The Love We Long For – Week 4
“Happiness on the Other Side of Holiness"
Ps. Dave Rindy Hatoguan

BACAAN: EFESUS 5:25-27
5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Seri khotbah minggu keempat ini mengangkat tema Happiness on the Other Side of Holinessatau kebahagiaan dalam kekudusan. Tema ini diusung karena kita sering mendengar kata kata bahagia selama lamanya. Sejak kecil, kita terbiasa dengan kisah cinta di mana dua orang bertemu dan akhirnya hidup bahagia. Secara tidak sadar, hal ini menjadi harapan bagi kita semua, baik yang masih lajang dan menantikan pasangan, maupun yang sudah mengarungi kehidupan rumah tangga.
Kita sering berharap bahwa kehidupan pernikahan akan sangat bahagia. Pasangan diharapkan bisa menjadi seperti terapis, konselor, penyedia, hingga pendukung emosional yang selalu ada di saat galau atau sedih. Pasangan juga kerap dijadikan sumber identitas karena ketampanannya, kecantikannya, kekayaannya, dan lain sebagainya. Menjadikan pasangan sebagai sumber kebahagiaan tentu tidak salah, tetapi jika pasangan menjadi satu satunya sumber kebahagiaan, kita pasti akan kecewa di kemudian hari. Faktanya, tidak ada satu pun manusia yang sanggup memikul beban seberat itu.
Sebagai ilustrasi, pada masa awal pendekatan, sebuah lelucon receh tentang wortel yang tidak sehat jika dicolokkan ke mata bisa membuat pasangan tertawa terpingkal pingkal. Namun, seiring berjalannya perjalanan pernikahan dan hadirnya anak, lelucon semacam itu mungkin tidak lagi lucu. Yang muncul justru rasa curiga atau pertanyaan mengenai maksud tersembunyi di balik perkataan tersebut. Selain itu, pesona fisik yang dulu dikagumi perlahan akan memudar karena usia dan hukum gravitasi, meski sudah diusahakan dengan berbagai perawatan kecantikan. Jika kita berharap dan bersandar pada hal hal yang tidak kekal tersebut, maka ujungnya hanyalah kekecewaan.
Kebenaran ini bukan hanya ditujukan bagi mereka yang sudah menikah, tetapi juga untuk yang masih lajang atau yang pernah gagal dalam rumah tangga. Kita dapat belajar dari kebenaran firman Tuhan dalam Efesus 5:25-27. Firman tersebut berpesan agar suami mengasihi istrinya sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan menyerahkan dirinya untuk menguduskan serta menyucikan jemaat dengan air dan firman. Tujuannya adalah agar Ia menempatkan jemaat di hadapan dirinya dengan cemerlang, tanpa cacat, tanpa kerut, supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Secara historis, Rasul Paulus menyampaikan hal ini kepada orang orang Yunani dan Romawi di masa itu. Pada zaman tersebut, pernikahan kerap dijadikan sebagai sumber status sosial dan identitas yang dapat mengangkat derajat sebuah keluarga. Istri sering kali hanya dijadikan simbol status atau komoditas keluarga. Pernikahan di zaman itu dianggap sekadar transaksi, bukan tentang persahabatan, kasih, ataupun pertumbuhan bersama.
Sebelum membahas relasi suami istri dalam suratnya, Rasul Paulus terlebih dahulu menguraikan tentang manusia baru, hidup dalam kasih, hidup sebagai anak anak terang, hidup penuh Roh, dan saling merendahkan diri. Alasan Paulus kemudian secara khusus membahas pernikahan adalah karena pernikahan merupakan salah satu sarana utama untuk memperagakan Injil.
Seseorang bisa saja terlihat sebagai individu yang baik di gereja, menjadi gembala yang baik, atau karyawan teladan. Namun, keluarga adalah unit pertama di mana karakter asli kita benar benar nampak. Keluarga adalah cara Tuhan agar kita bisa menghidupi Injil sebelum kita melangkah keluar. Di dalam keluarga, kita diuji apakah kita benar benar bisa mengampuni, bersabar, mengasihi saat tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, serta mampu mengakui setiap kesalahan yang kita miliki.
Dengan kata lain, keluarga adalah laboratorium Injil. Di sanalah kita hidup tanpa topeng dan wujud asli kita terlihat sangat jelas. Oleh karena itu, melalui pembahasan mengenai pernikahan ini, ada tiga poin utama yang dipelajari, yaitu kasih yang tidak berpusat pada diri sendiri, kasih yang membentuk, dan kasih yang membawa kepada kebahagiaan sejati.

