The Person You Keep Choosing

The Love We Long For – Week 3 

“The Person You Keep Choosing"

Ps. Michael Chrisdion

BACAAN: KEJADIAN 2:18,23-24 ; EFESUS 5:28-32

2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." 

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 

5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 

5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 

5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 

5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 

Ketika seseorang masuk ke dalam sebuah covenant, kedekatan dengan pasangan sering kali memunculkan banyak hal yang sebelumnya tidak terlihat. Terdapat satu pertanyaan reflektif yang patut direnungkan: mengapa orang yang seharusnya paling kita kasihi justru paling sering melihat sisi terburuk dari diri kita?

Di lingkungan luar seperti kantor atau gereja, seseorang bisa dikenal sebagai pribadi yang sangat sabar dan penuh pengertian. Namun ironisnya, saat berada di rumah, respons terhadap pasangan sering kali dipenuhi dengan nada suara yang terganggu ketika keinginan tidak dituruti. Orang lain mungkin melihat kita sebagai sosok yang ringan tangan, tetapi keluarga di rumah sangat tahu betapa banyaknya alasan yang dilontarkan saat diminta bantuan. Jika ditanya, tentu kita mencintai pasangan kita. Lalu, bagaimana mungkin kita mencintai seseorang tetapi begitu mudah untuk melukai orang tersebut?

Mari perhatikan sebuah skenario umum. Sang istri hanya ingin didengarkan, sementara sang suami hanya ingin dihargai. Saat suami pulang kerja dalam keadaan lelah dan sibuk dengan ponselnya, istri meminta waktu sejenak untuk mengobrol karena seharian ia hanya berbicara dengan anak anak. Suami merespons dengan sikap defensif karena merasa lelah bekerja untuk keluarga dan merasa usahanya tidak dihargai. Pada dasarnya, keduanya memiliki keinginan yang baik: istri ingin didengarkan dan suami ingin jerih payahnya dihargai.

Akar masalahnya terletak pada perbedaan antara apa yang diucapkan dan apa yang ditangkap oleh perasaan. Ketika pasangan menyampaikan sebuah kebutuhan, kita justru sering kali merasa pengorbanan kita tidak dihargai, merasa diserang, tidak dihormati, atau bahkan ditolak, padahal inti pembicaraannya bukanlah hal tersebut. 

Saat perasaan tersinggung itu muncul, manusia umumnya merespons dengan dua cara: berdebat hingga bertengkar, atau bersembunyi dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan lain. Kedua reaksi ini menghasilkan ujung yang sama, yaitu pasangan merasa terisolasi, masalah tidak pernah selesai, dan keduanya semakin sulit untuk saling mengenal.

Untuk mengatasi hal ini, sering kali muncul keengganan dalam memulai perubahan. Terdapat kecenderungan untuk menunggu pasangan berubah lebih dulu, atau merasa hati sudah terlampau luka untuk mencoba. Oleh karena itu, sangat penting untuk menemukan cara bagaimana menerima teguran tanpa membuat harga diri terusik, mengatakan kebenaran tanpa melukai, serta mengampuni tanpa menjadikan kesalahan masa lalu sebagai senjata untuk menyerang di kemudian hari. 

Bagi yang lajang, inti masalahnya tetap sama mengenai dari mana sumber nilai diri berasal dan mengapa ada kecenderungan bersikap defensif. Bagi yang sedang memikul luka berat, ini adalah momen untuk datang kepada Kristus yang sangat memahami keadaan setiap kita.

Kebenaran firman Tuhan dalam Kejadian 2:23-24 mencatat puisi cinta pertama Adam ketika bertemu Hawa, yang diakhiri dengan prinsip bahwa seorang laki laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. 

Prinsip ini ditegaskan kembali dalam Efesus 5:28-32, yang mengajarkan bahwa suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri. Hal ini merujuk pada rahasia besar mengenai gambaran utuh hubungan antara Kristus dan jemaatNya.

