The One Thing You Lack

When Jesus Gets Personal – Week 3 

“The One Thing You Lack”

Ps. Natanael Thamrin

Hari ini kita berada dalam rangkaian khotbah berjudul When Jesus Gets Personal. Kita telah memasuki minggu ketiga dengan tema utama The One Thing You Lack atau satu hal yang kurang padamu.

Sebelum membaca firman Tuhan sebagai landasan perenungan, mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana yang sangat mendalam. Bagaimana jika hal yang paling menjauhkan kita dari Tuhan bukanlah kelemahan kita melainkan justru kekuatan kita?

Apakah mungkin hal yang paling menghalangi kita untuk datang kepada Kristus bukanlah kelemahan kita melainkan apa yang selama ini kita anggap sebagai kekuatan? Pemikiran inilah yang membuat bagian firman Tuhan yang akan dibaca menjadi begitu mengejutkan.

Alasannya adalah karena kita akan bertemu dengan seorang tokoh yang menurut standar manusia hampir tidak memiliki kekurangan. Orang ini memiliki kuasa, kekayaan, status yang terpandang, serta hidup yang sangat bermoral. Jika ada orang yang tampak sangat layak menjadi teladan, pantas menjadi pemimpin jemaat, bahkan layak berada di lingkaran terdekat Yesus, mungkin dialah orangnya.

Namun ketika ia berdiri di hadapan Yesus, ada satu kalimat yang seketika mengubah hidupnya yaitu "Satu hal yang kurang padamu." Kalimat itulah yang mungkin sangat perlu kita dengarkan pada hari ini.

BACAAN : MARKUS 10:17-31

Orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah

10:17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 

10:18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. 

10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!" 

10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." 

10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." 

10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. 

10:23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." 

10:24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.

10:25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." 

10:26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" 

10:27 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."

Upah mengikut Yesus

10:28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" 

10:29 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, 

10:30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. 

10:31 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

APA YANG HARUS KULAKUKAN?

Dalam Markus 10:17, Yesus sedang meneruskan perjalanan menuju Yerusalem ketika seorang datang berlari, bertelut di hadapanNya, dan bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

Detail ini penting. Dalam budaya dunia Timur kuno, seorang pria dewasa yang terhormat tidak pantas berlari. Apalagi pemuda ini bukan orang sembarangan. Ia adalah seorang pemimpin atau penguasa menurut Lukas, masih muda menurut Matius, dan sangat kaya menurut Markus. Dengan statusnya, ia pasti memiliki orang yang dapat disuruh berlari untuknya. Karena itu, tindakannya menunjukkan kesungguhan yang luar biasa.

Lebih mengejutkan lagi, ia bertelut di tengah jalan di hadapan seorang rabi tukang kayu dari Nazaret. Kita mungkin mudah menganggapnya munafik atau berpura pura, tetapi Alkitab justru mengatakan bahwa Yesus mengasihi orang ini. Ia adalah pribadi yang serius dan rendah hati. Bahkan, ia mengajukan salah satu pertanyaan terbesar kepada Yesus, pertanyaan yang tidak pernah diajukan oleh murid murid terdekatNya.

Billy Graham pernah mengatakan bahwa orang ini mengajukan pertanyaan yang benar, datang kepada Pribadi yang benar, dan menerima jawaban yang benar, tetapi pulang dengan keputusan yang salah. Di sinilah kisah ini menjadi menakutkan, karena kita pun dapat melakukan hal yang sama. Kita dapat mengetahui kebenaran, melayani di gereja, tetapi hati kita tetap tidak terpaut kepada Tuhan.

Mari kita perhatikan kembali tata bahasa pertanyaan penguasa muda kaya raya ini. Ia bertanya, “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Kata “memperoleh” dalam teks aslinya lebih tepat diterjemahkan sebagai “mewarisi.” Di sinilah letak keanehannya. Warisan tidak diperoleh melalui kerja keras atau prestasi, melainkan diterima karena status sebagai anak.

Ada kontradiksi besar dalam pertanyaannya. Pemuda ini berbicara tentang anugerah, tetapi cara berpikirnya masih berada dalam kategori prestasi. Ia menggunakan bahasa “upah” untuk sesuatu yang seharusnya merupakan “hadiah.” Pemikiran transaksional ini bukan hanya masalah pemuda tersebut, tetapi juga merupakan bahasa alami hati kita.

