Living By The Gospel In Relationship

The Book Of Galatians Week 25 “Living by The Gospel, in Relationship” 

Ps. Dave Hatoguan

 

PEMBACAAN : Galatia 5:13-15, 25-26, 6:4-5

Hari hari ini kita hidup di jaman yang membombardir kita dengan nilai-nilai atau filosofi dunia bahwa tidak ada kebenaran absolut atau mutlak, semua hal itu sifatnya relatif sehingga berujung pada sebuah pandangan bahwa kita boleh melakukan sesuatu sebebas bebasnya, yang penting tidak menyakiti orang lain, yang penting tidak merugikan orang lain, yang penting kita mengasihi orang lain, tidak perlu mendalam belajar Injil, tidak perlu mengerti doktrin dan tidak usah terlalu fanatik yang penting tindakan mengasihi sesama dan semua orang, yang penting kita tidak menganggu orang lain. Bukankah ini terdengar baik dan sering sekali kita mendengar perkataan itu bukan? Ingat kita dipanggil bukan hanya sekedar menjadi orang baik namun kita dipanggil untuk serupa Kristus, dan itu mustahil dengan kekuatan kita

Pada era kini banyak orang salah di dalam memaknai kebebasan dalam relationship, terbukti beberapa artis Hollywood melakukan open marriage relationship, yang artinya walaupun sudah menikah tetapi boleh memiliki relasi dengan orang lain bahkan sah-sah saja berhubungan badan dengan orang lain, bukankah ini sungguh-sungguh liberal? Dan  semua dari kita ditempat ini pasti tidak setuju dengan pandangan ini. 

Tetapi faktanya banyak orang walaupun tidak setuju dengan pandangan yang sangat liberal itu tetapi justru melakukan perselingkuhan, bukankah hal ini sama saja? Ada yang beranggapan bahwa tidak masalah selingkuh, itu dianggap bumbu pernikahan, supaya tidak jenuh dan keluarga tetap harmonis, bukankah hal ini tidak ada bedanya? Oleh sebab itu kita akan belajar dan melanjutkan eksposisi kita dalam kitab Galatia. Ada tiga point :

          1. PAULUS MENGINGATKAN ORANG PERCAYA DI GALATIA TENTANG KEMERDEKAAN YANG DIBERIKAN KRISTUS. Galatia 5:13 

Galatia 5:13 

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.

Dalam Galatia 5:13–15 Secara sederhana Paulus menyatakan kembali dasar kehidupan Kristiani: "Kamu telah dipanggil untuk merdeka, saudara-saudara." Kemudian, berdasarkan panggilan ilahi itu, dia memberikan dua rangkap perintah Secara negatif: "Jangan gunakan kebebasanmu sebagai kesempatan untuk daging." Positif: "Melalui cinta menjadi hamba satu sama lain." Kemudian untuk mendukung perintah rangkap dua ini dia memberikan dorongan positif dan negatif untuk mencintai. Secara positif: "Karena seluruh hukum terpenuhi dalam satu kalimat

Galatia 5:14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!

Markus 12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.'" Dan secara negatif: "Jika kamu saling menggigit dan melahap, berhati-hatilah agar kamu tidak menghabisi oleh satu sama lain." Poin utama dari teks ini adalah, "melalui cinta kita perlu menjadi pelayan satu sama lain." Jika Anda melakukan ini, Anda memenuhi seluruh hukum; jika tidak melakukannya maka kamu menghancurkan diri sendiri.

         1a. Perintah Menggunakan Kebebasan Bukan Untuk Hidup Dalam Dosa

Secara status di dalam Kristus kita telah dibenarkan dan hal ini adalah fakta yang harus kita terima dan percaya. Kita sudah dibenarkan dalam Kristus, Dia sudah melakukan segalanya bagi kita. Berdasarkan karya Kristus itulah Allah menerima kita apa adanya. Dosa-dosa kita tidak menghalangi Allah untuk mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya. Walaupun demikian, dosa-dosa kita bukan diabaikan, tetapi dibereskan. Allah tidak menutup mata terhadap dosa, tetapi Dia melihat pada karya penebusan Kristus yang sempurna.

