THE DESIGN OF MARRIAGE

Reading The Times Through The Lens of Genesis – Week 5 “The Design of Marriage”

Ps. Michael Chrisdion

 

Beberapa hari terakhir kita membaca berita yang serupa. Harga emas turun, saham terguncang karena MSCI dan IHSG anjlok. Kondisi ekonomi terasa tidak stabil. Jujur, sempat terlintas untuk mengubah topik khotbah. Namun ketika saya berdoa, saya justru merinding. Di musim seperti inilah kita paling membutuhkan khotbah yang mengkalibrasi kembali di mana letak rasa aman kita, khususnya di dalam keluarga.

Biasanya ketika semuanya terasa aman, relasi suami istri juga relatif tenang. Tetapi saat finansial digoncang dan ketidakstabilan datang, pertengkaran sering mulai muncul. Saling menyalahkan pun terjadi. Kita sering mengira persoalannya ada pada investasi atau pengelolaan uang. Padahal krisis sedang menyingkapkan hal yang lebih dalam. Krisis mengekspos dosa di dalam hati. Berhala rasa aman, kenyamanan, dan kontrol yang palsu.

Bagi yang belum menikah, kondisi ekonomi dan berbagai persoalan di sekitar kita pada tahun 2026 ini bisa menimbulkan ketakutan untuk menikah. Atau sebaliknya, membuat seseorang merasa semakin tidak aman sendirian lalu menganggap pernikahan sebagai solusi. Ada yang berpikir bahwa menikah akan menghilangkan stres dan memberi penghiburan. Pikiran seperti itu bisa muncul. Namun mereka yang sudah menikah tahu bahwa pernikahan tidak selalu berarti dielus dan ditenangkan. Bahkan pernikahan yang tidak dipahami dengan benar justru dapat menjadi beban yang berat.

Bacaan: Kejadian 2:18-25

2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." 

2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 

2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 

2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 

2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." 

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 

2:25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Saya ingin memulai dengan pernyataan yang sering dianggap benar. Cinta seharusnya membuatku bahagia. Maka ketika sebuah relasi terasa melelahkan atau membuat seseorang merasa terjebak, muncul kesimpulan bahwa pasangannya salah dan harus diganti. Itulah logika zaman ini.

Namun dari banyak konseling dan cerita yang saya dengar, kenyataannya berbeda. Semakin banyak orang berganti pasangan, justru semakin rapuh mereka. Ada trauma emosional, kebingungan, ketakutan berkomitmen, dan keraguan mengambil keputusan. Pilihan semakin banyak, tetapi keberanian untuk setia semakin kecil.

Ironisnya, generasi ini adalah generasi yang paling sering berbicara tentang cinta. Drama, aplikasi kencan, dan konten relasi membanjiri media. Namun pada saat yang sama, inilah generasi yang paling takut berkomitmen dan paling kesepian secara emosional. Ada sesuatu yang tidak beres.

Pertanyaannya bukan hanya mengapa relasi dan pernikahan terasa semakin sulit. Pertanyaannya adalah apakah kita sungguh memahami desain pernikahan yang Allah rancang. Bisa jadi masalahnya bukan pada pasangan atau pada zaman, melainkan pada relasi yang dijalani tanpa blueprint dari Tuhan.

Perhatikan Kejadian 2:22, Tuhan sendiri yang membawa Hawa kepada Adam. Ini menegaskan bahwa pernikahan bukan ciptaan budaya, melainkan rancangan Allah. Tradisi pernikahan yang kita kenal hari ini berakar di sini. Allah adalah Bapa dari Adam dan Hawa, dan Allah sendiri yang mempersatukan mereka di Taman Eden.

Alkitab dimulai dengan penciptaan dan pernikahan, dan berakhir dengan pernikahan Anak Domba. Pernikahan bukan topik sampingan. Ia adalah jantung dari cerita Alkitab.

Karena itu pesan ini relevan bagi yang belum menikah maupun yang sudah menikah dan lelah secara emosional. Bagi yang menjadikan pernikahan sebagai harapan keselamatan, tanpa memahami desain Tuhan, kekecewaan justru menanti. Masalah relasi kita bukan terutama soal teknik komunikasi atau tips praktis, melainkan soal hati, dan hanya Injil yang menjadi solusinya.

Karena itu kita kembali ke pernikahan pertama di Kejadian pasal 2. Hari ini saya akan membagi tiga poin. Pertama, penyembahan berhala dalam relasi pernikahan. Kedua, pernikahan sebagai perjalanan pembentukan. Ketiga, Injil memberi kekuatan untuk menjalaninya.