Kita sering berpikir bahwa jika kita cukup baik dan taat, Allah pasti menerima dan memberkati kita. Logika ini telah tertanam sejak kecil. Kita terus dinilai berdasarkan pencapaian, mulai dari peringkat sekolah, pilihan sekolah dan universitas, IPK, hingga posisi dan gaji. Begitu satu pencapaian diraih, tuntutan berikutnya sudah menunggu. Bahkan logika ini sering kita bawa ke dalam gereja.

Kita datang kepada Tuhan dan bertanya apa lagi yang kurang dari ibadah, berapa lama saat teduh, berapa persen persembahan, atau pelayanan apa lagi yang harus diambil. Tanpa sadar, kita mengubah anugerah menjadi karier rohani dan melihat Allah seperti atasan yang harus terus disenangkan.

Tanda bahwa kita sedang hidup dalam pola ini adalah munculnya kecemasan karena terus bertanya apakah usaha kita sudah cukup. Ketika pelayanan tidak dihargai, kehilangan pekerjaan meskipun sudah berusaha hidup benar, atau kembali jatuh dalam dosa yang sama, kita berpikir Tuhan kecewa dan menjauh. Sebaliknya, ketika ibadah berjalan lancar, doa dijawab, dan bisnis sukses, kita merasa lebih berkenan di hadapan Tuhan.

Jika hubungan kita dengan Tuhan selalu naik turun mengikuti performa rohani kita, kita sedang hidup dengan logika penguasa muda kaya raya itu. Kita hidup seperti karyawan yang menunggu hasil evaluasi pimpinan, bukan seperti anak yang sudah diterima seutuhnya.

Inilah gambaran mentalitas agama di dalam dunia. Agama selalu mengarahkan kita untuk melihat pencapaian diri sendiri dan membuat kita terus hidup dalam kecemasan. Sebaliknya, Injil mengarahkan kita untuk melihat bahwa apa yang sudah Kristus lakukan itu cukup, sehingga pada akhirnya melahirkan anak anak yang menyadari bahwa diri mereka sangat dikasihi.

Dalam Markus 10:18, Yesus berkata, “Mengapa kau katakan aku baik? Tak seorang pun yang baik selain daripada Allah saja.” Yesus tidak sedang menyangkal kebaikan atau keilahianNya, melainkan menantang pemahaman pemuda tersebut tentang arti kata “baik.”

John Frame menjelaskan bahwa kebaikan memiliki tiga unsur, yaitu perbuatan, tujuan, dan motif. Pemuda ini merasa dirinya baik karena hanya melihat lapisan pertama, yaitu ketaatan lahiriah. Ia memang telah menaati hukum Allah sejak muda, bahkan secara perbuatan tampak sempurna dalam menaati hukum kelima sampai kesepuluh, seperti yang pernah Paulus nyatakan dalam Filipi 3:6.

Namun, ia gagal pada tujuan dan motif. Secara lahiriah ia menaati hukum, tetapi gagal menaati hukum yang pertama. Hidupnya tidak berpusat pada kemuliaan Allah, melainkan pada kekayaannya. Motifnya pun bukan lahir dari iman dan kasih kepada Allah, tetapi dari kepentingan dirinya sendiri sehingga ia tidak rela mempercayakan hidupnya kepada Kristus.

Karena itu, Yesus tidak sedang memperdebatkan moralitas pemuda tersebut, tetapi menunjukkan bahwa kebaikan bukan sekadar perilaku yang benar, melainkan hati yang benar di hadapan Allah. Ketaatan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi tentang apa yang kita cintai.

Kita mungkin menaati semua perintah Tuhan dan aktif melayani di gereja, tetapi itu belum tentu membuktikan bahwa kita mencintai Tuhan. Bisa jadi semua itu kita lakukan hanya untuk memuaskan ego pribadi.

Sampai di sini, kita mulai bertanya: jika demikian, apa sebenarnya akar masalah orang ini?

APA YANG KAMU PEGANG ERAT?

Mari kita perhatikan Markus 10:21: “Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya.” Kata “memandang” yang digunakan Markus lebih tepat dipahami sebagai meneliti dengan jelas atau menilai dengan benar. Artinya, tatapan Yesus mampu menembus lapisan luar kehidupan seseorang. Ia tidak pernah tertipu oleh penampilan atau kesalehan lahiriah.

