When Jesus Gets Personal – Week 4
“When Jesus Calls Your Name”
Ps. Michael Chrisdion
Melanjutkan pesan minggu lalu mengenai Markus 10, hari ini fokus kita beralih pada Lukas 19. Menariknya, Lukas sebagai penulis Injil Sinoptik memiliki kesamaan dengan Markus 10 yang membahas tentang penguasa muda yang kaya. Namun, jika di Lukas 18 orang muda kaya itu datang kepada Yesus lalu pergi meninggalkannya dengan sedih, Lukas 19 menceritakan kisah yang berbeda tentang seorang kaya bernama Zakheus. Dengan penuh sukacita, Zakheus rela meninggalkan kekayaannya untuk mengikut Yesus karena hatinya telah disentuh oleh anugerah.
Kisah ini diambil dari Lukas 19:1-10. Mari kita mulai dengan merenungkan sebuah pertanyaan penting, apa sebenarnya perbedaan antara sekadar dilihat dan benar benar dikenal? Dalam kehidupan ini, kita bisa saja sangat terlihat dan diperhatikan, tetapi tetap merasa tidak pernah benar benar dikenal oleh siapa pun.

BACAAN: LUKAS 19:1-10
19:1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
19:9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.
19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."\

Kita hidup di era dimana hampir semua orang ingin terlihat dan diperhatikan. Kita memposting sesuatu di Instagram, di TikTok, atau di media sosial lainnya hanya supaya dilihat dan diakui. Kita membangun reputasi sedemikian rupa agar orang lain tahu siapa kita. Namun, ironisnya, semakin banyak orang yang tahu tentang kita, semakin terkenal kita, justru semakin banyak pula orang yang sebenarnya tidak mengenal siapa kita sesungguhnya.
Bagi seseorang yang sukses, mungkin semakin sulit baginya untuk menjawab satu pertanyaan mendasar, jika orang lain benar benar tahu apa yang ada di dalam hati kita, mengetahui semua agenda tersembunyi dan kebobrokan kita, apakah mereka masih menginginkan kita?
Ketika uang habis, posisi hilang, pengaruh lenyap, pencapaian sirna, dan citra yang selama ini dibangun hancur, adakah yang masih menginginkan kita? Bukan versi diri kita yang sudah dipoles rapi di Instagram, di kantor, atau di gereja agar terlihat keren dan dapat diterima oleh orang lain. Melainkan diri kita yang sesungguhnya dengan segala ambisi, rasa tidak aman, dosa, kebobrokan hati, kelicikan, dan hal hal kelam yang memalukan yang tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun. Jika ada yang mengetahui itu semua, apakah mereka masih mau menerima kita?
Perasaan inilah yang sedang dialami oleh Zakheus, dan latar belakangnya sangat jelas menggambarkan hal tersebut. Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai dan dia sangat kaya. Dia bukanlah pegawai pajak biasa, staf junior, atau orang yang baru merintis kariernya. Dia adalah sang kepala yang membuat dan memimpin sistem tersebut, yang pada akhirnya membuat dirinya menjadi sangat kaya.
Zakheus memiliki segalanya yang didambakan banyak orang sepanjang hidup mereka, yaitu uang, kekuasaan, dan pengaruh. Jika hidup ini diibaratkan sebuah tangga, Zakheus sudah berada di puncak paling atas.
Namun, di balik semua kesuksesan itu ada sebuah masalah besar. Dia kaya, tetapi kekayaannya didapat dengan mengorbankan banyak orang dan merusak hubungan. Dia memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaan itu justru membuatnya terisolasi dan sangat kesepian. Banyak orang tahu nama Zakheus, tetapi mereka sangat membenci nama itu.
Untuk memahami akar masalahnya, kita perlu mengerti pandangan masyarakat saat itu terhadap pemungut cukai. Orang Yahudi pada masa itu hidup di bawah penjajahan Romawi. Pemungut cukai adalah sesama orang Yahudi yang bekerja untuk bangsa Romawi yang menjajah mereka. Romawi menentukan jumlah pajak tertentu, tetapi para pemungut cukai ini menagih lebih banyak dan mengambil selisihnya untuk memperkaya diri sendiri, dengan dukungan penuh dari tentara Romawi di belakang mereka.
