Memikirkan ulang arti kata Cukup dari sudut pandang Injil Kristus

Memikirkan Ulang Arti kata Cukup dari Sudut Pandang Injil Kristus 

Ev. Joy Manik

 

Pembacaan : Pengkotbah 2:1 – 11; 24 - 26

Pada saat kita memikirkan ulang kata “rasa cukup “ maka pada saat yang sama sebenarnya  kita perlu sesuatu karena kita merasa tidak cukup. Mungkin kita berpikir bahwa hidup itu sudah cukup karena Kristus. Namun ini adalah sebuah kalimat dimana kita tidak memahami artinya. Kita hanya memaknainya dengan sebuah rasa namun tidak memaknai esensinya. Jadi rasa cukup itu tidak semudah seperti yang kita katakan atau pikirkan. Kalau sesuatu yang tidak ada artinya itu tidak perlu dibahas karena tidak ada artinya maka kesulitan kita adalah kita tidak pernah punya cukup alasan untuk memahami arti kata cukup dalam hidup. Ketika cukup adalah sesuatu yang membuat kita puas maka kita akan berhenti sampai disitu. 

Pertanyaannya adalah apakah tema “ mengapa tidak merasa cukup “ itu bertentangan dengan Alkitab. Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita harus semakin serupa dengan Kristus dan itu bukan tiba-tiba terjadi. Ini adalah sebuah proses pengudusan yaitu sebuah perjalanan yang kita seharusnya tidak merasa cukup. Namun di bagian lain maka rasa cukup itu juga harus ada dalam hati kita. Sebab kalau kita tidak merasa cukup maka itu membuat kita terus bersungut-sungut dan sulit mengucap syukur karena terus merasa kurang. Dan kata cukup itu berkaitan dengan dua hal yaitu, pertama, kita tidak bisa memahami rasa cukup sebelum mengerti arti dan tujuan hidup kita. Kedua, berhubungan dengan talenta yaitu kita tidak bisa mengerti kata cukup kalau kita membandingkan diri dengan orang lain. 

BAGAIMANA KITA MEMAHAMI ARTI KATA CUKUP ?

Amsal 2: 1

Aku berkata dalam hati: "Mari, aku hendak menguji kegirangan! 

Di sini pengkotbah sedang mengajak banyak orang untuk berkumpul untuk menguji bersama apa yang menjadi tesisnya dimana bukan hanya sekedar hasil pemikirannya tetapi adalah perjalanan hidup pengkotbah. Kata “ menguji “ di ayat ini artinya bukan hanya sekedar menguji atau membuktikan, tetapi standar dari sebuah bukti dimana sebuah bukti itu bisa kita ambil kesimpulannya kalau standarnya benar. Dan pengkotbah memberikan sebuah bukti melalui tiga kata yaitu evaluasi, instropeksi dan refleksi. Dan hasil atau bukti dari menguji kegirangannya adalah bahwa diluar Tuhan maka semua jerih payah dan semua yang kita capai maka kita tidak bisa menikmatinya sebelum kita mendapatkan karunia untuk menikmati apa yang sudah kita dapat. Pengkotbah tidak naif mengatakan bahwa semua jerih payah kita tidak bisa kita nikmati, tetapi orang yang tidak menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupannya akan mengalami kesulitan untuk menikmatinya. Sebab itu perlu dilakukan evaluasi yaitu menguji hati dengan menemukan sesuatu yang berkaitan dengan masalah. Namun menemukan masalah saja tidak akan dapat membawa perubahan maka perlu instropeksi. Kita perlu menginstropeksi bagian apa yang ada dalam hidup kita sehingga masalah itu muncul. Dan selanjutnya adalah refleksi yaitu bertanya pada Tuhan mengapa itu terjadi serta tidak bersandar pada kekuatan kita sendiri. Sebab kesulitan yang terbesar adalah ketika kita tahu masalah namun kita tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk tidak melakukan kesalahan tersebut. 

Kebahagiaan seorang manusia bukan diperolah dari berapa banyak berkat yang Tuhan beri, tetapi betapa dalam kasihNya sehingga Ia mau memberi Kristus bagi kita.

Dalam Kristus kita menemukan jawaban dimana kita seringkali bertanya tentang berkat  dan semua masalah yang kita hadapi yang membutuhkan jalan keluar. Kita merasa lelah dan habis waktu untuk mencari jalan keluar sehingga tidak punya waktu untuk mencari jalan masuk kepada kasih karunia Tuhan. Seharusnya kita menguji hati untuk membuka cakrawala berpikir kita bahwa sebenarnya kejatuhan kita bukan karena kita tidak tahu yang benar tetapi karena kita tidak mau tahu yang benar. Kita harus menyadari bahwa kita ini lemah dan membutuhkan anugerah Tuhan. Seperti ranting maka kita perlu melekat pada sang pokok. Dengan menguji hati maka akhirnya kita bisa menyadari bahwa semua yang kita dapatkan hari ini adalah semata-mata karena anugerahNya. Dengan menyadari ini maka kita akan mendapatkan kepuasan yaitu bahwa semua itu bukan karena jerih payah kita bahkan kalau kita hidup itu bukan karena kuat dan gagah kita tetapi karena kasih karunia Kristus. 

Kita tidak akan dapat mengerti kehendak Tuhan sebelum kita hidup di bawah  kehendak Tuhan.

KITA PERLU MENGUJI HATI KITA !

