Sebelum Segalanya Ada

Reading The Times Through The Lens of Genesis – Week 1 “Sebelum Segalanya Ada”

Ps. Dave Rindy

BACAAN: KEJADIAN 1:1-3

1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 

1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. 

1:3 Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. 

Kita berada di awal tahun 2026. Biasanya awal tahun diisi dengan resolusi, harapan, dan rencana besar untuk setahun ke depan. Ada yang optimis, ada yang skeptis, dan ada pula yang justru diliputi kecemasan. Harapan dan ketakutan bercampur menjadi satu. Perasaan yang sangat campur aduk.

Di dunia modern, hidup berjalan begitu cepat, seperti berada di atas treadmill yang tidak pernah berhenti. Sampai pada satu titik, kelelahan muncul dan pertanyaan pun lahir. Apakah semua ini bermakna? Dari mana aku datang? Untuk apa aku ada di sini? Pertanyaan ini bukan hal baru. Ini adalah pertanyaan eksistensial yang selalu bergema dalam hati manusia yang merindukan makna.

Karena itu, di awal tahun banyak orang terjebak dalam dua sikap. Optimisme yang naif dan determinisme yang sinis. Optimisme yang naif berkata, tahun baru aku yang baru, aku penentu masa depanku sendiri. Maka resolusi dibuat dengan penuh semangat, bahkan sering kali tidak realistis. Tidak heran jika di awal tahun tempat gym selalu penuh. Sementara determinisme yang sinis berkata, biarlah terjadi apa yang harus terjadi. Semua hanyalah kebetulan semesta. Ketika gagal, semesta yang disalahkan.

Dua sikap ini sama sama meninggalkan kehampaan. Optimisme yang naif menaruh seluruh beban hidup pada diri manusia sendiri. Ketika gagal, beban itu berubah menjadi krisis identitas. Determinisme yang sinis bukan kebijaksanaan, melainkan keputusasaan yang dibungkus filosofi.

Karena itu, kita perlu kembali kepada blueprint, kepada desain awal. Ada sebuah pengalaman yang menolong untuk memahami hal ini. Sebuah rumah baru tampak baik dari luar, tetapi selalu bocor setiap kali hujan. Berulang kali diperbaiki oleh tukang yang berbeda, namun masalah tidak pernah tuntas. Sampai akhirnya ditemukan orang yang ikut membangun rumah itu sejak awal. Ia tahu persis titik lemahnya. Sekali diperbaiki olehnya, hujan deras turun, dan rumah tidak bocor lagi.

Masalahnya bukan pada usaha memperbaiki, tetapi pada siapa yang memahami desain awalnya. Hal yang sama terjadi dalam hidup. Ketika hidup retak, ketika jatuh dalam dosa dan kebingungan, manusia sering mencari jawaban dari sumber yang tidak mengenal Sang Pencipta. Filosofi dunia terdengar bijak, tetapi tidak menyentuh akar persoalan.

Karena itu, hari ini kita kembali kepada blueprint kehidupan. Kita masuk ke dalam eksposisi kitab Kejadian, kepada desain awal Allah. Kitab Kejadian sering dibaca hanya sebagai kisah masa lalu. Padahal secara teologis, kitab ini harus dibaca dalam terang metanarasi Injil. Kejadian bukan buku sains, melainkan pewahyuan tentang siapa Pencipta kita dan bagaimana manusia menemukan makna hidup di dalam relasi dengan Dia. Dari penciptaan yang baik, kejatuhan manusia, penebusan dalam Kristus, hingga pemulihan akhir, semuanya terhubung.

Itulah sebabnya Kejadian satu bukan sekadar cerita awal, tetapi fondasi untuk memahami realitas dan identitas manusia hari ini. Di dalam teks ini, kita akan merenungkan tiga kebenaran penting. Allah yang mendahului segala sesuatu, Allah yang hadir di tengah kekosongan dan Allah yang berfirman untuk memulihkan.

ALLAH YANG MENDAHULUI SEGALA SESUATU

1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 

Kalimat pada mulanya Allah sarat dengan makna yang sangat dalam. Alkitab tidak dibuka dengan materi, manusia, atau kekuatan magis, melainkan dengan Allah. Dalam bahasa aslinya, Beresit Bara Elohim (בְּרֵאשִׁית בָּרָא אֱלֹהִים), yang menyatakan bahwa awal dari seluruh realitas sepenuhnya bergantung kepada Allah. Ia mendahului waktu, tidak dibatasi ruang dan waktu, dan melampaui semuanya. Ia adalah Allah yang awal dan yang akhir.