           PENYEMBAHAN BERHALA DALAM RELASI (PERNIKAHAN)

Ketika Allah Bapa membawa Hawa kepada Adam, keluarlah seruan dari mulut Adam, inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Bayangkan situasinya. Adam baru bangun dari tidur nyenyak, masih mengusap mata. Ketika membuka mata, Tuhan membawa satu sosok yang belum pernah ia lihat. Selama ini ia hanya bertemu binatang. Macan, babi, mungkin yang paling mirip dengannya gorila. Lalu tiba tiba muncul sosok yang sangat berbeda. Ini siapa.

Karena itu ia berseru, inilah dia tulang dari tulangku. Alkitab menggambarkan kalimat ini seperti puisi Ibrani, bahkan seperti lagu. Respons spontan Adam adalah kekaguman yang sangat dalam. Seolah ia berkata, akhirnya aku menemukan apa yang selama ini tidak pernah kutemukan.

Adam tidak berkata kamu cantik atau kamu lucu. Yang keluar adalah pengakuan identitas dan keterhubungan yang dalam. Di sinilah romantika pertama kali muncul dalam Alkitab. Relasi ini begitu kuat hingga membuat Adam terpesona pada ciptaan Allah bernama Hawa. Bahkan di dunia yang belum jatuh ke dalam dosa, relasi ini sudah memiliki potensi menjadi pusat identitas.

Lalu perhatikan Kejadian pasal 3. Ketika Hawa berbicara dengan ular, Adam ada di sana. Ia mendengar firman Tuhan diubah oleh Hawa dan ular. Adam tidak mengoreksi. Ia diam. Ketika Hawa tertarik, Adam tidak menegur. Ketika Hawa memakan buah itu, Adam membiarkan. Bahkan ia ikut makan.

Artinya Tuhan tidak lagi menjadi pusat identitas Adam. Tuhan tidak lagi menjadi pusat pernikahan mereka. Yang menjadi pusat adalah pasangan itu sendiri. Hawa menjadi pusat makna hidup Adam.

Masalahnya bukan karena Adam mengasihi Hawa. Masalah muncul ketika Hawa menjadi sumber makna hidupnya. Ketika pasangan menjadi pusat kehidupan, tanpa sadar kita membuka pintu penyembahan berhala. Pasangan mengambil tempat yang seharusnya hanya milik Tuhan.

Seperti di kebanyakan film drama romansa populer. Di akhir film, tokoh utama biasanya berkata, you complete me. Kalimat ini terdengar romantis dan banyak orang menjadikannya filosofi hidup. Kamu membuat aku utuh. Kedengarannya indah, tetapi sangat berbahaya.

Kalimat itu memindahkan fungsi Tuhan kepada manusia. Yang seharusnya memberi makna dan keselamatan adalah Tuhan. Ketika fungsi itu diberikan kepada manusia yang rapuh, kekecewaan tidak terhindarkan. Di situlah penyembahan berhala terjadi dan kehancuran dimulai.

John Newton pernah menulis bahwa bahaya terbesar bukan hanya pernikahan yang buruk, tetapi pernikahan yang terlalu baik. Pasangan yang terlalu dipuja. Karena ketika pasangan menjadi objek pemujaan, kita mulai mencari keselamatan dari mereka.

Ketika pasangan atau relasi menjadi sumber identitas, relasi itu berubah menjadi berhala. Dan berhala selalu membawa kehancuran.

Sekarang mari kita daratkan ini ke dalam kehidupan nyata. Saya mulai dari yang sudah menikah. Bentuk berhala dalam relasi sering muncul sebagai ketidakmampuan menerima ketidaksempurnaan. Selalu kecewa. Selalu kurang puas. Konflik kecil terasa sangat besar.

Contohnya soal komunikasi. Ada kalimat yang sering terdengar, aku cuma mau kamu lebih peka. Maksudnya apa. Aku mau kamu ngerti aku tanpa aku harus jelasin. Sudah bertahun tahun bersama, masa masih harus dijelaskan. Ketika pasangan tidak peka, langsung muncul perasaan tidak dicintai. Bukan sekadar kecewa, tetapi merasa ditolak sebagai pribadi. Jika respons emosionalnya sedalam itu, artinya pasangan sudah ditempatkan sebagai mesias, sebagai juru selamat.

Contoh lain hal hal kecil seperti kerapian. Handuk tidak dilipat. Kaos kaki tercecer. Sepatu tidak rapi. Bangun terlambat. Reaksinya bukan lagi memahami bahwa manusia memang tidak sempurna. Yang keluar adalah tuduhan seperti kamu selalu begitu, kamu tidak pernah peduli perasaanku, aku capek hidup sama kamu. Yang sebenarnya dituntut bukan kerapian, tetapi kesempurnaan dan rasa aman emosional.