Dosa tidak mengubah status (dibenarkan) kita di hadapan Allah, tetapi bukan berarti kita boleh hidup dan nyaman dalam dosa.

Pandangan bahwa kita bebas berbuat apa saja adalah pandangan yang menyimpang dalam iman Kristen

Dalam ayat 13b ini adalah bentuk larangan untuk membuka kesempatan bagi dosa. Kalau legalisme bisa dianggap sebagai ekstrem kanan, maka antinomianisme adalah ekstrem kiri. Penganut legalisme mengejar perkenanan Allah melalui kesalehan diri sendiri. Sikap Allah pada kita ditentukan oleh sikap kita pada Allah. Penganut antinomianisme menganggap kesalehan sama sekali tidak diperlukan. Sikap kita pada Allah sama sekali tidak dipedulikan oleh Allah

Mengerti doktrin yang alkitabiah sangatlah penting, tetapi tidak berhenti mengerti, lebih dari itu kita perlu menghidupinya

Konteks dari ayat yang 13b adalah berbicara tentang Antinomianisme inilah yang sedang. Jemaat Galatia telah salah memahami kebebasan di dalam Kristus. Kebebasan tersebut dianggap sebagai “kesempatan untuk kehidupan dalam dosa” dalam terjemahan aslinya menggunakan sebuah kalimat “untuk kesempatan dalam kedagingan”). Karena yang menjadi buah pemikiran Paulus ketika melihat orang Galatia besar kemungkinan orang-orang Galatia mencoba mengatasnamakan kasih karunia sebagai pembelaan dan pembenaran atas dosa-dosa mereka. Semboyan mereka mungkin adalah ini: “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya” (Rm. 3:8) atau “Banyak dosa, banyak kasih karunia” (Rm. 6:1). Mereka lupa bahwa kebebasan sejati justru diperoleh dari Kristus untuk menaati Kristus. Ketaatan pada firman Kristus adalah wujud kebebasan yang sejati (Yoh. 8:32 “kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”). Jadi, kita dibebaskan dari dosa, bukan untuk melakukan dosa seenaknya

Konteks Kini :

Bukankah banyak pada saat ini orang melakukan dosa, tetapi mencari pembenaran melalui teks-teks firman Tuhan dan menyatakan bahwa ini adalah penafisiran yang alkitabiah. Misal "Tidak masalah kamu punya sesama pasangan sesama jenis, Tuhan sudah menerima kamu apa adanya, kalau ada gereja atau pendeta yang melarang sesama jenis itu kan mereka kaum tradisional yang menafsirkan teks dengan dangkal.” Mereka hanyalah kaum yang dangkal dalam menafisrkan teks-teks alkitab, nah kita ini lebih advance, kita ini lebih berani dalam menafsirkan teks alkitab dengan lebih berani. Adam dan Hawa itu hanyalah adalah mitos mereka tidak benar-benar ada, mereka hanyalah konsep-ide dan hanya menunjukan tentang prefrensi gender penulis kisah-kisah dalam Perjanjian Lama, sudah tenang aja, Tuhan sudah menerima kamu apa adanya, kamu tidak perlu bertobat. Atau semboyan yang paling sering saya dengar, "Ahh masih muda, nikmati aja dulu, puas-puasin nakal, nanti waktu sudah tua tobat, tidak usah gereja-gereja'an atau aktif pelayanan yang penting lakukan semua hal yang kamu mau, mumpung masih muda, tidak apa-apa berbuat dosa Tuhan pasti mengampuni. 

Ini adalah pandangan yang keliru !

         1b. Perintah Untuk Dapat Melayani Orang Lain Dengan Kasih

Galatia 5:13 adalah perintah untuk memiliki hati yang bebas dan percaya diri untuk  mengasihi sesama. Kedua, nasihat untuk melayani sesama (ayat 13c-14). Orang percaya tidak hanya dipanggil untuk sekedar menjauhi dosa. Kita juga diperintahkan untuk melakukan sesuatu kepada sesama. Kebebasan bukan alasan untuk mengabaikan penilaian dan perasaan banyak orang, melainkan kesempatan untuk menebar kebaikan.

