Bacaan: Kejadian 1:1-10, 22-25, 31
1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
1:3 Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.
1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.
1:6 Berfirmanlah Allah: "Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air."
1:7 Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian.
1:8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.
1:9 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering." Dan jadilah demikian.
1:10 Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:22 Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: "Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak."
1:23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.
1:24 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar." Dan jadilah demikian.
1:25 Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Tahun baru sering datang dengan resolusi dan semangat baru, tetapi realitas dunia justru terasa semakin tidak tenang. Berita dua minggu terakhir dipenuhi ketegangan geopolitik, ancaman perang, ketidakstabilan ekonomi global, dan dinamika di berbagai negara, termasuk Indonesia. Masalah lama belum selesai, masalah baru terus muncul, sehingga banyak orang memasuki tahun ini dengan kekhawatiran dan kecemasan tentang masa depan. Kalender berganti, tetapi dunia terasa rapuh dan sulit ditebak.
Di tengah derasnya berita, muncul pertanyaan ke mana hidup ini sedang menuju. Banyak orang meminta damai dari Tuhan, tetapi tidak menemukannya karena cara mereka membaca realitas tetap menggunakan lensa dunia. Manusia tidak mungkin berhenti berpikir, persoalannya adalah dengan lensa apa ia menafsirkan hidup. Jika cerita yang dipercayai keliru, maka ketakutan akan menguasai hati.
Kita hidup di zaman yang banjir informasi. Notifikasi datang tanpa henti, namun arah hidup justru semakin kabur. Banyak orang sibuk bekerja tanpa tahu tujuannya, aktif secara religius tetapi tetap gelisah. Masalah utamanya bukan kurangnya berita, melainkan cara membaca zaman dan menafsirkan kehidupan yang sering keliru. Pertanyaan terpenting bukan apa yang terjadi di dunia, melainkan dari lensa mana semuanya dipahami.
Itulah sebabnya kita perlu kembali ke Kejadian pasal satu. Ketika seseorang memiliki lensa yang benar, cara hidupnya akan benar dan hatinya menjadi lebih tenang. Dua orang bisa membaca berita yang sama. Yang satu dipenuhi ketakutan, yang lain memilih ketenangan. Perbedaannya bukan pada beritanya, melainkan pada cerita besar yang dipercayai. Hidup tidak ditentukan oleh headline, tetapi oleh cerita besar yang membentuk cara pandang.
Jika cerita besarnya keliru, krisis akan membawa keputusasaan, penderitaan terasa sia sia, pekerjaan menjadi beban, dan masa depan tampak menakutkan. Tetapi jika ceritanya benar dan kita memahami penciptaan, kejatuhan, penebusan, pembaharuan, dan pemulihan, maka kita tahu bagaimana akhirnya. Kita tahu cerita besarnya, dan karena itu kita dapat hidup dengan tenang.
Untuk membaca zaman yang rapuh ini dengan benar, kita harus kembali ke awal cerita. Kejadian pasal satu mengundang kita untuk melihat seluruh kehidupan di dunia yang goyah ini melalui lensa yang benar. Kitab Kejadian tidak dibuka dengan tips hidup sukses atau cara bertahan di tengah krisis. Yang pertama kali dinyatakan adalah siapa yang menciptakan dunia dan siapa yang menciptakan alam semesta. Ketika hal itu dipahami, ketenangan akan lahir. Karena itu, hari ini ada tiga poin utama. Pertama, memahami doktrin penciptaan. Kedua, mempraktikkan doktrin penciptaan. Ketiga, mengalami doktrin penciptaan itu melalui Injil.

MEMAHAMI DOKTRIN PENCIPTAAN
Alkitab dibuka dengan satu pernyataan yang sederhana namun sangat kuat, Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Kalimat ini menegaskan satu hal yang mendasar, inisiatif ada pada Allah. Hidup kita dan seluruh alam semesta bukan hasil kekacauan, bukan kebetulan, dan bukan sesuatu yang acak. Semuanya dimulai dari Tuhan. Karena Tuhan yang memulai, maka ada maksud dan tujuan di dalamnya. Ini bukan benturan tanpa makna.
Allah menciptakan bukan dengan cara yang sembarangan, tetapi melalui firman. Dalam Kejadian 1:3 tertulis, berfirmanlah Allah. Ketika Allah berfirman, kekacauan berubah menjadi keteraturan. Yang gelap menjadi terang, yang kosong menjadi terisi, yang kacau menjadi tertata. Firman Allah memiliki kuasa untuk mengubah dan menata.