Bayangkan, seseorang mengumpulkan kekayaan dengan cara membantu penjajah memeras bangsanya sendiri. Lebih parahnya lagi, Zakheus bukan sekadar salah satu dari pemungut cukai, dia adalah kepalanya. Jika pemungut cukai biasa saja sudah sangat dibenci, Zakheus adalah orang yang paling super dibenci.
Orang orang mungkin takut kepadanya bukan karena rasa hormat, melainkan karena kekuasaan yang dia miliki. Mereka mengenal namanya, tetapi mereka membenci namanya. Di sinilah letak konfliknya. Seseorang yang memiliki posisi, pengaruh, dan kekuasaan seperti Zakheus ternyata masih mencari sesuatu.

DILIHAT SEMUA ORANG TAPI TIDAK PERNAH DIKENAL SIAPAPUN
Ada label yang melekat pada nama Zakheus, ia dicap sebagai koruptor, pengkhianat, orang kaya yang licik, atau pendosa. Kita pun sering melakukan hal serupa dengan cara yang lebih modern, mudah menunjuk dan bergosip tentang skandal, kegagalan rumah tangga, utang, atau sumber kekayaan seseorang.
Kita mudah memberi label kepada orang lain, tetapi apakah kita benar benar mengenal mereka? Tidak. Inilah ironi: dilihat oleh semua orang, tetapi tidak sungguh dikenal.
Zakheus dilihat banyak orang, tetapi tidak ada yang benar benar mengenal pribadinya. Ini juga menjadi realita kehidupan modern. Kita bisa dikelilingi banyak orang tetapi tetap merasa tidak dikenal. Kita mungkin memiliki banyak pengikut, tetapi tidak memiliki tempat yang aman untuk tampil jujur. Kita memiliki banyak kontak, tetapi tidak memiliki komunitas yang otentik. Ada orang yang terlihat kuat dan sukses, tetapi sebenarnya menangis, kesepian, dan hidup dalam ketakutan.
Sebelum orang lain memanggilnya pendosa, mungkin Zakheus sudah terbiasa hidup dengan perasaan bahwa dirinya hanya dinilai dari label tersebut. Namun, ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Lukas 19:3 mengatakan bahwa Zakheus berusaha melihat siapa Yesus itu. Ada rasa ingin tahu dan kegelisahan yang mendalam di dalam hatinya.
Karena itu, ia melakukan sesuatu yang sangat nekat. Lukas 19:4 mencatat bahwa ia berlari mendahului orang banyak lalu memanjat pohon ara. Bagi seorang kepala pemungut cukai yang kaya dan berkuasa, berlari dan memanjat pohon adalah tindakan yang merendahkan martabat. Ia sebenarnya bisa menyuruh bawahan atau pengawalnya. Namun, tindakannya menunjukkan bahwa ada dorongan dalam dirinya yang lebih kuat daripada menjaga citra dan harga diri.
Mengapa ia rela memanjat pohon? Ini menjadi metafora perjalanan hidup Zakheus. Ia telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk memanjat: memanjat tangga ekonomi, sosial, dan kekuasaan hingga mencapai puncak, mungkin sebagai pelampiasan karena dahulu sering direndahkan atau dirundung karena fisiknya. Namun setelah mencapai puncak, ia justru merasa kosong. Itulah sebabnya ketika mendengar tentang Yesus, ia tidak ragu merendahkan dirinya dan memanjat satu pohon lagi.
Kisah ini sangat relevan dengan kehidupan kita. Kita bisa naik sangat tinggi dalam kehidupan, tetapi tetap tidak menemukan apa yang sebenarnya dicari oleh jiwa kita. Kita semua sedang menaiki tangga kehidupan masing masing dan sering meyakinkan diri bahwa kita akan bahagia jika bisnis mencapai target, memiliki rumah impian, menikah dengan orang yang diinginkan, memiliki anak, atau mendapat pengakuan dan posisi.