Kita tidak hanya dipanggil untuk sekadar menjauhi dosa, namun juga diperintahkan untuk melakukan sesuatu kepada sesama.


Galatia 5:13b
Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah (douleuō) seorang akan yang lain oleh kasih

Paulus menasihati kita untuk melayani sesama. Pemunculan kata “melayani” (douleuō) di sini cukup mengejutkan. Kata ini sebelumnya sudah muncul beberapa kali dengan arti “menghambakan diri” dan mengandung makna negatif: perhambaan pada berhala atau roh-roh dunia (4:8-9, 25). Melalui penggunaan kata ini Paulus ingin mengajarkan bahwa penghambaan pada dirinya sendiri tidak selalu keliru, tergantung pada objek penghambaan. Kebebasan (dari dosa) adalah penghambaan (pada kebenaran).

Mari kita fokus pertama pada perintah positif di ayat 13: "Melalui kasih jadilah hamba satu sama lain." Dengarkan apa yang terjadi ketika Anda menggabungkan perintah ini dengan bagian pertama dari ayat: "Kamu dipanggil untuk kebebasan. Melalui cinta, layani satu sama lain." Kamu dipanggil untuk kebebasan dari perbudakan; sekarang jatuh cinta tunduk pada perbudakan! Inilah pertanyaan yang harus kita tanyakan: Mengapa cinta yang melayani kebutuhan orang lain adalah satu-satunya cara kebebasan Kristiani dapat mengungkapkan dirinya? Mengapa panggilan untuk kebebasan dan panggilan untuk mencintai itu identik?

Kita tidak hanya dipanggil untuk menikmati anugerah keselamatan melalui Yesus Kristus melainkan kita juga dipanggil untuk menjadi penyalur anugerah

          2. APA HALANGAN DALAM MELAYANI DAN MENGASIHI ORANG LAIN? Galatia 5:15 

Galatia 5:15 

Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Orang Galatia tidak bisa hidup damai dengan sesamanya. Mereka gila hormat, suka menantang, dan saling mendengki (5:26). Mereka juga merasa diri lebih baik daripada orang lain (6:3-4,12). Perbuatan-perbuatan daging tampak nyata dalam kehidupan mereka (5:20-21 “perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian”). Mereka bukan hanya gagal menggunakan kebebasan sebagai sarana melayani sesama, tetapi malah menggunakannya sebagai senjata melukai sesama. Mereka bukan hanya gagal mengasihi sesama, tetapi malah membenci sesama.

Dosa membuat kita menjadi egosentris. Pada awalnya manusia menciptakan Adam dan Hawa untuk saling berelasi dengan harmonis, waktu dalam Kitab Kejadian Tuhan Allah melihat segala yang diciptakan semuanya baik, lalu Allah memberikan Hawa kepada Adam untuk menjadi penolong, Allah mau supaya Adam mempunyai relasi untuk menggambarkan karakter Allah itu sendiri yang memiliki relasi satu dengan yang lain. tetapi kita tahu cerita selanjutnya bahwa akhirnya dosa mulai masuk sehingga  mereka jatuh kedalam dosa, sesuatu yang pada awalnya harmoni itu menjadi rusak karena dosa ,dan dosa itu terus merambat kepada keturunan mereka selanjutnya sehingga kita tahu kisahnya bahwa Kain membunuh Habel, karena Kain mulai iri kepada Habel. 

Kalau mau jujur ini sama dengan kita, kita tidak suka melihat orang lain lebih unggul, kita tidak suka terlihat lemah, terlihat buruk dan  terlihat tidak mampu. Kita tidak suka dibanding-bandingkan dengan sosok yang lebih, tetapi kalau kita dibanding-bandingkan dengan sosok yang lebih lemah dari kita maka kita akan senang bukan? Dengan kata lain kita memiliki kecenderungan gila hormat (sombong), oleh karena itu Rasul Paulus mengingatkan orang Galatia dan saya percaya ini juga untuk kita semua ditempat ini untuk tidak gila hormat.