Itulah sebabnya firman sangat penting. Setiap minggu kita datang ke gereja bukan untuk hiburan atau komedi, tetapi untuk mendengar firman Tuhan. Firman Allah bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk menata hidup. Ketika hidup mulai kacau, hati gelisah, pikiran tidak tenang, yang dibutuhkan bukan lebih banyak berita, melainkan firman.
Banyak orang hari hari ini mengalami kekacauan batin karena yang memenuhi pikiran adalah berita, ketakutan, dan suara manusia. Jika yang direnungkan adalah kondisi dunia atau pendapat orang tentang diri kita, tidak mengherankan kecemasan dan overthinking terus menguasai. Masalahnya bukan kurang informasi, tetapi hidup yang tidak ditundukkan kepada firman Tuhan.
Kejadian 1 dengan jelas menyatakan siapa yang menjadi pusat dari segala sesuatu. Bukan manusia, melainkan Tuhan. Kitab ini tidak sedang menjawab debat sains atau usia bumi, tetapi menegaskan kebenaran yang mendasar, Tuhan adalah yang berdaulat.
Pemahaman ini sangat penting memasuki tahun 2026. Ketika teknologi berkembang cepat, ekonomi tidak stabil, dan masa depan terasa tidak pasti, pusat hidup harus jelas. Jika Tuhan dan firman Nya bukan fondasi, maka uang, suara dunia, dan ketakutan akan mengambil alih pusat hidup dan membuat hati mudah goyah.
Jika kita tidak menyadari siapa yang berfirman pertama, hidup akan dikendalikan oleh suara suara lain. Karena itu pusat hidup harus kembali kepada Tuhan, dan yang perlu terus direnungkan adalah firman Nya. Firman itulah yang membawa keteraturan, ketenangan, dan damai di tengah dunia yang goyah.

MEMPRAKTIKKAN DOKTRIN PENCIPTAAN
Kejadian pasal satu menunjukkan bahwa doktrin ini bukan hanya konsep teologis, tetapi sangat praktis dan relevan bagi semua orang, bagi keluarga, anak muda, pasangan suami istri, para profesional, dan pelaku usaha.
Perhatikan Kejadian 1 ayat 4, 10, 12, 18, 21, dan 25. Ada satu frasa yang terus diulang: “Allah melihat bahwa itu baik”. Bahkan di ayat 31 kita membaca, maka Allah melihat segala sesuatu yang dijadikanNya itu sungguh amat baik. Ini bukan sekadar pengamatan, tetapi deklarasi ilahi. Allah menyatakan bahwa ciptaan Nya itu baik.
Poin pertama dalam bagian ini adalah bahwa ciptaan itu baik. Kebaikan ciptaan memiliki implikasi yang penting. Untuk apa Tuhan menciptakan segala sesuatu itu baik. Supaya ciptaan itu dinikmati oleh Dia dan juga oleh manusia. Banyak kesalahpahaman muncul karena ada pandangan yang berkata bahwa dunia ini ilusi dan tubuh itu jahat. Bahkan di dalam kekristenan, ada anggapan bahwa yang rohani itu penting sementara yang duniawi tidak penting. Memang ada firman Tuhan yang berkata bahwa persahabatan dengan dunia adalah perseteruan dengan Allah, tetapi itu tidak berarti Tuhan anti kenikmatan atau anti hal hal yang baik.
Ada pengalaman masa lalu ketika masih kuliah dan belum memahami teologi dengan baik, terlibat dalam sebuah gerakan yang melihat hampir semua hal duniawi sebagai sesuatu yang harus ditolak. Menonton televisi dianggap berbahaya, mendengarkan musik tertentu dianggap membawa pengaruh roh yang salah, bahkan benda-benda tertentu dibakar dalam nama kesalehan. Akibatnya, hidup dipenuhi ketakutan. Seolah olah semua yang ada di dunia tidak boleh dinikmati dan semuanya harus serba rohani. Padahal Roh Kudus adalah Roh yang membawa damai, bukan ketakutan.
