejatuhan. Ketiga, bagaimana Injil memulihkan pekerjaan melalui penebusan dan istirahat Injil yang memulihkan.

Bacaan: Kejadian 2:2-3, 7-8, 15-17
2:2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.
2:3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.
2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Manusia dan taman Eden
2:8 Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.
2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

MARTABAT & MAKNA PEKERJAAN (CREATION)
Sebelum melangkah lebih jauh, penting memahami mengapa teologi pekerjaan itu krusial. Tanpa pemahaman yang utuh, hidup mudah menjadi kacau. Jika pekerjaan hanya dipandang sebagai sesuatu yang mulia, orang bisa menjadi terlalu idealis dan akhirnya kecewa ketika realita tidak seindah bayangan. Sebaliknya, jika pekerjaan hanya dilihat sebagai sesuatu yang berat dan penuh tantangan, yang lahir adalah sikap sinis dan pahit terhadap hidup. Pendekatan yang terlalu naif maupun terlalu realistis sama sama dapat melahirkan kelelahan, kehilangan harapan, bahkan depresi. Alkitab tidak memilih salah satu, tetapi memegang keduanya sekaligus. Pekerjaan itu mulia karena diciptakan Allah. Pekerjaan itu berat karena dosa. Namun di dalam Kristus, ada pertolongan dan istirahat Injil yang memulihkan pekerjaan.
Pekerjaan memiliki martabat sejak awal penciptaan, karena sebelum menjadi berat dan melelahkan, pekerjaan terlebih dahulu diciptakan oleh Allah. Kejadian 2 menunjukkan bahwa Allah adalah Pribadi yang bekerja, lalu berhenti, dan memberkati. Ia berhenti bukan karena lelah, melainkan untuk menikmati ciptaan-Nya. Dengan demikian, pekerjaan bukan gagasan manusia, melainkan berasal dari Allah sendiri. Tidak bekerja berarti menyangkal pola ilahi yang tertanam dalam kodrat manusia sebagai ciptaan Allah.
Kejadian 2 tidak mengulang penciptaan manusia, melainkan mempersempit fokus dari gambaran besar Kejadian 1 kepada relasi Allah dan manusia di Eden. Di sini terlihat Allah membentuk manusia dari debu dan membuat taman. Gambaran ini menegaskan bahwa Allah bekerja dengan tangan-Nya sendiri, bahkan di tanah dan debu. Kerja fisik bukan sesuatu yang hina, melainkan bagian dari kemuliaan ciptaan. Pandangan ini bertentangan dengan filsafat Yunani yang merendahkan materi, namun sejalan dengan kesaksian Alkitab.

Martabat kerja ini diteguhkan dalam inkarnasi Kristus. Yesus hadir sebagai tukang kayu yang bekerja dengan tangan-Nya. Ia menghargai dunia fisik, tubuh, dan ciptaan, yang puncaknya dinyatakan dalam kebangkitan tubuh dan janji pemulihan ciptaan sebagaimana digambarkan dalam Roma 8. Dunia ini bukan akan dibuang, melainkan diperbaharui.
Karena itu, tidak ada pekerjaan kelas dua. Setiap pekerjaan yang membawa keteraturan dari kekacauan mencerminkan karya Allah Sang Pencipta. Memasak, membersihkan, bertani, mengajar, berdagang, menulis kode, hingga berkesenian, semuanya merupakan partisipasi dalam karya ilahi. Alkitab tidak memisahkan yang rohani dari yang sehari-hari. Dalam bekerja, manusia melayani dan memuliakan Tuhan, serta ikut ambil bagian dalam rencana kekal-Nya.
Di dalam Kitab Ayub pasal 39, Tuhan menunjukkan bagaimana Ia memelihara ciptaan-Nya. Tuhan membawa Ayub melihat berbagai binatang, kambing gunung, rusa, keledai liar, lembu hutan, burung unta, kuda perang, hingga elang yang bersarang di tebing tinggi. Semua itu dipelihara oleh Tuhan, bukan karena berguna bagi manusia, tetapi karena indah bagi-Nya. Jika ciptaan yang dianggap tidak berguna oleh manusia saja Tuhan pelihara, apalagi manusia itu sendiri.
Lalu muncul pertanyaan, apa definisi pekerjaan menurut Alkitab. Kejadian 2:15 berkata bahwa Tuhan Allah menempatkan manusia di taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Paradigma kerja yang dipakai Alkitab adalah berkebun. Berkebun tidak merusak, tetapi juga tidak pasif. Ada kreativitas, ada pengolahan, ada tanggung jawab untuk mengembangkan potensi agar menjadi indah dan membawa kehidupan. Inilah gambaran dasar dari semua pekerjaan.
Pekerjaan adalah mengolah ciptaan Allah dengan kreativitas dan tanggung jawab demi kesejahteraan banyak orang. Entah itu mengolah tanah, batu, data, suara, seni, atau bisnis, semuanya bertujuan mengembangkan potensi ciptaan untuk kehidupan bersama. Musik mengolah suara mentah menjadi lagu yang indah. Arsitektur mengolah tanah, pasir, dan batu menjadi ruang hidup. Seni mengolah pengalaman manusia menjadi narasi yang bermakna. Ilmu pengetahuan mengolah alam ciptaan untuk kesejahteraan manusia. Semua ini adalah bagian dari panggilan kerja.