KASIH YANG TIDAK BERPUSAT PADA DIRI SENDIRI
Poin pertama yang dipelajari adalah kasih yang tidak berpusat pada diri sendiri. Terdapat frasa yang sangat menarik yang berbunyi, "Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan dirinya baginya."
Jika dipelajari secara mendetail, kata "kasihilah" dalam teks aslinya menggunakan kata Yunani agapate. Kata ini merupakan bentuk perintah untuk dilakukan secara terus menerus. Dengan kata lain, Rasul Paulus ingin menyampaikan pesan untuk teruslah mengasihi. Meskipun secara spesifik ditujukan kepada para suami, sebenarnya perintah untuk mengasihi ini berlaku bagi semua orang, tidak peduli apakah statusnya sudah menikah, masih lajang, pernah gagal berumah tangga, atau pernah kehilangan orang yang dikasihi. Ayat ini pada hakikatnya berbicara tentang bagaimana Kristus mengasihi gereja, dan karena kita adalah gereja Nya, kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk mengasihi orang orang di sekitar kita.
Pesan ini mungkin sudah sangat sering didengar, namun pada kenyataannya mengasihi secara terus menerus tidaklah mudah untuk dilakukan. Terlebih lagi ketika kita dihina, dijelek-jelekkan, atau dihujat. Reaksi alami manusia sering kali ingin melawan atau menyimpan dendam untuk kemudian membalasnya. Jika kita tidak memiliki kasih, hal hal berbahaya seperti itu bisa dengan mudah mengakar di dalam hati.
Tantangan ini semakin berat jika kita melihat perintah selanjutnya, yaitu untuk mengasihi "sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan dirinya." Paulus tidak menyuruh para suami untuk mengasihi istri hanya saat sang istri bersikap baik atau saat perasaan asmara itu masih ada. Dengan kata lain, Paulus tidak sedang memberikan sebuah takhta kepada laki laki, melainkan sebuah salib. Sangat sulit untuk mengasihi orang orang di sekitar yang menjengkelkan atau tidak mengasihi kita balik.
Seringkali, kasih yang kita miliki sangatlah bersyarat. Kita baru mau mengasihi apabila pasangan menurut, bersikap perhatian, setia, sanggup memenuhi segala kebutuhan kita, dan tidak mengecewakan. Tentu saja, kita sangat gampang mengasihi orang lain jika mereka bersikap sesuai dengan ekspektasi kita. Namun, firman Tuhan tidak mengajarkan hal demikian. Jika pola pikir kita masih seperti itu, kita perlu bertobat karena kasih yang bersyarat sebenarnya masih bersifat transaksional, layaknya sebuah barang dagangan di mana kita hanya mau mengasihi karena orang tersebut baik kepada kita.
Lalu, bagaimana jika rumah tangga sudah kehilangan percikan asmara atau gairah? Sering kali pernikahan terasa hampa dan kehilangan arah, sehingga hanya berjalan layaknya rutinitas harian seperti mengantar dan menyekolahkan anak. Kondisi mati rasa ini bisa melanda siapa saja. Seperti yang telah dipelajari sebelumnya, pernikahan bukanlah sekadar tentang perasaan, melainkan tentang perjanjian atau kovenan. Kovenan inilah yang semestinya menjadi fondasi.

Berbagai nasihat di luar sana mungkin menyarankan hal hal praktis ketika gairah hilang, seperti berolahraga bersama untuk meningkatkan hormon kebahagiaan, menjadwalkan makan malam romantis, hingga menyelesaikan konflik melalui hubungan suami istri. Hal hal tersebut memang baik dan bisa membantu, namun itu semua hanyalah plester yang menutupi luka di permukaan dan tidak menyelesaikan akar masalah yang terdalam. Perasaan semata tidak akan pernah cukup untuk dijadikan fondasi pernikahan.
Bagi siapa saja yang merasa bahwa mengaplikasikan hal ini sangatlah kompleks, sangat disarankan untuk meminta anugerah dari Roh Kudus atau mendatangi konselor profesional yang takut akan Tuhan. Perlu selalu direnungkan bahwa perasaan jatuh cinta memang menyatukan di awal, namun komitmen dan kovenanlah yang akan terus menolong kita untuk belajar mengasihi tanpa henti.