Melalui prinsip leave and cleave atau meninggalkan dan bersatu ini, terdapat tiga poin utama yang harus dipahami dan diterapkan untuk membangun hubungan yang benar:

  1. Loyalitas yang baru
  2. Prioritas yang nyata
  3. Pola lama yang perlu ditinggalkan

LOYALITAS YANG BARU

Siapa yang kini ikut menentukan arah hidup kita? Jawabannya bukan lagi orang tua, melainkan pasangan kita. Berdasarkan Efesus 5:31 dan Kejadian 2:24, seorang laki laki diperintahkan untuk meninggalkan ayah dan ibunya, lalu bersatu dengan istrinya. Artinya, pernikahan membentuk sebuah unit keluarga yang baru. Desain Tuhan ini sering kali berbenturan dengan budaya Asia atau Indonesia yang sangat menekankan kepatuhan penuh kepada orang tua. Akibatnya, banyak keputusan hidup anak yang sudah menikah masih sangat dikontrol oleh orang tuanya.

Namun, firman Tuhan mengajarkan bahwa meninggalkan orang tua dan menghormati mereka adalah dua hal yang sama sama penting. Efesus 6:2 tetap memerintahkan kita untuk menghormati ayah dan ibu. Kedewasaan diukur dari bagaimana kita belajar mandiri sebagai unit keluarga baru, namun tetap mengasihi, menghargai, dan memperhatikan orang tua.

Meninggalkan orang tua bukan berarti menjadi kasar atau mengabaikan mereka saat membutuhkan pertolongan. Ketika orang tua meminta bantuan, kita tentu boleh memenuhi hal tersebut, tetapi harus dibicarakan terlebih dahulu dengan pasangan. Sebagai unit yang mandiri, kita bersama pasangan harus berdiskusi mengenai bentuk dan besaran bantuan, terutama jika hal itu berdampak pada keuangan keluarga inti. Jarak fisik atau pindah rumah tidak otomatis menunjukkan kedewasaan jika loyalitas belum berubah. 

Banyak orang yang sudah tidak tinggal satu rumah tetapi masih diperbudak oleh kebutuhan akan persetujuan orang tuanya. Mereka berlindung di balik kalimat seperti keinginan papa atau kekecewaan mama semata mata karena takut menghadapi kenyataan. Akibatnya, pasangan terus dituntut untuk mengalah dan menjadi pihak yang selalu harus mengerti, dan di sinilah pernikahan menjadi tidak harmonis.

Tantangan lainnya muncul ketika keluarga dan pekerjaan saling terhubung. Bantuan keluarga dalam hal pekerjaan memang patut diapresiasi, tetapi harus ada kejelasan mengenai tanggung jawab, kewajiban, dan keputusan bersama. Pasangan tidak boleh merasa kehilangan hak bersuara hanya karena semua fasilitas disediakan oleh mertua. Percakapan orang dewasa mengenai batasan antara tanggung jawab sebagai anak, karyawan, dan keluarga inti harus terus dilakukan agar unit yang baru ini dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Selain itu, pernikahan sangat membutuhkan ruang aman bagi suami istri untuk berbicara secara privat. Jangan pernah membocorkan masalah rumah tangga atau kelemahan pasangan ke dalam grup percakapan keluarga besar. Kepercayaan pasangan harus dilindungi karena hal tersebut bisa merusak keintiman. Jika membutuhkan pertolongan, carilah pihak netral seperti pemimpin rohani, bukan sekadar mengumpulkan dukungan keluarga untuk melawan pasangan. Tentu saja, menjaga privasi ini merupakan pengecualian jika terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang memang membutuhkan perlindungan.

Sering kali kita kesulitan menetapkan batasan karena kita memberhalakan pasangan atau persetujuan orang tua. Dalam Lukas 14:26, Kristus memberikan teguran yang sangat radikal. Maksud dari perkataan tersebut bukanlah perintah untuk membenci keluarga, melainkan penegasan bahwa Kristus harus menjadi Tuhan dan pusat utama atas kehidupan kita. Baik bagi yang sudah menikah maupun yang lajang, pergumulan mencari pengakuan sering kali bermuara pada sumber yang salah. Kita tahu Yesus mengasihi kita, tetapi pada praktiknya hati kita masih mencari validasi dari orang tua, pekerjaan, atau pasangan semata mata untuk merasa berharga.

