Melihat Kehidupan dari Lensa Kejadian 1

Reading The Times Through The Lens of Genesis – Week 3 “Siapakah Kita di Hadapan Allah? IMAGO DEI”

Ps. Michael Chrisdion

 

Kita memasuki minggu ketiga dari khotbah berseri Reading the Times through the Lens of Genesis, sebuah usaha membaca zaman melalui Kitab Kejadian. Fokus hari ini adalah pertanyaan mendasar: siapakah kita di hadapan Allah. Tema kita adalah Imago Dei, gambar Allah.

Minggu lalu kita melihat kehidupan melalui Kejadian pasal satu. Hari ini kita melangkah lebih dalam untuk memahami maknanya. Apa arti manusia diciptakan segambar dengan Allah, apa implikasinya, dan bagaimana realitas itu seharusnya dihidupi.

BACAAN: KEJADIAN 1:26-31 ; 2:1-3

1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 

1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 

1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." 

1:29 Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 

1:30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." Dan jadilah demikian. 

1:31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

2:1 Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. 

2:2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. 

2:3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.

Kejadian 1:26–31 dan 2:1–3 menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah, laki laki dan perempuan, diberkati, diberi mandat untuk memenuhi bumi dan memerintah ciptaan. Allah melihat seluruh ciptaan itu sungguh amat baik, lalu Ia berhenti pada hari ketujuh dan menguduskannya. Manusia hadir dalam ciptaan bukan sebagai kebetulan, tetapi sebagai pusat perhatian Allah yang bernilai dan bermakna.

Dari teks ini, kita diajak bercermin pada realitas zaman. Kita hidup di kota yang bergerak cepat dan kompetitif, di mana nilai diri sering diukur melalui angka. Angka pencapaian, penghasilan, performa, penampilan, dan pengakuan sosial. Pelan pelan kita hidup dengan logika bahwa nilai diri ditentukan oleh keberhasilan dan penerimaan.

Namun pertanyaan jujurnya adalah ini. Jika semua yang membuat kita merasa berarti dicabut, apakah hidup ini masih bernilai. Siapakah kita sebenarnya ketika prestasi, posisi, dan pengakuan hilang.

Kita hidup bukan hanya di tengah krisis ekonomi dan moral, tetapi juga krisis identitas. Kegelisahan manusia modern bukan karena kurang informasi, melainkan kebingungan akan jati diri. Orang dewasa pun mengalaminya, hanya saja sering bersembunyi di balik produktivitas dan kesibukan. Jika identitas dibangun di atas pencapaian, kegagalan menjadi ancaman serius, dan perbandingan dengan orang lain menjadi kebutuhan.

Di sinilah letak dilema besar zaman ini. Jika manusia hanyalah produk evolusi, maka nilai manusia dapat dinegosiasikan. Nilai ditentukan oleh kapasitas dan kegunaan. Namun Kejadian pasal satu menyatakan sebaliknya. Manusia bernilai karena diciptakan menurut gambar Allah. Nilai itu bersifat mutlak, tidak bergantung pada performa, dan tidak dapat dicabut oleh kegagalan.

Inilah Imago Dei. Nilai manusia adalah keputusan Allah, bukan hasil usaha manusia. Karena itu yang lemah, rapuh, sakit, atau gagal tetap memiliki martabat yang sama. Kegagalan memang menyakitkan, tetapi tidak pernah menghapus nilai diri. Dan karena setiap manusia adalah gambar Allah, tidak seorang pun layak direndahkan.

Gambar Allah yang rusak dipulihkan oleh Injil. Ketika kita hidup sebagai gambar Allah, kita tidak lagi bergantung pada cermin palsu dunia, melainkan memandang diri melalui kebenaran Allah.

Hari ini kita akan melihat tiga hal. Pertama, pentingnya Imago Dei beserta implikasinya. Kedua, makna gambar Allah sebagai realitas hidup yang memantulkan Allah. Ketiga, pemulihan gambar Allah melalui karya Injil.

       PENTINGNYA GAMBAR ALLAH (IMAGO DEI)

Kejadian 1:26–27 menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. 

Perhatikan penggunaan kata Kita. Berbeda dengan penciptaan unsur lain, di mana Allah berbicara kepada ciptaan, pada penciptaan manusia Allah berbicara di dalam diri Nya sendiri. Manusia lahir dari persekutuan ilahi. Ini menegaskan keunikan dan kedudukan istimewa manusia dalam rencana Allah.