Dinamika ini adalah sesuatu yang nyata dan terus berproses. Saat anak hadir dan situasi kehidupan berubah, prioritas bergeser sehingga waktu untuk komunikasi mendalam menjadi sulit dan perdebatan sering terjadi. Bahkan ketika kondisi fisik sedang menurun seperti saat terserang flu berat, miskomunikasi akan sangat mudah memicu pertengkaran. Meskipun begitu, dari situlah kita belajar untuk sama sama menghidupi Injil dan mengingat kembali kovenan yang Tuhan berikan.
Pernikahan sejatinya bukan tentang apa yang bisa diterima, melainkan apa yang bisa diberikan. Pernikahan bukanlah konsep ambil dan beri, melainkan konsep memberi dan memberi. Ini bukan transaksi di mana kita memberi agar menerima balasan. Sebaliknya, karena kita sudah terlebih dahulu diterima dan dikasihi oleh Kristus, maka kita dimampukan untuk terus mengasihi, bahkan ketika pasangan sedang tidak layak untuk dikasihi.
Kasih di dalam iman Kristen mengajarkan bahwa kita mengasihi bukan karena orang lain selalu mudah untuk dikasihi, melainkan karena kita telah terlebih dahulu menerima kasih Kristus. Pemahaman firman ini sangat mudah secara kognitif, namun prakteknya membutuhkan anugerah Tuhan. Harapannya, siapa pun kita saat ini terus dimampukan mengasihi orang orang di sekeliling kita, sekalipun mereka sangat menjengkelkan atau sering menyakiti.
Pada akhirnya, kita harus selalu mengingat bahwa Tuhan sudah mengasihi kita terlebih dahulu. Tuhan mengasihi kita apa adanya, tetapi kasih yang sama itu pula yang seharusnya mendorong kita untuk tidak hidup seadanya.

KASIH YANG MEMBENTUK
Dalam Efesus 5:26 disebutkan, "Untuk menguduskannya sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman." Kasih memang menerima kita apa adanya, tetapi kasih yang sama juga menolong kita untuk hidup kudus dan terus dibentuk.
Sebagaimana Kristus mengasihi dan menguduskan gereja Nya—yaitu kita semua—demikian pula halnya dengan relasi suami istri. Pasangan adalah sahabat untuk saling membentuk. Sayangnya, banyak yang memandang pasangan sebagai musuh atau semata mata sebagai pemenuh kebutuhan dan ekspektasi. Padahal, pasangan diizinkan Tuhan hadir untuk menyingkapkan ego, mengajari kita saling mengampuni dan bersabar, serta menolong kita untuk bertobat agar semakin serupa dengan Kristus.
Kenyataannya, banyak orang sering membandingkan pasangannya dengan orang lain yang dianggap lebih cantik, lebih kaya, atau lebih ideal. Baik yang sudah menikah maupun yang masih lajang kerap kali terjebak dalam ekspektasi yang tidak realistis.
Terkait hal ini, ada sebuah ungkapan menarik dari Kathy Keller: "Banyak yang mencari pasangan hidup dan mencari patung yang sudah jadi. Padahal seharusnya mereka mencari bongkahan marmer yang indah."
Bongkahan marmer ini menggambarkan seseorang yang meskipun memiliki banyak kelemahan, sangat mengasihi Tuhan dan rindu menghidupi Injil. Saat mencari pasangan, kriteria duniawi seperti rupa, kekayaan, atau pendidikan memang boleh dipertimbangkan, namun itu harus menjadi faktor sekunder. Faktor utamanya adalah mencari pasangan yang mengasihi Tuhan, sefrekuensi, dan rindu menghidupi Injil. Jika ia mengasihi Tuhan, sudah pasti ia akan mengasihimu. Jangan mencari sosok yang sempurna (patung yang sudah jadi) karena kita sendiri pun masih jauh dari kata sempurna dan harus terus berproses. Jangan berpikir untuk "berkembang biak" sebelum engkau "berkembang baik".
Kita tidak bisa menuntut pasangan untuk menjadi sempurna. Tuhan menempatkan pasangan agar kita saling berproses. Kembali pada Kejadian 2:18, Allah berfirman bahwa tidak baik jika manusia itu seorang diri saja, dan Ia menjadikan penolong yang sepadan. Ayat ini tidak bermaksud bahwa manusia membutuhkan seseorang hanya untuk terus menyenangkan hatinya, melainkan manusia membutuhkan partner atau sahabat untuk saling membangun.