Kata Elohim berbentuk jamak tetapi diikuti kata kerja tunggal. Ini bukan menunjuk banyak ilah, melainkan keagungan Allah yang esa. Pernyataan ini sangat berbeda dengan mitologi Timur Dekat Kuno yang melihat alam semesta lahir dari pertarungan para dewa dan kekacauan yang dianggap ilahi. Alkitab justru menegaskan bahwa kekacauan bukanlah kekuatan. Allah adalah Pribadi yang berdaulat.

Pada mulanya Allah juga menyatakan penciptaan dari ketiadaan. Allah menciptakan bukan dari bahan yang sudah ada, seperti yang biasa dilakukan manusia, tetapi dari yang tidak ada menjadi ada. Ia adalah penyebab pertama dari segala sesuatu, kausa prima, yang tidak disebabkan oleh apa pun dan menjadi dasar seluruh keberadaan.

Mengapa kebenaran ini penting? Karena ini menegaskan bahwa hidup kita bukan hasil kebetulan. Alam semesta memiliki awal dan akan memiliki akhir, dan pada awal itu ada Pribadi yang berdaulat. Jika Allah bukan penyebab pertama, maka hidup hanyalah rangkaian sebab akibat tanpa tujuan. Makna hilang, penderitaan menjadi sia sia, dan harapan hanya ilusi.

Namun hidup orang percaya tidak demikian. Hidup memiliki arah dan tujuan. Kebenaran ini menuntun kita pada syukur karena kita memiliki Allah yang hidup dan berkuasa. Sekaligus menuntun kita pada pertobatan, sebab sering kali ketakutan dan krisis identitas muncul karena kita meragukan kedaulatan Allah dan lebih mempercayai nilai diri dari prestasi daripada Allah yang melampaui segalanya.

Charles Spurgeon pernah berkata bahwa jika seseorang tidak dapat mempercayai Tuhan di tengah badai, bagaimana mungkin ia berani mempercayai Tuhan untuk hidup yang kekal. Iman kepada masa depan dibangun dari kepercayaan kepada Allah hari ini.

Jika Allah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan, maka hidup kita bukan kecelakaan. Kegagalan bukan akhir cerita. Kekosongan bukan takdir. Kebenaran ini memerdekakan, sebab Allah adalah pusat dari segala sesuatu dan seharusnya menjadi pusat hidup kita.

Allah yang menciptakan dari ketiadaan sanggup menciptakan pengharapan di tengah kehancuran. Makna sejati tidak ditemukan ketika diri sendiri menjadi pusat, tetapi ketika kita kembali kepada Sang Awal. Ia memiliki blueprint kehidupan kita. Ketika hidup terasa rusak, jalan keluarnya bukan mencari sumber lain, melainkan kembali kepada desain awal Sang Pencipta.

Kekristenan tidak dimulai dari garis awal, tetapi dari garis akhir. Di dalam Kristus, kita berjalan dari kemenangan menuju kemenangan. Dunia memang penuh ketidakpastian, tetapi kita memiliki satu kepastian, Allah yang setia menyertai hidup kita.

PERTANYAAN REFLEKTIF

  1. Jika saya benar-benar percaya bahwa Allah melampaui segala sesuatu, bagaimana seharusnya sikap saya menghadapi ketidakpastian hidup?
  2. Apakah selama ini saya lebih hidup seolah-olah segala sesuatu adalah kebetulan, atau menyadari bahwa setiap situasi adalah bagian dari rencana yang lebih besar?

ALLAH YANG HADIR DI TENGAH KEKOSONGAN

1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Ketika mempelajari kitab Kejadian, wajar jika muncul pergumulan tentang relevansinya bagi kehidupan nyata. Teks ini tidak berhenti pada konsep teologis, tetapi justru berbicara sangat dekat dengan perjalanan iman. Ketika direnungkan lebih dalam, Kejadian membuka makna yang menyentuh kehidupan sehari hari.

Firman Tuhan menyatakan bahwa bumi belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupinya. Allah tidak hadir setelah segala sesuatu rapi, tetapi justru hadir di tengah kekosongan. Istilah tohu wabohu menggambarkan keadaan yang belum terarah, belum berfungsi, dan belum bermakna. Pada titik inilah Allah mulai berkarya.

Roh Allah melayang layang di atas kekosongan itu. Ini bukan kekosongan akibat dosa, melainkan kondisi sebelum Allah mengisi dan memberi arah. Seperti pelukis di depan kanvas kosong, Allah berdiri di hadapan ciptaan yang belum diceritakan kisahnya.

Kekosongan yang manusia alami hari ini seringkali berbeda. Ia lahir dari dosa yang merusak relasi dengan Allah. Kekosongan itu mendorong manusia mengisinya dengan aktivitas, prestasi, dan pengakuan. Jadwal padat, senyum terjaga, tetapi jiwa tetap lelah dan hati tetap gelap.