Pencapaian, kesuksesan, keluarga, karier, dan pelayanan bukanlah hal yang jahat. Namun, semuanya menjadi berbahaya ketika kita menuntutnya berfungsi sebagai juru selamat. Ketika hal hal baik itu menjadi sumber utama identitas, keamanan, kenyamanan, dan makna hidup, semuanya telah berubah menjadi berhala. Sesuatu yang baik akan menghancurkan kita ketika dijadikan sesuatu yang mutlak, karena kita menuntut ciptaan melakukan pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh Sang Pencipta.
Apa yang terjadi ketika kita menjadikan semua itu sebagai tuhan? Pengkhotbah 5:10 berkata bahwa siapa mencintai uang tidak akan pernah puas dengan uang. Semakin banyak yang kita miliki, semakin sedikit rasa puas di dalam hati. Dunia mungkin berkata bahwa pencapaian materi membawa kebahagiaan, tetapi kenyataannya tidak demikian.
Uang bisa membeli banyak hal, tetapi tidak bisa membeli rasa cukup. Uang bisa membeli kasur termahal, tetapi tidak menjamin tidur yang nyenyak. Uang bisa membayar sistem keamanan terbaik atau pengawal paling tangguh, tetapi tidak menjamin kedamaian batin. Uang bisa mendatangkan banyak teman, tetapi belum tentu menghasilkan sahabat yang tulus.
Yesus sendiri memperingatkan kita tentang bahaya ketamakan dengan berkata bahwa hidup seseorang tidaklah tergantung pada kekayaannya. Namun, dunia selalu menilai kita dari hal hal lahiriah seperti pekerjaan, besaran gaji, jabatan, mobil, rumah, dan koneksi. Jika identitas kita terus dibangun di atas kekayaan dan performa, kita tidak akan pernah berhenti berlari dan selalu merasa dituntut untuk tampil sempurna. Di sinilah Injil hadir untuk membebaskan kita dari perbudakan tersebut.
Oleh karena itu, ada sebuah pertanyaan penting untuk mendiagnosis kedalaman batin kita. Apa yang saat ini paling menguasai hati Anda? Apakah Anda yang memiliki uang, atau uang yang justru memiliki Anda? Apakah Anda yang menguasai karir, atau karir yang mengendalikan Anda? Jika Tuhan mengambil sesuatu yang Anda anggap sangat berharga dan Anda merasa hidup Anda hancur karenanya, itu berarti hal tersebut bukan lagi sekadar berkat, melainkan telah menjelma menjadi berhala.
Mari kita renungkan sebuah pengandaian. Andaikan Anda benar benar telah mencapai puncak kesuksesan, memiliki kekayaan triliunan rupiah, dan mendapatkan semua hal yang selama ini Anda kejar. Bagaimana jika setelah mendapatkan segalanya, Anda tetap merasa gelisah dan hampa? Bagaimana jika hal hal yang selama ini Anda harapkan dapat memberikan kebahagiaan, kedamaian, dan jaminan hidup ternyata sama sekali gagal menyelamatkan Anda?
Perasaan hampa di tengah kelimpahan inilah yang sedang dialami oleh Zakheus. Ia memiliki segalanya, ia sangat kaya dan berkuasa, namun hatinya tetap kosong dan ia masih ingin mencari tahu siapa Yesus sebenarnya. Rasa hausnya akan kebenaran sejati membuat ia rela membuang harga dirinya dan memanjat pohon hanya untuk bisa melihat Yesus.