Dari sini muncul empat implikasi penting. Implikasi yang pertama adalah tentang harga diri manusia. Harga diri manusia bukan ditentukan oleh prestasi, bukan oleh moralitas, bukan oleh kontribusi, dan bukan oleh latar belakang. Alkitab tidak berkata bahwa manusia berharga karena berguna. Alkitab juga tidak berkata bahwa manusia berharga karena berhasil, meskipun keberhasilan itu tentu patut disyukuri. Setiap manusia bernilai karena diciptakan segambar dengan Allah. Martabat manusia adalah fakta penciptaan. Nilai itu tidak ditentukan oleh pencapaian, melainkan oleh firman Tuhan.

Pandangan ini bertentangan dengan pemikiran banyak cendekiawan dan filsuf yang menolak keberadaan Allah. Dalam dunia filsafat, ada tokoh seperti Bertrand Russell yang menulis bahwa asal usul manusia, pertumbuhan, harapan, ketakutan, cinta, dan keyakinan hanyalah hasil penempatan atom atom secara kebetulan. Menurut pandangan itu, manusia hanyalah organisme yang lebih kompleks dibandingkan makhluk lain. Ilmu pengetahuan, menurut mereka, dapat menjelaskan bagaimana manusia hidup, tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa manusia itu bernilai.

Jika Allah ditolak, maka dasar martabat manusia pun hilang. Secara sains murni, pandangan itu konsisten. Jika manusia hanya dilihat dari kacamata biologi, maka manusia tidak berbeda jauh dari binatang. Karena itu nilai manusia menurut firman Allah sangat bertentangan dengan lensa dunia sekuler. Firman menyatakan bahwa nilai manusia itu objektif, tidak bisa dicabut, dan tidak bisa dinegosiasikan, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Inilah Imago Dei. Tanpa Imago Dei, konsep martabat manusia tidak memiliki dasar yang kokoh. Itulah implikasi yang pertama.

Implikasi yang kedua adalah cara kita memperlakukan sesama. Jika manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, maka itu tidak hanya berlaku bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain, termasuk mereka yang tidak disukai. Setiap orang yang kita jumpai membawa kemuliaan Allah. Kitab Yakobus 3:9 menegur hal ini dengan sangat jelas. Dengan lidah kita memuji Tuhan Bapa kita, dan dengan lidah yang sama kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah.

Ini menunjukkan bahwa banyak persoalan relasi bukan sekadar masalah etika, melainkan masalah teologis. Apa yang diyakini sering kali tidak selaras dengan cara hidup. Jika Allah mengasihi manusia, maka Ia juga mengasihi orang orang yang mungkin menyakiti kita. Inilah yang mengubah cara pandang terhadap orang asing, orang yang berbeda latar belakang, bahkan orang yang menyebalkan sekalipun. CS Lewis pernah berkata bahwa tidak ada manusia yang biasa biasa saja, karena setiap manusia adalah makhluk yang memiliki nilai kekal.

Kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati dan kasih, karena setiap orang adalah gambar Allah. Anugerah Kristus tidak hanya berlaku bagi diri sendiri, tetapi juga bagi mereka yang mungkin melukai kita. Kesadaran ini menolong kita untuk mawas diri dan belajar menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.

Implikasi yang ketiga adalah lahirnya konsep hak asasi manusia. Banyak orang mengira hak asasi manusia berasal dari Barat atau dari pencerahan Eropa. Namun sejarah menunjukkan bahwa konsep ini berakar dalam pemikiran Kristen. Seorang filsuf besar seperti Aristoteles bahkan pernah berkata bahwa ada bangsa bangsa yang terlahir untuk menjadi budak. Jika demikian, jelas bahwa gagasan kesetaraan manusia tidak otomatis muncul dari filsafat Barat.

Penelitian para cendekiawan menunjukkan bahwa prinsip hak asasi manusia berkembang dari pemikiran gereja. Para ahli hukum Kristen menyimpulkan bahwa jika manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, maka semua manusia, tanpa memandang ras, usia, atau kondisi, memiliki hak yang melekat. Kejadian 9:6 menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar Nya sendiri, sehingga hidup manusia tidak boleh dirampas. Karena itu manusia tidak boleh disiksa, ditindas, atau dibunuh.