Galatia 5:26 

dan janganlah kita gila hormat (sombong - Kenodoxoi), janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

KENODOXOI memiliki akar kata dari Kenoó yang artinya Kosong dan Doxa yang artinya kemuliaan itulah akar mana kita mendapatkan kata doksologi (kita mengembalikan kemuliaan hanya bagi Allah) Kata kemuliaan dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pada dasarnya berarti kepentingan, karena secara harfiah berarti bobot. Ketika sesuatu menjadi penting lihat bahkan dalam bahasa Inggris kita memiliki kata matter-material. 

KENODOXOI (sombong) secara sederhana kata ini sebenarnya berarti jauh di lubuk hati kita, kita memiliki masalah, ada suatu kekosongan yang mendalam sehingga kita tahu bahwa kita tidak penting.

CS. Lewis mengatakan “ kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri: atau tidak memikirkan diri dengan berlebihan. Menyiksa diri dan keminderan bukanlah tanda kerendahan hati yang dimaksudkan Injil. Mereka sama-sama menolak Injil seperti kesombongan dan kemandirian akan Tuhan! “ Dengan kata lain, Minder (insecure) itu adalah kesombongan yang terselubung, karena tidak mau dikoreksi..

Tidak heran banyak dari kita memiliki kecenderungan dengan mati-matian menunjukan bahwa kita itu berarti, bahwa kita itu memiliki nilai dan menunjukan bahwa kita itu penting. Kita tidak suka tidak dianggap dan tidak masuk hitungan, kita senang dianggap menjadi orang penting, kita cenderung egois dan mementingkan diri sendiri Berapa banyak kita melihat konflik dan perpecahan terjadi dalam keluarga, gereja, rekan kerja, pertemanan itu karena merasa paling benar, sehingga saling menyalahkan, saling membenci.

Ego Selalu Menarik Perhatian Pada Dirinya Sendiri, Karena Ada Yang Salah Dengan Identitas Kita

Solusi satu-satunya yaitu Allah yang berinisiatif mengasihi dan melayani kita terlebih dahulu, dan kasih Allah itulah yang membuat kita memiliki kemampuan mengasihi dan melayani orang lain. Karena Dia adalah Sang Sumber Kasih Sejati. Oleh sebab itu jangan terkecoh dengan khotbah tentang mengasihi sesama yang berdasarkan kekuatan kita sendiri, sadarilah kita semua telah gagal dalam mengasihi  dan melayani orang lain dengan kekuatan sendiri. Jika ujung-ujungnya hanya berdasarkan kekuatan sendiri, itu hanyalah pesan sampah yang membuat kita tidak tulus dan hitung-hitungan dalam menghidupi kemerdekaan oleh sebab itu kita tidak perlu kita mendengarkannya. Tim Keller berkata “ Roh bekerja di dalam diri kita untuk menerapkan Injil pada persepsi diri dalam memandang orang lain. Dia menciptakan citra diri baru yang tidak didasarkan pada perbandingan dengan orang lain.

          3. BAGAIMANA KITA DAPAT MENGHIDUPI KEMERDEKAAN DENGAN MELAYANI DAN MENGASIHI ORANG LAIN?

Jawabannya adalah melalui komunitas rohani dan melayani sesama. Apa makna teologis untuk kita perlu memiliki relasi dengan orang lain? Karena Allah kita adalah Allah Tritunggal yang memiliki relasi. Tanpa doktrin Tritunggal dan dwinatur Yesus Kristus yang alkitabiah maka kekristenan akan kehilangan semua implikasi dan makna iman Kristen sejati. Melalui Doktrin Tritunggal memiliki makna penting mengapa kita sebagai orang percaya perlu memiliki komunitas rohani. Apa yang dilakukan Tritunggal? Bapa memberikan kemuliaan kepada Anak, Anak memberikan kemuliaan kepada Bapa dan Roh Kudus. Roh Kudus memberikan kemuliaan kepada Bapa dan kepada Anak. Bapa mengasihi Anak dan Roh Kudus, Anak mengasihi Bapa dan Roh Kudus, Roh Kudus  mengasihi Bapa dan Anak, karena Tuhan memiliki kuasa, kemuliaan dan kasih bukan untuk disimpan tetapi untuk di berikan dan disalurkan. Tanpa doktrin Tritunggal dan dwinatur Yesus Kristus yang alkitabiah maka kekristenan akan kehilangan semua implikasi dan makna iman Kristen sejati. Melalui Doktrin tritunggal memiliki makna penting mengapa kita sebagai orang percaya perlu memiliki komunitas rohani. 