PERJUMPAAN YANG TIDAK PERNAH TERBAYANGKAN
Bayangkan situasinya: kerumunan orang begitu ramai mengiringi dan mengelilingi Yesus, sementara Zakheus hanya bisa melihat dari kejauhan. Mengingat statusnya, ia pasti didampingi pengawalnya jika bepergian. Namun, jika ia bersama pengawalnya, pergerakannya pasti lambat. Tiba tiba, di tengah keramaian itu, seorang pria bertubuh pendek berlari kencang mendahului rombongan. Pengawalnya mungkin kebingungan melihat majikannya berlari sejauh beberapa ratus meter ke depan dan memanjat pohon, karena tahu bahwa Yesus akan melewati jalan itu.
Beberapa tafsiran mengemukakan poin yang sangat menarik tentang tindakan Zakheus ini. Ia mungkin berpikir, "Jika aku memanjat pohon itu, aku akan cukup dekat untuk melihat Yesus, tetapi cukup jauh agar tidak terlihat oleh-Nya." Ia ingin mengamati Yesus secara diam diam, menjaga jarak aman agar tidak tersorot.
Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan kehidupan kita sendiri. Bukankah banyak dari kita yang mengikut Yesus dengan cara seperti itu? Kita ingin cukup dekat dengan Yesus—rajin beribadah, mendengarkan khotbah, mencari berkat Tuhan—tetapi kita menolak untuk terlalu dekat karena enggan terlibat lebih dalam atau ditegur.
"Khotbahnya luar biasa, sangat menyentuh," kata kita, tetapi dalam hati kita menambahkan, "Namun jangan sentuh bisnisku, jangan sentuh berhalaku, jangan sentuh hubungan tidak sehatku, jangan campuri rahasia hidupku, dan jangan suruh aku mengampuni orang yang menyakitiku."
Kita ingin cukup dekat untuk menerima sesuatu, tetapi cukup jauh agar tidak merasa terganggu. Kita merasa nyaman bersama Yesus selama Ia tidak mengutak atik hal hal yang kita genggam erat. Jika Anda merasa demikian, pesan ini tepat untuk Anda. Anda tidak bisa terus menjaga jarak; Anda harus menyerahkan semuanya secara penuh kepada Tuhan. Jika Anda hanya setengah setengah, Anda hanya akan menjadi orang yang religius, tanpa mengalami transformasi sejati.
Lihatlah apa yang terjadi selanjutnya. Yesus tidak membiarkan Zakheus bersembunyi.Zakheus mengira ia aman dari pandangan, namun dalam Lukas 19:5, ketika Yesus sampai di tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata:
"Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
Yesus memanggil namanya! Ia tidak menyebutnya "Hai, pemungut cukai," "Hai, pendosa," atau "Hai, orang pendek." Yesus tidak mengungkit kelemahan, jabatan, dosa, atau aibnya. Ia memanggil namanya—sebuah sapaan yang sangat personal.

Mari kembali pada pertanyaan awal: apa bedanya dilihat dan dikenal? Banyak orang melihat dan mengetahui tentang Zakheus, tetapi tidak ada yang benar benar mengenalnya. Yesus justru berhenti di bawah pohonnya, menatap matanya, dan memanggil namanya, seolah olah Ia sudah sangat dekat dengannya.
Tuhan mengenal setiap kita. Mazmur 139:1-4 menegaskan bahwa Tuhan menyelidiki dan mengenal kita. Ia mengetahui setiap gerak gerik dan isi pikiran kita, bahkan sebelum kata terucap. Zakheus belum mengatakan apa apa, tetapi Yesus sudah mengenalnya sepenuhnya. Ia mengetahui motivasi di balik kebaikan kita, rasa tidak aman di balik ambisi, kesombongan di balik pengetahuan, ketakutan di balik keinginan mengontrol, dan kepahitan di balik senyuman kita.
Ketika Yesus memanggil Zakheus dan menyatakan keinginan untuk menumpang di rumahnya, kerumunan justru bersungut sungut. Lukas 19:7 mencatat, “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Mereka melihat dosa Zakheus, tetapi gagal melihat bahwa mereka sendiri sama berdosanya.