Tokoh seperti Martin Luther King Jr juga menegaskan bahwa martabat manusia yang tak tergoyahkan bersumber dari fakta bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Di dalam gambar Allah tidak ada pembedaan kelas atau tingkatan. Semua manusia berharga di hadapan Tuhan. Inilah dasar hak asasi manusia.

Implikasi yang keempat adalah perlindungan terhadap kehidupan manusia. Jika nilai manusia ditentukan oleh kapasitas, maka perlindungan hidup akan semakin menyempit. Bayi, lansia, orang sakit, dan penyandang disabilitas akan dianggap tidak bernilai karena tidak produktif. Sejarah menunjukkan bahwa budaya tanpa Imago Dei cenderung membuang mereka yang dianggap lemah.

Namun gereja mula-mula memegang teguh kebenaran bahwa setiap manusia adalah gambar Allah. Karena itu mereka menolak aborsi, melindungi perempuan, membela janda dan yatim piatu, merawat orang sakit, dan memperhatikan kaum miskin. Imago Dei memperluas kasih, bukan mempersempitnya. Inilah alasan gereja terpanggil untuk peduli pada mereka yang terpinggirkan.

Setelah melihat betapa berharganya manusia dan luasnya implikasi Imago Dei, muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari. Jika manusia segambar dan serupa dengan Allah, mengapa dunia dipenuhi kekerasan dan ketidakadilan. Mengapa ada terorisme, genosida, perbudakan, kemiskinan, dan penghinaan antar manusia.

Masalahnya terletak pada kerusakan gambar Allah di dalam diri manusia. Ketika gambar itu rusak, manusia gagal menghormati gambar Allah dalam diri sesama. Dari situlah lahir ketidakadilan, pertikaian, dan keretakan relasi.

          MAKNA GAMBAR ALLAH (IMAGO DEI)

Kita perlu memahami terlebih dahulu apa arti manusia diciptakan segambar dengan Allah. Sebab jika pemahaman ini keliru, kita juga akan salah mengerti mengapa manusia rusak dan bagaimana kerusakan itu bekerja di dalam diri kita.

2 Korintus 3:18 menyatakan bahwa manusia mencerminkan kemuliaan Allah.Kata mencerminkan dalam bahasa aslinya berarti memantulkan. 

Bayangkan sebuah cermin. Cermin memiliki dua fungsi utama. Pertama, refleksi. Manusia diciptakan untuk memantulkan gambar Allah, menyatakan karakter Allah di dalam hidupnya. Itulah sebabnya manusia memiliki moral. 

Mengapa manusia bisa merasa bersalah ketika berbohong atau menyakiti sesama. Mengapa manusia memiliki kepekaan terhadap keadilan dan ketidakadilan. Binatang tidak memiliki hal ini. Seekor kucing tidak pernah merasa bersalah ketika menangkap tikus. Itu adalah insting. Tikus pun tidak pernah mengorganisasi protes terhadap kucing. Kesadaran moral hanya ada pada manusia. Dari mana datangnya standar benar dan salah itu. Itu berasal dari karakter Allah yang tercermin di dalam diri manusia.

Namun gambar Allah bukan hanya tentang refleksi, melainkan juga representasi. Manusia dipanggil untuk mewakili Allah dengan menghadirkan keteraturan, keadilan, dan kehidupan di dunia. Ketika manusia hidup hanya menurut insting, ia gagal mencerminkan Allah dan kehilangan makna. Manusia tidak diciptakan untuk menciptakan makna sendiri, melainkan untuk menerima makna dari Allah dan memantulkannya kepada dunia.

Gambar Allah juga tampak dalam sifat relasional manusia. Karena Allah adalah Tritunggal yang hidup dalam relasi kasih, manusia pun diciptakan untuk hidup dalam relasi. Relasi membentuk dan mempengaruhi manusia secara mendalam. Itulah sebabnya komunitas menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Hidup bergereja bukan sekadar aktivitas, melainkan ruang pembentukan.

Selain itu, manusia adalah makhluk rohani dan penyembah. Seperti cermin yang harus menghadap kepada sumber cahaya, manusia diciptakan untuk menghadap kepada Allah. Manusia adalah penyembah. Tidak pernah ada sekelompok binatang yang membangun sistem penyembahan. Namun dimanapun manusia berada, bahkan di tempat paling terpencil sekalipun, selalu ada sistem kepercayaan dan ritual. Itu karena manusia diciptakan untuk menyembah.