Akibatnya konflik kecil berubah menjadi besar. Satu kalimat salah berujung pada diam berhari hari. Karena ketika pasangan dijadikan juru selamat, perbedaan pendapat terasa seperti ancaman. Jika kamu tidak setuju denganku, berarti kamu tidak mencintaiku.

Masalah keuangan pun sering menjadi besar bukan karena nominalnya, tetapi karena maknanya. Pertengkaran bisa berawal dari hal sepele dan berakhir pada kalimat, dari dulu kamu egois, salah aku memilih pasangan. Konflik kecil berubah menjadi krisis eksistensial.

Ada juga bentuk lain, yaitu perbandingan lewat media sosial. Melihat pasangan orang lain yang tampak romantis, suportif, perhatian. Pulang ke rumah dengan standar yang sudah berubah. Tidak ada yang berubah dari pasangan kita. Yang berubah adalah standar yang kita pasang. Pasangan dituntut menjadi penyelamat emosional.

Bagi yang belum menikah, bentuknya sering muncul sebagai sikap terlalu memilih. Mencari yang hampir sempurna. Rohani, mapan, humoris, menarik, keluarga baik, tidak toksik, sefrekuensi, dewasa secara emosional. Sosok seperti itu bukan manusia, itu Tuhan.

Di balik semua kriteria itu ada satu harapan tersembunyi. Aku ingin seseorang yang menjamin aku tidak terluka. Padahal tidak ada manusia yang tidak mungkin melukai. Akibatnya hidup sekarang tidak bisa dinikmati. Panggilan Tuhan diabaikan. Hidup terasa tertunda sampai menikah.

Doa pun berubah. Bukan lagi mencari Tuhan, tetapi terus meminta jodoh. Pernikahan menjadi harapan keselamatan. Tekanan budaya memperparah, umur segini belum menikah, adik sudah menikah. Lama lama pernikahan bukan lagi respons terhadap desain Tuhan, tetapi cara untuk merasa diterima dan dianggap normal.

Masalahnya kita meminta relasi yang fana dan rapuh melakukan peran ilahi. Tidak ada relasi manusia yang sanggup memikul beban itu. Tidak ada pasangan yang bisa menjadi identitas, keselamatan emosional, harga diri, dan makna hidup seseorang. Ketika beban itu ditaruh pada pasangan, relasi pasti hancur.

Pertanyaannya sekarang adalah ini. Jika relasi bukan untuk dijadikan juru selamat, lalu untuk apa Tuhan merancang pernikahan?

          PERNIKAHAN ADALAH PERJALANAN PEMBENTUKAN

Pernikahan adalah perjalanan pembentukan. Artinya Tuhan membentuk saya melalui pernikahan. Bukan Tuhan membentuk kamu melalui saya. Cara pikir itu membuat saya merasa tidak perlu berubah. Itu bukan desain Tuhan. Pernikahan adalah perjalanan pembentukan bagi diri saya.

Perhatikan ayat 18. Tuhan berfirman bahwa tidak baik manusia seorang diri. Ia akan menjadikan penolong yang sepadan. Ada dua kata penting, penolong dan sepadan.

Kata penolong memakai istilah Ibrani ezer. Ini bukan istilah ringan, melainkan istilah militer. Dipakai untuk menggambarkan bala bantuan yang datang ketika pasukan hampir kalah. Ini adalah pertolongan yang kuat dan menyelamatkan. Kata yang sama dipakai untuk Allah sendiri. Dalam 1 Samuel 7 ayat 12, Samuel mendirikan batu Eben Ezer sebagai pengakuan bahwa Tuhanlah yang menolong.

Artinya istri bukan sekadar penolong urusan rumah tangga. Bukan aksesori atau tambahan. Ia adalah kekuatan yang Tuhan berikan. Bala bantuan yang kuat. Karena itu peran istri bukan peran yang lemah.

Kata kedua adalah sepadan. Dalam bahasa aslinya menggambarkan dua pribadi yang saling berhadapan seperti bercermin. Setara, semartabat, serupa, tetapi tidak identik. Ada perbedaan, dan justru di situlah kelengkapannya.

Jika dua kata ini (penolong & sepadan) digabungkan, maknanya adalah penolong yang kuat, setara, namun berhadapan. Seperti dua keping puzzle. Bukan karena sama, tetapi karena pas.