Yang tak kalah penting, Yesus menaruh kasih kepadanya. Kita mungkin mudah menghakimi pemuda ini sebagai orang munafik, tetapi perikop ini tidak menunjukkan demikian. Yesus justru mengasihinya. Karena itu, ketika setelahnya Yesus memberikan perkataan yang sangat keras, kita perlu memahami bahwa teguran tersebut berakar dari kasih.

James Edwards mengatakan bahwa Yesus tidak memandang kemunafikan dengan kasih. Jika seseorang munafik, Ia menyebutnya munafik. Namun ketika Yesus mengasihi seseorang, Ia sungguh sungguh mengasihinya. Seperti pisau bedah, di tangan perampok ia melukai untuk menghancurkan, tetapi di tangan dokter bedah ia melukai untuk menyembuhkan. Ketika firman Tuhan terasa menusuk dan tajam, itu dapat menjadi teguran kasih Tuhan untuk menyembuhkan kita.

Kemudian Yesus berkata kepada pemuda itu, “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.”

Jika kita berada di posisi pemuda itu, mungkin kita berharap Yesus menyingkap dosa tersembunyi, kesombongan, ketidakjujuran, atau perzinahan. Namun Yesus tidak menyebut satu dosa pun. Yesus justru menyentuh kekayaan, hal terbaik yang sedang digenggamnya, dan meminta dia melepaskannya.

Inilah salah satu perkataan paling mengganggu dalam Injil. Yesus tidak menunjuk pada keburukan pemuda itu, tetapi pada hal yang menjadi kekuatan sekaligus tempat hatinya bergantung. Tim Keller pernah mengatakan bahwa jika kita hanya bertobat dari dosa, kita mungkin hanya menjadi orang yang beragama. Tetapi untuk menjadi seorang Kristen, kita juga perlu bertobat dari cara kita menggunakan hal-hal baik yang kita miliki.

Uang, keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan reputasi bukanlah sesuatu yang jahat. Semuanya adalah pemberian Allah yang baik. Yang perlu dipertobatkan bukan keberadaan hal-hal tersebut, melainkan cara hati kita memperlakukannya. Tanpa sadar, hal-hal baik dapat menjadi sumber identitas, keamanan, sukacita, dan nilai diri. Akhirnya, kita lebih bergantung kepada pemberian Tuhan daripada kepada Tuhan Sang Pemberi.

Lalu, bagaimana kita bisa menyadari bahwa kita perlu bertobat dari cara kita memperlakukan hal-hal yang baik? Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan tiga pertanyaan diagnosis penting ini:

  1. Apa sesuatu yang jika Tuhan ambil dari hidup Anda, akan membuat Anda merasa hidup ini tidak berarti lagi dan seakan ikut berakhir? Ini bukan sekadar tentang rasa sedih, melainkan tentang apa yang paling Anda hargai di atas segalanya.
  2. Ke mana Anda berlari ketika hati Anda gelisah? Saat dilanda cemas, kecewa, atau terluka, kepada siapa atau apa Anda mencari penghiburan? Tempat kita mencari rasa aman sering kali menunjukkan di mana kita meletakkan pengharapan kita sesungguhnya.
  3. Adakah satu hal yang membuat Anda sulit berdoa, "Tuhan, jadilah kehendak-Mu, bukan kehendakku"? Ini adalah pertanyaan yang sangat tajam, dan kalimat doa ini akan kita dengar kembali dari Yesus sendiri di Taman Getsemani.

Kembali pada narasi Alkitab, bagaimana respons sang pemuda setelah mendengar perintah Yesus? Markus 10:22 mencatat: "Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya."

Kata "kecewa" di sini digunakan untuk menggambarkan raut wajah yang berubah drastis. Wajah yang tadinya bersinar penuh semangat saat ia berlari dan berlutut di hadapan Yesus, tiba-tiba menjadi suram dan gelap. Markus secara sengaja menahan informasi mengenai kekayaan pemuda ini dan baru mengungkapkannya di akhir cerita setelah Yesus mengucapkan perintah tersebut. Mengapa demikian? Markus ingin menunjukkan bahwa berhala di dalam hati tidak akan tampak sampai ia disentuh. Kita mungkin merasa tidak memiliki berhala, sampai suatu ketika ada hal yang menyentuh dan memunculkannya ke permukaan.