Ada paham yang berkata bahwa yang rohani itu penting dan yang duniawi tidak penting. Itu keliru. Dunia dan ciptaan ini baik karena Allah yang menciptakannya. Itulah sebabnya ciptaan dapat dinikmati. Ketika berlibur, seseorang tidak harus hidup dalam tekanan rohani yang berlebihan. Pemandangan boleh dinikmati, makanan enak boleh disyukuri. Firman Tuhan berkata dalam 1 Timotius 4:4 bahwa semua yang diciptakan Allah itu baik dan tidak ada yang haram bila diterima dengan ucapan syukur.
Bahkan mukjizat pertama Yesus terjadi di sebuah pesta pernikahan. Itu menunjukkan bahwa Tuhan tidak anti perayaan. Ia menghargai pernikahan, persekutuan, dan sukacita. Ketika Yesus mengubah air menjadi anggur, Ia menunjukkan kuasa Nya atas ciptaan dan menyatakan bahwa Ia bersukacita atas dunia yang Ia ciptakan. Yesus tidak datang untuk mematikan dunia materi, melainkan untuk menebus dan memulihkannya. Anggur dalam Alkitab sering melambangkan sukacita, perayaan, dan kebaikan dunia yang Allah ciptakan.
Implikasinya jelas. Tuhan ingin manusia menikmati hidup. Tuhan tidak anti sukacita. Orang percaya tidak perlu memandang dunia materi sebagai musuh rohani. Namun di sini muncul bagian kedua yang penting. Ciptaan itu baik, tetapi ciptaan tidak boleh dijadikan Tuhan. Segala sesuatu diciptakan oleh Allah dan karena itu bersifat terbatas. Ciptaan boleh dinikmati, tetapi tidak boleh disembah. Boleh dinikmati, tetapi tidak boleh menjadi pusat hidup.

Rasul Paulus menulis bahwa segala sesuatu halal, tetapi tidak semuanya berguna. Segala sesuatu itu baik, tetapi tidak boleh diperhamba olehnya. Ini penting untuk menjaga dari dua ekstrem. Yang satu adalah hedonisme, yaitu menjadikan kenikmatan dunia sebagai tujuan hidup. Yang lain adalah asketisme, yaitu menolak semua yang duniawi dan menganggapnya jahat. Keduanya tidak sesuai dengan Injil.
Injil mengajarkan untuk menikmati dunia sebagai ciptaan Allah, tetapi tidak menjadikan dunia itu Tuhan. Di sinilah seseorang bisa bekerja dengan sungguh sungguh tanpa menjadikan pekerjaan sebagai berhala. Bisa membangun masa depan tanpa menggantungkan identitas dan harga diri pada pencapaian. Bisa menikmati liburan dan makanan tanpa jatuh pada hedonisme. Injil menempatkan dunia pada tempat yang benar.
Yesus sendiri tidak anti kebutuhan duniawi. Dalam kisah orang lumpuh yang diturunkan dari atap, Yesus melihat dua kebutuhan sekaligus. Ia mengampuni dosa orang itu dan kemudian menyembuhkan tubuhnya. Kebutuhan rohani dipenuhi dan kebutuhan jasmani juga diperhatikan. Keselamatan jiwa adalah yang terutama, tetapi kebutuhan jasmani tidak diabaikan. Jika seseorang tidak mengalami kesembuhan di dunia ini, pengharapan tetap ada pada langit baru dan bumi baru, ketika segala sesuatu dipulihkan sepenuhnya.
Iman yang benar menolong seseorang untuk menaruh harapan pada yang kekal tanpa mengabaikan kehidupan saat ini. Orang percaya bisa menikmati tanpa melekat, bisa kehilangan tanpa hancur, dan bisa diberkati tanpa memberhalakan berkat.
Bagian ketiga dari poin ini terlihat dalam Kejadian 1 ayat 26 dan 27. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Artinya martabat manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, pendidikan, atau pencapaian, melainkan oleh Penciptanya. Karena itu tidak ada alasan untuk merendahkan orang lain. Setiap manusia memiliki nilai karena diciptakan menurut gambar Allah, meskipun gambar itu telah rusak oleh dosa.
Kesadaran ini membuat seseorang tidak anti terhadap mereka yang berbeda iman, tidak anti sains, tidak anti seni, dan tidak menutup diri terhadap pemikiran orang lain. Seseorang bisa belajar dari siapapun tanpa kehilangan iman. Membaca, mendengar, dan memahami sudut pandang orang lain justru menolong untuk mengerti dunia dan menjangkau sesama dengan lebih baik.