Ayat 24 menambahkan bahwa keduanya menjadi satu daging. Ini bukan hanya soal fisik. Ini tentang dua pribadi yang berbeda disatukan dalam satu kehidupan. Keputusan, keuangan, arah hidup, emosi, dan karakter masuk dalam ruang yang sama. Apa yang terjadi ketika dua pribadi yang kuat, setara, dan berbeda disatukan? Terjadi benturan, gesekan dan konflik.

Budaya sering mengatakan bahwa benturan berarti tidak cocok. Salah pasangan. Tetapi firman Tuhan berkata sebaliknya. Benturan adalah bagian dari desain Allah.

Amsal 27:17 berkata bahwa besi menajamkan besi. Gesekan bukan kegagalan, melainkan alat kasih karunia Tuhan untuk membentuk karakter. Supaya yang belum bersatu dibentuk menjadi satu. Satu arah, satu karakter, satu dalam keserupaan dengan Kristus.

Budaya hari ini sangat toksik bagi pernikahan. Standar dibentuk oleh drama, media sosial, dan konten romantis. Harus selalu bahagia dan cocok seratus persen. Akibatnya banyak pasangan kecewa karena realitas tidak sesuai ekspektasi.

Jika seseorang masuk pernikahan demi kenyamanan, ia pasti kecewa. Karena pernikahan bukan terutama untuk kenyamanan, tetapi untuk pembentukan. Namun jika seseorang masuk dengan kerelaan untuk dibentuk, ia akan bertumbuh. Pernikahan adalah alat pengudusan Tuhan. Pasangan adalah alat kasih karunia Tuhan. Pertanyaannya, maukah kita menerimanya?

Lima tahun pertama pernikahan saya sangat sulit. Saya terbiasa hidup sendiri. Lalu Tuhan memasukkan satu orang ke dalam hidup saya dan benturan terjadi. Sampai suatu hari istri saya berkata, kalau mau hidup sendiri, hiduplah sendiri. Jangan menikah. Perkataan itu menusuk, tetapi benar.

Sekarang setelah dua puluh lima tahun menikah, saya belajar bertobat dan minta maaf. Istri saya juga belajar hal yang sama. Standarnya satu, firman Tuhan. Ketika saya mengambil keputusan, saya bisa mendengar suara istri saya mengingatkan firman Tuhan. Itu menahan ego dan kesombongan saya, serta menyingkapkan isi hati saya.

Jika kita mengerti desain Tuhan, pernikahan bukan untuk mengubah pasangan, melainkan mengubah diri kita. Tuhan memberi pasangan bukan supaya hidup lebih mudah, tetapi supaya hati kita dibentuk.

Allah sengaja memasukkan orang yang berbeda agar kita tidak terjebak dalam ego sendiri. Inilah desain Allah.

Stanley Hauerwas berkata bahwa kita tidak pernah benar benar tahu siapa yang kita nikahi. Bahkan jika menikahi orang yang tepat, waktu akan mengubah kita berdua. Karena itu jangan berharap pasangan memenuhi semua kebutuhan. Itu pasti berujung pada kekecewaan.

Pernikahan adalah bengkel kasih karunia tempat Tuhan bekerja setiap hari. Melembutkan ego, membentuk karakter, dan menyingkapkan kegelapan hati supaya kita semakin serupa dengan Kristus. Ketika pernikahan mengekspos keegoisan dan kekerasan hati, selalu ada dua pilihan. Bertobat dan berproses, atau menyalahkan dan menghindar. Pertobatan memang menyakitkan, tetapi menghasilkan keserupaan dengan Kristus.

Inilah inti kebenaran pernikahan. Pernikahan tidak terutama mengubah pasangan, tetapi mengubah diri kita. Membawa kita kepada pertobatan dan pembentukan. Sekarang pertanyaan terakhir muncul. Jika pernikahan berat dan menuntut perubahan, dari mana kita memperoleh kekuatan untuk menjalaninya?

          INJIL MEMBERI KEKUATAN UNTUK MENJALANINYA

Jika pernikahan adalah tempat pembentukan dan pengudusan, di sinilah kita masuk ke poin ketiga. Injil memberi kekuatan untuk menjalaninya. Kita kembali ke ayat 18. Tuhan Allah berfirman, tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja.

Perhatikan ungkapan tidak baik ini. Untuk pertama kalinya di Alkitab, Allah mengatakan tidak baik. Selama penciptaan, Allah selalu berkata baik, bahkan amat sangat baik ketika manusia diciptakan. Namun di sini Allah menyatakan bahwa manusia tidak baik jika hidup sendirian. Ini menunjukkan bahwa sejak awal Allah merancang manusia bukan hanya untuk membutuhkan Tuhan, tetapi juga membutuhkan sesama. Inilah prinsip interdependensi.