Orang percaya yang tidak mau memiliki relasi dan mempunyai komunitas rohani, artinya dia tidak mau belajar menjadi serupa seperti Yesus.

Mengapa demikian? Dalam komunitas rohani, orang-orang akan tahu kelemahan dan kekurangan kita, melalui komunitas rohani kita akan saling mengingatkan dan menegur dengan kasih. Komunitas yang berpusat pada Injil adalah komunitas dimana dapat saling menegur namun disaat yang sama saling mengasihi serta menerima kelemahan satu dengan yang lain

Kebenaran tanpa kasih menghasikan Arogansi, Kasih tanpa kebenaran menghasilkan pembiaran. Oleh karena itu Kristus harus menjadi identitas kita, bagaimana kita dapat aman saat  ditegur dan menegur orang lain, kalau kita tidak menyadari bahwa Kristus yang menjadi identitas kita. Ketika kita menyadari bahwa Kristus identitas kita, Kita tidak perlu merasa lebih baik dari pada orang lain, karena pada dasarnya kita sama-sama manusia berdosa yang membutuhkan Injil dan kasih karunia Kita tidak perlu merasa minder karena kekurangan kita, karena Kristuslah identitas kita. Dalam komunitas Rohani kita juga belajar, bukan tentang pendapat siapa yang paling benar, tetapi pendapat siapa yang sesuai dengan Firman Tuhan.

Hal ini tidak hanya berlaku pada komunitas rohani saja, tetapi di dalam setiap hubungan yang kita miliki dengan semua orang ( Anak, suami Istri, rekan kerja, pegawai, teman futsal, teman badminton, dsb ) Tetapi ironisnya kadang telinga kita lebih senang mencari nasihat dengan orang yang sependapat dengan kita, namun kita justru menjauhi orang yang memiliki pendapat yang bersebrangan sekalipun itu Alkitabiah. 

Mengapa kita perlu melayani? Melalui melayani orang lain dengan kasih merupakan sarana anugerah Allah bagi kita untuk menghidupi Injil Yesus Kristus dan membawa kita pada proses pengudusan (progressive sanctification).

Efesus 2:10 

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan PEKERJAAN BAIK, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Ingat anda tidak dipanggil hanya untuk manas-manasin bangku gereja, kalau anda sudah mengerti Injil tetapi tidak melakukan apapun untuk pekerjaan Tuhan, ingat kita ini bukan seorang konsumen yang datang gereja. Kita ini adalah orang percaya (orang yang telah diselamatkan) yang dipanggil untuk melakukan pekerjaan baik.
Bahayanya jika kita menempatkan diri sebagai konsumen Injil, yang terjadi malah membuat farisi-farisi Injil yang hanya mengkritisi berbagai macam ajaran, tapi kalau memang anda terpanggil mengkritisi dan ingin melawan ajaran palsu dengan serius selain jalur menjadi pelayan Tuhan yang berada dalam Gereja, saya sarankan anda lewat jalur akademis, masuk ke seminary lalu membuat jurnal-jurnal teologis, untuk melakukan kritik secara elegan melalui kajian-kajian akademis daripada melakukan banyak komentar di sosial media yang bukan-bukan.

Sebuah perintah di ayat 13: "Melalui kasih jadilah hamba satu sama lain." Seseorang mungkin bertanya, "Mengapa Paulus memerintahkan kita untuk mengasihi jika kasih adalah hasil iman yang tak terelakkan (5:6), bahkan buah Roh Allah (5:22)?" Jawabannya adalah bahwa meskipun Allah berdaulat atas umat-Nya dan Roh-Nyalah yang menghasilkan buah kasih, namun cara Allah melakukan pekerjaan-Nya mencakup nasihat manusia. Tidak ada kontradiksi antara mengatakan Tuhan membawa cinta di hati kita dan mengatakan bahwa salah satu cara dia melakukannya adalah untuk mengingatkan kita pentingnya cinta dengan perintah. Kita tidak menaati Taurat supaya dibenarkan atau diselamatkan melainkan pembenaran yang dilakukan oleh Kristus bagi orang percaya supaya kita dimampukan untuk taat. John Piper mengatakan “Iman yang menyelamatkan selalu menimbulkan kasih dan kasih adalah bukti iman yang sejati.”