Ada dua hal tragis yang dapat kita lihat dari ayat ini:

  • Pertama, ia tidak mendebat Yesus. Ia tidak meminta penjelasan ayat pendukung, tidak meminta waktu untuk berpikir, dan tidak menawar persentase harta yang harus dijual. Ia hanya pergi dengan sedih. Kesedihannya menunjukkan bahwa ia tahu perkataan Yesus adalah benar. Jika ia merasa Yesus salah, ia pasti akan marah, bukan sedih.
  • Kedua, ia berjalan menjauh dari satu-satunya pribadi yang menatapnya dengan kasih. Secara materi ia tidak kehilangan uangnya dan tetap kaya, namun ia kehilangan Kristus. Ia lebih memilih mempertahankan apa yang tidak dapat menyelamatkannya dan meninggalkan satu-satunya Pribadi yang mampu memberikan hidup yang kekal.

Oleh karena itu, pertanyaan sesungguhnya bagi kita bukanlah "Apakah saya memiliki berhala?", melainkan "Apa yang akan terjadi jika Yesus meminta Anda menyerahkan hal yang paling Anda cintai?" Pemuda itu pergi bukan karena Yesus menuntut terlalu banyak, melainkan karena ada sesuatu yang lebih ia cintai daripada Yesus. Jika hari ini Yesus meminta kita melepaskan sesuatu dan mengikut-Nya, apakah kita akan taat atau justru pulang dengan sedih dan kecewa?

Sebelum melanjutkan ke poin ketiga, ada dua hal yang perlu diperjelas mengenai bagian ini:

  • Mengapa perintah Yesus terkesan transaksional (jual hartamu, maka engkau dapat harta di sorga) padahal hidup kekal adalah anugerah? Ketahuilah bahwa perintah Yesus di sini bersifat diagnostik, bukan transaksional. Yesus tidak sedang menetapkan "harga" keselamatan, melainkan sedang membongkar isi hati pemuda itu. Perintah tersebut adalah pisau bedah untuk menyingkapkan berhalanya.
  • Bagaimana kita menerapkan ayat ini dengan benar? Yesus tidak sedang memerintahkan semua orang percaya untuk menjual seluruh harta miliknya. Buktinya, Zakheus hanya menyerahkan setengah hartanya sebagai tanda pertobatan dan Yesus menerimanya. Yusuf dari Arimatea juga tetap menjadi orang kaya, dan kekayaannya justru dipakai untuk menghormati Kristus dengan menyediakan kubur bagi-Nya. Namun, jangan sampai kita merasa terlampau aman dan berpikir perintah ini hanya berlaku untuk pemuda tersebut. Bentuk panggilan ketaatan kita bisa saja berbeda-beda, namun intinya tetap satu: Kristus harus menjadi yang paling berharga di atas apa pun juga. Bagi sebagian orang, ketaatan itu mungkin berarti melepaskan sesuatu, termasuk harta yang paling mereka cintai.

SIAPA YANG DAPAT SELAMAT?

Dalam Markus 10:23, Yesus memandang murid muridNya dan berkata, “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam kerajaan Allah.” Pandangan itu seolah olah menjadi pertanyaan bagi mereka, “Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga akan pergi?”

Murid muridNya justru tercengang. Mereka saling bertanya, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Keterkejutan mereka dapat dipahami karena dalam budaya Yahudi, kekayaan sering dianggap sebagai tanda berkat Allah. Pemuda ini pun bermoral, taat sejak kecil, memiliki kedudukan, dan masa depan yang cerah. Jika orang dengan kualifikasi seperti itu saja tidak dapat masuk kerajaan Allah, lalu siapa yang bisa?

Perikop ini memberikan peringatan serius. Masalahnya bukan bahwa kekayaan itu dosa, tetapi kekayaan sangat mudah mengambil tempat Allah di dalam hati. Bahayanya bukan terletak pada banyak atau sedikitnya harta, melainkan pada hati manusia. Orang kaya dapat menjadikan kekayaan sebagai berhala, tetapi orang miskin juga dapat menjadikan keinginan untuk menjadi kaya sebagai berhala.