Apa yang kita andalkan sebagai sumber harga diri akan sangat mempengaruhi loyalitas dan prioritas kita. Jika validasi orang tua menentukan nilai diri, kita akan terus meminta pasangan mengalah kepada mereka. Jika kesuksesan pekerjaan menjadi identitas, kita akan menuntut keluarga mengalah demi bisnis. Jika penghargaan pasangan menjadi satu satunya sumber rasa aman, kita akan mudah merasa diserang setiap kali ada diskusi yang menuntut pertobatan. Mengasihi orang tua, bekerja sungguh sungguh, dan ingin dihargai pasangan adalah hal yang baik, tetapi semua itu pasti akan mengecewakan jika dijadikan sebagai juru selamat kita.

Solusinya bukanlah dengan sengaja mengurangi cinta kita kepada mereka, melainkan dengan merenungkan kasih Kristus. Ketika kasih Kristus menjadi yang utama, maka kasih kasih yang lain akan menemukan tempatnya yang tepat, sesuai dengan kebenaran yang tertulis dalam 1 Yohanes 4:19. Pada akhirnya, keputusan untuk membangun loyalitas yang baru ini akan membawa kita pada prioritas prioritas yang nyata dalam kehidupan pernikahan.

PRIORITAS YANG NYATA

Hal menarik lainnya dapat ditemukan dalam Efesus 5:28, di mana Rasul Paulus menekankan bahwa suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri. Sama seperti tubuh yang harus dirawat melalui pola makan, tidur cukup, dan asupan vitamin agar terhindar dari stres atau penyakit, pernikahan pun membutuhkan perawatan yang sama. Kita tidak membiarkan mobil rusak tanpa diservis, apalagi kesehatan dan pernikahan kita. Sering kali, prioritas pernikahan justru diletakkan paling akhir karena asumsi bahwa pasangan pasti akan selalu mengerti di tengah berbagai musim kehidupan, entah itu mengurus anak, membangun karier, pelayanan, atau sekadar hobi dan olahraga.

Perlu diwaspadai, hal hal baik sekalipun bisa menggeser posisi pasangan sehingga mereka merasa tersingkir. Banyak orang merasa tidak melakukan kesalahan karena tidak berselingkuh atau berbuat buruk, melainkan sibuk bekerja, berolahraga, atau melayani. Meskipun semuanya itu adalah hal yang baik, terkadang kita melakukannya semata mata demi mencari pembuktian diri atau pujian yang tidak didapatkan di rumah. Oleh karena itu, kita harus mengevaluasi susunan prioritas hidup kita. Sebuah kegiatan bisa saja baik, tetapi cara kita menempatkannya dapat mengabaikan tanggung jawab utama kita.

Alasan klasik yang sering muncul adalah semua kerja keras tersebut dilakukan demi keluarga. Namun, pertanyaannya adalah apakah keluarga benar benar merasakan kebaikan dari niat tersebut? Setiap niat baik tetap perlu disertai kesediaan untuk mendengarkan. Jika pasangan merasa kurang diperhatikan, kita perlu mengevaluasi dan melakukan penyesuaian. Meskipun kondisi ekonomi belum memungkinkan untuk mengurangi jam kerja, pasti selalu ada cara untuk hadir, saling memperhatikan, dan memprioritaskan pasangan. Kasih harus belajar melihat bagaimana suatu tindakan benar benar dirasakan oleh orang yang dikasihi.

Dinamika lain yang sering menjadi masalah adalah ketika anak menjadi pusat seluruh hubungan. Pernikahan harus tetap diutamakan karena kelak anak akan memiliki kehidupannya sendiri. Hubungan suami istri harus terus diupayakan, termasuk memberikan batasan ruang pribadi sejak dini bagi anak, agar keharmonisan orang tua tetap terjaga. Merawat anak memang membutuhkan pengorbanan besar, tetapi merawat pernikahan juga menuntut hal yang sama. Sambil mengasuh anak, suami istri tidak boleh lupa untuk terus memelihara hubungan mereka.