Hidup seperti ponsel yang terus aktif dengan banyak aplikasi, tetapi baterainya hampir habis karena tidak terhubung dengan sumber daya. Aktivitasnya tidak salah, namun terputus dari sumber kehidupan. Kekosongan tidak bisa diisi oleh ciptaan, hanya oleh Sang Pencipta.

Kerinduan akan makna sejati adalah kerinduan akan desain awal. Ada nostalgia akan kehidupan yang utuh dan harmonis, seperti dalam Kejadian satu dan dua. Namun dosa membuat kerinduan itu tidak pernah terpuaskan oleh hal hal sementara.

Karena itu, kelelahan seringkali bukan karena hidup terlalu berat, melainkan karena hidup dijalani jauh dari Sang Pencipta. Jika hidup terasa kosong, itu bukan selalu tanda ketiadaan Allah. Justru sering kali itu adalah cara Allah menata ulang hati dan arah hidup.

Allah yang berkarya di tengah kekosongan pada awal penciptaan adalah Allah yang sama yang sedang bekerja dalam hidup kita hari ini. Kehilangan, kegagalan, dan kebingungan bisa menjadi awal dari karya baru Allah. Di tengah kehampaan, Ia sedang menulis ulang kisah hidup menurut kehendak Nya.

Firman Tuhan juga mengatakan bahwa Roh Allah melayang layang di atas permukaan air. Kata melayang layang ini sangat kaya makna. Dalam Ulangan 32:11, kata yang sama dipakai untuk menggambarkan rajawali yang melayang di atas anak anaknya, melindungi, mengerami, dan mempersiapkan kehidupan.

Artinya, kehadiran Roh Allah bukan kehadiran yang pasif. Itu adalah kehadiran yang penuh perhatian, perlindungan, dan persiapan. Ketika belum terlihat hasil, ketika belum menghasilkan sesuatu yang dianggap bernilai, Allah sedang mengerami kehidupan kita. Ia sedang menyiapkan sesuatu yang terbaik menurut kehendak dan waktu Nya.

Dunia sering berkata bahwa seseorang baru berharga ketika menghasilkan sesuatu. Ketika punya pengaruh, prestasi, dan pencapaian. Tetapi firman Tuhan berkata sebaliknya. Seseorang diperhatikan bahkan sebelum menjadi apa apa. Ketika orang lain memandang sebelah mata, Allah tetap memperhatikan dan melindungi.

PERTANYAAN REFLEKTIF

  1. Bagian mana dari hidup saya yang paling kosong saat ini? Apakah itu jiwa yang lelah meski pencapaian tinggi, atau kegelapan hati di balik senyuman?
  2. Apakah saat ini saya melihat kekosongan dan kelelahan sebagai kegagalan pribadi, atau sebagai "sinyal peringatan" dari jiwa yang rindu dipulihkan oleh Sang Sumber Kehidupan?

ALLAH YANG BERFIRMAN DAN MEMULIHKAN

1:3 Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. 

Dalam Kejadian satu ayat dua, bumi digambarkan belum berbentuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya. Namun pada ayat berikutnya, Allah berfirman dan memulihkan. Berfirmanlah Allah, jadilah terang, maka terang itu jadi.

Kisah ini sangat berbeda dari mitologi bangsa bangsa lain. Dalam mitologi Timur Dekat Kuno, terang sering dipahami sebagai dewa atau unsur ilahi. Alkitab menolak itu. Terang bukanlah ilah. Terang adalah ciptaan yang tunduk pada firman Allah. Bahkan terang diciptakan sebelum matahari ada. Ini menegaskan bahwa sumber terang bukan benda, melainkan Allah sendiri.

Allah tidak menciptakan terang melalui proses bertahap. Ia berfirman, dan terang itu jadi. Firman Allah memiliki kuasa. Kegelapan tidak pernah bisa menghasilkan terang. Demikian juga manusia tidak pernah bisa mengatasi kegelapan hidupnya dengan kekuatan sendiri.

Namun seringkali manusia mencoba melakukannya. Kita berusaha menciptakan terang dengan kekuatan sendiri. Jika aku berhasil, hidupku pasti terang. Prestasi memang bisa memberi rasa terang sementara, tetapi tidak pernah memberi keamanan identitas. Jika aku dicintai, aku akan merasa utuh. Maka relasi dijadikan sumber terang. Tetapi ketika relasi dijadikan sumber terang, yang muncul justru ketakutan. Ketakutan kehilangan, ketakutan ditolak, ketakutan tidak disukai.