Masalah muncul ketika manusia tidak menyembah Allah, tetapi menyembah ciptaan. Penyembahan itu mungkin tidak berbentuk patung, tetapi karier, keluarga, pasangan, reputasi, bahkan pelayanan. Ketika sesuatu membuat kita berkata, jika aku memiliki ini maka aku bernilai, di situlah penyembahan telah bergeser. Nilai tidak lagi bersumber dari gambar Allah, tetapi dari pencapaian dan pengakuan manusia.

Ketika Allah tidak lagi menjadi pusat, orang lain mulai diperlakukan sebagai alat. Mereka dipaksa menjadi sumber rasa aman, harga diri, dan pembenaran diri. Namun manusia berdosa tidak pernah bisa menjadi pusat yang kokoh. Akibatnya muncul kekecewaan, kecemasan, overthinking, dan relasi yang melelahkan. Pernikahan menjadi menekan, persahabatan menjadi manipulatif, bahkan pelayanan rohani pun bisa menguras jiwa.

Masalah terbesar manusia bukanlah kekurangan nilai, melainkan kesalahan sumber nilai. Cermin jiwa manusia menghadap ke arah yang salah. Kita mencari rasa berharga dari hal hal yang tidak mampu menopang jiwa. Itulah sebabnya hidup terasa lelah, mudah tersinggung, dan sulit mengasihi. Ketika cermin itu tidak menghadap kepada Allah, refleksi hidup menjadi rusak.

Pertanyaannya kemudian tidak terhindarkan. Jika gambar Allah itu rusak, siapa yang dapat memulihkannya. Jika manusia tidak mampu menciptakan maknanya sendiri, siapa yang sanggup memberinya makna. Jika cermin itu salah arah, ke mana seharusnya ia diarahkan. Nasihat tidak cukup. Resolusi pribadi tidak cukup. Moralitas dan agama saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah sumber cahaya yang baru.

          PEMULIHAN GAMBAR ALLAH (IMAGO DEI)

Banyak orang bertanya bagaimana mungkin kita menyembah Allah yang tidak kelihatan. Alkitab menjawabnya dengan jelas. Kolose 1:15 menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Alkitab tidak berkata bahwa Yesus sekadar menunjukkan jalan kepada Allah, melainkan bahwa di dalam diri Yesus, Allah sendiri dinyatakan secara sempurna. Siapa melihat Yesus, ia telah melihat Bapa.

Imago Dei yang dirusak oleh Adam kini digenapi secara sempurna oleh Adam yang kedua, yaitu Yesus Kristus. Karena itu pemulihan gambar Allah tidak mungkin dilepaskan dari Kristus. Pertanyaannya kemudian, mengapa banyak orang membaca Alkitab tetapi hidupnya tidak berubah. Paulus menjawabnya dalam 2 Korintus 3:14–16. Ia berkata bahwa ada selubung yang menutupi hati ketika firman dibaca tanpa Kristus. Selubung itu hanya tersingkap ketika hati berbalik kepada Tuhan. Tanpa Kristus, manusia hanya beragama.

Paulus melanjutkan bahwa setiap kali mereka membaca kitab Musa, selubung itu menutupi hati mereka. Namun ketika hati seseorang berbalik kepada Tuhan, selubung itu diambil. Bagaimana caranya hati berbalik kepada Tuhan. Dengan memandang kepada Kristus. Banyak orang membaca hukum, perintah, dan prinsip hidup, tetapi tidak melihat Kristus dan Injil. Mereka hanya melihat apa yang harus dilakukan, bukan apa yang telah Allah Tritunggal lakukan bagi mereka melalui Yesus Kristus.

Karena itu salib selalu menjadi pusat perhatian. Salib adalah paradoks imago Dei. Yesus Kristus adalah gambar Allah yang sempurna, manusia sejati yang hidup tanpa dosa. Namun di kayu salib, Ia dipermalukan, ditelanjangi, dihina, disalibkan, dan mati. Semua itu terjadi agar gambar Allah yang rusak di dalam diri manusia tidak dihancurkan, melainkan diselamatkan dan dipulihkan.