Hal serupa berlaku dalam ranah pelayanan. Pasangan dan keluarga adalah orang pertama yang Tuhan percayakan untuk kita layani. Sungguh ironis jika seseorang sibuk memuridkan orang lain tetapi mengabaikan keluarganya sendiri, atau menggunakan kesibukan pelayanan untuk lari dari tanggung jawab menghadapi masalah komunikasi di rumah. Bagi yang belum menikah, prinsip ini juga relevan. Kesibukan tidak boleh membuat kita mengabaikan relasi dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan, termasuk hubungan pribadi dengan Tuhan.

Pada akhirnya, setiap keputusan yang diambil setelah menikah tidak boleh diputuskan sendiri. Pertanyaan utamanya harus selalu menimbang apa dampaknya bagi kita bersama. Berikan ruang untuk berdiskusi panjang sebelum mengambil langkah besar, seperti pindah rumah, menentukan sekolah anak, atau merencanakan masa depan. Jangan sampai satu pihak bertindak sepihak lalu sekadar memaksa pasangannya untuk ikut tanpa diskusi. Loyalitas yang baru akan selalu menghasilkan prioritas baru yang diwujudkan melalui keputusan bersama yang matang.

POLA LAMA YANG PERLU DITINGGALKAN

Sering kali, tanpa disadari, kita membawa baggage atau muatan masa lalu dari keluarga asal kita. Cara mengelola uang, cara marah, hingga cara menyelesaikan konflik sering kali merupakan bawaan karakter yang terbentuk dari pola keluarga lama. Sebagian pola mungkin baik untuk dipertahankan, tetapi banyak hal lain yang mutlak perlu dievaluasi. Dalam proses leave and cleave, ketika dua orang dengan latar belakang berbeda bersatu, penyesuaian wajib dilakukan. Jika tidak, keduanya akan merasa sedang melakukan hal yang benar berdasarkan ekspektasi masing-masing, tetapi justru berakhir saling melukai karena merasa tidak dikasihi.

Sebagai contoh, dalam menghadapi konflik, satu pihak mungkin ingin masalah segera diselesaikan saat itu juga demi merasa aman, sementara pihak lain justru membutuhkan ruang (space) untuk menenangkan diri sebelum bisa berdiskusi. Contoh lain, seorang suami mungkin terbiasa membantu orang tuanya secara finansial tanpa perlu meminta izin. Namun setelah menikah, ketika ia mentransfer sejumlah uang tanpa berdiskusi terlebih dahulu, istrinya merasa suaranya diabaikan dan kesetiaannya dipertanyakan, sementara sang suami merasa haknya dibatasi. Dalam mengekspresikan cinta pun bisa berbeda; ada yang selalu mengharapkan kata-kata afirmasi (seperti ucapan I love you), namun ada yang hanya menunjukkannya melalui tindakan nyata (acts of service) seperti mencuci piring atau menyiapkan kopi.

Intinya, jangan menganggap pasangan tidak mengasihi hanya karena caranya berbeda dari ekspektasi dan harapan kita. Kita harus belajar melayani pasangan dengan bahasanya, bukan hanya dengan cara kita sendiri. Masa lalu bisa menjelaskan latar belakang kita, tetapi hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Pengalaman masa kecil yang keras tidak memberi hak untuk bersikap kasar kepada pasangan, dan karakter yang tertutup di masa lalu tidak bisa dijadikan alasan untuk lari dari percakapan sulit. Kerendahan hati sangat diperlukan untuk mengakui kesalahan dan tidak bersembunyi di balik dosa atau trauma masa lalu.

Saya telah menikah selama 25 tahun, dan sampai saat ini saya masih terus belajar untuk mendengarkan dan meminta maaf. Suatu ketika, istri saya menyampaikan perasaannya bahwa ia merasa tersaingi bukan oleh wanita lain, melainkan oleh pelayanan gereja. Ia merasa saya bisa begitu sabar dan memberikan perhatian penuh kepada jemaat, tetapi sering kali malah sibuk sendiri dengan pekerjaan atau ponsel ketika ia mengajak saya berbicara.