George MacDonald menyatakan bahwa bukan hanya orang kaya yang diperbudak uang. Orang yang tidak memiliki uang tetapi hidupnya dikuasai keinginan untuk memilikinya juga adalah budak uang. Baik uang yang dimiliki maupun uang yang diidamkan sama sama dapat membutakan hati terhadap Allah.

Hal ini semakin jelas dalam Markus 10:24 ketika Yesus berkata, “Anak anakKu, alangkah sukarnya masuk ke dalam kerajaan Allah.” Kata “beruang” dihilangkan. Artinya, penerapan kisah ini tidak hanya ditujukan kepada orang kaya, tetapi juga kepada mereka yang menginginkan kekayaan. Masalah utamanya bukan uang, melainkan hati yang diperbudak oleh uang.

Kemudian Yesus memberikan gambaran yang sangat kuat dalam Markus 10:25: “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah.” Maknanya sederhana. Unta tetaplah unta dan jarum tetaplah jarum. Yesus sedang menegaskan bahwa keselamatan bukan sekadar sulit bagi manusia, tetapi mustahil.

Namun dalam Markus 10:27, Yesus memberikan jawaban yang menyingkapkan perbedaan mendasar antara agama dan Injil: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”

Jika agama mengajarkan bahwa semakin keras kita berusaha, semakin besar harapan untuk diselamatkan, Injil justru menunjukkan bahwa sekeras apapun usaha manusia, keselamatan tetap mustahil tanpa tindakan Allah. Anugerah bukan pertolongan bagi orang yang hampir berhasil atau merasa sudah baik. Anugerah adalah kebangkitan bagi orang yang sudah mati. Orang mati tidak dapat berbuat apa apa selain dibangkitkan.

Di penghujung cerita, Petrus berkata kepada Yesus dalam Markus 10:28, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau.” Perhatikan, baru saja Yesus meruntuhkan pola pikir “melakukan sesuatu agar diterima Allah”, Petrus kembali membangunnya. Ia mulai membandingkan dirinya dengan pemuda yang gagal itu dan menghitung pengorbanannya.

Di sinilah bahayanya: pengorbanan yang terus dihitung akhirnya berhenti menjadi persembahan dan berubah menjadi tagihan kepada Tuhan.

Yesus kemudian mengubah cara berhitung Petrus dan mengarahkannya kepada kelimpahan anugerah kerajaan Allah. Dalam Markus 10:29–30, Yesus berjanji bahwa setiap orang yang meninggalkan segala sesuatu karena Dia dan Injil akan menerima kembali seratus kali lipat di masa ini, beserta berbagai penganiayaan, dan hidup kekal kelak.

Jika dibaca secara materi, ayat ini terdengar seperti janji kemakmuran. Namun, Yesus bukan sedang memberikan rumus investasi rohani. Ia berbicara tentang kelimpahan hidup dalam kerajaan Allah melalui komunitas umatNya, yaitu gereja. Seseorang yang kehilangan rumah atau keluarga karena mengikut Yesus tidak akan sendirian, karena ia memiliki keluarga baru.

Yesus juga dengan jujur menegaskan bahwa mengikutNya tidak pernah bebas dari penderitaan. Namun di tengah penderitaan itu, Ia ingin menunjukkan bahwa apa yang kita terima di dalam Kristus jauh lebih besar dan berharga daripada apa yang kita lepaskan.

Kisah ini ditutup dengan sebuah pembalikan posisi dalam Markus 10:31: "Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." Di mata dunia, orang muda kaya raya itu berada di barisan paling depan, sementara para murid hanyalah nelayan dan orang biasa. Namun di dalam kerajaan Allah, urutannya justru dibalik.

Bila kita menelaah lebih dalam, kita disuguhkan pemandangan dua tokoh yang berhadapan dengan berhalanya masing masing. Sang penguasa muda kaya raya menggenggam apa yang dia miliki, sedangkan Petrus menggenggam apa yang sudah dia lepaskan. Berhala tidak selalu berbentuk harta materi. Pengorbanan, pelayanan, bahkan catatan betapa banyaknya hal yang sudah kita berikan untuk Tuhan pun bisa menjadi berhala. Keduanya sama sama membutuhkan sesuatu di tangannya selain Kristus. Sangat mungkin kita duduk di gereja dan tidak merasa seperti pemuda kaya itu, tetapi tanpa sadar bersikap seperti Petrus yang merasa aman hanya karena sudah banyak berkorban.