Ini juga mengoreksi kesombongan rohani. Jika segala sesuatu adalah anugerah, tidak ada alasan untuk merasa lebih unggul. Tidak ada ruang untuk elitisme rohani. Injil meruntuhkan sikap merasa paling benar dan mengajak untuk hidup dalam kerendahan hati.
Bagian keempat adalah pentingnya memperjuangkan ciptaan. Kekristenan adalah iman yang berpartisipasi dalam pemulihan dunia. Manusia menerima mandat untuk memenuhi bumi, menaklukkannya, dan mengelolanya. Meskipun dosa merusak ciptaan, mandat ini tetap berlaku.
Karena ciptaan penting bagi Allah, orang percaya tidak boleh cuek terhadap ketidakadilan. Harus peduli pada penderitaan, memperjuangkan keadilan, membela yang tertindas, dan hidup dalam kejujuran. Perjuangan untuk hidup benar tidak sia sia. Tuhan melihat dan memperhitungkan setiap jerih payah. Semua ini adalah bagian dari partisipasi dalam pemulihan yang kelak akan digenapi sepenuhnya ketika Yesus Kristus datang kembali, di langit baru dan bumi baru, ketika keadilan ditegakkan dan kebaikan menang sepenuhnya.

MENGALAMI DOKTRIN PENCIPTAAN (MELALUI INJIL)
Bagian terakhir berbicara tentang mereka yang mengalami doktrin penciptaan melalui Injil. Kita bisa melihatnya dari pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan sehari hari. Setelah liburan akhir tahun, banyak orang kembali dengan cerita tentang keindahan alam. Pantai, gunung, matahari terbit dan terbenam, semuanya mudah menyentuh hati. Ada momen ketika kita duduk diam, memandang pemandangan itu, dan muncul rasa kagum yang sulit dijelaskan. Hidup terasa indah, seolah hati sedang ditenangkan.
Namun perasaan itu tidak bertahan lama. Ketika rutinitas kembali, tekanan hidup muncul lagi. Stres datang kembali. Itulah sebabnya banyak orang menyebut pengalaman itu sebagai healing. Ada kenikmatan yang nyata, tetapi selalu sementara. Hal yang sama terjadi dengan kenikmatan lain. Makanan enak, pengalaman menyenangkan, atau pencapaian tertentu terasa sangat memuaskan di awal, tetapi lama kelamaan menjadi biasa dan bahkan hambar. Kenikmatan selalu menurun. Fenomena ini sering disebut sebagai hukum penurunan kenikmatan. Pertanyaannya, mengapa manusia mengalami hal seperti ini.
C S Lewis menyebutnya sebagai nostalgia kosmis. Seakan akan manusia memiliki ingatan yang tidak disadari. Ingatan akan zaman Adam, ketika manusia hidup dalam persekutuan yang utuh dengan Tuhan. Meskipun manusia telah jatuh dalam dosa dan ciptaan telah rusak, ciptaan itu masih mengkhotbahkan kemuliaan Allah melalui keindahannya. Setiap kali manusia memandang ciptaan, ciptaan itu seakan bernyanyi. Mazmur 19 berkata bahwa langit, bintang bintang, matahari, dan bulan menceritakan kemuliaan Allah.
Keindahan itu seolah berkata, kamu pernah memiliki ini. Kamu pernah hidup dalam persekutuan dengan Sang Pencipta. Tetapi karena dosa, persekutuan itu hilang. Pada mulanya Allah menciptakan segala sesuatu dan melihat bahwa semuanya sungguh amat baik. Termasuk manusia. Adam dan Hawa diciptakan dalam kondisi yang sungguh amat baik.
Di sinilah muncul konsep benediction. Kata ben berarti baik, diction berarti kata. Benediction adalah kata kata baik dari Allah. Pada waktu Allah menciptakan alam semesta, Ia mengucapkan kebaikan. Pada waktu manusia diciptakan, manusia hidup di bawah kata kata baik Allah. Namun ketika dosa masuk, manusia kehilangan benediction itu. Alkitab berkata bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Yang hilang bukan hanya moralitas, tetapi kata baik dari Allah, perkenanan Allah, afirmasi ilahi.