Bagi yang masih lajang, persahabatan ini bisa ditemukan dalam komunitas rohani. Namun bagi yang sudah menikah, pasangan adalah sahabat yang melihat setiap blind spot atau kelemahan yang kita miliki. Sesuai dengan Amsal 27:17, "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya." Karakter asli kita di rumah paling diketahui oleh pasangan kita.

Persahabatan sejati dalam pernikahan bukan hanya tentang mengetahui kelemahan, tetapi juga tentang hadir di setiap waktu. Berdasarkan pemikiran Timothy Keller, ada tiga karakteristik persahabatan sejati:
1. Konstansi (Constancy): Konsisten hadir dalam suka maupun duka.
2. Transparansi (Transparency & Candor): Jujur dan terbuka mengenai setiap kelemahan.
3. Visi Bersama (Common Vision): Memiliki tujuan hidup yang sama.
Kriteria ini sangat relevan baik bagi yang sudah menikah maupun yang sedang mencari pasangan. Pilihlah seseorang yang memiliki visi yang sama dalam Tuhan, karena dua orang yang mengerti Injil saja masih harus berjuang keras, apalagi jika berbeda keyakinan atau pandangan hidup. Kesimpulannya, pasangan adalah sahabat yang saling mengoreksi namun tetap saling mengasihi.
Namun, perlu diingat kembali: suami tidak dipanggil untuk mengubah istrinya sesuai versinya, begitu pun sebaliknya. Saat kita memaksakan ekspektasi pribadi pada pasangan, yang terjadi hanyalah konflik dan perbandingan. Jika terus dibiarkan, ini berujung pada rasa frustrasi dan ketidakpedulian—memilih diam demi stabilitas palsu. Padahal, lawan dari cinta bukanlah kebencian, melainkan ketidakpedulian.
Kita tidak dipanggil untuk menjadi pasif, namun tidak juga untuk mengontrol. Kita dipanggil untuk saling membentuk agar serupa dengan Kristus. Kita tidak sedang memahat pasangan sesuai desain kita, melainkan menjadi sahabat seperjalanan untuk melihat karya Sang Pemahat Agung, yaitu Allah sendiri, dalam hidup pasangan kita.
Oleh karena itu, setiap pasangan harus datang kepada Tuhan untuk memohon anugerah Nya agar dimampukan saling mengasihi dan menghormati tanpa menyakiti. Kita tidak bisa memaksakan pasangan berubah lebih dulu; kitalah yang harus memulai perubahan itu. Firman Tuhan bukanlah untuk ditujukan kepada orang lain, melainkan untuk diri sendiri.
Tujuan utama pernikahan Kristen adalah menjadi persahabatan rohani, di mana suami dan istri saling menolong untuk semakin mengenal, mengasihi, melayani, dan menjadi serupa dengan Kristus. Pernikahan sejatinya adalah bertemunya dua orang yang sama sama membutuhkan anugerah dan Juru Selamat. Seperti kata Paul Washer, pernikahan yang berpusat pada Kristus tidak dibangun di atas romantisme, melainkan di atas sikap saling tunduk kepada firman Allah. Saat kedua pihak tunduk pada firman Nya, barulah kebahagiaan sejati dapat dirasakan.

KASIH YANG MEMBAWA PADA KEBAHAGIAAN SEJATI
Seperti yang diajarkan sebelumnya, kita dipanggil untuk saling mengasihi dan saling membentuk dengan tujuan agar kita menjadi kudus dan tidak bercela. Di dalam kekudusan itulah terdapat kemuliaan Allah, dan disanalah kita benar benar menemukan kebahagiaan yang sejati.
Sayangnya, definisi bahagia di dunia saat ini sering kali menjadi kacau. Dunia memberikan definisi kebahagiaan menurut versinya sendiri. Sebagai contoh, ada sebuah lagu populer yang mengisyaratkan bahwa dalam urusan mencari pasangan, hal yang paling penting di atas segalanya adalah "kita harus bahagia". Pemikiran semacam ini terus membombardir pikiran kita, membuat banyak orang mengejar kebahagiaan hingga rela mempertaruhkan segalanya dan melegalkan berbagai macam cara yang keliru demi merasa bahagia.
