Doa Musa untuk Penyertaan Allah

From Abraham to Jesus : The Gospel in Prayer – WEEK 3 "Doa Musa untuk Penyertaan Allah" 

Ps. Dave Rindy H.

 

Kembali ke seri khotbah The Gospel in Prayer, minggu ini kita memasuki tema ketiga: Doa Musa untuk Penyertaan Allah. Sebelum masuk lebih dalam, mari mulai dengan sebuah kisah sederhana.

Suatu kali, saya diminta menjemput istri yang sedang bertugas di luar kota, tepatnya di daerah Trawas. Saya tahu wilayahnya, tetapi tidak tahu lokasi pastinya. Seperti kebanyakan orang modern, saya tidak bertanya kepada orang, melainkan langsung membuka aplikasi Waze. Perjalanan di tol lancar, tetapi ketika jalan mulai menanjak dan bercabang, tiba-tiba layar ponsel saya freeze karena susah sinyal. Di depan ada persimpangan, namun tidak ada arahan apa pun dari peta digital itu.

Saya melambat, dan seperti biasa, bunyi klakson dari belakang mulai terdengar. Dalam kebingungan, saya memilih jalur berdasarkan intuisi. Di momen itu saya tersadar teknologi secanggih apa pun tetap terbatas. Kadang, yang kita butuhkan bukan sekadar alat penunjuk arah, tapi seorang teman seperjalanan yang benar-benar tahu jalan, yang mengerti arah dan tujuan dengan pasti.

Itulah gambaran yang mirip dengan pengalaman Musa dalam Keluaran 33. Setelah bangsa Israel menyimpang, Tuhan berfirman kepada Musa: Ia tetap akan membawa mereka ke tanah perjanjian, tetapi tanpa kehadiran-Nya. Ia akan mengutus malaikat, namun tidak berjalan bersama mereka.

Bagi banyak orang modern, mungkin itu bukan masalah besar. “Yang penting berkatnya tetap dapat,” begitu pikir sebagian orang. Kita hidup dalam budaya yang menilai diri berdasarkan hasil—produktivitas, efisiensi, dan pencapaian menjadi ukuran nilai diri. Tidak salah untuk bekerja keras, namun tanpa sadar banyak orang menilai keberhargaan hidup dari seberapa banyak yang mereka hasilkan.

Akibatnya, banyak yang akhirnya merasa lelah, kehilangan arah, bahkan hampa. Kampanye seperti mental health matters merebak, namun justru banyak yang tetap merasa kosong di dalamnya. Kesibukan demi kesibukan dikejar tanpa pernah menanyakan: Apakah Tuhan masih berjalan bersamaku?

Keluaran 33 mengundang kita berhenti sejenak. Doa Musa menjadi interupsi di tengah hiruk-pikuk pencapaian manusia modern. Ia mengingatkan kita bahwa lebih dari sekadar janji atau keberhasilan, yang paling kita butuhkan adalah hadirat Allah sendiri dalam setiap langkah perjalanan kita.

BACAAN: Keluaran 33:13-23

33:13 Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu." 

33:14 Lalu Ia berfirman: "Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu." 

33:15 Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. 

33:16 Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?" 

33:17 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau." 

33:18 Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku." 

33:19 Tetapi firman-Nya: "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani." 

33:20 Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."

33:21 Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu; 

33:22 apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. 

33:23 Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan."

Konteks kisah ini terjadi setelah bangsa Israel keluar dari Mesir dan sedang menuju tanah perjanjian. Di tengah perjalanan, mereka jatuh dalam dosa penyembahan berhala dengan membuat anak lembu emas saat Musa naik ke Gunung Sinai untuk bertemu Tuhan.

Sebagai konsekuensinya, Tuhan menyatakan tidak akan menyertai mereka, meskipun tetap mengutus malaikat untuk menuntun perjalanan mereka. Namun, Musa bertindak sebagai pengantara dan memohon agar Tuhan sendiri tetap berjalan bersama umat-Nya.

Dari peristiwa ini, kita akan merenungkan tiga hal penting:

  1. Lebih dari Sekadar Petunjuk
  2. Tak Akan Bergerak Tanpa Penyertaan Allah
  3. Disembunyikan dalam Kasih Karunia

LEBIH DARI SEKEDAR PETUNJUK

Dalam Keluaran 33:13, Musa berdoa, “Beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau.” Doa ini luar biasa karena Musa tidak meminta berkat, tetapi memohon kehadiran Allah sendiri. Frasa “jalan-Mu” di sini bukan sekadar rute geografis, melainkan cara hidup, pola pikir, dan kehendak Tuhan. Artinya, seseorang tidak dapat memahami jalan Tuhan tanpa mengenal pribadi-Nya.