Dalam suratnya ini Paulus memperingatkan kita untuk tidak menganggap perintah ini sebagai "pekerjaan hukum" yang harus dilakukan dengan kekuatan kita sendiri untuk mendapat perkenanan Tuhan. 

Iman Kristen sejati bukan hanya mengajarkan bahwa perlu melakukan perbuatan baik, tetapi lebih dari itu adalah apa alasan (motivasi) terbesar dalam melakukan perbuatan baik.

Biarlah kita dapat menggunakan kebebasan yang Allah berikan bukan untuk berbuat dosa tetapi melalui yang kemerdekaan yang Kristus berikan untuk melayani seorang yang lain dengan kasih.  Namun faktanya seringkali kita semua sudah gagal dalam menggunakan kemerdekaan yang Allah berikan untuk hidup bagi Allah dan melayani sesama dengan kasih. Seringkali kita hidup dalam kesombongan (Kenodoxoi), dan berusaha untuk membuktikan  bahwa kita memiliki nilai.

GOSPEL CONNECTION
Tetapi justru Tuhan Yesus yang kita sembah, melakukan sesuatu yang berbeda dari manusia pada umumnya, berbeda dari pemikiran kita semua.

Filipi 2:6 -7

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan (Kenoó) diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Yesus mengosongkan diri-Nya dalam perwujudan-Nya sebagai manusia. Kenosis merupakan bentuk penyangkalan diri, bukan mengosongkan keilahian-Nya maupun menukarkan keilahian-Nya bagi kemanusiaan-Nya. Yesus menambahkan pada diri-Nya sifat manusia dan rela merendahkan diri-Nya. Yesus meninggalkan kemuliaan di surga untuk menjadi manusia yang akan mati di kayu salib, Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 

Seringkali kita MATI-MATIAN untuk membuktikan bahwa diri kita bernilai, tapi justru Yesus yang tak ternilai rela MATI bagi kita yang tidak bernilai
 

  • Yesus Kristus yang bernilai rela dan menjadi tak bernilai, supaya kita yang tak bernilai, memilki nilai dihadapan Allah Bapa di dalam Kristus
  • Yesus Kristus yang mulia rela menjadi hina, supaya kita yang hina, dapat dimuliakan di dalam Kristus
  • Yesus Kristus yang berkuasa rela menjadi tak berdaya, supaya kita yang tak berdaya mengatasi dosa dapat dimampukan di dalam Kristus
  • Yesus Kristus yang kekal rela mati, supaya kita mestinya mati, beroleh hidup kekal di dalam Kristus

Pertanyaan Reflektif

  • Apa yang membuat kita kesulitan menghidupi kebebasan yang Allah berikan?
  • Apakah kita memiliki kesombongan terselubung, yang membuat kita sulit melayani dan mengasihi orang lain?
  • Bertobatlah dari ego atau kesombongan yang ada dalam hati, yang membuat kita tidak bebas menghidupi Injil dalam hal melayani dan mengasihi orang lain. 

Gospel Response

  • Pandanglah keindahan salib Kristus yang tak ternilai dan ingatlah jika kita memiliki nilai itu semua karena Kristus yang menebus hidup kita melalui karya salib-Nya

KARENA INJIL

  • Kita tidak mau berbuat dosa seenaknya, karena kita sudah dibebaskanmelalui karya penebusan Yesus Kristus
  • Kita dapat belajar menanggalkan kesombongan, karena Yesus yang muliarela meninggalkan kemuliaan-Nya
  • Kita mau memiliki relasi dalam komunitas Rohani, karena kita memilikiAllah Tritunggal yang berelasi satu sama lain
  • Kita dapat melayani dan mengasihi orang lain dengan tulus, karena Yesus  sudah melayani dan mengasihi kita terlebih dahulu