Interdependensi berarti relasi dengan Tuhan tidak pernah berdiri sendiri tanpa relasi dengan sesama. Salib memiliki garis vertikal dan horizontal. Jika salah satunya dihilangkan, yang tersisa bukan lagi salib. Iman yang sejati kepada Tuhan akan nyata dalam cara kita memperlakukan orang lain.

Karena itu Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Iman terlihat dari bagaimana seseorang mengasihi, mengampuni, dan memperlakukan pasangannya. Jika seseorang sungguh memahami kasih Kristus, kasih itu akan tercermin dalam relasinya. Di situlah interdependensi bekerja.

Prinsip ini juga nyata dalam panggilan hidup. Ketika seseorang mencintai Tuhan tetapi pasangannya belum sejalan, panggilan utamanya bukan memimpin orang lain, melainkan berjalan bersama pasangannya. Karena mereka telah menjadi satu daging. Pelayanan suami dan istri adalah panggilan bersama. Dari sanalah kesaksian yang sejati lahir.

Sepanjang Alkitab, Tuhan menyatakan diri sebagai mempelai pria. Ini bukan sekadar metafora. Tuhan ingin dikenal secara intim oleh umat Nya. Ia bukan hanya doktrin, melainkan Pribadi yang mengikatkan diri dalam relasi perjanjian. Perjanjian berarti kesetiaan yang tidak bersyarat, bahkan ketika umat Nya tidak setia.

Namun umat Tuhan digambarkan sebagai mempelai yang sering tidak setia. Ketika hati kita memberi kasih terdalam kepada hal lain, Alkitab menyebutnya perzinahan rohani. Meski demikian, Tuhan terus mengejar umat Nya. Puncaknya terjadi ketika Kristus datang, ditolak, dan disalibkan oleh manusia.

Di salib, Kristus membayar harga mempelai Nya dengan darah Nya sendiri. Terjadi pertukaran yang mulia. Dosa kita ditimpakan kepada Kristus, dan kebenaran Nya diberikan kepada kita. Kristus mengasihi kita bukan karena kita indah, tetapi untuk menjadikan kita indah. Inilah kabar baik Injil.

Di sinilah sumber kekuatan sejati bagi pernikahan dan relasi. Ketika pasangan melukai dan mengecewakan, Injil memampukan kita untuk mengampuni dan bertobat. Mengingat kasih dan pengampunan Kristus melembutkan hati dan meruntuhkan kesombongan kita. Kristus-lah satu satunya Juruselamat. Karena itu pasangan tidak lagi menjadi berhala, melainkan teman seperjalanan menuju keserupaan dengan Kristus.

Alkitab dimulai dengan pernikahan yang gagal, tetapi berakhir dengan pernikahan yang berhasil. Adam pertama gagal, tetapi Adam kedua, Yesus Kristus, tidak pernah gagal dan tidak akan pernah meninggalkan mempelai Nya.

Di tengah dunia yang tidak pasti, kasih Kristus adalah kepastian. Pertanyaannya sekarang adalah siapa yang menjadi pusat hati kita? Apakah harapan kita tertuju kepada manusia atau kepada Kristus?

Hari ini adalah undangan untuk kembali kepada Kristus sebagai mempelai sejati. Pernikahan dan relasi bukan tempat mencari keselamatan, melainkan tempat pembentukan. Orang yang hidup oleh Injil mengasihi dengan sungguh, tanpa menjadikan pasangan sebagai juru selamat, karena ia telah lebih dahulu menerima kasih karunia Kristus.

          REFLEKTIF

Dalam relasi saya saat ini menikah atau belum, apakah saya sedang menaruh harapan keselamatan pada manusia ataukah pada Kristus?

Dalam konflik, gesekan, atau kekecewaan relasi menikah atau belum, apa yang sedang Tuhan bentuk dalam diri saya?

Apakah saya datang kepada Kristus sebagai Mempelai Sejati atau hanya sebagai penolong saat butuh? Di area relasi mana saya perlu menyerahkan ulang hati saya kepada Yesus?\

          ORANG BERINJIL

Mencintai relasi (pasangan) dengan sungguh sungguh tanpa menjadikannya berhala atau juru selamat palsu.

Mampu mengasihi dan memberi kasih karunia dalam relasi karena sudah lebih dulu menerima kasih karunia dan dikasihi oleh Kristus.

Tidak mengejar pernikahan yang nyaman namun menerima pernikahan sebagai proses pembentukan.