Mengenal Allah—yada dalam bahasa Ibrani—bukan sekadar tahu secara intelektual, tetapi berhubungan secara pribadi dan intim. Musa tidak berdoa agar hidupnya lebih mudah, tetapi agar ia semakin mengenal Allah. Ketika kita mengenal Tuhan, kita akan tahu apa yang menyenangkan hati-Nya dan keputusan mana yang selaras dengan-Nya.

Para sarjana Alkitab menjelaskan bahwa “jalan Allah” berarti cara Allah bertindak dalam sejarah melalui bimbingan, penghakiman, dan belas kasihan. Maka, mengenal Tuhan berarti belajar mengenali pola penyertaan-Nya dalam setiap musim hidup. Dalam banyak area abu-abu kehidupan—pekerjaan, keputusan moral, relasi—kita sering bingung menentukan pilihan. Namun, kuncinya bukan mencari petunjuk instan, melainkan mengenal pribadi Tuhan.

Teolog Alec Motyer berkata, “Mengerti jalan Tuhan memimpin kita memahami hati Tuhan.” Seperti seseorang mengenal pasangannya karena hidup bersama setiap hari, demikian pula kita mengenal Tuhan lewat keintiman dan kebersamaan dengan-Nya. Yang kita butuhkan bukan hanya petunjuk hidup, melainkan pengalaman pribadi akan Allah.

Sayangnya, banyak orang Kristen pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi jarang berbicara dengan Tuhan. Saat teduh, doa, dan firman bukan sekadar rutinitas rohani, melainkan sarana kasih karunia untuk memahami hati-Nya. Dunia menawarkan banyak “petunjuk”—nasihat, opini, bahkan teknologi—tetapi hanya melalui relasi pribadi dengan Tuhan kita benar-benar tahu arah yang benar.

J.I. Packer menulis, “Hidup baru benar-benar berarti ketika kita memiliki tujuan yang lebih besar dari diri sendiri, dan tidak ada tujuan yang lebih tinggi daripada mengenal Tuhan.” Rasul Paulus pun menegaskan hal yang sama: Segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya” (Flp. 3:8).

Namun, dosa membuat kita cenderung mencari arah, bukan Pribadi yang memberi arah. Kita ingin tahu “apa yang harus dilakukan” lebih daripada “siapa yang harus kita kenal.” Padahal, doa sejati bukan sekadar mencari petunjuk, tetapi mengenal pribadi Allah. Dunia mungkin memberi banyak jawaban, tetapi hanya hati Tuhan yang menunjukkan jalan hidup sejati.

Pertanyaannya, saat kita berdoa, apakah fokus kita hanya meminta Tuhan menunjukkan arah hidup, atau agar hati kita semakin mengenal Dia yang menuntun? Yesus telah mengutus Roh Kudus untuk tinggal di dalam kita—Pribadi yang memimpin dan memperkenalkan Allah secara nyata. Maka, biarlah doa kita bukan sekadar, “Tuhan, tunjukkan jalan-Mu,” melainkan, “Tuhan, buat aku mengenal Engkau lebih dalam.” Sebab ketika kita mengenal Dia, kita akan tahu ke mana harus melangkah.

TAK AKAN BERGERAK TANPA PENYERTAAN ALLAH

Keluaran 33 dimulai dengan perintah Tuhan kepada Musa: “Pergilah, berjalanlah dari sini... ke negeri yang telah Kujanjikan... negeri yang berlimpah susu dan madu.” Namun Tuhan menambahkan, “Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, supaya Aku jangan membinasakan engkau.” Meski Tuhan menjanjikan tanah yang subur dan kemenangan atas musuh, Ia menolak menyertai mereka secara langsung karena dosa penyembahan anak lembu emas.

Musa merespons dengan doa yang luar biasa: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat” (ay. 15). Ia lebih memilih tinggal di padang gurun bersama Allah daripada hidup makmur tanpa hadirat-Nya. Musa sadar: tanpa penyertaan Tuhan, tanah yang berlimpah susu dan madu tidak berarti apa-apa.