Ada pasangan menikah yang merasa hambar lalu membenarkan perselingkuhan atau mencari hiburan malam demi kebahagiaan pribadi, padahal tindakan itu justru meruntuhkan keluarga. Di sisi lain, ada orang yang masih lajang namun rela menyerahkan kehormatannya demi cinta yang belum pasti, atau memaksakan diri berhutang demi membahagiakan pasangannya secara berlebihan. Bahkan, ada pula yang memilih tidak menikah namun mencari kepuasan semu melalui pornografi. Kesimpulannya, ketika kita mencari kebahagiaan di luar Kristus, kita justru akan terjerumus ke dalam dosa dan dibelenggu oleh ilah ilah palsu.
Mungkin muncul pertanyaan, apakah ini berarti pernikahan hanya tentang kekudusan dan bukan tentang kebahagiaan? Seolah olah kita diminta untuk memilih salah satu. Kenyataannya, Alkitab tidak pernah menentang kebahagiaan. Kerinduan untuk memiliki teman hidup dan keluarga yang bahagia sama sekali tidak salah, karena Alkitab sendiri mencatat bahwa tidak baik jika manusia itu seorang diri saja. Kesalahan baru terjadi ketika kita menjadikan kebahagiaan sebagai pusat dari segala sesuatu.
Bagi yang masih lajang, janganlah menikah hanya untuk menjadikan seseorang sebagai penyelamat dari rasa kesepian atau sumber kebahagiaan utama. Jika sekadar mencari ucapan selamat pagi yang penuh semangat, kita bisa dengan mudah mendapatkannya dari sapaan ramah pegawai minimarket.
Bagi yang sudah menikah atau pernah gagal dalam rumah tangga, ingatlah bahwa pernikahan tidak hanya dirancang untuk membuat kita bahagia, tetapi juga dirancang untuk membuat kita semakin kudus.
Kebahagiaan dan kekudusan bukanlah musuh. Justru, hidup kudus sesuai kehendak Tuhan adalah jalan yang akan menuntun kita menuju kebahagiaan yang sejati. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak ditemukan ketika kita mendapatkan semua yang kita inginkan, melainkan ketika kita terus mengenal Allah dan hidup di dalam firman Nya.
Kabar baiknya, kita tidak dipanggil untuk hidup kudus dan tak bercela dengan kekuatan kita sendiri. Sebagaimana tertulis dalam 2 Korintus 3:18, kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dan diubah menjadi serupa dengan gambar Nya dalam kemuliaan yang semakin besar oleh Roh Tuhan.
Dalam menjalani proses pembentukan ini, kita tidak sendirian. Tuhan memberikan pasangan sebagai sahabat bagi yang sudah menikah, dan komunitas yang peduli bagi yang masih lajang. Kita semua membutuhkan sahabat untuk menolong kita bertumbuh semakin serupa dengan Kristus. Amsal 17:17 menyatakan bahwa seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran. Namun realitasnya, manusia—baik diri kita sendiri maupun pasangan kita—sering kali mengecewakan dan tidak sanggup untuk selalu ada di setiap waktu.
Di sinilah kita menemukan pengharapan agung bahwa Yesus Kristus adalah sahabat kita yang sejati. Dia telah membuktikan kasih Nya di kayu salib, menyerahkan diri Nya, dan menanggung dosa dosa kita. Kristus menggantikan posisi kita agar kita menjadi umat yang layak dan kudus. Dengan karya penebusan Nya, kita tidak lagi sibuk menuntut atau mengubah pasangan kita, melainkan membiarkan diri kita terus dibentuk menjadi serupa dengan Nya.

Pertanyaan Reflektif
1. Apakah saya mengasihi orang lain karena saya sudah mengalami kasih Kristus, atau karena saya ingin mendapatkan sesuatu dari mereka?
2. Ketika menghadapi konflik atau kekecewaan, apakah saya lebih sibuk mengubah orang lain daripada membiarkan Kristus mengubah saya?
3. Di mana saya sedang menaruh kebahagian saya saat ini? Apakah Kristus atau sesuatu yang lain?
Gospel People
● Dimampukan mengasihi dengan memberi diri, dalam pernikahan, persahabatan, keluarga, komunitas, dan pelayanan.
● Dimampukan bertumbuh bersama, bukan mengubah orang lain tetapi menjadi pribadi yang hadir, menolong, dan menegur dalam kasih.
● Diberi anugerah menikmati kebahagiaan tanpa menjadikannya sumber identitas, dan dalam segala keadaan Kristus tetap menjadi pusatnya.