Kita tidak akan pernah cukup dalam menjalani kehidupan ini. Namun untuk menentukan rasa cukup dalam berbagai aspek kehidupan kita maka kita perlu terus untuk menguji hati kita. Sebab itu pengkhotbah mengajarkan kepada kita apa saja yang perlu di uji, yaitu:

  1. Pleasure / kenikmatan (Ayat 1 – 3)
  2. Prestige & Prosperity/ prestis dan kemakmuran (Ayat 4 – 8)
  3. Power/ kekuatan  (Ayat 9-10)
  4. Kesimpulan awal yaitu segala sesuatu adalah kesia-siaan (Ayat 11)
  5. Solusi kedua yaitu berpaling pada hikmat (Ayat 12 – 23)
  6. Solusi terakhir yaitu berpaling pada Allah (Ayat 24 – 26)

Disini kita menemukan tentang esensi Injil Kristus yaitu disatu sisi kita tercukupi dengan kasih Yesus yang ajaib, namun di sisi lain kita sadar bahwa kecukupan kasih karunia itu mendorong kita untuk semakin hidup berdedikasi dan berkontribusi bagi Allah. Kita tidak pernah cukup untuk mengenal Tuhan, namun disisi lain kita merasa cukup dengan segala berkat yang Tuhan percayakan pada kita. Kita bisa menikmati jerih payah kita sebab kita sadar bahwa jerih payah kita dinyatakan pertamakali dalam anugerah Kristus. 

Orang yang menguji hati tidak akan mudah memuji hatinya sendiri.

Semua pekerjaan, pencapaian, prestasi dan semua yang baik yang bisa kita banggakan maka kita hanya bisa membanggakan dalam Kristus bukan dalam diri kita. Orang yang menguji hati akan selalu sadar bahwa yang patut dipuji bukanlah diri sendiri tetapi Kristus. Ujian terhadap hati akan menunjukkan lubang dosa yang tidak pernah cukup diisi oleh apapun selain kecukupan kasih dan anugerah Kristus. Saat kita menguji hati dan mengambil keputusan dalam berbagai aspek kehidupan kita (bisnis, pernikahan dll) maka apakah ada Kristus disana sebab kalau tidak maka kita tidak akan pernah merasa cukup. 

PENENTUNYA BUKAN “AKU “ !

Tantangan dalam konteks kehidupan kita hari ini paling tidak ada tiga yaitu :

  • Eksistensialisme yaitu aku ada karena orang lain menganggap aku ada sehingga aku harus membuktikan diriku harus punya sesuatu sehingga orang harus melihat aku.
  • Rasionalisme  yaitu orang yang berpikir dengan rasionya. “ Aku hidup karena aku berpikir aku hidup.”Sehingga orang ini tidak mau mendengar apa kata orang yang penting bisa meluapkan ambisinya.
  • Psikologisme yaitu yang menekankan rasa nyaman.

Firman Tuhan mengajarkan pada kita bahwa selama Kristus dan karyaNya tidak menjadi dasar dan tujuan hidup  maka apapun yang kita capai dan miliki tidak akan pernah memberi rasa cukup dalam hidup kita. Menempatkan Kristus dalam semua keputusan kita adalah cara untuk menguji hati kita. Sehingga setiap keputusan apapun yang kita buat bukan berdasarkan orang lain tetapi melihat Yesus. Dan tujuan dari menguji hati adalah selanjutnya supaya bisa mengubah arah hati dan pikiran kita yaitu yang cenderung berorientasi pada diri sendiri menjadi terarah pada Yesus.

Ketika “aku “ menjadi penentu dalam hidup maka “ aku “ tidak akan pernah cukup untuk memahami arti dari kata cukup.

Kata cukup tidak akan bisa kita mengerti saat kita membandngkan diri dengan orang lain dimana penentunya adalah diri kita sendiri dan bukan Tuhan. Kalau penentunya Tuhan maka kita bisa belajar dan sadar bahwa masing-masing kita dipercayakan Tuhan sesuai kasih karuniaNya sehingga kita akan merasa cukup. 

Amsal 30: 7 - 9

 30:7 Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: 30:8 Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan . Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. 30:9 Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.

Penulis Amsal meminta supaya jangan diberi kemiskinan atau kekayaan tetapi bisa menikmati makanan yang menjadi bagiannya. ini seperti doa Bapa Kami yang sifatnya personal yaitu “ berikanlah kepada kami makanan kami yang secukupnya.” Perjalanan hidup kita akan berubah namun apapun situasi kita maka hati kita tetap sama pada Yesus. Paulus mengajarkan supaya kita tidak memperhatikan yang kelihatan tetapi pada yang tidak kelihatan, sebab yang kelihatan adalah sementara dan yang tidak kelihatan itu kekal. Sekalipun tubuh jasamni merosot tetapi tubuh rohani semakin diperbaharui. Jadi orientasinya adalah Tuhan, dimana Tuhan yang memanggil, Tuhan yang melengkapi dan Tuhan yang menyertai.  Tim Keller berkata “ dosa bukanlah sekedar sesuatu yang buruk yang kita lakukan, tetapi ketika perbuatan yang baik kita tempatkan di tempat yang harusnya Tuhan ada di sana … Solusinya bukanlah mengubah tindakan perilaku kita tetapi mengubah orientasi hati dan hidup kita pada Allah.”

Ikhlas melepaskan apapun yang menghalangi kita untuk bisa semakin dekat dengan Tuhan, menunjukkan rasa cukup kita di dalam Tuhan.

Segala sesuatu yang tidak membawa kita semakin dekat dengan Tuhan akan menunjukkan berhala dalam hati kita. 

Setiap kita yang tidak merasa cukup dalam mengenal Tuhan  akan selalu merasa cukup dengan apa yang Tuhan berikan.

Selama kita ingin mengenal Tuhan dan terus mencari wajah-Nya serta memahami sifat-sifat-Nya yang ajaib dalam hidup kita, maka apapun yang Tuhan berikan walaupun tidak sesempurna seperti yang kita harapkan namun itu yang terbaik yang Tuhan berikan maka kita bisa tetap mengucap syukur.