Orang akhirnya hidup hanya untuk menyenangkan orang lain. Tidak berani berpendapat. Tidak berani berdiri teguh. Hanya mengikuti arus. Hidup menjadi takut tertinggal, mengikuti apa yang sedang viral, mengejar penerimaan. Ada yang berkata bahwa dirinya spiritual tetapi tidak religius. Tidak mau bicara tentang Allah, yang penting merasa baik. Tetapi spiritualitas tanpa Kristus tidak pernah menyentuh akar dosa. Itu mungkin menenangkan perasaan, tetapi tidak menyelamatkan. Akhirnya yang terjadi hanyalah perubahan perilaku. Menjadi baik di luar, tetapi tidak pernah mengalami pemulihan di dalam.

Di sinilah kita menyadari bahwa kegelapan eksistensial tidak bisa diatasi oleh diri sendiri, melainkan oleh firman yang berkuasa. Jadilah terang. Kegelapan eksistensial menggambarkan kondisi batin seseorang yang tampak baik baik saja, tetapi jauh di dalam hatinya telah kehilangan makna, arah, dan tujuan hidup. Ia tetap berfungsi, tetapi hanya menjalani hidup tanpa arah. Ia bergerak, tetapi tidak tahu ke mana. Seperti mesin yang terus berjalan tanpa tujuan.

Masalah terdalam manusia bukan kurang usaha, melainkan kehilangan arah. Masalah ini tidak bisa diselesaikan dari dalam diri manusia. Pemulihan selalu dimulai dari inisiatif Allah. Hanya Allah yang sanggup mengubah kekacauan menjadi keteraturan, dari gelap menjadi terang, dari hidup yang rusak menjadi hidup yang bermakna.

Karena itu, menjalani tahun 2026 tidak cukup dengan optimisme kosong atau keyakinan diri yang berlebihan. Optimisme semacam itu runtuh ketika penderitaan datang. Hidup juga tidak dijalani dengan determinisme yang mematikan harapan. Hidup dijalani dengan iman kepada Allah yang berfirman dan mencipta terang di tengah kegelapan.

Di dalam kebenaran ini kita melihat berita Injil. Firman Tuhan dalam Yohanes 1:1-3 berkata, pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada satu pun yang telah jadi dari segala yang dijadikan.

Yesus Kristus, Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, yang ada dalam kekekalan, rela masuk ke dalam dunia yang sementara. Ia rela masuk ke dalam ruang dan waktu manusia. Ironisnya, ketika Ia datang ke dunia yang diciptakan oleh Nya, dunia itu tidak mengenal Dia. Ia datang kepada milik kepunyaan Nya, tetapi milik kepunyaan Nya tidak menerima Dia.

Namun penolakan itu tidak menghentikan kasih Allah. Yesus tetap masuk ke dalam dunia yang rapuh. Ia menjadi manusia sejati tanpa meninggalkan keilahian Nya. Ia tinggal bersama manusia. Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Kita telah melihat kemuliaan Nya, kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Yesus Kristus, Sang Awal, rela menjadi manusia supaya manusia yang sering kehilangan arah hari ini memiliki makna dan tujuan kekal di dalam Dia. Ia adalah Allah Sang Pencipta yang tidak menjauhi dunia yang kosong. Dunia itu bahkan telah menolak Nya, tetapi Ia tetap masuk ke dalamnya.

Ia masuk supaya hidup yang kosong tidak berakhir pada kehancuran, melainkan pada pemulihan. Ia adalah terang sejati yang rela mengalami kegelapan di kayu salib. Supaya hari ini, manusia yang hidup dalam kegelapan dosa dimampukan hidup di dalam terang yang tidak pernah padam di dalam Kristus.

PERTANYAAN REFLEKTIF 

  1. Apakah saya lebih sering datang kepada Tuhan dengan daftar prestasi rohani, atau dengan pengakuan ketidakberdayaan dan kerinduan untuk dibentuk ulang oleh-Nya?
  2. Di bagian mana hidup saya terasa gelap dan membutuhkan diterangi oleh Injil Kristus?

ORANG BERINJIL 

  • Menyadari bahwa hidupnya berada di tangan Kristus yang kekal bukan di tangan kebetulan, nasib, atau usaha kita sendiri, sehingga dapat percaya secara total kepada-Nya.
  • Menyadari bahwa tidak perlu mengisi kekosongan dengan mencari makna melalui nilai-nilai dunia, karena hanya di dalam Yesus kita menemukan kepenuhan dan makna hidup yang kekal.
  • Menyadari bahwa tidak perlu takut menghadapi kegagalan, dan penderitaan, karena Kristus telah lebih dahulu masuk ke kegelapan itu dan tidak meninggalkan kita sendirian di dalamnya.
  • Menyadari tidak perlu menciptakan kepastian dengan kekuatan sendiri, karena Allah yang memegang waktu, sejarah, dan kepastian masa depan kita.