Budaya dunia sering memandang pekerjaan sebagai alat untuk mendapatkan uang, status, dan identitas. Injil menawarkan paradigma yang berbeda. Pekerjaan adalah pelayanan, partisipasi dalam karya Allah, demi kesejahteraan banyak orang dan kemuliaan Tuhan. Selama pekerjaan dipandang sebagai alat untuk membangun harga diri dan status, sukacita sejati dalam bekerja tidak akan pernah ditemukan. Stres dan tekanan akan selalu menguasai hati.
KERAPUHAN & BEBAN PEKERJAAN (FALL)
Jika kita memperhatikan Kejadian 2 ayat 16 dan 17, Tuhan melarang manusia memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, dengan peringatan bahwa pada hari mereka memakannya, mereka pasti mati. Namun di Kejadian 3, ketika Adam dan Hawa memakan buah itu, mereka tidak langsung mati seketika. Sejak saat itulah kematian masuk sebagai realitas yang tidak terelakkan. Segala sesuatu mulai runtuh secara perlahan. Dunia tidak langsung hancur, tetapi mulai mengalami kerusakan sedikit demi sedikit. Duri mulai tumbuh, binatang menjadi buas, pekerjaan menjadi berat, dan seluruh ciptaan mulai falling apart.
Kematian yang dimaksud di sini bukan hanya kematian fisik, melainkan peluruhan seluruh ciptaan. Segala sesuatu bergerak menuju kerusakan. Tanpa energi yang terus menopang, semuanya cenderung rusak. Gambaran ini bisa kita lihat dalam kehidupan sehari hari. Kayu yang dibakar melepaskan energi lalu berubah menjadi arang dan abu. Minyak yang terbakar menghasilkan energi, tetapi tidak bisa kembali ke bentuk semula. Apa yang hilang tidak dapat dipulihkan. Itulah gambaran peluruhan.
Hal yang sama terjadi pada manusia. Tubuh kita perlahan rusak. Saat masih muda, pemulihan berlangsung cepat, tetapi seiring bertambahnya usia, semuanya melambat. Luka kecil membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh, fungsi organ menurun, dan berbagai masalah kesehatan mulai muncul. Tubuh manusia sendiri sedang menuju kerusakan.
Kerusakan ini juga terlihat dalam relasi. Tidak ada relasi yang sempurna. Dalam pernikahan selalu ada konflik. Relasi orang tua dan anak pun mengalami ketegangan. Anak yang dulu ditunggu dengan penuh sukacita suatu hari bisa memberontak. Relasi yang awalnya manis bisa berubah menjadi menyakitkan. Semua ini menunjukkan bahwa relasi manusia telah rusak.

Pekerjaan pun tidak luput dari dampak kejatuhan. Dunia kerja dipenuhi konflik, korupsi, eksploitasi, sengketa, dan ketidakadilan. Inilah realitas dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Tanpa pemahaman doktrin yang benar, kita sering kali merespons realitas ini dengan cara yang keliru dan jatuh ke dalam dua ekstrem.
Tanpa doktrin penciptaan, orang akan menjadi sinis. Pekerjaan dijalani hanya untuk bertahan hidup, tanpa sukacita dan makna. Hari Senin terasa sangat berat karena tidak ada tujuan yang lebih besar. Sebaliknya, tanpa doktrin kejatuhan, orang menjadi terlalu idealis dan tidak realistis. Pekerjaan dituntut selalu sesuai passion, selalu harmonis, dan selalu menyenangkan. Ketika realitas tidak sesuai dengan idealisme, muncullah kekecewaan dan keengganan untuk bekerja.
Semua kekacauan ini bukan karena pekerjaan itu jahat, melainkan karena kita hidup di dalam dunia yang sudah jatuh. Ego saling bertabrakan, sumber daya terbatas, rencana gagal, tim bubar, dan duri terus bermunculan. Karena itu, jangan heran jika pekerjaan terasa berat dan penuh tantangan. Jangan terkejut jika mimpi dan idealisme tidak sepenuhnya terwujud. Itulah realitas dunia setelah kejatuhan.
Namun syukur kepada Tuhan, kisah ini tidak berhenti pada kejatuhan. Jika hanya berhenti di sini, hidup akan dipenuhi stres dan keputusasaan. Tetapi Tuhan bukan hanya menyatakan kerusakan, Ia juga menyediakan pemulihan.