Saat seseorang diliputi overthinking dan merasa nilai dirinya rendah, arahkan pandangan kepada salib. Di sanalah kekudusan Allah dan kasih Allah bertemu. Di salib terlihat betapa seriusnya kerusakan dosa manusia, sampai Anak Allah harus mati menanggung semuanya. Namun pada saat yang sama terlihat pula betapa besarnya kasih Allah kepada manusia berdosa. Kepada mereka yang pernah merendahkan sesama, mendiskriminasi, mengeksploitasi, memanipulasi, bahkan melakukan dosa besar, kasih Allah tetap dinyatakan. Anak Allah rela mati untuk menebus manusia seperti kita.

Ketika seseorang sungguh melihat hal ini, hatinya mulai berkata bahwa ia tidak perlu lagi mencari nilai diri di tempat yang salah. Cermin hidup seharusnya diarahkan kepada Kristus. Jika ingin berubah dan mengalami pemulihan, maka cermin jiwa harus kembali menghadap kepada sumber terang. Injil tidak berkata agar manusia membersihkan cerminnya lebih rajin. Injil berkata agar cermin itu diarahkan kepada Kristus. Saat itu terjadi, pantulan kemuliaan Allah di dalam hidup akan semakin terang.

Selanjutnya dalam 2 Korintus 4 Paulus menjelaskan mengapa ia tidak memberitakan dirinya sendiri. Ia berkata bahwa yang diberitakan adalah Yesus Kristus sebagai Tuhan. Allah yang berkata terang bersinar dari kegelapan adalah Allah yang sama yang membuat terang itu bersinar di dalam hati manusia, sehingga kemuliaan Allah terlihat pada wajah Kristus. Jika ingin melihat kemuliaan Tuhan, pandanglah wajah Kristus. Memandang Kristus mendorong pertobatan, mendorong perubahan, dan menumbuhkan ketaatan.

Saya pernah mendampingi seorang jemaat yang secara lahiriah hidupnya tampak baik. Pekerjaan stabil, keluarga terlihat rapi, aktif di gereja. Namun suatu hari ia berkata bahwa ia letih. Ia tahu ayat tentang datang kepada Yesus untuk memperoleh kelegaan, tetapi ia tetap merasa lelah. Setelah berbincang lebih dalam, terlihat bahwa nilai dirinya dibangun dari keharusan untuk selalu terlihat hebat, sukses, dan berhasil. Ketika gagal, ia hancur. Ketika berhasil, ia tetap cemas karena takut kehilangan semua itu.

Kami berproses bersama secara perlahan. Injil mulai menegurnya. Ia akhirnya berkata bahwa ia mulai mengerti bahwa dirinya berharga bukan karena kesuksesan, melainkan karena ia adalah gambar Allah yang telah ditebus oleh Kristus. Perubahan itu tidak terjadi seketika. Kami sama sama belajar memandang kepada Kristus. Saya pun mengakui bagaimana sering kali pelayanan menjadi dasar harga diri saya, dan saya terus bertobat dengan kembali memandang Kristus.

Perjalanan ini belum selesai. Kita semua masih berada di dalam proses yang sama. Namun dampak pemulihan imago Dei sangat nyata. Ketika gambar Allah dipulihkan di dalam diri, kita mulai menghormati gambar Allah di dalam diri orang lain. Kita tidak lagi merendahkan sesama dengan kata kata kasar. Kita mulai melihat bahwa setiap orang dikasihi Tuhan sebagaimana kita dikasihi. Dari sanalah lahir kerendahan hati, kelembutan, kejujuran, dan kasih. Buah Roh mulai nyata, karena hati semakin kagum kepada Kristus dan manusia baru terus diperbarui dari hari ke hari.

REFLEKTIF

  1. Hal apa yang menentukan nilai diri atau rasa berharga saya akhir akhir ini? Apakah Kristus… atau sesuatu yang lain?
  2. Apakah kehadiran saya membuat orang lain merasa dihargai, atau justru merasa direndahkan atau dimanfaatkan?
  3. Bagian mana dalam hidup saya yang perlu saya bawa kepada Kristus untuk dipulihkan oleh Nya?

ORANG BERINJIL

Tidak malu mengakui kerusakan dalam dirinya, karena Gambar Allah di dalamnya sudah dipulihkan melalui Kristus.

Tidak membangun nilai diri dari pencapaiannya, namun sadar bahwa nilai dirinya aman oleh salib Kristus.

Tidak merendahkan siapapun, karena melihat Kristus mati bukan hanya untuk dirinya, namun juga untuk orang lain.