Sebelum Segalanya Ada

Saat berdiri di ambang tahun yang baru, perasaan kita sering kali campur aduk. Ada harapan, tetapi juga kecemasan.
Ada semangat untuk memulai kembali, tetapi juga kelelahan karena pola lama yang terus berulang.

Di dunia modern, waktu sering terasa seperti treadmill tanpa akhir. Kita terus berlari mengejar pencapaian, kesuksesan, atau sekadar bertahan hidup. Namun ironisnya, semakin cepat kita berlari, semakin sering kita kehilangan rasa tujuan yang sejati.

Sebagian orang berkata,
“Tahun baru, aku yang baru. Aku adalah penentu takdirku sendiri. Tahun ini pasti akan berbeda.”
Yang lain lebih sinis berkata,
“Semua ini hanyalah kebetulan biologis dalam alam semesta yang acak.”

Namun keduanya sama-sama meninggalkan satu pertanyaan besar yang tak terjawab:

Apakah hidup ini sungguh berarti? Dari mana kita berasal?
Dan untuk apa kita ada?

Melalui Kejadian 1, kita akan melihat bagaimana Injil menjawab kecemasan, harapan, dan kekosongan manusia modern dengan membawa kita kembali kepada Sang Awal, Allah yang mencipta, menopang, dan menebus.

Join us this Sunday!
READING THE TIME through THE LENS OF GENESIS
“Sebelum Segalanya Ada”

Sunday Service, 4 Januari 2026⏰ 08:00 | 10:30 | 13:00
📺 Live Streaming ➡️ www.gibeon.church

#genesisgibeonseries #gibeonchurchsby #bukantempatuntukorangsempurna #disempurnakanolehkuasainjil #gerejainjili #gerejasurabaya

Di dalam minggu ini, kami juga membahas tentang Perenungan Katekismus yang berisi

Pertanyaan Minggu ke-1

Apakah satu-satunya penghiburan kita dalam kehidupan dan kematian?

Jawaban 

Bahwa diri kita bukanlah milik kita sendiri tetapi tubuh dan jiwa, baik dalam hidup maupun mati ialah milik Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus. Dia telah membayar penuh semua dosa kita dengan darahNya yang berharga, dan menjaga kita sedemikian rupa sehingga tidak ada sehelai rambut pun dari kepala kita yang bisa jatuh tanpa kehendak Bapa kita yang di Sorga. 

Bacaan Ayat 

Roma 14:7-8

[7]Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri.
[8]Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.