Semakin seseorang intim dengan Tuhan, semakin ia sadar akan ketidakberdayaannya. Doa sejati bukan sekadar latihan disiplin, melainkan pengakuan: “Tuhan, aku tidak mampu tanpa Engkau.” Karena itu, orang yang merasa mampu berjalan sendiri sebenarnya sedang kehilangan kesadaran akan ketergantungan pada Allah.

Musa juga menyadari bahwa penyertaan Tuhanlah yang membedakan umat Allah dari bangsa-bangsa lain: “Bukankah karena Engkau berjalan bersama kami, sehingga kami dibedakan dari segala bangsa di muka bumi ini?” (ay. 16). Kekayaan, kesuksesan, atau kenyamanan bukanlah tanda penyertaan Tuhan, hanya hadirat-Nya yang membuat hidup kita berarti.

Sayangnya, banyak orang Kristen menilai penyertaan Tuhan dari berkat materi, terobosan finansial, atau kesuksesan pribadi. Padahal, seperti Musa, kita dipanggil untuk lebih menginginkan Pribadi Allah daripada produk-Nya. Penyertaan Tuhan jauh lebih berharga daripada semua berkat dunia.

Pengalaman pribadi saya pun mengingatkan hal ini: ketika rencana hidup gagal dan doa tidak dijawab sesuai keinginan, justru di situlah Tuhan bekerja. Kegagalan sering kali menjadi cara Allah menuntun kita kembali kepada kehendak-Nya.

Penyertaan Tuhan bagi orang percaya masa kini dapat dikenali melalui empat hal:

  1. Kesadaran identitas yang aman dalam Kristus. Kita tidak lagi dikendalikan oleh penilaian orang lain.
  2. Kerinduan untuk terus bertobat. Roh Kudus yang tinggal di dalam kita memampukan kita untuk sadar dan kembali kepada Tuhan.
  3. Ketenangan di tengah penderitaan. Kita tetap berharap karena tahu Tuhan memegang kendali.
  4. Kerinduan mengenal firman. Penyertaan Tuhan nyata dalam hati yang haus akan kebenaran-Nya.

Musa akhirnya berdoa, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku” (ay. 18). Kata kabod (kemuliaan) berarti bobot, nilai, dan makna tertinggi. Musa mencari kabod Tuhan, bukan kemuliaan dunia. Sebaliknya, banyak orang kini mencari kemuliaan dari prestasi, penerimaan sosial, atau moralitas—semuanya fana dan berujung pada kesombongan atau kecemasan.

Identitas sejati kita bukan pada profesi, posisi, atau keberhasilan, melainkan pada penyertaan Allah. Profesi hanyalah platform sementara, tetapi hadirat Tuhanlah yang memberi makna kekal. 

Karena itu, mari kita bertanya: Apakah kita lebih menginginkan berkat-Nya atau kehadiran-Nya? Apakah nilai diri kita ditentukan oleh validasi manusia atau penyertaan Allah?

Menjadi pengusaha, mahasiswa, kepala keluarga, ibu rumah tangga, pendeta, karyawan, guru, dosen, agen asuransi bukanlah identitas sejatimu untuk menjadi “SOMEBODY”. Tapi yang membuat kita menjadi “SOMEBODY” adalah kehadiran dan penyertaan Allah. Kiranya hati kita diarahkan kembali untuk berkata seperti Musa: “Tuhan, aku tidak puas hanya dengan berkat-Mu, aku ingin Engkau sendiri.”

DISEMBUNYIKAN DALAM KASIH KARUNIA

Doa Musa di bagian ini luar biasa: ia rindu melihat kemuliaan Allah. Namun di ayat 20, Tuhan berfirman, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Artinya, keinginan Musa itu tidak mungkin dikabulkan sepenuhnya. Bukan karena Tuhan melarang secara moral, tetapi karena manusia memang tidak sanggup secara kodrat menanggung kemuliaan Allah.

Ketidakmampuan Ontologis dan Larangan Etis

Larangan etis bersifat moral — seperti jangan mencuri atau jangan berzina — yang bisa dilakukan manusia, tetapi salah secara moral.

Sebaliknya, ketidakmampuan ontologis berbicara tentang batas hakikat manusia itu sendiri. Kita tidak dapat memandang kemuliaan Allah tanpa binasa, sama seperti manusia tidak bisa mendekati matahari tanpa hangus. Dosa membuat manusia tidak kompatibel dengan kekudusan Allah.