Sikap ini disebut self righteousness atau merasa diri paling benar. Orang Farisi dalam Lukas 18 juga melakukan hal serupa dengan membanggakan ibadahnya dan merendahkan pemungut cukai. Kita pun sering berkata, “Aku memang tidak sempurna, tetapi setidaknya aku tidak seburuk dia.” Kita bisa merasa dekat dengan Yesus, tetapi tetap hidup dalam kebiasaan menghakimi dan membandingkan diri dengan orang lain.
Tindakan Yesus menyentil mereka yang merasa paling benar. Karena itu, kasih karunia sering kali terasa menyinggung. Kasih karunia terasa indah ketika diberikan kepada kita, tetapi sulit diterima ketika diberikan kepada orang yang menurut kita tidak layak. Ketika orang yang gagal, memiliki masa lalu kelam, atau merupakan pendosa besar dipulihkan dan dipakai Tuhan, kita sering kali protes. Jika kita tersinggung oleh kasih karunia yang Tuhan berikan kepada orang lain, kita perlu bertobat dan menyadari bahwa kita pun sangat membutuhkan anugerah-Nya.

Kembali ke ayat 5, Yesus berkata, “...sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Kata “harus” menunjukkan inisiatif dan kebutuhan ilahi. Yesus tidak menawarkan kunjungan dengan syarat rumah Zakheus sudah bersih atau ia sudah bertobat. Ia justru berinisiatif datang ketika Zakheus masih dalam keberdosaannya.
Inilah perbedaan mendasar antara agama dan Injil. Agama menuntut kita berubah dan menjadi layak sebelum diterima, sedangkan Injil menawarkan penerimaan yang mendahului perubahan (acceptance precedes transformation). Kita tidak datang kepada Kristus karena sudah sempurna, tetapi karena kita tidak mampu mengubah diri sendiri. Roma 2:4 menyatakan bahwa kemurahan Allah menuntun kita kepada pertobatan.
Merespons panggilan itu, ayat 6 mencatat bahwa Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Masalah Zakheus belum langsung selesai. Orang orang masih membencinya dan konsekuensi dosanya masih menanti. Namun, sukacitanya tidak bersumber dari hilangnya masalah, melainkan dari kenyataan bahwa Yesus mau menerima dan bersamanya.
Banyak orang Kristen memandang hubungan dengan Tuhan seperti sebuah kontrak: “Aku taat dan memberi, maka Tuhan harus memberkati dan menjaga hidupku.” Ketika Tuhan tidak memenuhi bagian yang mereka harapkan, mereka marah. Namun bagi Zakheus, Yesus bukan alat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Yesus sendiri adalah harta yang jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaannya.
Ketika seseorang menyadari bahwa Kristus adalah harta sejati, perubahan luar biasa terjadi di dalam hatinya. Itulah yang dialami oleh Zakheus.

ANUGERAH YANG MENATA ULANG SELURUH KEHIDUPAN
Dalam Lukas 19:8, setelah orang orang bersungut sungut, Zakheus berdiri dan menyatakan keputusan yang sangat radikal: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin. Dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang, akan kukembalikan empat kali lipat.”
Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya mengeksploitasi, memeras, dan memanipulasi orang lain demi kekayaan, tiba tiba rela memberikan sebagian besar hartanya. Selama hidupnya ia menggenggam erat kekayaannya, tetapi hari itu ia membuka tangannya. Mengapa? Karena uang dan kekayaan telah kehilangan kuasa atas hidup Zakheus.
Secara matematis, memberikan 50 persen hartanya dan mengembalikan hasil perasan empat kali lipat dapat membuat hartanya habis. Zakheus tidak lagi menghitung jumlah minimal yang harus diberikan agar hidupnya tetap aman. Hatinya telah ditata ulang oleh Injil. Ia tidak hanya merasa bersalah, tetapi mengalami dorongan yang menghasilkan transformasi sejati.
Perlu ditegaskan bahwa Zakheus tidak membagikan hartanya agar Yesus mau datang ke rumahnya. Yesus sudah berada di rumahnya dan sudah terlebih dahulu menerima serta memanggil namanya. Di sinilah kita belajar bahwa perubahan hidup adalah buah dari anugerah, bukan harga untuk membayar anugerah. Jika kita sudah diselamatkan, hidup kita pasti akan berubah.