Menariknya, ketika ditanya tentang tindakan paling romantis yang pernah saya lakukan, istri saya tidak menjawab hal hal seperti candle light dinner. Jawabannya justru adalah ketika saya bersedia menekan kesombongan saya dan merendahkan diri untuk meminta maaf kepadanya.

Inilah mengapa Injil harus terus mengkalibrasi hati kita. Mengapa begitu sulit bagi kita untuk mengakui kesalahan dan begitu mudah bersikap defensif? Akar dari sikap ini dapat dilacak kembali ke Taman Eden. Setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Adam yang sebelumnya menyanyikan puisi cinta untuk istrinya, tiba-tiba bersembunyi dan menyalahkan Hawa ("perempuan yang Engkau tempatkan di sisiku"). Sikap bersembunyi, mencari kambing hitam, dan membela diri ini adalah pola dosa yang merusak pernikahan. Kekacauan dalam pernikahan pada dasarnya bukanlah sekadar masalah komunikasi atau keuangan, melainkan masalah dua orang berdosa yang malu atas dosanya namun menolak untuk bertobat, dan memilih bersembunyi di balik kesibukan, hobi, atau pekerjaan.

Lalu, apa solusinya? Di Taman Eden, Allah berinisiatif menghampiri manusia yang bersembunyi dan mengenakan pakaian dari kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan jasmani mereka. Namun, hal itu belum menyelesaikan persoalan rohani mereka. Penebusan yang sejati terjadi di kayu salib. Di salib, Kristus menyerahkan nyawa-Nya, mencurahkan darah-Nya untuk membayar lunas hukuman dosa kita. Keberdosaan, rasa malu, dan aib kita ditutupi oleh jubah kebenaran Kristus (Yesaya 61:10). Yesus yang tidak berdosa dijadikan berdosa, agar kita yang berdosa dibenarkan di hadapan Allah.

Inilah kabar baik (Gospel connection): karena kita telah diterima dan dibenarkan di dalam Kristus, kita tidak perlu lagi bersembunyi, mencari kambing hitam, atau membuktikan bahwa diri kita benar demi merasa berharga. Nilai diri kita kini seutuhnya berada di dalam Kristus. Pemahaman ini memampukan kita untuk menerima koreksi tanpa merasa hancur, memberikan teguran tanpa melukai, dan mengampuni tanpa menyimpan kesalahan masa lalu sebagai senjata.

Menurut Timothy Keller dalam buku The Meaning of Marriage, Injil itu ibarat oli yang melindungi mesin. Interaksi antara suami dan istri penuh dengan gesekan keras layaknya piston mesin, dan satu-satunya "oli" yang mampu melelehkan kekerasan hati agar tidak saling menghancurkan adalah Injil. Saat kita menyadari betapa besarnya kasih dan penerimaan Kristus, akan muncul kerinduan tulus untuk saling mendengarkan dan memahami. Biarlah orang-orang terdekat yang selama ini melihat keburukan kita, kini menjadi saksi nyata dari buah pertobatan kita, sehingga Kristus semakin dimuliakan melalui pernikahan kita.

Reflektif

  • Persetujuan, pendapat, approval siapakah yang begitu kubutuhkan sampai suara pasangan terabaikan?
  • Hal-hal baik apa yang terus menerima perhatian terbaikku, sementara pasangan mendapatkan sisa-sisanya?
  • Apa yang sering terus kubela atau kututupi? Dalam hal apa aku sering bersembunyi? Akuilah dan perubahan konkret apa yang perlu kumulai?

Orang Berinjil

  • Menempatkan Kristus sebagai pusat sehingga keluarga dikasihi dengan tepat.
  • Berani terbuka tanpa membela diri, karena identitasnya sudah aman dalam penerimaan Kristus.
  • Tidak lagi malu untuk mengaku salah dan bertobat, karena dia sudah dibenarkan dan berharga di dalam Kristus.