ISTIRAHAT INJIL YANG MEMULIHKAN PEKERJAAN (REDEMPTION)
Sebelum masuk ke poin ketiga, mari kembali ke Kejadian 1:26–31 dan Kejadian 2. Manusia diciptakan pada hari keenam, setelah Allah menciptakan segala sesuatu. Lalu pada hari ketujuh, Allah menyelesaikan pekerjaan Nya, berhenti, memberkati, dan menguduskan hari itu. Perhatikan desain Allah ini. Ketika Adam membuka mata, hari penuh pertamanya bukanlah hari kerja, melainkan hari istirahat bersama Allah. Sejak awal, manusia tidak memulai hidup dengan bekerja untuk membuktikan diri, tetapi dengan beristirahat di hadirat Tuhan.
Ini berarti manusia tidak bekerja supaya dikasihi Allah. Sebaliknya, manusia bekerja karena sudah lebih dahulu dikasihi. Harga diri manusia tidak lahir dari performa, melainkan dari fakta bahwa ia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Inilah provisi dan providensia Allah. Kita tidak bekerja untuk mendapatkan istirahat atau nilai diri, tetapi menerima istirahat dan nilai diri di dalam Tuhan supaya kita dapat bekerja dengan benar.
Pola ini bertentangan dengan pola dunia. Dunia berkata, kerja dulu baru istirahat, buktikan nilaimu baru kamu layak berlibur. Semakin keras bekerja, semakin besar hak untuk beristirahat. Injil justru berkata sebaliknya. Istirahat lebih dulu, lalu bekerja. Sabat adalah anugerah agar pekerjaan tidak berubah menjadi berhala. Kita tidak bekerja supaya layak beristirahat, tetapi bekerja karena sudah beristirahat di dalam Tuhan.

Banyak orang percaya akhirnya sangat lelah bukan terutama karena pekerjaannya, tetapi karena apa yang disebut kerja di bawah kerja. Yang melelahkan bukan tugasnya, melainkan usaha tanpa henti untuk membangun identitas. Harus berhasil, harus unggul, harus bernilai. Inilah yang menguras jiwa. Masalah terdalam manusia bukan kurang kerja keras, tetapi mencari keselamatan di dalam pekerjaan dan menjadikannya sumber identitas.
Di sinilah Injil masuk dan menembus hati. Alkitab mencatat dua kali ungkapan sudah selesai. Yang pertama di Kejadian 2, ketika Allah menyelesaikan karya penciptaan Nya. Namun dosa masuk dan merusak segalanya, termasuk pekerjaan. Karena kasih Nya, Allah mengutus Yesus Kristus untuk menyelesaikan pekerjaan yang kedua, yaitu penebusan. Allah menyelesaikan penciptaan di taman yang indah, tetapi Yesus menyelesaikan penebusan di kayu salib yang berdarah.
Pekerjaan kedua ini jauh lebih berat. Dalam penciptaan, Allah menyatakan kuasa Nya. Dalam penebusan, Allah menyatakan kasih Nya dengan menanggung hukuman dosa. Yesus menyelesaikan pekerjaan itu bagi kita. Ia berkata, sudah selesai, bukan setelah kita beres, tetapi untuk menebus kita. Inilah Injil sebagai substitusi. Yesus hidup bagi kita, mati bagi kita, dan menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya kita pikul.
Karena itu, di dalam Kristus kita tidak lagi bekerja untuk diterima, tetapi bekerja karena sudah diterima. Di dalam Dia kita menerima rest yang sejati. Injil membebaskan kita dari keharusan membuktikan diri. Kita dapat bekerja tanpa diperbudak, gagal tanpa hancur, berhasil tanpa menjadi sombong, dan berambisi tanpa terobsesi, karena identitas kita tidak lagi dibangun oleh prestasi, tetapi oleh salib Kristus.

Sebagai refleksi, mari bertanya pada diri sendiri. Apakah pekerjaan kita adalah panggilan untuk melayani, atau alat untuk membangun harga diri. Jika pekerjaan telah menjadi beban pembuktian diri, Injil memanggil kita untuk bertobat dan kembali beristirahat di dalam Kristus. Hari ini adalah waktu untuk mengkalibrasi hati, berhenti bersandar pada performa, dan kembali kepada karya Kristus yang sudah selesai.
REFLEKTIF
ORANG BERINJIL