Efesus 2:8-10 menegaskan bahwa kita diselamatkan oleh iman karena kasih karunia, bukan karena usaha atau perbuatan baik, sehingga tidak ada alasan untuk memegahkan diri. Namun, kita diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik. Artinya, anugerah yang menerima kita apa adanya tidak akan membiarkan kita tetap dalam keadaan lama. Kita diselamatkan oleh anugerah, tetapi juga diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik.
Karena itu, jika seseorang berkata bahwa ia sudah menerima anugerah sehingga bebas terus hidup dalam dosa, itu bukanlah Injil yang sejati. Pertobatan yang sejati selalu menghasilkan perubahan arah hidup. Hidup kita bukan lagi milik kita sendiri, melainkan milik Kristus untuk memuliakan nama-Nya.
Kisah Zakheus sangat kontras dengan kisah penguasa muda yang kaya di pasal sebelumnya, yang pergi dengan sedih karena tidak sanggup melepaskan hartanya. Mengapa Zakheus dapat merespons dengan sukacita dan tidak lagi dikuasai hartanya? Bukan karena ia memiliki tekad atau komitmen yang lebih kuat, melainkan karena anugerah Kristus menawan hatinya. Ia menemukan Yesus sebagai harta yang jauh lebih berharga daripada kekuasaan, posisi, dan uang.
Thomas Chalmers pernah menulis tentang The Expulsive Power of a New Affection. Ia menjelaskan bahwa kasih yang lebih mulia akan menggantikan kasih yang lebih rendah yang tidak mampu memuaskan. Cara paling efektif melepaskan kecintaan pada hal duniawi bukan dengan memaksa diri berhenti mencintainya, tetapi dengan menemukan sesuatu yang jauh lebih indah. Ketika hati melihat Kristus sebagai harta paling berharga, harta lainnya kehilangan kuasa atas hidup kita, seperti dalam Matius 13:44, ketika seseorang rela menjual seluruh miliknya dengan sukacita demi mendapatkan harta yang jauh lebih besar.
Setelah Zakheus merespons anugerah itu, Yesus berkata dalam Lukas 19:9, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” Terjadi perubahan identitas yang luar biasa. Yesus tidak sekadar mengatakan bahwa Zakheus menjadi lebih baik atau bermoral, tetapi bahwa keselamatan telah datang dan identitasnya telah diubahkan. Orang banyak melihatnya sebagai pengkhianat, pendosa, dan orang luar, tetapi Yesus menyebutnya bagian dari keluarga, seorang anak Abraham. Tuhannya berubah, hartanya berubah, dan arah hidupnya berubah total.

Kisah ini ditutup dengan kejutan dalam Lukas 19:10, “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”
Sejak awal kita mungkin berpikir bahwa Zakheus-lah yang sedang mencari Tuhan. Ia berlari, memanjat pohon, dan ingin melihat Yesus. Namun, kebenaran Injil adalah bahwa Yesuslah yang sedang mencari Zakheus. Zakheus berpikir ia harus naik cukup tinggi untuk melihat Tuhan, tetapi Tuhanlah yang datang menghampiri pohonnya, melihat ke atas, dan memanggil namanya.
Yesus menggunakan kata “hilang”. Orang yang hilang tidak membutuhkan sekadar motivasi, pendidikan, atau nasihat. Orang yang hilang membutuhkan penyelamatan. Jika seseorang tersesat di hutan, kita tidak cukup mengirimkan petunjuk jalan pulang. Kita harus datang mencarinya dan membawanya pulang.
Inilah perbedaan mendasar antara agama dan Injil. Agama mengajarkan bahwa kita harus mendaki, berbuat baik, dan berjuang mencari Tuhan agar menjadi layak. Injil menyatakan bahwa Tuhanlah yang turun ke bumi untuk mencari dan menyelamatkan kita. Keselamatan sejati melenyapkan kesombongan karena kita sadar bahwa kita ditemukan bukan karena kehebatan kita, melainkan karena Tuhan berinisiatif mencari kita yang terhilang.