Itulah sebabnya ada kekosongan di dalam diri manusia. Ada rasa lapar dan haus yang tidak pernah benar benar terpuaskan. Manusia berusaha mengisi kekosongan itu dengan berbagai cara. Dengan pengakuan, pencapaian, prestasi, kekayaan, relasi, bahkan pelayanan. Kita berpikir nilai diri akan muncul jika berhasil, jika dihargai, jika dipuji, jika dicintai. Kita mengejar sukses karena kita sedang mencari kata baik itu. Kita sedang mencari benediction.

Masalahnya, ketika benediction itu dicari dari hal hal yang rapuh, hasilnya tidak pernah cukup. Kepuasan itu selalu sementara. Kekosongan itu selalu kembali. Lalu apa solusinya.
Jawabannya muncul dengan jelas di dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Injil Yohanes. Kitab ini dibuka dengan kalimat yang sangat mirip dengan kitab Kejadian. Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama sama dengan Allah. Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia. Tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yang telah jadi. Namun Firman itu tidak tinggal jauh di surga. Firman itu menjadi manusia dan diam di antara kita. Dialah Yesus Kristus.
Yesus menjalani kehidupan yang seharusnya dijalani oleh Adam dan Hawa. Kehidupan yang seharusnya dijalani oleh kita semua. Ia hidup sempurna. Ketika Ia dibaptis dan keluar dari air, langit terbuka, Roh Kudus turun seperti merpati, dan terdengar suara dari surga. Inilah Anak Ku yang Kukasihi, kepada Nyalah Aku berkenan. Untuk pertama kalinya sejak Taman Eden, seorang manusia kembali menerima benediction dari Allah.
Namun kisah itu tidak berhenti di sana. Tiga tahun kemudian, di Taman Getsemani, Yesus berdoa agar cawan penderitaan itu berlalu. Tidak ada jawaban. Keheningan. Di kayu salib, Ia berseru, Allah Ku, Allah Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku. Lagi lagi keheningan.
Yesus yang tidak berdosa mengalami keterpisahan, kegelapan, dan maut. Ia menanggung apa yang seharusnya kita tanggung. Sang Firman dibungkam. Sang Terang masuk ke dalam kegelapan. Sang sumber berkat menjalani kutuk. Semua itu dilakukan supaya mereka yang percaya kepada Nya menerima kembali benediction dari Allah.
Di dalam Kristus, kita kembali mendengar suara itu. Inilah anak Ku yang Kukasihi. Kepada Nyalah Aku berkenan. Perkenanan itu bukan berdasarkan pencapaian, kekayaan, atau keberhasilan, tetapi berdasarkan apa yang Kristus telah lakukan. Itulah identitas anak anak Tuhan. Kemuliaan yang hilang dipulihkan. Gambar Allah yang rusak diperbarui. Roh Kudus melahirbarukan kita sehingga kita hidup sebagai ciptaan baru. Barang siapa ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang.
Inilah lensa hidup orang percaya. Saya sendiri belajar bahwa sering kali saya tidak mengejar hal yang jahat, melainkan hal yang baik, pelayanan yang benar dan pengaruh Injil yang luas. Namun tanpa sadar, saya mulai menilai diri dari keberhasilan atau kegagalan. Ketika semuanya berjalan baik, saya merasa baik. Ketika ada kritik dan rencana tidak berjalan sesuai harapan, saya merasa hancur. Di titik itu Injil menegur saya. Saya tidak perlu membuktikan diri lagi. Di dalam Kristus, perkenanan Allah sudah diberikan.

Yang dibutuhkan bukan prestasi, melainkan perenungan akan benediction yang telah diterima. Injil mengajarkan untuk beristirahat, baik dalam keberhasilan maupun kegagalan. Hal yang sama berlaku dalam setiap area hidup. Pertanyaannya selalu tentang lensa apa yang kita pakai. Jika Kristus, Sang Pencipta dan Penebus, menjadi lensa hidup kita, maka hidup memiliki arah, pergumulan memiliki makna, penderitaan tidak sia sia, dan dunia dapat dinikmati tanpa memperbudak hati.
Pertanyaan Reflektif

Orang Berinjil
Mampu menikmati dunia dengan penuh syukur, namun tidak menggantungkan hidupnya pada dunia.
Berani kehilangan tanpa putus asa atau hancur, dan memperoleh keberhasilan tanpa menjadi sombong.
Mampu memandang sesama manusia dengan hormat sebagai gambar Allah, bahkan ketika ia tidak setuju atau berbeda.