Pertanyaannya, siapa tokoh yang benar benar melepaskan segalanya? Tentu bukan si pemuda yang pulang memeluk hartanya, dan bukan juga Petrus yang masih terus menghitung apa yang ditinggalkannya. Satu satunya yang benar benar melepaskan segalanya adalah Yesus sendiri. Dialah "Penguasa Muda Kaya Raya" yang sejati.

Saat melayani, usia Yesus masih muda, kira kira tiga puluh tahun (Lukas 3:23). Ia adalah Penguasa sejati, Sang Firman pencipta semesta, dan Raja atas segala sesuatu. Ia memiliki kekayaan luar biasa dengan berada di pangkuan Bapa sejak kekekalan (Yohanes 1:18). Namun, Rasul Paulus mencatat dalam 2 Korintus 8:9 bahwa karena kasih karuniaNya, Ia yang kaya rela menjadi miskin supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya.

Yesus benar benar melepaskan takhta dan kemuliaan surga untuk turun ke dunia, lahir di kandang hina, mengambil rupa seorang hamba, dan tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalaNya. Ia adalah Pemilik segala sesuatu, tetapi saat disalib Ia tidak memiliki apa apa, bahkan pakaianNya pun diambil dan diundi.

Ada keindahan Injil yang sangat mendalam dan paralel di sini. Saat mendengar perkataan Yesus, pemuda kaya itu pergi dengan sedih menjauh dari Kristus demi memeluk hartanya. Duka yang sama dirasakan oleh Yesus. Matius 26:37 mencatat bahwa di Getsemani, mulailah Ia merasa sedih dan gentar. Bedanya, sang pemuda berduka karena akan kehilangan hartanya, sedangkan Yesus berduka karena akan kehilangan Harta terbesarNya, yaitu Bapa. Walau demikian, Yesus tetap berjalan maju melepaskan segalaNya. Inilah yang membuat salib Golgota begitu mengerikan: bukan sekadar paku yang menusuk fisikNya, melainkan perpisahan dengan Bapa yang belum pernah Ia alami dalam kekekalan.

Dalam Markus 14:36, Yesus berseru, "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagiMu." Kalimat ini adalah gema dari ucapanNya sendiri dalam Markus 10:27. Puncak implikasinya adalah kemustahilan keselamatan kita akhirnya ditanggung dengan sempurna oleh ketaatanNya.

Yesus yang tidak pernah kekurangan apa pun, rela kehilangan segalanya, supaya hari ini kita yang kekurangan segalanya tidak lagi kekurangan apa pun. Apa pun kondisi hidup kita hari ini baik itu kaya, miskin, cemas akan masa depan, takut di PHK, atau sedang menghadapi kehancuran bisnis kita bisa datang ke hadapan salib dengan penuh keyakinan dan berseru: Kristus cukup.

Kalimat "Kristus cukup" bukanlah slogan murahan untuk menyepelekan penderitaan kita. Yesus pun menangis dan berpeluh dukacita di Getsemani. Kehilangan hal hal yang baik dari genggaman kita tentu menyakitkan, tetapi hari ini kita bisa menyadari bahwa Kristus telah menanggung semuanya dan Ia, Sang Allah Imanuel, tetap selalu beserta dengan kita.

Sebagai penutup, mari kita merenungkan pertanyaan reflektif berikut:

  1. Hal apa yang saat ini sedang saya andalkan selain Kristus? Waktu, uang, dan pikiran saya paling banyak saya berikan untuk apa?
  2. Apa yang paling berat untuk saya lepaskan jika Kristus memintanya? Mengapa itu sulit?
  3. Satu hal apa yang akan berubah dalam hidup saya minggu ini jika saya sungguh percaya bahwa Kristus cukup?

Terdapat tiga implikasi Injil yang dapat kita bawa pada hari ini:

  • Orang berinjil hidup dengan rasa aman karena telah menjadi anak Allah, bukan dengan rasa cemas karena harus membuktikan diri.
  • Orang berinjil menikmati hal hal baik tanpa diperbudak olehnya, karena Kristus sudah menjadi hartanya yang termulia.
  • Orang berinjil menjadi keluarga bagi mereka yang kehilangan segalanya karena Kristus, bukan egois berjalan pergi menjaga miliknya sendiri.