Bagaimana Yesus melakukan penyelamatan ini? Petunjuknya ada di awal cerita, ketika Yesus melintasi Yerikho, rute menuju Yerusalem. Di sana Ia kelak disambut dengan sorakan “Hosana”, tetapi beberapa hari kemudian orang yang sama akan menuntut agar Ia disalibkan. Yesus sedang berjalan menuju kayu salib.
Salib adalah sebuah pembalikan yang luar biasa: orang luar dibawa menjadi orang dalam.Zakheus adalah orang luar yang dibenci, ditolak, dan dianggap najis, tetapi Yesus membawanya masuk ke dalam keluarga Allah. Bagaimana mungkin? Karena Yesus, Pribadi yang paling layak berada di dalam, Sang Anak yang dikasihi Bapa, suci, dan tanpa dosa, rela diperlakukan sebagai orang luar. Ia dibuang ke luar kota, ditolak, dihina, dihukum, dan ditinggalkan agar orang luar seperti Zakheus, dan juga kita, dapat dibawa masuk dan diterima sebagai anak anak Allah. Jesus is the ultimate insider yang rela menjadi outsider.
Zakheus memanjat pohon karena rasa ingin tahu, tetapi Yesus rela memanjat kayu salib karena kasih-Nya yang tak terbatas. Yesus mengetahui seluruh dosa kita, tetapi tetap rela naik ke kayu salib untuk menanggung hukuman kita. Zakheus turun dari pohon dan menerima Yesus dengan sukacita karena ia tahu bahwa Yesus rela bertahan di atas kayu salib agar kita semua dapat pulang ke rumah Bapa di surga.
Kebenaran inilah yang menata ulang seluruh hidup Zakheus. Uang yang dulunya menjadi identitas dan sumber rasa amannya kini berubah posisi hanya menjadi pelayan. Kini, Kristuslah yang menjadi identitas, keamanan, dan harta sejatinya.
Bagaimana dengan hidup Anda? Jika Kristus sudah mengenal Anda dan menjadi harta Anda, Anda tidak perlu lagi mengemis kepada dunia untuk mendapatkan identitas, penerimaan, dan jaminan keselamatan. Berhentilah memanjat pohon pohon kesuksesan, tangga sosial, tangga ekonomi, maupun kekuasaan hanya untuk merasa dianggap dan diakui. Semua itu tidak akan pernah memuaskan Anda. Berhentilah berusaha mengubah diri semata mata agar Anda diterima oleh Tuhan, karena itu adalah cara kerja agama. Anda baru bisa benar benar berubah ketika Anda hidup dengan mengandalkan penerimaan Tuhan.

Mari kita renungkan dan hidupi tiga prinsip Injil ini:
1. Orang berinjil sadar bahwa keselamatan bukanlah tentang usaha kita mencari Tuhan, melainkan inisiatif Tuhan yang menemukan dan menyelamatkan kita.
2. Orang berinjil sadar bahwa perubahan hidup bukanlah syarat untuk diterima oleh Tuhan, melainkan buah nyata dari penerimaan kasih karunia Nya.
3. Orang berinjil sadar bahwa semua harta di dunia ini terbatas nilainya, karena kita telah memiliki Kristus, Harta yang paling berharga di atas segalanya.
Kristus telah mencari Anda, melihat Anda, dan memanggil nama Anda. Hiduplah dari kepastian kasih dan penerimaan Nya.
PERTANYAAN REFLEKTIF
● Apa “pohon” yang terus saya panjat karena saya berharap di sana akhirnya dapat merasa cukup?
● Apakah saya sedang berubah supaya diterima Tuhan, atau berubah karena sadar sudah diterima oleh anugerah?
● Apakah saya masih melihat iman sebagai usaha mencari Tuhan, atau hidup sebagai orang yang sudah ditemukan Tuhan?