Timothy Keller menyebutnya sebagai ketidakcocokan alami antara Tuhan dan manusia. Seperti arus AC dan DC, atau api dan air, keduanya tidak bisa disatukan begitu saja.

Saya jadi teringat masa kecil ketika saya mencoba membuat mobil Tamiya agar lebih kencang. Saya pikir, kalau baterai diganti dengan listrik rumah, pasti lebih kuat. Saya colokkan kabel stopkontak langsung ke dinamo—hasilnya? Meledak! Rumah gelap, Tamiyanya hancur, dan saya hampir ikut kesetrum. 

Ada ketidakcocokan daya di sana, dan dibutuhkan adaptor agar aman. Demikian juga manusia berdosa tidak bisa langsung “tersambung” dengan Allah yang Mahakudus tanpa perantara.

Inilah kabar baik Injil. Tuhan sendiri menyediakan jalan agar Musa tidak binasa. Dalam Keluaran 33:21–22, Tuhan berkata:

“Ada suatu tempat di dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu. Apabila kemuliaan-Ku lewat, Aku akan menempatkan engkau di lekuk gunung itu dan menudungi engkau dengan tangan-Ku.”

Itulah kasih karunia. Tuhan yang mengambil inisiatif, bukan Musa. Ia menyembunyikan Musa di celah gunung batu agar tetap hidup namun tetap dapat melihat kemuliaan-Nya.

Secara teologis, “gunung batu” melambangkan perlindungan dan kasih karunia Allah. Timothy Keller menafsirkan bahwa celah batu ini menunjuk pada Yesus Kristus — tempat perlindungan sejati. Di dalam Kristus, kita dapat mengenal Allah tanpa binasa, karena Dia menjadi perantara antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa.

Tegangan yang Diselesaikan oleh Injil

Inilah ketegangan besar dalam sejarah manusia: kita diciptakan untuk hadirat Allah, tetapi dosa membuat hadirat itu mematikan. Di salib, Yesus menjadi batu karang tempat kita bersembunyi. Dulu, Musa harus disembunyikan di celah batu; kini, seperti tertulis dalam Kolose 3:3, “Hidupmu tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah.” Allah tidak lagi memandang kelemahan kita, melainkan kesempurnaan Kristus yang menutupi kita.

John Piper menulis, “Apa yang Musa belum lihat mengenai kemuliaan Allah, kini kita lihat lebih jelas dalam diri Yesus, terutama di kayu salib.” Salib adalah tempat di mana kasih dan keadilan Allah bertemu. Di sanalah kemuliaan Allah paling nyata.

Musa hanya melihat bagian belakang Allah; kita melihat kemuliaan-Nya melalui wajah Kristus. Paulus berkata dalam 1 Korintus 10:2–4 bahwa umat Israel “minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.”

Maka, di dalam Kristus, kita aman. Di salib, Yesus menanggung murka Allah agar kita menerima kasih karunia. Ia ditinggalkan oleh Bapa agar kita tidak pernah ditinggalkan oleh Roh Kudus. Kristus, batu karang keselamatan itu, rela hancur supaya kita yang berdosa dapat hidup, menikmati kemuliaan Allah, dan bersukacita di dalam hadirat-Nya untuk selama-lamanya.

PERTANYAAN REFLEKTIF

[1] Allah menyembunyikan Musa di celah gunung batu agar ia tidak binasa. Apa “celah batu” tempat saya bersembunyi hari ini? Apakah itu Kristus atau sesuatu yang lain yang engkau andalkan?

[2] Di kayu salib, Kristus menanggung murka Allah supaya kita dapat memandang kemuliaan-Nya dan tetap hidup. Apakah kasih karunia ini masih membuat hati saya kagum, ataukah mulai terasa biasa saja?

GOSPEL PEOPLE BERDOA

Bukan hanya mencari petunjuk arah hidup, tetapi berdoa untuk terus mengenal “Sang Jalan” yang telah datang untuk berjalan bersama kita.

Bukan hanya supaya yang dikerjakan dapat berhasil, tetapi berdoa supaya dalam setiap keadaan dapat menyadari Allah selalu menyertai.

Bukan hanya untuk meminta berkat duniawi, tetapi berdoa supaya Roh Kudus mengingatkan bahwa berkat sejati adalah menerima identitas sebagai anak Allah.

Bukan untuk mendapatkan kepuasan melalui kemuliaan diri sendiri, tetapi berdoa supaya dimampukan untuk terus mengagumi kemuliaan Allah melalui Kristus.